Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 30


__ADS_3

Sepuluh menit sudah Bram mengurung dirinya di dalam toilet rumah sakit. Dengan perasaan yang masih kacau balau tak menentu. Ia masih meyakinkan dirinya, kalau keputusan yang ia ambil barusan adalah keputusan yang tepat. Tapi, tetap saja ia merasa sakit saat ia tahu kenyataan sekarang Tiara bukan lah lagi istri nya, saat kata-kata talak yang ia ucapkan untuk Tiara masih terngiang-ngiang di ingatan. Bram menyeka air matanya dengan cepat, baru kali ini ia mengeluarkan air mata cukup banyak, setelah kematian ayah nya dulu. Ia membersihkan darah yang menempel pada punggung tangannya dengan air yang mengucur dari keran. Setelah itu Bram menekan dada nya. Lagi-lagi ia merasa ada yang sakit di sudut hatinya. Tapi ia berusaha untuk tegar, hidup akan terus berjalan, apalagi saat ini ada Putri yang butuh perhatian dari diri nya.


''Semoga kedepan nya kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu sendiri, Tiara. Meskipun kamu tak lagi bersama ku, tapi aku akan selalu mengenang kamu, kamu tetap lah cinta pertama ku. Wanita pertama yang berhasil menyentuh hati ku, membuat jantungku berdebar aneh saat pertama kali aku mengenal sosok mu yang periang, manja dan apa adanya. Maafkan aku karena telah menyakiti hati mu, menggores luka yang teramat dalam, aku harap luka itu akan cepat mengering seiring berjalannya waktu. Hupp!'' gumam Bram lirih seraya menatap pantulan dirinya di depan cermin toilet.


Bram menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan, setelah dada nya sudah terasa sedikit lapang, ia berjalan, membuka pintu toilet, lalu ia berlalu dari dalam toilet, ia akan menghampiri Putri.


''Mas, apa kamu tak apa-apa?'' tanya Putri panik, karena rasanya Bram sudah menghabiskan waktu cukup lama di dalam toilet. Putri menyentuh pelan pipi sang suami, ia sedikit mendongak, ia melihat netra sang suami yang sedikit merah dan sembab.


''Tidak apa-apa, Sayang. Ayo kita pulang.'' Jawab Bram dengan suara sedikit serak. Ia memaksa senyum, untuk menunjukkan kepada Putri kalau dirinya tidak menyesali keputusannya yang telah ia buat. Meskipun sebenarnya, langkah kakinya terasa berat meninggalkan rumah sakit, karena separuh hatinya masih tertinggal di rumah sakit. Ia berdoa di dalam hati, supaya Tiara cepat sembuh dari sakit nya. Selain itu ia juga berharap Tiara akan cepat melupakan dirinya.


Bram dan Putri berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit dengan Putri yang melingkarkan tangannya pada tangan Bram. Ia tidak merasa sungkan lagi menunjukkan kedekatannya dengan Bram kepada khalayak umum, karena saat ini ia merasa sudah memiliki Bram sepenuhnya. Dan setelah ini ia juga akan mengurus perihal pernikahan mereka di KUA. Putri ingin meresmikan hubungan nya dan Bram dengan menikah secara negara dan secara besar-besaran.


''Mas, besok aku akan menemani kamu ke kantor pengadilan. Kamu harus segera mengurus proses cerai antara diri mu dan Tiara di kantor pengadilan, supaya kita bisa meresmikan hubungan kita dengan cepat.'' Putri berkata dengan wajah berbinar bahagia. Tak nampak kesedihan dan rasa bersalah sedikitpun di paras nya. Mendengar itu, Bram hanya diam. Entahlah, menurut nya Putri terlalu cepat membicarakan masalah ini. Sementara mereka belum beranjak dari rumah sakit. Lagi-lagi Bram merasakan sakit di hatinya.


***


"Menangis lah, Sayang. Menangis lah sepuasnya. Tumpah kan air mata mu saat ini. Tapi berjanji lah, kedepannya kamu harus menjadi wanita yang kuat. Kamu harus bangkit, kamu harus belajar dari pengalaman mu bersama Bram, agar suatu hari nanti kamu tidak melakukan hal yang sama, agar suatu hari nanti kamu lebih bisa menghargai dan mengerti suami mu. Agar tak adalagi orang ketiga yang berani masuk ke dalam rumah tangga mu.'' Ratih berkata sambil mendekap tubuh sang putri. Ia membiarkan Tiara menangis di dalam dekapannya. Melihat Tiara menangis, Hadi pun ikut tersayang-sayat hatinya. Tapi ia merasa lega, karena sekarang Tiara sudah bukan milik Bram lagi.


''Rasa-rasanya aku sudah tidak ingin menikah lagi, Ma. Biarlah aku tetap menjadi anak kesayangan Mama dan Papa. Aku berjanji mulai saat ini aku akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya agar aku bisa membahagiakan kalian. Aku berjanji akan memanfaatkan gelar sarjana aku untuk mencari pekerjaan agar aku bisa menghasilkan uang sendiri dengan kerja keras aku. Sekarang hanya kalian yang menjadi prioritas utama aku. Aku tidak ingin menikah lagi. Cukup sekali ini saja.'' Tiara berkata seraya menyeka air matanya dengan tangan. Suara sedu sedan nya sesekali masih terdengar.


''Tidak boleh berbicara seperti itu, Nak. Kamu masih muda, jalan mu masih panjang. Pasti akan ada jodoh baru yang telah Allah persiapkan untuk mu. Mama dan Papa tidak akan selama nya berada di sisi mu. Kami akan menua lalu kembali kepada nya. Kamu butuh seseorang untuk menemani kamu, dan juga kamu butuh keturunan untuk mendoakan mu saat kamu telah tiada kelak.'' Kali ini sang papa yang berucap dengan begitu bijak. Berbicara soal keturunan, lagi-lagi Tiara terisak. Nanti rencananya Tiara akan meminta dokter untuk melepaskan KB Implan yang melekat di lengannya, karena ia tidak butuh itu lagi.


''Iya, benar Sayang. Anak Mama sama Papa ini masih sangat cantik, hanya saja kecantikan paras mu tidak secantik ahlak dan kelakuan kamu.'' Ratih berucap jujur.


''Mama kok ngomong nya jujur banget sih! Lihat aja kedepannya, akan aku buktikan kepada kalian kalau aku bisa merubah ahlak dan kelakuan aku menjadi secantik paras ku.'' Tiara berucap sungguh-sungguh, dan hal itu berhasil membuat senyum simpul terbit di wajah kedua orang tuanya.

__ADS_1


''Amin.'' Hadi dan Ratih mengaminkan dengan harapan yang besar.


Tidak lama setelah itu dokter masuk ke dalam ruangan tempat Tiara di rawat. Dokter memeriksa kondisi terkini Tiara, dan dia mengatakan kalau besok Tiara sudah boleh pulang ke rumah. Tiara pun menyampaikan niatnya kepada dokter kalau dia ingin melepaskan KB Implan nya, dokter pun mengiyakan permintaan Tiara, nanti akan ada dokter khusus KB yang akan melepaskan Implan di lengan Tiara.


***


Keesokan harinya, sekitar pukul delapan pagi. Tiara di bawa pulang langsung ke rumah orangtuanya. Karena kedepan nya dirinya akan tinggal di rumah orang tuanya.


Saat sudah sampai di rumah orang tuanya yang sederhana, beberapa orang tetangga yang melihat dari jarak cukup jauh saling melempar tanya, mereka merasa kepo ingin tahu apa yang terjadi kepada Tiara, karena mereka melihat Tiara berjalan masuk ke dalam rumah dengan di bimbing oleh Mama nya, selain itu karena kemarin rumah orang tua Tiara juga tertutup rapat seharian penuh.


''Beristirahatlah Sayang. Mama keluar dulu, Mama akan memasak menu kesukaan mu.'' Ratih berkata dengan nada lembut saat Tiara sudah duduk di pinggir kasur. Ia merasa tubuhnya sudah kembali sehat seperti sedia kala.


''Aku akan membantu Mama memasak,''


''Tidak usah. Tubuh mu masih perlu waktu untuk pemulihan, selain itu lengan mu juga masih basah luka sayatan nya. Setelah ini jangan lakukan Implan lagi.''


''Ya sudah, duduk lah yang anteng di kamar.'' Ucap Ratih, setelah itu ia membawa langkahnya keluar dari kamar. Setelah kepergian sang mama, Tiara menatap seisi kamar nya dengan perasaan tak menentu. Kamar yang masih sama seperti dulu, sebelum Bram memboyong nya ke rumah mereka yang kini hanya tinggal kenangan.


''Akhirnya aku kembali ke kamar ini lagi. Ah, ponsel ku masih berada di rumah aku bersama Mas Bram. Nanti sore aku akan ke sana, aku harus mengambil ponsel dan beberapa barang berharga milikku di sana,'' gumam Tiara lirih. Saat ia menyebut nama sang mantan suami, lagi-lagi ia merasa sesak di dada nya. Karena ia merasa ia tidak di beri kesempatan kedua untuk membuktikan kepada Bram kalau ia bisa menjadi istri yang sholehah, karena ia merasa ia tidak di beri kesempatan kedua untuk menunjukkan kepada Bram kalau ia bisa memberikan Bram keturunan yang lucu dan menggemaskan. Penyesalan memang datang terlambat, saat Tiara benar-benar ingin berubah, tapi ia sudah tidak mempunyai kesempatan itu lagi.


''Hah, semoga saja kalian bahagia. Aku tidak menyangka ternyata Si Putri itu sedikit licik orang nya. Kalau dia wanita baik-baik, dia tidak akan mungkin bersedia menikah dengan pria yang masih beristri. Karena wanita baik-baik tidak akan tega menyakiti hati wanita lain. Dia menggunakan harta kekayaannya untuk menjerat Mas Bram. Tapi meskipun begitu, semua ini terjadi karena memang salah diri ku. Semoga Mas Bram bahagia hidup bersama Putri, meski rasa sakit di hatiku karena pengkhianatan yang mereka lakukan masih terasa begitu sakit.'' Lagi, Tiara bergumam kecil. Ia meyakinkan dirinya kalau saat ini dirinya sudah menjadi seorang janda.


''Em kira-kira Ibu dan Indah sudah tahu apa belum, ya, tentang pernikahan Mas Bram dan Putri? Rasanya sudah lama sekali aku tidak menghubungi mereka.'' Lagi-lagi Tiara bergumam dengan nama Bram yang masih senantiasa ia sebut.


***

__ADS_1


Sore harinya Tiara pamit kepada Ratih, ia mengatakan kalau dirinya akan mengambil ponselnya yang tertinggal di rumah nya bersama Bram.


''Aku sendiri saja, kasihan Papa. Papa pasti capek,'' ucap Tiara ketika sang mama menawarkan agar papa nya menemani nya. Sementara saat ini Hadi tengah berada di toko. Tiara dan Ratih duduk di sofa ruang keluarga.


''Ya sudah, kamu hati-hati di jalan, ya.''


''Em, Mama punya gamis dan jilbab lebar tidak? Kalau punya aku pinjem dong.'' Tiara berucap sambil cengengesan. Entahlah, ia merasa sudah tidak nyaman lagi dengan pakaian seksi dan terbuka yang di pakai nya.


''Untuk apa?'' tanya Ratih heran.


''Untuk aku pakai. Mulai saat ini aku ingin menutup aurat ku, Ma. Supaya aku bisa menjaga Papa, agar Papa tidak terbakar api neraka karena aurat ku yang terbuka. Selain itu karena aku ingin menjaga aurat ku dari pandangan laki-laki yang bukan muhrim ku,'' jelas Tiara terdengar bijak. Sebenarnya Tiara merupakan wanita yang cerdas, hanya saja selama ini ia begitu terobsesi dengan barang-barang branded. Hingga ia melupakan hal yang merupakan kewajibannya.


''Masya Allah. Alhamdulillah. Kamu tunggu di sini, biar Mama ambilkan dulu apa yang kamu minta,'' ucap Ratih, lalu ia berjalan menuju kamarnya. Sungguh ia merasa sangat bahagia mendengar permintaan sederhana sang anak.


Setelah beberapa saat, ia memberikan gamis set jilbab bewarna hitam kepada Tiara. Dengan cepat Tiara memakai nya. Tiara terlihat sangat anggun dengan gamis dan jilbab lebar sepinggang. Lagi-lagi Ratih memeluk Tiara dengan perasaan haru. Bahkan Ratih diam-diam memotret Tiara dengan ponselnya, ia mengirimkan foto Tiara yang ia ambil dari samping kepada Hadi. Ia ingin memperlihatkan perubahan drastis sang anak kepada suaminya.


Setelah itu Tiara berangkat dengan menggunakan mobil papa nya.


***


Saat sudah tiba di kediaman nya, ia melihat sebuah mobil mewah berwarna silver terparkir rapi di halaman rumah di depan teras. Mendadak Tiara menjadi gugup, rasanya ia tidak ingin lagi bertemu dengan Bram.


Tiara keluar dari dalam mobil, ia memarkirkan mobilnya di samping mobil bewarna silver itu, ia berdiri di depan mobilnya, ia masih mencoba untuk menguatkan dirinya kalau dia mampu bertemu Bram dan bersikap biasa saja, karena tujuan nya hanyalah satu. Ia ingin mengambil ponselnya.


Saat ia masih berdiri di dekat mobil, tiba-tiba ia melihat anak kecil keluar dari rumah. Tiara dan anak laki-laki itu saling memandang beberapa saat. Hingga sebuah suara berhasil mengagetkan dan mengalihkan fokus mereka.

__ADS_1


''Andra Sayang, kamu jangan lari-lari gitu dong, nanti jatuh,''


Bersambung.


__ADS_2