
Aku membawa Andra dalam dekapan ku, sedari tadi putra ku terus saja merengek, menanyakan keberadaan Papa sambung nya. Papa sambungnya yang katanya tadi akan datang lagi pada malam hari, tapi kenyataannya setelah ditunggu-tunggu, ia tak kunjung datang. Aku tak berniat untuk menghubungi nya sama sekali, karena kalau ia ingat dan peduli sama diriku dan putra ku, pasti dirinya akan memberi kabar dengan sendirinya. Bukan begitu?
Aku kecewa? Tentu, sedikit. Tapi aku coba memaklumi, mungkin ia sedang menghabiskan malam panjang bersama istri pertamanya, yang juga kini adalah madu ku. Mungkin kedua insan tersebut sedang memadu kasih melepaskan rasa rindu setelah tiga malam berturut-turut mereka tidak bertemu.
Aku tidak menyangka kalau diriku akan memiliki suami yang lebih muda dari ku, obsesi ku yang sedikit gila membuat aku rela dinikahkan secara siri oleh pria yang bernama Bramantyo. Pria yang sudah beristri, tapi sayangnya istrinya tidak tahu bagaimana cara menghargai dan mencintai dengan benar, hingga suaminya membuka celah untuk aku masuk dengan mudah ke dalam hubungan mereka.
***
''Ma, Papa kok bohong sih sama kita? Kata Papa, Papa akan ke sini lagi, tapi kenyataannya sekarang Papa tidak datang-datang. Andra 'kan pengen main dan tidur sama Papa,'' Andra berucap sambil menatap wajahku. Wajahnya yang tampan nampak sedih. Kami sedang berbaring di atas tempat tidur, ia berbaring dengan berbantalkan lengan ku.
''Mungkin Papa lagi sibuk Sayang. Mungkin ada pekerjaan penting dan mendadak yang harus Papa selesaikan sehingga Papa tak bisa menemui kita malam ini,'' balasku dengan memaksa senyum di wajahku. Sebagai seorang Ibu, aku harus selalu terlihat kuat dan baik-baik saja di depan anakku.
''Tapi Andra pengen Papa ...,'' rengek Andra.
''Udah. Malam ini Andra tidur sama Mama saja, ya. Sekarang udah malem banget lho, udah pukul sebelas malam. Andra bobok yuk, ayo kita baca doa sebelum tidur bersama-sama.'' Bujuk ku dengan suara lembut, berharap Andra berhenti menanyakan keberadaan sang papa sambung.
''Enggak mau!'' bantah Andra.
''Andra, kamu tidak boleh gitu. Nanti Mama marah lho,'' ucapan ku akhirnya naik satu oktaf.
''Ya udah deh. Awas saja kalau Papa datang besok pagi, Andra akan memarahi Papa karena Papa ingkar janji sama Andra,'' Andra nampak serius mengatakan itu.
"Anak baik enggak boleh gitu. Udah sekarang bobok yuk,''
''Ya udah, aku tidur sama Mama aja deh malam ini.'' Akhirnya Andra menuruti perkataan ku. Aku mengelus-elus punggung nya dengan mulut tidak pernah putus membaca sholawat nabi, berharap Andra akan segera tidur. Setelah beberapa menit lamanya, dengkuran halus itu akhirnya terdengar juga. Andra nampak terlelap dengan begitu nyenyak. Aku tersenyum lega melihat nya. Setelah itu, dengan hati-hati aku meninggalkan Andra sendiri di kamar, tidak lupa sebelum keluar dari kamar, aku menyelimuti tubuhnya agar putra ku tak kedinginan.
Aku berjalan menuju kamarku, di luar terdengar hujan begitu deras, akhir-akhir ini di tempat tinggal kami memang sedang musim hujan, hampir tiap malam turun hujan.
Saat sudah tiba di dalam kamarku, aku mengambil ponselku yang ada di atas nakas, dan ternyata Mas Bram sedang menghubungi aku, dengan cepat aku mengangkat nya.
''Sayang, buka pintunya, Mas di luar sekarang.'' Mas Bram berkata dengan nada cukup keras begitu panggilan darinya aku jawab.
''Sungguh?'' tanyaku sedikit tak percaya.
__ADS_1
''Iya.''
Setelah itu aku berjalan dengan langkah kaki lebar menuju pintu utama. Pintu utama yang lumayan jauh karena rumah ku yang lumayan besar dan kamar ku dan Andra juga berada di lantai atas.
Setibanya di depan pintu utama, aku membuka pintu dengan cepat. Aku melihat Mas Bram berdiri di depan pintu utama dengan kedua tangan memeluk tubuhnya yang tegap.
''Masuk Mas,'' kataku bersikap santai. Terkadang jadi wanita harus bisa mengendalikan emosional, meskipun terkadang hati sedang dongkol. Tapi itulah caranya agar kaum pria tak menganggap lemah dan tak semena-mena terhadap kita.
''Maaf Mas terlambat datang,'' ucap Mas Bram, ia berjalan di belakang ku. Kami berjalan menuju ruang keluarga.
''Enggak apa-apa.''
''Andra mana?''
''Andra sudah tidur, dari tadi dia nanyain kamu terus.''
''Duh, kalau begitu Mas akan ke atas menemui Andra,'' ucap Mas Bram terlihat bersalah.
''Tidak usah. Lagian Andra sudah tidur juga.'' Balasku. Kami sudah duduk di sofa ruang keluarga.
''Terus apakah Tiara tahu kamu pergi dari rumah malam ini?''
''Sepertinya tidak. Mas pergi dengan diam-diam saat Tiara sudah terlelap. Ya palingan juga besok saat dia bangun dia akan mengira Mas pergi narik.''
''Hujan begini? Apakah dia percaya dan tidak curiga?'' tanyaku menatap wajah tampan suamiku lekat. Wajah tampan yang terlihat seperti orang bingung. Kasihan sekali Mas Bram. Menurut penilaian aku, Mas Bram adalah tipikal pria yang tak pandai berbohong, makanya saat ini dirinya terlihat bingung dan stress, ia pasti stres karena sekarang dia sudah mempunyai istri dua, dan dia harus membohongi Tiara untuk menutupi hubungan nya dengan diriku. Semua keputusan aku serahkan kepada Mas Bram, kedepan nya dia akan memilih diriku atau Tiara. kita lihat saja nanti. Aku tak akan memaksa.
''Entahlah. Sepertinya Mas memang harus membuat suatu keputusan, Mas tidak bisa terus begini, membohongi Tiara secara terus menerus,'' Mas Bram memegang kepalanya dengan kedua tangan.
''Dia masih banyak menuntut dari mu? Em maksud aku, dia masih pengen uang belanja yang banyak?'' tanyaku.
''Iya. Dia masih meminta agar Mas mengirimkan uang seperti biasa ke rekening nya. Tapi dia sudah mau berubah. Dia sudah mau membersihkan rumah, itu saja sudah membuat Mas senang.'' Ucap Mas Bram, perkataan nya yang terakhir membuat aku yakin, kalau Mas Bram masih mencintai Tiara.
''Ini hanya beberapa hari saja. Coba kita lihat ke depannya, kalau dia benar-benar telah berubah, maka aku dan Andra akan mengalah. Aku akan membiarkan kamu dan Tiara hidup bahagia tanpa adanya aku. Aku tidak akan menuntut kepada mu tentang apa yang telah aku beri kepada mu dan Tiara. Aku ikhlas. Tapi jika Tiara masih belum berubah dan masih banyak menuntut darimu, maka aku siap menerima mu kapan saja,'' ucapku tulus dengan tersenyum simpul. Terkadang, hanya dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, maka kita pun akan ikut merasa bahagia, meskipun dia bahagia bukan karena kita. Ada banyak cara mencintai, semua tergantung kita. Tapi jangan lupa, tetap lah bersikap elegan, jangan jatuhkan harga diri mu untuk mengemis cinta.
__ADS_1
''Terimakasih Putri, kamu memang wanita istimewa.'' Mas Bram menggenggam erat kedua tangan ku. Wajahnya yang tadi terlihat stres kini sudah berganti dengan sebuah senyuman. Senyuman yang sangat manis.
''Iya, sama-sama Mas. Kalau begitu aku bikin teh dulu untukmu. Kamu seperti nya sedang kedinginan.''
''Iya, terimakasih Sayang.'' Ucap Mas Bram. Setelah itu aku berlalu kebelakang.
***
Beberapa hari terlewati, aku dan Mas Bram melakukan rutinitas seperti biasa. Pagi hingga sore hari kami bekerja, dan malam nya terkadang Mas Bram menginap di rumah ku dan terkadang ia menginap di rumahnya bersama Tiara.
Di kantor, kami bersikap seperti seorang atasan dan bawahan. Tidak ada perlakuan istimewa yang kami tunjukkan di depan khalayak umum, karena kami masih menyembunyikan tentang pernikahan siri kami dari orang-orang. Mas Bram masih sering mengeluh tentang Tiara yang katanya kembali bersikap seperti dulu. Tapi aku memintanya untuk tetap bersabar dan untuk tetap mempertahan Tiara. Entah karena alasan apa aku mengatakan hal itu, padahal jauh dari dasar lubuk hatiku, aku ingin menjadi wanita satu-satunya bagi Mas Bram.
Terkadang saat sedang rapat dengan para petinggi perusahaan lain, banyak rekan kerja yang posisinya sama seperti aku, yaitu seorang CEO, yang terang-terangan menggoda aku dan menyatakan perasaan suka kepada ku, tapi aku bersikap abai, karena aku sudah memiliki seorang suami simpanan. Berbeda dengan Mas Bram, wajahnya nampak tak suka melihat dan mendengar pria lain menggoda aku, dan sering kali ia juga mengatakan kalau dirinya tak pantas untuk wanita yang mempunyai kedudukan lebih tinggi darinya. Seringkali ia merasa rendah diri.
''Kamu beneran cinta sama aku Putri?'' tanya Mas Bram saat kami sedang makan bersama di restoran ternama. Usai meeting, kami memutuskan untuk singgah di restoran bintang lima.
''Iya, Mas.'' Jawabku meyakinkan sambil menyuapi makanan ke mulut.
''Tapi, lihatlah. Para pria yang tampan dan mempunyai jabatan sama seperti mu banyak yang menyukai mu. Lantas apa yang kamu lihat dari aku?''
''Jangan tanyakan itu lagi. Sekarang kamu adalah suami ku Mas.''
''Suami seperti apa Mas, ini. Bahkan saat ini Mas belum bisa membuat suatu keputusan.''
''Aku tidak meminta mu untuk membuat suatu keputusan, sekarang kita jalani apa adanya, seperti ini saja aku sudah senang.''
''Tapi Tiara?''
''Ya udah, kalau kamu ingin mempertahankan dia dan ingin hidup dengannya selamanya, maka sekarang juga kita udahan. Oke!'' Kataku akhirnya. Entahlah, menurut aku Mas Bram terlalu lemah menjadi seorang pria. Dia masih saja bingung harus memilih antara aku atau Tiara, selalu saja itu yang ia bahas. Padahal ia tahu, kalau selama ini aku jauh lebih baik dari Tiara dalam memperlakukan nya.
''Bukan begitu maksud Mas Sayang,'' wajah Mas Bram nampak panik melihat kemarahan ku. Karena ini merupakan kali pertama aku berkata dengan intonasi sedikit tinggi kepada nya. Ia langsung saja menggenggam kedua tangan ku dengan wajahnya yang memelas. Kami saling memandang beberapa saat dengan jarak cukup dekat, tapi tiba-tiba saja sebuah suara mengangetkan kami, dan Mas Bram langsung saja melepaskan pegangan tangannya dari tangan ku.
''Mas Bram ...,'' Aku dan Mas Bram menoleh ke arah sumber asal suara. Di dekat meja makan kami, nampak Tiara berdiri dengan wajah memerah bersama teman-teman nya. Karena keributan kecil tadi, membuat aku dan Mas Bram tidak menyadari akan kehadiran Tiara.
__ADS_1
Bersambung.