
Sore hari, pukul lima sore.
''Mas, aku pergi ya ...'' Tiara melambaikan tangan seraya berjalan menuju pintu utama, sedangkan aku sedang menyapu lantai dan membereskan rumah yang berantakan. Tiara sudah sangat cantik dengan pakaian dan dandanan yang mendukung penampilan nya. Ia begitu pandai dalam memilih pakaian yang pas di tubuhnya.
''Lho, kamu enggak salaman sama Mas dulu?'' tanyaku dengan mata menyipit ke arahnya. Bisa-bisanya ia nyelonong begitu saja tanpa menyalami tangan suaminya.
''Em, muahc ... Udah, cium dari jauh aja ya, soalnya teman-teman aku udah bolak balik menghubungi, kata mereka, mereka sudah kumpul di restoran tempat kita-kita nongkrong, tinggal nunggu aku lagi, Mas. Mereka semua udah enggak sabar lagi pengen lihat mobil baru aku,'' sahut Tiara dari ambang pintu, tangannya memegang ponsel yang berdering, wajahnya terlihat kesal menatap ku. Aku mencoba bersabar menghadapi tingkahnya.
''Kamu jam berapa pulangnya?'' tanyaku lagi saat ia sudah mau melangkahkan kaki.
__ADS_1
''Em mungkin jam sepuluh malam,'' jawabnya lagi. Lagi, ia menoleh ke arah ku yang berada di ruang tamu, aku yang memegang sapu dengan kaos oblong dan celana tanggung yang aku pakai.
''Ya udah, kunci serep kamu bawa 'kan? Soalnya Mas juga mau ngojek sampai subuh,''
''What?'' mata Tiara tiba-tiba melebar melihat ku.
''Iya, Mas harus semakin rajin kerjanya, supaya kamu bisa beli apa aja yang kamu mau,'' ucapku dengan senyum mengembang.
''Iya, hati-hati.'' Ucapku sedikit berteriak karena tubuh Tiara sudah hilang di balik pintu.
__ADS_1
Usai kepergian Tiara, aku meletakkan sapu yang aku pegang di dinding, lalu aku duduk di sofa ruang tamu. Aku merenggangkan otot-otot punggung dan tangan ku, rasanya tubuh ku begitu pegal. Sedari pulang dari membeli mobil untuk Tiara tadi, aku memutuskan untuk membersihkan rumah sendirian, sedangkan Tiara selalu sibuk dengan mobil dan ponselnya. Tidak ada berniat dihatinya untuk membantu suaminya ini, merasa sungkan pun tidak, aku bisa melihat raut wajahnya biasa-biasa saja saat melihat aku lagi membersihkan rumah sendirian. Bahkan berulangkali ia memuji aku bahwa aku adalah suami yang rajin. Apakah aku senang dengan pujian nya itu? Tidak! Aku merasa di rendahkan oleh wanita yang bergelar istri. Mungkin suatu hari nanti saat aku benar-benar lelah, saat Tiara tak kunjung sadar, aku akan pergi dari hidup Tiara. Aku harus menggapai bahagia ku sendiri. Dan Tiara juga, kalau aku sudah tidak sanggup lagi membahagiakan nya, maka ia pantas mendapatkan lelaki yang lebih segala nya dari aku.
***
Malam harinya, aku berdiri di depan cermin, aku menyisir rambut ku supaya terlihat rapi dan lebih keren. Aku memakai jam tangan dan juga menyemprot kan parfum pada kemeja dan celana yang aku pakai. Aku sudah terlihat tampan, setelah semuanya di rasa pas, aku keluar dari kamar lalu menuruni satu persatu anak tangga. Tadi, Bu Putri sudah menghubungi aku, katanya dirinya sudah menunggu kedatangan aku di rumahnya.
Setelah itu, aku membuka pintu mobil yang terparkir di teras rumah, sengaja tadi sore aku parkir di teras, supaya malam harinya aku tidak repot-repot lagi mengeluarkan nya dari garasi. Aku melaju kan kendaraan roda empat meninggalkan halaman rumah, kendaraan roda empat yang aku kemudi merupakan mobil bekas Tiara, karena sudah memiliki mobil Pajero makanya Tiara menyerahkan mobil ini kepada ku. Dulu, aku selalu menggunakan motor ku untuk pergi ke mana-mana.
''[ Tiara, Mas tidak jadi ngojek pakai motor, malam ini Mas narik menggunakan mobil saja supaya penghasilan nya juga gede, ]'' aku memarkirkan mobil ku sebentar di pinggir jalan, aku mengirim pesan kepada Tiara supaya nanti saat sudah pulang ia tidak curiga melihat mobil yang tidak ada di garasi.
__ADS_1
''[ Iya, Mas. Semoga saja malam ini penumpang nya banyak supaya aku bisa shoping shoping besok pagi, ]'' balas Tiara. Aku tak membalas nya lagi, aku membaca pesan itu dengan senyum getir. Tiara sama sekali tidak menyematkan kata-kata doa untuk mendoakan keselamatan suaminya ini. Setelah itu aku melajukan lagi mobil ku menuju kediaman Bu Putri.
Bersambung.