Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )

Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )
Pinta tanpa Suara.


__ADS_3

Saat dipemakaman,entah mengapa Arjuna turut menangis menyaksikan bagaimanaRara tersedu ditempat peristirahatan pria pertama dalam hidup dan cintanya itu.


Airmata anak muda itu jatuh tak terbendung, seolah ia merasakan sakit derita masa lalu yang dikenang oleh perempuan berhijab itu.


Setiap satu detik, Fano mengusap bening yang jatuh disudut mata sang istri,agar airmata itu tidak mengotori penutup wajah Rara.


Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan Dimata seorang Arjuna..


Arjun mengusap bening miliknya sendiri, seraya nyaris tanpa berkedip menatap keduanya bergantian.


Fano dengan sabarnya menenangkan sang istri,dari yang Juna perhatikan,baru kali ini ia melihat ada seorang pria yang begitu tulus mengasihi istri.Bahkan rasa cemburupun tidak pria dewasa itu bolehkan mampir dihatinya yang bakalan merusak keagungan cintanya pada sang istri.Juna yangberjongkok disamping kedua pasangan itu menatap kagum pada Fano, dan penuh simpati pada bu Ranata.


" Ternyata ada kemujuran yang besar dibalik derita ibu Rara.Tuan Fano datang sebagai pahlawan, kekasih,suami, penuntun, dan penampung hidup dimasa terpuruk perempuan itu.Tidak banyak wanita yang punya keberuntungan sebesar Bu Ranata.Dicintai oleh pria terkemuka terkemuka dalam kondisi terburuk perempuan itu. Inilah cinta sebenarnya, ternyata selama ini aku belum seberapa mulia dalam perkara mencinta."Fikir Arjuna dalam hatinya.


"Aku malu hati dengan sikapku sendiri, baru mengetahui orang yang kucintai tak dapat kumiliki saja sudah membuat jiwaku lemah, sedang Om Fano berani mengorbankan seluruh sisa hidupnya demi perempuan terkasihnya, mampu menerima segalacacimaki,umpat dan puji dari semua pihak,untuk melindungi dan menerangi hati seorang perempuan depresi yang yang sudah tak suci lagi.Dari sisi mana lagi pria ini dapat dilihat cacatnya dalam mencinta." kagum Arjun dalam hati seraya membayangkan masa- masa tersulit seorang Fanfano dulu saat Ranata istrinya belum pulih.


Sampai Dr.Fano selesai membimbingacara doa ziarah kubur, Arjun masih saja sibuk bertarung dengan hatinya, hingga Rara menyentuh pundak Arjun,agar anakmuda itu tersadar dari lamunan panjangnya."Ngak boleh melamun segitunya ditempat seperti ini nak..takutnya nanti ada yang masuk.Siapa yang berani menjadi dokter cinta untukmu.Sepertinya tidak banyak lho dokter apalagi tabib yang sehebat Om Fanomu dalam meracik resep cinta menjadi obat."


" Siapa bilang hanya aku yang bisa sayang...Semua yang merasakan jatuh cinta pada wanita tercantik didunia bakalan melakukan hal yang sama." Sarkas Fano tak mau kalah memuji istrinya.


Ranata tersipu malu,untung wajahnya sekarang tertutup cadar, kalau tidak Arjun pasti sekali lagi bakalan salah mengira kalau orangtua itu adalah Sintanya.Khilaf berkali- kali seperti yang sering terjadi pada kisah muda- mudi zaman kini.


Sedang menatap mata Rara saja kembali membuat kerinduan Arjun semakin besar pada Sinta."Ya Tuhan...Bagaimana bisa ibu dan anak itu persis sama,bahkan kulit mereka sama muda.Apakah karna ini anak beranak itu terpisah sejak bayi seperti mitos yang pernah kudengar." Lagi Arjun terhanyut dalam fikirannya.


"Kita balik sekarang nak! Bukankah masih banyak yang mau nak Arjun selesaikan sebelum esok kita balik keIbukota."Panggil Fano kemudian, melihat Arjun masih tak bergeming dari tempatnya.


" Ba...baik om Fano."Kita balik sekarang." Sahut Arjuna gagap.Ketiga orang itupun melangkah berjejer menuju jalan keluar dari pemakaman umum diujung bukit itu.

__ADS_1


Dipersimpangan jalan kembali Ranata menangis."Hiks...hiks...hanya sampai disini saja kasih umat manusia." terdengar suara perempuan yang sudah melahirkan Sinta itu meratap.


Arjuna menahan langkah, kedua alisnya mengernyit tak mengerti maksud dari ibu itu.


" Kasih raga sampai nyawa kembali pada sang Pemilik sebenarnya sayang..Sedang didalam hati kita tidak akan pernah hilang mereka yang pernah kita sayang,meski sekarang raganya tinggal belulang.Hanya saja


Allah sengaja mengobati hati kita yang ditinggal agar tidak selamanya larut dalam kesedihan, termasuk memberikan jodoh yang lain sebagai pelipur lara, walausesungguhnya tiada akan pernah sama dengan yang pertama."Ucap Fanfano menenangkan istrinya.


Arjun manggut- manggut."Ada fikiran yang lebih terang dari mentari, juga hati yang lebih luas dari samudra." Kembali ia terkagum dengan sikap Fanfano.


Senja hampir menjelang,saat ketiganya sampai diVilla dikaki gunung.Arjun pamit pada Fano dan Ranata karna masih banyak yang meski ia selesaikan malam ini.


" Hati- hati nak..Semoga diibukota esok kita punya banyak waktu untuk berkumpul." Ucap Fano melepas Arjun menuju mobilnya yang diparkir dipelataran Villa.


" Amiin..." Sahut Arjun yang diikuti juga oleh Ranata.


Mobil Arjun melaju pelan ditempat jalanan yang masih diaspal kasar.Setelah 1.5 KM tibalah mobil itu dijalan besar, Arjun yang ingin sampai magrib dirumah,segera memacu laju mobilnya menuju rumah om Aris dan Tante Adelia. Ada banyak cerita yang ingin ia kisahkan pada keduanya nanti tentang ibu dari adik angkatnya,sebagai dongeng penghantar tidur pada keduanya.


Syukur- syukur keduanya bisa membalas dengan menceritakan lagi kisah masa lalu Bu Ranata yang masih belum kelar Arjun dengar.


" Walaupun telah balik keibu kota, disini aku harus menempatkan seorang yang ahli dalam mengusut kasus lama dikota ini.


*****


Bakda Isya, Arjun menanyakan pada Adelia tantang sejauh mana persiapan merekauntuk keberangkatan esok.


" Masalah fisik semua beres Jun, apa urusan perpanjangan tanganmu disini juga sudah terpercaya?" tanya Adelia sembari menunjukkan koper Arjun yang sudah wanita itu siapkan.

__ADS_1


" Sudah Tante, Tapi___


" Tapi apa Juna?" sambung Aris.


"Apa boleh aku mengutus seseorangyang frefesional untuk mengungkit kasus pelenyapan om Kudriman 21 tahun yang lalu Om?."


" Tidak nak! Itu terlalu lama untuk dibuka lagi, apalagi kampung yang sekarang sudah nyaris jadi kota ini bukan seperti daerah biasa." Ujar Adel mengibaskan tangannya.


" Tapi rasanya ada yang sakit disini Tan..Ketika mengingat kriminal sebesar itu luput dari penanganan polisi." Kesal Arjun seraya mengelus dada.


" Ini terjadi karna wilayah ini dari dulu terkenal dengan daerah kebal hukum, Bahkan cukup populer saat om dan tante remaja kalau ini disebut kampung tak ada uang aturan hilang."


" Kok segitunya ya om! Tapi aku tak peduli, setelah ini aku akan tetap menyelidiki semuanya, walau harus menghabiskan banyak uang untuk itu." Kukuh Arjun.


" Baiklah nak.. Tapi Tante mohon jangan kau sendiri yang lakukan, berikan tugas ini pada yang pandai, biarlah banyak biaya yang penting nyawamu takboleh sampai dalam bahaya. Om rela kehabisan harta, tapi tidak kehilangan dirimu Arjuna!"


" Sekali lagi om ingatkan kalau musuh Almarhum itu bukan orang sembarang, kau ingat Tantemu sudah cerita gimana Ranata ibunya Sinta hampir dilenyapkan dirumah sakit yang mengalami pengamanan terbaik diibukota, hanya karna umurnya saja yang masih panjang, hingga ibu angkatnya yang jadi korban."Imbuh Aris


" Kalau lawannya orang biasa, tentu Kudri siguru silat terkemuka kala itu, takkan berahir mengenaskan begitu." Ujar Adelia menerawang.


Arjuna melepaskan nafas kasar, hatinya kembali dalam dilema.


" Fokus dulu dengan masa depanmu,


kalau ada kesempatan baru kau urusi lagi masa lalu tanpa mengorbankan masa depanmu yang masih panjang nak.." Imbuh Aris seraya mengulurkan tangannya untuk dipijiti Arjun.


Arjun yang sudah biasa mulai melakukan pinta tanpa suara itu sembari bergolek disisi kanan Aris suaminya.

__ADS_1


Cerita berlanjut sambil pijit- pijitan malas. Tatkala kedua pria terdiam, Adelpun mulai menutupi setengah pinggang kebawah dengan selimut, karna melihat dua pria terkasihnya tertidur." Ngigo atau tidur benaran ya?"Ucap Rara turut bergolek disisi kanan


__ADS_2