
Dokter Mengernyit bingung dengan kasus langka yang ia temui pada putri dari keluarga Smitt ini.
Ia menatap kosong pada alat yang ia bawa, begitu tadi mendapat penjelasan ditelfondari sohibnya Rajj tentang masalah putri mereka.
Dokter Budi sengaja meminta Tim medisnya membawa defribrilator.Alat pacu jantung atau defribrilator adalah alat untuk mengatasi gangguan irama jantung atau aritmia yang dapat mengancam jiwa seorang penderita. Alat ini akan ditempelkan pada dada atau area perut pasien untuk membantu pasien mengontrol ritme jantung yang tak normal. Dokter Budi dan timnya sudah bersusah payah membawa ini alat kekediaman Rajj Copry,tapi sepertinya alat ini tak berguna, setelah ia periksa jantung pasien yang ternyata bekerja dengan ritme normal."Lalu kenapa Sinta tak sadarkan diri?"Fikir dokter itu buntu.
" Bagaimana dokter? Kenapa tidak dilakukan penanganan khusus Aritmia?"Tanya Arjun langsung begitu dokter hanya menginfus Sinta saja dan setelahnya malah pak dokter memelototi alat khusus itu.
" Ti...Tidak...Nona muda keluarga Smitt saat ini baik.Nafas dan denyut nadinya juga normal, hanya saja ia sedang tertidur pulas.Aku memasang infus untuk jaga- jaga saja kalau- kalau tidurnya lama, karna kemungkinan selama ini ia jarang istirahat, terlalu sibuk mungkin." Ungkap sang dokter tapi dengan wajah bingung, sepertinya pria matang ahli jantung itu kurang yakin dengan pernyataan sendiri.
" Tertidur pulas?" Bingung Jini?
" Emang ada yang mengalami seperti itu dokter?" Tanya Mommy Cinta Dan Daddy Rajj nyaris bersamaan.
" Ini kasus langka, perlu observasi lebih lanjut!Sebaiknya pasien kita bawa kerumah sakit saja.Untuk Aritmia sepertinya tidak!" Tegas sang dokter tak mau kentara sedang dalam dilema.
" Apa tidak ada gejala keracunan dokter?" Tanya Arjun membuat Dokter Budi yang tadinya sedikit stres karna penemuan langkanya ini akhirnya tersenyum geli.
" Racun asrama boleh jadi,Tapi itu sayatak faham."Balas sang dokter menggodadengan membalikkan kata keramat itu sembari menepuk pundak pemuda gagah yang ia lihat sangat cemas.Dokter itu mengajak bergurau sekedar mencairkan suasana tegang diantara mereka.Yang Sebenarnya dokter itu sama tegangnya, manakala satu kali ini ia merasa gagal dan bingung dalam mengambil tindakan, hal yang tidak pernah terjadi sepanjang 15 tahun ia berkarir dibidang ini.
Hanya dengan kode tatapan saja dari sang dokter langsung dimengerti oleh perawat Rumi,segera wanita itu memerintahkan timnya untuk mendorong Brankar kedalam, untuk memindahkan pasien ke ambulance yang tadi dibawa untuk berjaga- jaga.
Rasa sesal dan cemas Arjuna kian bertambah,apalagi melihat Sinta didorong dengan Brankar menuju mobil yang biasa dipakai membawa mayat.Ingin rasanya ia mencegah dengan membawa Sintanya dengan menggendong wanita itu lalu membawanya dengan mobil miliknya, tapi Arjuna sadar kalau Sinta bukan miliknya, ia hanyalah seorang Abang, apalagi sekarang sudah ada Gumilang Dirgantara, pria yang sangat tampan itu datang terburu- buru,dan saat ini tengah berurai airmata mengiring Brankar istrinya.
"Ta...Apa yang terjadi sebenarnya sayang...Jangan tinggalkan akang.Bangunlah yang.. Biar kita mulai semuanya dari awal." tangis pria itu.
" Mulai dari awal? Emang selama ini apa yang terjadi?" Arjun bingung dengan penuturan suami Sinta.
" Akang?Apa seperti itu panggilan sayang mereka?Kedengarannya kuno tapi manis.Lalu apa maksudnya mulai lagi? Sepanjang jalan pertanyaan- pertanyaan itu berputar- putar di benak Arjuna sampai tanpa ia sedari sepasang mata tajam menatap curiga padanya, melihat perhatian tak biasa seorang Arjuna pada perempuan miliknya.
__ADS_1
Brankar Sinta didorong oleh Tim medis menuju ruangan emergency, diikuti langkah dan wajah- wajah cemas anggota keluarga, lebih hebatnya Dirga lihat raut kelam sang kakak ipar.
Tatkala pintu ruangan IGD tempat Sinta ditangani menutup,Dirga segera menemui Arjuna empat mata.Begitu tak sabarnya pria itu, bahkan melupakan istrinya sekarang tengah terbaring diIGD dengan kondisi yang belum bisa ditebak dengan pasti.
" Kamu kakak ipar itu?Tuan muda keluarga Smitt? Kenapa tidak mirip dengan istriku? Apalagi kulit kalian sangat kontras!"Ujar tanya Dirga langsung tanpa memikirkan perasaan pria yang tengah ia intimidasi.
Sekarang kedua pemuda gagah persi berbeda itu saling tatap dengan sorot yang sama- sama tajam.Biru milik Dirga seakan ingin menikam manik Hitam milik Arjuna.
" Tentu saja wajah dan kulit kami beda, karna mommy kami sangat cantik dan daddy kami sangat manis dan gagah.Apa kau tidak perhatikan mertuamu selama ini? Atau sengaja tidak peduli lagi setelah merasa memiliki putri mereka?" Ujar Arjun balik bertanya membuat tenggorokan Dirga mendadak tercekat.
"Orang ini, lebih bahaya dari Rajj Copry." Batin
Dirga dengan menahan kesal
" Aku perpaduan mommy dan Daddyku sedangkan Adikku Sinta titisan Dewi Lakshmi dan Dewi Cinta mommyku."
Apa kau lupa kami keturunan Hindustan juga!
Bahkan mengenalkan diri saja pria itu belum, sudah berani menekannya.
Dirga mendengus kasar,lalu memutuskan untuk menurunkan pandangannya dari Arjuna
namun setelahnya Dirgantara menggedikkan bahu dan beranjak meninggalkan kakak ipar berasa rival itu.
"Kau tidak percaya juga Hey?"Kejar Arjuna.
Deeet....Dreeet
Terdengar dering perangkat dari arah saku celana Dirgantara, membuat langkah pria itu tertahan,namun pria itu ragu memeriksa siapa penelfon, mengingat kakak iparnya berada tepat Setengah meter darinya.
__ADS_1
" Angkat saja,mana tahu itu dari orang pentingmu!" Ujar Arjuna monohok sekali terdengar ditelinga Dirga.
" Sudahlah...Biarkan Dirga mengangkat telfonnya, ayo kita tunggui adikmu." Ajak Rajj sembari menarik Arjuna, ia sekilas tadi melihat putranya menepi bersama menantu, tak mau keduanya terlibat pertentangan lebih jauh, Rajj diam- diam mengikuti.
Mendengar tentang Sinta, Arjun langsung menurut. Pria itu melangkah tegas mengikuti Daddynya.
" Tak ada gunanya cari masalah dengan dia Juna, sekarang kita fokus pada kesehatan adikmu." Ucap sang Ayah begitu mereka telah jauh dari Dirga.
" Maksud Daddy?"
" Nanti kau bakalan tahu juga,sekarang buktikan dulu kalau kau benar- benar menyayangi putriku." Imbuh Rajj membuat kedua alis Hitam legam milik Arjuna nyaris menaut sempurna.
*******
Sementara ditempat yang berbeda, Rara yang barusaja diberi tahu oleh Adelia tentang putrinya yang mendadak sakit, kembali digeluti oleh fikiran negatif dan teringat mitos wajah persisnya dengan putri.
Tanpa dapat dicegah airmata Rara kembali bergulir membasahi pipinya."Baru berniat saja aku menemui putriku, Sintaku sudah dalam masalah." Gumamnya tanpa sadar dihadapan suami dan kedua tamunya.
" Jangan memikirkan mitos itu lagi sayang...Ayo kita temui putri kita sekarang." Ajak Lembut dokter Fano sembari merapikan kerudung dan memakaikan cadar Rara.
" Ya!,Ayo kita langsung berangkat dokter, tak perlu menunggu malam." Timpal Adelia.
" Seorang ibu adalah obat bagi putrinya juga sebaliknya.Jadi doakan saja putrimu baik- baik saja nyonya." Imbuh Aris.
Rara mendegup Saliva." Baiklah...Semoga putriku segera sadarkan diri,bisa bertemu lagi denganku dan kali ini akan kubalas panggilan Umak darinya waktu itu,akan aku dekap ia sepenuh jiwa!." Ujar Rara memantapkan hati.
Aris dan Adel mengacungkan jempolnya, memberi semangat pada perempuan yang kondisi mentalnya tidaklah sama dengan wanita seperti Adelia.
Kedua pasangan lama dan sebaya itu segera mengatur langkah menuju rumah sakit, karna beberapa menit lalu Arjuna mengirim Lokasi rumah sakit tempat Sinta dirawat saat ini melalui perangkat Adelia.
__ADS_1
Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Sedikitpun Rara tak mampu menutupi kegelisahannya. Demikian juga dengan Fano, kali ini ia sulit menenangkan istri dengan suasana hatinya yang tidak jauh berbeda.
Bersambung...