Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )

Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )
Perempuan Paling Beruntung


__ADS_3

Bino yang mendapat kabar dari informannya tentang kembalinya Dokter Fano beserta istrinya kekediaman mereka, langsung memutuskan untuk OTW kelokasi, ingin bertemu dengan pasangan itu."Syukurlah Ibu Rara sudah kembali, kita jangan sampai menyiakan kesempatan ini Pak Jo, kulihat seharian non Sinta bermuramdurja, kukira apalagi yang difikirkan nona selain ibu kandungnya itu." Ujar Bino pada sopir mobil kantor Sinta, ketika pria itu menemuinya karna dipanggil melalui telfon beberapa menit yang lalu.


" Ya nak, kulihat juga begitu,sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarganya nak Sinta tadi diam saja dan terlihat sedang berfikir berat."Sahut lelaki berumur itu,mulai membukakan pintu mobil untuk majikan ketiganya.


" Apa kita pergi makan dulu atau langsung OTW pak Johan?" tawar Bino.


" He...he...Kau sepertinya telah tertular nona Sinta, takut sekali berjalan dengan orang yang perutnya keroncongan,katanya nanti ada yang mengaum dijalanan."Gelak Pak Johan teringat gurauan nona mudanya setiap mengajak sang sopir makan.


" Ha...ha...Padahal sebenarnya nona sendiri yang mau makan ya kan pak!"Seru senang Bino saat memasang selbet sembari membayangkan senyum tulus dibalik sutra tipis yang selalu menutup Samar wajah nona cantik itu.


" Podo juga sebenarnya, kalau bapak selalu lahap ketika makan didepan nona, rasanya makanannya makin jelas rasanya dilidah. Kalau nak Bino tentu lebih dari saya, saya yang sudah bangkot saja masih terpengaruh sihir keanggunan non Sinta, apalagi nakBino yang sebaya."Goda Pak Johan melirik Majikan ketiganya.


" Kalau saya sih biasa aja pakJo,orang aku sadar nian siapa diri." Ucap Bino menunduk.


" Ya elah...Jangan sedih gitu lho nak Bino,itu Burber namanya istilah orang muda."Ucap Sembarang Johan sembari menatap jenaka Bino.


Huk..huk...Bino sampai tersedak saking geli dengan raut menggoda sang sopir." Baper Pak, Bukan Burber!" Tampik Sang sopir.


" Cik, apa aja dech...yang penting tawamu itu sudah kembali lho Majikan tampanku."


" Wong saya Cuma majikan tiri kok pak!" Sorak Bino menahan tawa.


" Oke! Lemon OTW majikan tiriku..." Sambut riang pak Johan seraya melajukan mobil.


Bino sampai geleng- geleng kepala melihat betapa kocaknya sopirnya hari ini.Padahal ia tak tahu kalau pria berumur itu sengaja menghiburnya dengan salah kata,karna melihat akhir- akhir ini Bino sering menyendiri dan terlihat sedih.


Mobil melaju menuju kediaman Ranata, sepanjang jalan pak Jo sengaja tidak menyetel musik, tapi malah bersiul dan menyenandungkan lagu ceria, selain menghibur Bino,hati pria itu sekarang diselimuti rasa senang,bakal bertemulagi dengan Istri dari Guru sekaligus sahabatnya dulu,Ranata Humaira Zulkifli bunga desa yang sempat menjadi rebutan para muda 23tahun silam, bahkan berakhir dengan pertumpakan darah tatkala ada pihak- pihak yang menaruh dendam dan sakit hati karna kembang desa mereka malah memilih menikahi Abang angkat sendiri, pria yang tidak punya kekayaan materi tapi memiliki kemampuan ilmu lahir batin yang tinggi.


"Tak sangka secepat ini nak Bino menemukan

__ADS_1


alamat Rara."Ucap Pak Jhon hampir tak percaya ia dengan pandangannya sekarang.


Dihalaman rumah ia melihat Rara digandeng oleh seorang pria matang blasteran. Disamping itu juga ada sepasang lagi yang terlihat sedikit lebih tua dari Rara dan pria yang menggandengnya.


Senandung lagu gembira Johan berganti dengan keheningan."Siapa pria berkelas itu?Apa itu kekasih Rara?Sejak dulu sampai sekarang nasipmu sama Jo,motor butut selalu ditikung sedan mewah."Tanpa sadar ucapan itu meluncur saja dari bibir Johan yang sudah mulai keriput.


"Dia bukan Kekasihnya pak, pria itu adalah suami nyonya Rara.Pria yang dengan sengaja mengeluarkan perempuan itu dari kegelapan jiwanya, Dokter Ahli Jiwa yang mencintai dan memutuskan menikahi nona Ranata."Jelas Bino tersenyum pahit.


"Jadi nak Bino berhasil menyingkap seluruh rahasia kehidupan Rara yang sekarang?" Tanya Johan tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada majikan tirinya ini.


Bino mengangguk."Demi mengembalikan kebahagiaan nona muda yang sudah lama hilang." Ucap Bino kali ini tulus.


Kedua pria beda generasi itu saling pandang, lalu saling melempar senyum."Kita sama ternyata nak..mencintai tanpa menuntut untuk dicintai karna sadar diri.


Bino menunduk lalu mengangguk. Sebenarnya selama ini ia selalu berusaha keras menutupi perasaannya,tapi bertemu dengan kawan senasip rasanya tidak buruk mengakui, sekedar untuk berbagi, semoga beban batin sedikit berkurang nantinya.


" Bahkan dari kejauhan begini mata tua pak Jo masih bisa melihat dengan jelas sudut mata kekasih dalam hati."Gumam Bino.


" Sama sepertimu yang bisa menangkap duka seorang Sinta dibalik kain sutranya.Aku juga sama nak, aku senang mengetahui cintaku sekarang bahagia bersama orang yang pantas.Tapi hari ini aku lihat ada kegelisahan dimatanya, apa ada hubungannya dengan Non Sinta ya? Non Sinta gimana ya, baru beberapa jam lalu aku mengantarnya, kok sekarang perasaanku jadi ngak enak." Racau panjang Johan.


" Suuuut....Jangan berisik! Ikuti saja mobil itu pelan- pelan dan jangan sampai kentara." Titah Bino kemudian.


" Ya...Kita ikuti hati- hati." Sahut Johan mulai menghidupkan mobil kembali, melihat mobil Rara sudah berjalan.


*******************


" Kenapa Pan? Kok menepi gitu, padahal kita ingin cepat Lho!" Protes Rara saat Fano menepikan mobilnya.


Sedang Adel dan Aris hanya diam saling pandang.

__ADS_1


" Ada yang ngikutin kita sayang..."


" Biarkan saja, Yang penting secepatnya sampai disana! Apa kau tidak khawatir sedikitpun dengan putriku?" Tanya marah Ranata.


Fano tersenyum menatap istrinya, lalu menggenggam jemari wanitanya itu dengan tangan kirinya." Putri kita! tentu aku khawatir sayang...Tapi aku takut yang ngikuti musuh kita, aku tak mau identitasmu dan putri kita terendus musuh yang nantinya akan membahayakan nyawamu dan putri kita! Hanya itu yang kumau Rara, kebaikan untukmu, putri dan putra kita."Jelas tegas Fano.Raut wajah Fano menunjukkan keseriusan yang dalam dengan ucapannya, membuat istrinya terdiam dan menunduk.


"Aku masih saja sama, mantan perempuan depresi yang sulit mengerti dan memahami keadaan."


" Aku juga sama sayang ..Aku sadar sepenuhnya dengan kondisimu, Sedaya mampu yang kupunya akan berjuang mengurai setiap benang kusut yang mengganggu jiwamu, lalu menyulamnya sebagai pakaian indah yang akan membungkus jiwa dan ragaku hingga keujung nyawa." Balas Fano dalam hati sembari memeluk pundak istrinya.


" Baiklah, kita lanjutkan perjalanan,nampaknya sorot mata mereka tidak menunjukkan kejahatan."Ucap Fano kemudian setelah memantau rekaman mini camera CCTV yang ia pasang dekat lampu belakang dari Layar monitor mini yang ada depan kemudi.Tak ada yang tahu keberadaan TV kecil itu, bahkan Rara sendiri, begitulah rapinya Fano menjaga wanitanya dari setiap ancaman bahaya.


Sementara Adel dan Aris tanpa sengaja saling peluk.Keduanya takjub pada kebijakan dokter itu menenangkan istrinya.


"Beruntung sekali Ranata Humaira,dicintai dengan segenap hati oleh seorang pria sejati." Gumam Adel yang membuat Aris spontan melepas Adelia.


" Apa kau fikir aku bukan pria sejati karna tak bisa memberimu bayi." Sungut Aris.


Adelia tersenyum lalu menarik suaminya kembali." Maaf salah pagut..Eh, salah sebut.Maksudku bukan itu sayang...Siapa bilang kau tidak memberiku bayi bang...Kau sudah memberiku bayi Sinta dulu,aku saja yang sok baik mau memberikannya pada temanku.Kau yang tidak berkhianat walau kita tidak dianugerahi keturunan, ini sudah keberuntungan tak ternilai bagiku, sebenarnya Adelialah wanita paling beruntung di dunia.


Mana ada yang sepertiku, sudah melahirkan sembilan putra saja masih didustai." Balas sarkas Adelia masih dengan berbisik, takut menarik perhatian pasangan yang didepan.


Mobil kembali melaju dengan cepat menuju rumah sakit, setelah ini takkan ada lagi candaan, karna semakin dekat, wajah keempat manusia itu semakin tegang.


Bersambung...


Datanglah dan berikan apresiasi nya dengan cara like, fote, give, dan Faforitkan karya ini ya.


Penulis masih sedang berusaha menambah Nex Bab

__ADS_1


__ADS_2