
"Baiklah...Kalau ini hanya masalah kompor dan kepindahan kakakmu Sinta saja, mari kita lupakan sejenak karna mommy kesini sama mamamu untuk mengajak kalian makan malam bersama,bukankah begitu Ra?"Ucap Cinta memutar bola matanya kearah ranata.Walau memutuskan tidak menampik kebenaran penjelasan ayah dan anak barusan,tapi masih ada nada sindiran dalam ucapan Mommy Cinta.Fino hanya membalas sindiran halus itu dengan senyum tipis.
"Mhem...Ya Fan, Rajj membuat acara makan malam keluarga besar diperusahaan bersama para kolega dan karyawan,dalam rangka syukuran untuk Sinta yang masih berhasil memenangkan tender raksasa,dalam kondisi rumahtangganya yang lagi goncang begitu."Jelas Ranata menyampaikan tujuan keduanya mendatangi kamar tuan muda kecil Fino.
"Benarkah?Jadi meeteng pertamanya setelah lima hari libur sekali masuk langsung nangkap!" Sorak riang Fano yang tak menyangka putri sambungnya itu punya kepandaian dan hoki yang selaras.
"Ya begitulah.. Sinta dari dulu memang begitu,selalu mampu memilah antara fikiran dan perasaannya,hingga perasaannya takkan ngaruh pada prestasinya." Sahut Cinta tersenyum bangga.
" Pokoknya semua anak mommy istimewa!" Timpal Fino tak mau para lelaki kalah.
"Alhamdulillah...Ya dech! Termasuk jagoan kecilku ini.Ya kan Ra?"Balas Cinta yang mendapat acungan jempol dari mama Rara.
" Ya udah...Kalau begitu mari kita bersiap untuk acara makan malamnya,dimulai dari para ibu, karna para ibu yang paling lama dan ribet soal dandan."Ujar Dr.Fano memangkas obrolan mereka agar tidak kepanjangan nantinya.
Kedua ibu tersenyum smirk,lalu mengangguk dan melangkah menuju kamar mereka masing- masing untuk siap- siap.
Sekitar pukul 20 lewat sedikit Rara, Cinta, Fano, Fino,Aris, Adelia,Roni dan Jini telah siap berangkat dengan mobil Alfat yang dikendarai Mang Johan.
Mobil melaju menuju lokasi gedung C3 dengan kecepatan sedang.Sementara Arjuna menatap kepergian keluarga besarnya sembari menarik nafas berat dari balkon kamarnya.
"Sepertinya aku akan sepi dalam keramaian kalau memaksa ikut." Batinnya merasa takut Sinta mendiaminya lagi,karna sudah tiga hari Sinta bahkan tak menoleh sedikitpun saat mereka berpapasan.Pagi tadi saja Sinta sengaja beralih pandang darinya ketika akan berangkat kerja.Niat Arjuna menghampiri Sinta untuk menawarkan diri mengantar wanita itu kekantornya terpaksa dia urungkan karna sikap acuh sang Adik.
"Sepertinya sudah saatnya aku kembali kekota berkembang.Karna disini tugasku sudah selesai.Untuk Urusan hati,aku masih saja seperti dulu.Bagai Pungguk merindukan bulan terhadap pautan hatiku.Cintaku benar- benar jatuh ditempat yang salah." Gumam Arjuna menatap nanar ketaman.
Bibi Sumi yang merasa heran tidak keluarnya Arjuna dari kamar sejak sore,langsung berinisiatif memeriksa langsung majikan muda yang sudah seperti putra baginya itu kekamarnya pemuda itu langsung dilantai dua.
Cukup ngos- ngosan kepala asisten Rumah tangga itu baru sampai didepan pintu ruangan pribadi Arjuna karna berjalan dengan tergesa- gesa.Walaupun pintu ternganga,tapi biSumi tidak langsung serobot masuk.Setelah sejenak mengatur nafas,barulah orang tua itu mengucap salam dan meminta izin pada sang pemilik kamar untuk dibolehkan masuk.
" Assalamualaikum...Nak Juna,apa boleh bibi masuk?"
"Masuk saja bi."Jawab suara berat dan terdengar dingin dari dalam,bahkan salam Sumi tidak terdengar oleh orangtua itu kalau Arjuna membalasnya, itu membuat Bi Sumi semakin penasaran ada apa dengan Arjuna, dengan tergopoh- gopoh wanita tua itu segera masuk.
Melihat Arjuna berdiri tegap dibalkon menghadap kejalan dengan tatapan kosong,bibi Sumi jadi kesal.Tiba- tiba naluri ibu cerewet dalam dirinya mencuat." Ini anak kebangetan sekali Ya! Masak salam ibunya tidak dijawab,Kirain lagi demam, taunya cuma natap jalanan, udah tubeng baru belajar mau jadi anak Durhaka Ya!"Ujar BI Sumi menggerutu sembari berkacak pinggang mengintari Arjuna.
" Ho...ho..Uhuk .Uhuk.." Melihat tingkah konyol BI Sumi Arjuna terbahak sampai terbatuk hingga airmata pria tampan itu keluar tanpa sengaja.BiSumi yang melihat itu langsung mengeluarkan sapu tangan biru dari saku seragam pelayannya dan dengan berlonjak Ia bermaksud ingin menghapus air mata Arjuna.
Sekali lagi Arjuna tersenyum karna bibi Sumi tak dapat menggapainya walau sudahbersusah payah."Salamnya sudah dijawab kok Ibuku yang cantik tapi Cebol."Ucap Arjuna sembari menunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan sang Bibi.
__ADS_1
Sumi melupakan pujian dan cacian yang sekaligus putra asuhnya ucapkan, dengan girangnya ia mengusap Airmata dan hidung Arjuna dengan sapu tangan biru miliknya.
"Banyak sekali sapu tangan biru yang ibuku punya, sepertinya satu lemari semua berwarna sama." Goda Arjuna menilik selalu sapu tangan biru yang dikeluarkan oleh orangtua itu.
Bukannya mendengarkan perkataan putra asuhnya Sumi malah mengomel."Orang semua pada pergi makan malam, kok Tuan muda berdiri mematung dibalkon seperti orang linglung! Katanya sudah jawab salam, tapi kupingku yang sudah keriput tapi tak budek ini tiada mendengar."Cerocosnya dengan bibir dijedong- jedingin.
"Salamnya hanya dijawab dalam hati bibi..Tadinya malam ini Arjun mau irit bicara, eh malah digerebek sama ibu paling cerewet sejabotabek.Cik, jadi batal dech mogok ngomongnya."Ucap Arjuna berpura- pura malas yang spontan dapat hadiah ditarik kupingnya sampai merah oleh biSumi.
"Ampun Mak...Sakit..." Keluh Arjuna tapi tetap bertahan membungkuk dan tidak berusaha lepas dari siksaan itu.Padahal kalau Juna mau mudah saja,begitu ia muluruskan badannya yang tinggi tegap,biSumi akan langsung terlempar.
BI Sumi melepas jewerannya kemudian, barulah Arjuna berdiri sembari mengusap kupingnya yang lumayan panas.
" Ini lagi, Disiksa kok ngak membela diri? Sejak kapan pula Belajar jadi anak Culun begini!" Lucunya sekarang bi Sumi malah marah pula sembari berkacak pinggang mengintari Arjuna lagi.
Arjuna menggeleng- geleng tak berdaya,rasanya ada yang berbeda dari sikap ibu asuhnya ini."Sehat kan Bi?"Arjuna menempelkan punggung tangannya yang lebar dijidat biSumi yang sudah mulai mengeriwil.
"Ngak!!!" Mode BI Sumi berubah pula jadi marah membuat Arjuna menautkan kedua Alisnya bingung sangat.
" What Happen Mom..." Tanya Arjuna.
"Oven??? Astaga!!! Sekarang bi Sumi malah Spontan memutar dan lari meninggalkan Arjuna.
" Hoh...hoh...Ku..Kue bibi masih diOVEN Jun, takutnya Hangus!!! "Pekik BI Sumi dengan nafas ngos- ngosan.
"Ya Ela BI...Ngapain lari- lari! Telfon Koki aja buat ngurus."Ujar Arjuna menarik lengan bi Sumi.
"Kokinya semua pada keperusahaan untuk turut acara makan malam."Jawab Sumi setelah sesak nafasnya reda.
"Ternyata aku sudah melewatkan banyak hak karna memikirkan Sinta."Arjuna sampai menggaruk menguasai rambutnya sendiri dengan tangan kiri seperti orang frustasi. Melihat bibi masih berusaha berlaridarinya,ia tersadar kembali lalu mengejar Bibinya itu.
" Ya udah ..Jangan bandel! Kalau ngak biar bibi Kugendong aja kedapur!" Ujar Arjuna dengan nada mengancam karna orang tua itu masih berusaha melepaskan tangannya saat
Juna berhasil mencapai lengan mungil itu lagi.
" Ngak Ah! Nanti saja nak Juna gendong Bibi ketanah Wakaf." Ucap Bi Sumi membuat Arjuna melotot setelah memahami makna ucapan perempuan berumur itu.
"Tidak! Sekarang juga anakmu ini akan menggendongmu, kalau urusan ketanah Wakaf tunggu putramu menikah dulu!" Ucap Arjuna sebelum dengan entengnya menggendong BiSumi.
__ADS_1
BiSumi tersenyum bahagia dalam gendongan Arjuna, untuk pertama sekali ia bersyukur sudah menyayangi Arjuna dengan tulus saat Anak muda ini masih kecil.Tadinya ia kira akan merasa malu digendong tuan muda ini,tapi nyatanya rasa keibuan yang besar membuatnya bangga mendapat perhatian besar seorang anak.
" Mana bisa ajal pake ditunda." Tampik BI Sumi merasa geli mengingat permintaan tuan muda keluarga Smitt ini untuk menunggunya menikah dulu sebelum Sumi dipanggil Tuhan.
" Sudah Jangan Brisik!" Ucap Juna dengan menggeleng.
" BI Sumi hanya bisa membalas dengan turut menggeleng pula.
"Lain kali, sudah Asma begini,jangan bikin kue lagi! Lagian siapa yang mau makan selain anakmu ini?" Ujar Arjuna tampak cerewet sembari menurunkan Bi Sumi begitu sampai didapur.
BI Sumi melangkah besar menuju Oven dimeja dapur modern itu."Sepertinya tiada yang bisa mencicipi kue ini lagi,karna sudah gosong!." Pekik BI Sumi setelah mematikan oven dan mengeluarkan kuenya yang berwarna Coklat tua.Wanita tua itu nampak sangat frustasi.
"Masih bisa dimakan kok bi,Cake rasa kerupuk. He...he..."Ledek Arjuna melihat Bolu lemon buatan bibinya mengering karna over Cook.
"Melakukan sesuatu jangan sambil- sambilan dan setengah- setengah Nak Juna! Kalau suka sesuatu usahakan dan berbuat sampai dapat! Jangan Biarkan cintamu gosong dan tidak bisa dinikmati lagi seperti kue buatan bibi ini karna diBuatnya sambil- sambilan." Cerocos BI Sumi kembali berkacak pinggang menatap tajam Arjuna.
"Bibi kok aneh sekali?Apa pula hubungannya kue gosong buatan bibi dengan Cintaku."
" Pokoknya ada! Kalau tidak mau jadi anak Durhaka jangan membantah! Cepat sana makan malamnya!" Ujar BI Sumi mendorong keras tubuh Arjuna.
" Ya Udah...Aku nurut deh Bi.. Takut nanti Asma bibi malah kambuh nyeret Arjun."Ucap Arjuna melepas tangan biSumi.
BiSumi tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk Arjuna Salim.Setelah mengucap salam Arjuna memantapkan langkahnya keluar dari istana keluarganya
untuk berangkat keacara makan malam perusahaan Sinta.Didepan ternyata beberapa Bodyguard sudah menunggu, dan Mang Asep sopir Rajj menyambutnya dengan membukakan pintu mobil Untuk tuan muda gagah itu.
" Nona Sinta sejak sore menunggu kedatangan anda tuan." Ucap Mang Asep.
Deg.
Tiba- tiba Arjuna merasakan dadanya berdetak tak karuan.Mendengarkan nama adik cantiknya itu saja Arjuna sudah begini, apalagi menatapnya dari dekat,belum lagi membayangkan duduk berdua satu meja makan.Arjuna sangat tidak siap saat ini, makanya ia enggan pergi,apalagi hatinya masih ragu dengan perasaan Sinta padanya saat ini dengan sikap dingin wanita itu beberapa hari ini.Apalagi mengingat belum adanya sepatah katapun dari adik angkatnya itu menyatakan kalau pernikahannya dengan Dirga akan diakhiri,walau perempuan cantik itu sudah tahu kalau Dirga adalah putra pembunuh ayahnya.
"Aku takut dekat nantinya jadi berharap Tuhan.. Sementara Entah apa yang akan diputuskannya tentang hubungan antara dirinya, suaminya Bino dan diriku." Batin Arjun berkecamuk sepanjang jalan.
Bersambung...
Sory ya Sob...Alurnya diperlambat dan simpang siur karna tak adanya umpan balik dari pembaca,jadi penulisnya jadi lemes dan kurang Gizi.He...he...
__ADS_1
Komen kek,like sama kasih hadiah kecil biar semangat sikit.