
Kedatangan Sinta diikuti Rama membuat seorang OG yang tengah membuat teh terkejut dan spontan menghentikan kegiatannya yang belum kelar."I...ibu Bos mau apa? Bi..biar Titin yang buatin." Ucap gagap gadis manis itu.
" Oh,sory mengagetkanmu Tin,silahkan siapkan tehnya,kalau saya hari ini ingin buat minuman sendiri." Ujar Sinta menatap teduh OG itu, agar kecanggungan gadis itu sedikit berkurang.
Benar saja,melihat tatapan bersahabat Sang Bos,Titin akhirnya dapat tersenyum santai. Perempuan itu segera menyiapkan minuman pesanan beberapa staf dengan bergegas,lalu pamit dengan sopan pada sang Big bos.
Begitu ditinggal pergi berdua saja oleh Titin, Rama yang sudah tak sabar langsung berucap tatkala Sinta baru mulai menggunting saset cappucino nya." Kulihat begitu mesra antara kalian berdua suami istri,apa seperti itu terus selama ini?"tanya Rama membuka percakapan,sebenarnya ia ingin to the poin,tapi khawatir nanti Sinta malah salah faham dan marah,ia jadi tak bisa menuntaskan maksudnya.
" Bukankah Suami istri memang layaknya selalu mesra sampai menua bersama kak Ram?Apa kau tidak punya cita- cita begitu jika sudah menikah nanti?."Sinta malah menghujani Rama dengan pertanyaan balik membuat Rama jadi gelagapan.
" Te...tentu." Sahut gugup Ramadan. Dipandangnya Sinta yang nampak santai dengan terus bekerja begitu cekatan mengaduk dua gelas kopi ganti- berganti, dan ditambahi sedikit lagi gula.Lalu wanita itu mulai menyiapkan blander untuk menghaluskan Esbatu.Dari rautnya sedikitpun tidak terlihat kalau wanita cantik ini tengah mengalami masalah dalam rumah tangganya.
"Andai ia sudah tahu dan masih bisabersikap manis pada pasangannya,aku tak tahu lagi sudut pandang wanita ini, entah ini kelebihan atau bahkan ini kekurangan Sinta."Fikir Rama bingung sendiri dalam hatinya.Dipandangnya Sinta lekat- lekat sekali lagi,walau perempuan itu hanya balas sekilas,karna kembali sibuk menyiapkan minuman dan cemilan.
" Ta..kutahu hatimu tak mau pernah dekat, walau kakak menganggapmu perempuan istimewa dari dulu.Tapi untuk kali ini, tolong jujurlah pada kak Rama,apa benar kau tidak tahu apa atau tak mau tahu dengan apa yang sudah suamimu buat dibelakangmu?" Ucap Rama dengan sorot penuh harap akan kejujuran Sinta.
Suara mesin blender yang baru menyalamemberi waktu jeda untuk Sinta berfikir membalas ucapan mantan senior yang saat ini jadi Kliennya ini.Setelah menyalin minuman kegelas yang lebih besar dengan ditambahi es yang sudah dihaluskan,barulah Sinta bicara pada Rama.
"Mohon maaf kalau kakak sudah melihat sesuatu yang tidak enak untuk kau pandang kak.Apapun yang kakak lihat jangan fikirkan lagi,apalagi memiliki niat untuk menyampaikan padaku untuk memprovokasi,itu hanya akan buang masa dan merusak pahalamu saja.Aku orangnya pantang membuat keputusan berdasarkan hasutan orang lain.Keputusanku hanya dari pertimbangan fikiran dan hatiku,aku bebaskan dari pengaruh siapapun termasuk keluargaku.Satu tambahan yang kak Rama harus tahu lagi,aku tidak akan membiarkan orang lain jauh Lebih mengenali dan memahami lingkunganku ketimbang diriku sendiri."Ujar Sinta sembari meraih cincau dingin dari kulkas lalu mulai merautnya sebagai toping cappucino dinginnya.
Rama memaku mendengar penuturanSinta.Dari ucapan itu Rama faham kalau Sinta sudah tahu semua yang dilakukan Dirga,dan Sinta sudah menebak pas maksudnya yang ingin membeberkan rahasia pria itu,dan Sinta menyatakan ketegasannya untuk tidakmemberi celah pada siapapun mempengaruhi keputusan dalam kehidupan pribadinya.
__ADS_1
Rama menghirup nafas berat kemudian memutuskan untuk mengambilkan mempan untuk Sinta.
" Kakak bantu nyusunnya ya."Ucapnya mulai mengatur dua gelas minuman dan cemilan yang ada dimeja itu untuk disusun dimampan.
Sinta mengangguk dan cepat- cepat menarik tangannya agar tak bersentuhan dengan Rama.
Rama tersenyum pahit dengan kenyataan itu,tapi ia berusaha menutupi kegetiran yang tiba- tiba menghantam ulu hatinya."Maafkan kakak, karna sudah ikut campur masalah pribadi Sinta.Sebenarnya kak Rama hanya tidak terima saja kalau Sinta dikhianati."Ujar Rama berusaha menutupi perasaannya yang terdalam.
" Ya kak,Sinta maklum,siapapun pasti tak akan mampu menyimpan suatu fakta buruk yang menyakitkan orang yang ia kenal yang ia lihat dan dengar sendiri."Ucap Sinta pelan.
" Bukan sekedar orang yang dikenal Ta,tapi dirimulah satu- satunya perempuan yang kucinta setelah Almarhum bunda.Lelah aku mencarimu untuk kujadikan bidadari hati, malah ketemunya kau sudah ada yang punya, Eh,yang punya ternyata bukan orang yang pantas pula.Bagaimana bisa kudiam saja membiarkan dirimu hidup dalam cengkraman penghianat cinta.Tapi kalau kau punya keputusan sendiri,aku mau lakukan apalagi selain patah hati." Gumam Rama sembari menggigit jari.
" Tapi aku__Rama tak tahu harus mengucapkan apa,ingin menolak namun ia masih betah walau hanya sekedar curi pandang pada Sinta.
" Aku tak sebaik apa yang kau lihat kak,soal penghianatanpun awal mulanya dari salahku.Dirga suamiku punya alasan melakukan itu,jadi mulai detik ini jangan memandang buruk padanya ya,disini aku juga bukan perempuan suci seperti apa yang kau pikirkan.Anggap saja penghianatan ini aku yang mulai,hanya saja tidak sedalam apa yang terjadi dengan suamiku." Ucap Sinta seraya berjalan santai membawa mampan minuman.
" Maksudmu apa ta? Aku takkan pernah percaya kau berani memojokkan diri sendiri hanya untuk membersihkan suamimu dalam pandanganku."
"Tak ada pembersihan dan penyangkalan kak.Pokoknya aku dan Dirga sama- sama salah,walau hanya Allah yang bisa menimbang siapa diantara kami yang paling bersalah.Yang harus kakak lakukan saat ini hanya satu,fokus pada proyek kita,dan lupakan apa yang kakak dengar dan lihat semalam dan mulailah bersahabat dengan calon mantan suamiku."Jelas Sinta membuat hati Rama jatuh bangun seketika.
"Ja...jadi kalian akan bercerai?tanya Rama setelah berhasil menetralisir hati dan jantungnya.
__ADS_1
" Ya,kami hanya ingin menikmati waktu kebersamaan tiga hari." Jawab Sinta membingungkan Rama.
" Untuk apa memupuk kebersamaan lagi jika hanya untuk berpisah?" Tanya Rama takterima keputusan aneh Sinta.
" Ini urusan hati kami dan sifatnya privasi! Kakak tak perlu mempertanyakan ini,karna aku atau dia takkan menjawabnya."Tegas Sinta.
Rama terdiam,sungguh perempuan didepannya ini, tak terbantahkan kalau sudah berucap.
Hening untuk beberapa detik berikutnya,hanya detak sepatu berbenturan dengan ubin yang terdengar.Langkah beriringan kedua insan beda gender itu sempat membuat karyawan Sinta melirik bingung,tapi untuk bergosip tiada yang akan berani.Para pegawai itu hanya bisa bertanya- tanya dalam hati.
"Mengapa para pria tampan selalu mengejar yang paling top saja,lalu kapan gadis biasa seperti kami dilirik?Bos Cinta sudah punya suami saja masih diikuti oleh paramuda,padahal ia sudah menutupi keanggunannya.Percuma saya berpakaian seksi kalau tak dipandang sedetikpun." Keluh hati sebagiankaryawan wanita yang merasa tidak dilirik sedikitpun oleh pria yang mengekori pimpinan mereka.
Tanpa terasa Rama dan Sinta telah tiba didepan pintu ruangan Sinta."Jangan terlalu menyukai sesuatu kak,karna boleh jadi suatu saat kau sangat membencinya.Dan jangan pula membenci sesuatu dengan berlebihan,karna boleh jadi suatu saat kau bisa menyukainya." Ujar Sinta membuat Rama kembali terpaku.
" Mungkinkah suatu hari aku bisa membenci dirimu yang sangat kucintai Ta? Kurasa tidak akan! Apapun cacat dan celamu yang tersembunyi,bagiku kau akan selalu sempurna didalam pandangan mata,hati, jiwa dan ragaku."
Rama terdiam dalam tekadnya,Sinta sendu melihat semua itu.Kepala Sinta menggeleng lemah,menyadari Rama lupa membantunya membukakan pintu.
"Abang belum bisa terima keputusanmu untuk bermalam berdua dengan Dirga!Tidak ada yang bisa menjamin tiga hari tiga malam itu takkan terjadi apa- apa diantara kalian!" Ujar Sebuah suara mengejutkan Rama dan Sinta hingga keduanya spontan berbalik,sampai minuman yang dimampan nyaris tumpah.
" Bu...bukankah kamu pergi? kok ada disini?"
__ADS_1