
Happy reading pembaca ku yang baik hati.Jangan lupa budayakan like sebelum baca ya.Mff sekali baru bisa up lagi hari ini,dari demam bersambung urusan penilaian semester jadi Absen lama pake buangat.....
🙏🙏🙏
Happy reading....
"Kami diminta oleh tuan Rajj Copry untuk segera menolong nyawa wanita yang ingin bunuh diri didalam." Ucap ketua tim membuat tubuh Romi mendadak lemas,apalagi Dirga dibelakangnya.
" Berderai....tamat sudah dirimu Kawan,ternyata mimpiku semalam kenyataan." Cicit Romi dalam hati,Romi sadar kalau semua rahasia yang disimpan Bosnya sudah tak adalagi.Dari kedatangan tim medis atas perintah papa mertua Dirga secara dadakan beginiembuktikan kalau saat ini mereka dalam pengintaian sang detektif.
" Ada Camera! Tapi Dimana Ya?" Batin Romi.Ia masih saja berdiri kaku sampai ketua tim medis itu menyentuhnya.
" Beri kami jalan tuan,kalau terlambat nanti nyawa wanita itu melayang." Ujar Sang dokter menyadarkan Romi." Ba..Baiklah..Maaf pak dokter."Gagap Romi menggeser tubuhnya untuk menyingkir dari kepala pintu.
Orang- orang berseragam serba putih dengan membawa koper berisi peralatan medis itu segera melangkah cepat.
Dirga hanya melongo menatap para medis itu mengembangkan Brankar lipat tepat didepannya.Tubuh Dirga mulai memucat,dengan tatapan nanar,dan keringat satu- satu mulai berkeluaran dari porinya."Tarok gadis itu disini biar cepat ditangani tuan." Ucap sang dokter namun tak digubris oleh Dirga.
Melihat Tuanmuda Dirgantara itu tak bergeming,dua orang perawat tampan berinisiatif memindahkan Grasy dengan menariknya dari gendongan Dirga.Kemudian cepat mendorong Brankar menuju kamar tamu dituntun Romi.
Romi melakukan semua itu dengan bahasa isyarat,karna iapun tak kalah gugupnya dari sang Bos.Untung saja para medis itu cepat tanggap,jadi penanganan luka Grasy bisa secepatnya dilakukan.
Sementara dokter dan perawat bekerja,Romi kembali kesamping Dirga,menyeret sobatnya itu menuju Sofa." Duduklah,biarku ambilkan minum untukmu."Ucapnya pelan kemudian melangkah menuju dapur.
Dua menit kemudian Romi kembali dengan membawa mempan." Minum teh ini,kau tak ubahnya seperti orang yang sedang mabuk darah." Ujarnya sambil menaruh teh diatas meja segi empat ruang tamunya itu.
"Pernikahanku tamat sudah Rom,tak ada harapan lagi." Ucap parau Dirga menatap nanar pada Romi yang mengambil posisi duduk disofa depannya,hingga meja yang menjadi sekat antara keduanya.
" Minumlah dulu,atau perlu ditiupin lagi." Romimencoba mencairkan suasana super canggung itu.
Bukannya tersenyum,Dirga malah menggeleng lemas." Rasanya airpun susah lolos ditenggorokanku Rom." Ucap Dirga setelah menyeduh satu sendok teh hangat itu.
" Aku tahu,karna begitu Grasy selesai ditangani,kurasa Bos akan dipanggil dan disidang oleh papa mertuamu." Ujar Romi yang memahami apa yang dicemaskan Dirga.
Bel berbunyi,membuat Dirga kembali tersedak." Hati- hati minumnya,belum papa mertuamu kok,itu biCici yang aku minta datang membereskan lantai dari bekas ceceran darah wanitamu itu." Bisik Romi sebelum berdiri membukakan pintu.
Dirga hanya mampu mendengus kasar,untuk menyelapun tak bisa,karna inilah kenyataannya.
Seperti biasa biCici tak banyak bacot dan tanya ini itu selama bekerja jadi ART freelance ditempat Dirga.
__ADS_1
" Masuk BI,ada kekacauan kecil lagi,makanya bibi kuminta datang jam segini."Terang Romi karna biasanya wanita paruh baya itu dimintanya datang setiap sore.
"Tak masalah tuan...Bibi juga libur terus kok." Ucap biCici langsung masuk dan mulai melaksanakan tugasnya.
15 menit berlalu,sekarang para medis itu keluar dari ruangan."Syukurlah wanita itu tidak perlu transfusi darah tuan Dirga.Sekarang lukanya sudah dijahit,semua aman,ia tertidur karna pengaruh obat.
Suster Tari akan berjaga disini,sampai pasien sembuh saya Dokter Alfian akan terus berulang,ini perintah langsung dari pemilik rumah sakit kami." Selamat menjelang tengah hari,sekalian saya pamit.!"Ujar Dokter muda itu paket lengkap pada Dirga.
"Ngak perlu ditegasin juga aku udah tahu ini perintah papa mertua,sengaja kali ni dokter.Kali nih dokter,termasuk secret fans my Wife" sungut hati Dirga yang lagi sensitif.
Masih ada sisa gerutuan dalam hatinya Dirga saat menatap kepergian dokter bersama dua orang perawat meninggalkan apartemen Romi, telfonnya Dirga disaku berdering memangkas suasana hatinya.
Tapi begitu melihat siapa penelfon,hati Dirga langsung tercubit."Oh,kenapa masih ada rasa sakit mengingat kisahku sudah berderai,padahal ini ulahku juga."Kesal Dirga pada hatinya sendiri.Setelah mendegup salivanya yang begitu sangat pahit,Dirga siap menyambungkan telfon.
" Biarkan para medis itu yang mengurus kekasihmu sementara,datanglah kerumah utama,kita akan mengadakan RADAKER. ditunggu 20 menit setelah telfon ini berakhir!"Titah langsung dari sebrang telfon tanpa bisa dan perlu Gumilang tingkah.
" Baik pa." Hanya kata itulah yang sanggup atau boleh terucap dari bibit Gumilang Dirga,sadar-sadararnya posisi dirisudah terjepit saat ini,sudah tak ada celah untuk menyelamatkan diri lagi.
"Rom,kita berangkat sekarang!" titahnya pada sang asisten begitu pria itu menyusulnya.
Romi sang asisten menjawab dengan mengangguk saja,tak mau sipenelfon mendengar ocehannya,karna dari raut tak berdaya sang Big Bos,Romi tahu siapa yang tengah menelfon pria itu.
"Bagus,jangan buang waktu untuk menoleh lagi pada kekasihmu,biarkan perawat Tari yang berjaga,papa bukannya kejam pada wanitamu.Tapi kali ini saja abaikan dia untuk urusanmu dengan putri kami.Begitu selesai rapat keluarga nanti,kau boleh lagi memuaskandiri bersamanya kembali sampai ujung Usiamu!"Terdengar kalimat monohok papa mertua dari sebrang.
Bus! "Jatuh sudah jantung hati Dirga bak nangka matang busuk jatuh."Berburaian.
Sekali lagi Dirga hanya bisa berkata Iya,setelah sahut pendek Dirga itu sipenelfon langsung memutus sambungan.
Tanpa bicara lagi,dengan masih meraba dadanya,Dirga melangkah nanar yang langsung diiring Romi dengan posisi waspada,kalau- kalau Dirga butuh penopang andai raga perkasa itu tak kuat lagi melangkah membawa beban rasa yang sangat berat.
***************
Akhirnya dimenit yang dijanjikan,Dirga dan Romi tiba dikediaman Keluarga Sinta.Semua sudah menunggu dengan sorot tajam begitu keduanya tiba diruang keluarga.
"Duduklah disisi istrimu untuk kali ini Dirga! Papa ingin melihatmu bersanding untuk yang terakhir kalinya dengan pasangan halal yang sebenarnya sangat sempurna untukmu Dirga!"Ujar sebuah suara yang sangat Dirga kenal.
" Astaga...Bahkan papa juga sudah disini.Sejak kapan suaranya normal lagi?perasaan semalam masih Gagu.Benar- benar tak ada jalan keselamatan cintaku."Batin Dirga.Pria itu kemudian berputar,menilik sekilas pada arah duduk istrinya,lalu melangkah kesana.
Dengan berbagai kecamuk dijiwa,pria itu menjatuhkan tubuhnya duduk disisi Sinta.
__ADS_1
Wajah itu nyaris terlihat tak berdarah lagi,hanya berani menunduk saja.
" Sekilas kalian terlihat sangat pantas bersanding!Dari pandangan kami begitu adanya,tapi yang menjalani kehidupan rumah tangga selama ini tetaplah kalian berdua,makanya kami tak ikut campur.
Apalagi selama ini kalian menutup rapat perasaan kalian pada kami para orangtua,
Bukankah begitu besan sekigus sobatku?" Ujar Rajj membuka Sidang keluarga,kemudian
mengarahkan pembicaraan pada Tommy Dirgantara yang duduk dikursiroda.
" Ya,karna tak ada curhatan,kami anggap rumah tangga kalian bahagia! Tapi ternyata pandangan kami salah besar,karna faktor usia
kampuan memandang kami ternyata sangat buruk.Kami telah tertipu oleh wajah pura- pura bahagia anak mantu.Menyadari kesalahan pandang kami menyesal sekali,untuk itu aku meminta saudaraku menyelidiki kisah ini,dan semalam kami menemukan fakta yang mengejutkan sekalian menghancurkan hati kami." Sambung Tommy kembali mengarahkan pandangan pada Rajj.
Rajj dan semua menatap pada kedua suami istri yang sama- sama tak bergeming dengan Kecamuk masing- masing itu.
" Menurut kalian,apa hubungan kalian masih perlu disembunyikan dari kami sampai detik ini Dirga dan Sinta?" Ucap Rajj mengerahkan pertanyaan pada pasangan
suami istri itu.
Keduanya masih diam.
" Pertanyaan Daddy kurang tepat ya.Oke repeat again.Apa kalian merasa masih mau mengatakan rumah tangga kalian masih baik- baik saja pada kami setelah kami melihat dengan mata kepala kami ada penghianatan, lalu ada pula gerakan pisah rumah?
" Papa tak sabar lagi Dirga,ingin kamu membebaskan Menantu papa,karna kamu jelas sudah menyelingkuhinya." Imbuh Tommy langsung keinti karna kedua suami istri itu nampak mendadak membisu
Barulah pecah tangis Sinta,reflek Dirga memeluk pundak istrinya itu.
Semua perhatian berpusat pada keduanya." Andai kalian semesra ini sejak awal,pasti tidak akan ada rapat buruk ini,karna pada dasarnya tiada orangtua yang hendak rumah tangga anak- anaknya hancur.Hanya saja ini terlambat,karna sudah sengaja kalian hadirkan orangketiga untuk menghancurkan semua,wanita itu takkan diamsaja andai kalian baik- baik saja.Semalam bahkan ia sudah menunjukkan keseriusannya,dia lebih rela mati daripada membiarkan kalian kembali lagi.Maka tuailah apa yang kalian tanam,selesaikan hubungan ini sebelum ada korban jiwa!"Timpal Fano.
" Urus perceraian dengan Sinta hari ini juga Dirga! Karna papa tak mau menantu papa jadi tumbal kegilaan wanitamu itu.Seperti kejadian yang telah lalu."Tegas Tommy, namun diakhir katanya ia mulai tersedu.
Ketty mengusap pundak suaminya tanpa berani bicara.Sedang yang lain kembali fokus pada Dirga dan Sinta.
" Papamu yang memutuskan itu,lalu keputusanmu sendiri bagaimana nak?"Fano bicara selembut mungkin.
Dirga memberanikan diri menatap Sinta yang masih berkaca- kaca disisinya.Rasanya ia tak ingin jauh dari wanita cantik ini selama hidupnya,apalagi melihat betapa pandainya sang istri menutup aibnya,mau cari kemana perempuan begini zaman now.Tapi apa daya ia menyadari setelah semuanya pecah berderai,papanya benar,ia tak bisa mengorbankan wanita yang teramat sempurna seperti Sinta hanya karna ketamakannya akan cinta.
" Aku akan membebaskan istriku pa,Dady, mom dan mam,mulai hari ini." Lirih Dirga dengan hati yang berderai sudah.
__ADS_1
Tapi aku masih ingin bersama dengan Suamiku sampai papa Tommy siap operasi kakinya lusa, dan Grasy masih dalam perawatan dokter,izinkan aku dan Dirga bermalam berdua tiga malam ini."Pinta Sinta membuat semua mengernyit.
" Bermalam berdua???" tanya bingung para ibu termasuk Ketty.