
Cinta benar- benar telah pergi membawa Rajj suaminya menuju kamar mereka untuk membersihkan diri.Sekarang tinggallah Arjuna yang akan menyambut adiknya.
"Mereka memang orang tua yang aneh, sengaja atau tidak selalu membuatku dalam situasi sulit, ini putri dan menantu datang malah mereka masuk kamar, mereka tidak pernah memikirkan tersinggung atau tidakkah orang diperlakukan begini.Taroklah kami anak- anaknya sudah memahami sifat mereka, bagaimana dengan menantu.
"Cik."Gerutu Arjuna dalam hati sampai mengeluarkan decisan kesal yang tentu saja decak itu dapat didengar oleh telinga lintah Sinta yang masih melangkah ragu menuju ruang tamu tempat Arjuna berdiri membelakangi pintu depan.
Ruang tamu mewah dan luas yang didominasi warna mutiara itu cukup lama untuk dijejari dengan langkah tertahan- tahan seperti langkah Sinta sekarang.
Lebih dari Arjuna, ternyata Sinta bukan hanya gemetar bakalan bertemu dan bertatap muka dengan pria yang tengah berdiri membelakangi itu,tapi ada rasa pedih juga dihati gadis cantik itu memikirkan tentang keluarga baru Arjuna.
"Mungkin karna Abang sudah punya istri dan anak makanya mommy dan Daddy membolehkan kami bertemu berdua, kan sudah tidak ada kemungkinan." Fikir Sinta menjawab sendiri pertanyaan hatinya tadi tantang keputusan kedua orang tua mereka membiarkan dua orang yang dulu dilarang keras bertatapan muka langsung itu sekarang malahan Arjuna yang dipersilahkan sendiri menyambut dirinya.
"Berdiri saja dulu disini, kalau orang rumah tidak mempersilahkan, tidak benar Tamu main serobot masuk." Ucap Sinta setelah berusaha keras dan sedikit bisa mengatasi debaran dada dan denyut pedih dari dalam dada dengan beberapa kali merarik nafas,lalu mendegup Saliva untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak dehitrasi.
" Tukan benar iasaja tersinggung, apalagi suaminya."Batin Arjuna mendengar penuturan Sinta.
Rasa peduli sosialnya yang tinggi menepis kasar seluruh ketakutan dalam dirinya menghadapi pasutri baru yang sekarang tidak terdengar lagi langkahnya.Dengan spontan Arjun berbalik badan, dan melangkah menuju kedepan.Begitu matanya berbenturan dengan sosok wanita muda dengan tubuh dan raut sempurna berdiri sendiri tepat sekitar 4meter didepannya, Arjun diserang Amnesia dadakan.Ia lupa total kalau wanita didepannya sekarang sudah disegel pria lain.Tanpa dapat menahan rasa rindu yang sudah menggunung dikalbu,Arjun maju cepat menuju Adiknya yang berdiri tegak mematung seperti monekin cantik.
Langkah Arjuna semakin lebar menuju Sinta.
Greep.
Tanpa aba- aba dan permisi, Arjun langsung menubruk tubuh molek Sinta dan mendekap wanita itu erat, membenamkan wajah sang Dewi pujaan hati didadanya, agar wanita itu dapat mendengarkan gejolak rindu yang bergemuruh dadalam sana.
Nafas hangat Sinta menerpa pangkal leher pria gagah itu, sedangkan deru nafas Arjuna menghembus puncuk kepala dengan surai hitam legam milik sang wanita yang hari ini dibiarkan terurai bebas sebatas pinggang mungil perempuan itu.
Seakan keduanya merasakan bumi berhenti berputar sejenak.Mereka sungguh tenggelam dalam pelukan panjang yang membuat desir- desir didada mereka saling bersinergi membentuk gelombang Asmara yang besar.
Sampai lima menit lebih masih belum ada kata yang terucap, hanya deru nafas keduanya yang kian memburu.Tanpa sadar, Arjun meraih dagu Sinta dan menghadapkan wajah cantik itu untuk mendongaknya. Tatapan mereka bertemu, hembusan nafas mint yang menyejukkan keluar dari mulut Arjun menerpa wajah indah Sinta, hingga wanita itu memejamkan matanya untuk menikmati terpaan yang berasa sapaan angin syurga ini.
__ADS_1
Apa yang dilakukan adiknya membuat darah didada Arjuna makin terkesiap,seolah Sinta tengah menggodanya dan ia tidak akan kuat sedikitpun dengan godaan yang satu ini.
Dengan perlahan tapi pasti bibir tebal nan sensual milik Arjun jatuh dan tenggelam dibibir mungil seksi padat berisi dengan warna merah muda milik Sinta.
Seer...Seer...Na...na...na...
Bunyi darah dan jantung keduanya.Sedang tubuh mereka sudah tak dapat dikendalikan lagi.Dari pertemuan bibir, sekarang berkelanjutan dengan petemuan lidah,Kedua Indra pengecap mereka yang saling membelit didalam sama, menciptakan suara decapan yang memenuhi ruangan terbuka itu.Sedang tubuh mereka semakin rapat dan ingin rapat lagi.
Ngos....Ngos....Ngos....
Nafas keduanya saling berkejaran, pertemuan bibir itu dari posisi berdiri sekarang sudah berpindah keposisi duduk disofa berwarna berlian yang ada diruang ini, entah sejak kapan pula keduanya berpindah, seakan Badai asmara benar- benar telah menerbangkan mereka tanpa suara.
Pautan bibir mereka terurai disaat pasokan udara ditenggorokan benar- benar habis. Sekarang keduanya kembali saling tatap dengan sorot yang sangat sayu.Tangan Arjuna bergerak pelan menyusuri raut Indah Sinta yang hari ini tanpa penghalang dengan posisi mendongak padanya.
Sampai detik itu masih belum ada kata yang terucap.
Arjun mendegup salivanya begitu gairahnya kembali memuncak, saat tatapannya jatuh dimanik indah pautan hatinya.Arjun mencium kelopak itu masih tanpa permisi,toh yang punya hanya diam saja menikmati keindahan yang mereka rasakan berdua.
" Astaga..." Seru Arjuna melepas Sinta dengan wajah spontan memucat.Pria itu melengos kesamping kanan.
" Benar- benar tak beradap diriku ini! berani menjelajahi milik pria lain." Kesal Arjun pada dirinya.
Saat Arjun menoleh kesamping kiri lagi hendak merapikan rambut Sinta yang berantakan karnanya, begitu merasa fikirannya sudah kembali kemode waras, wanita cantik itu telah berdiri dan beranjak dari ruangan itu dengan berlari.
" Ta...Ta...tunggu! " Panggil Arjun mengikuti adiknya yang berlari menuju ruangan pribadi dimasa kecil wanita itu.
Para pelayan yang tak sengaja melihat adik beradik tengah berlarian dengan ekpresi yang aneh itu sampai menggigit bibir mereka karna penasaran dengan apa yang terjadi.Sedang Jini dan Roni yang sudah paham dari dulu tentang hubungan hati keduanya hanya mengibaskan tangan pada yang lain agar tidak ikut campur.
Bahkan bi Sumi yang sangat dekat dengan Arjuna juga tak sanggup menyapa Arjuna karna melihat wajah panik Tuanmuda tampan itu.
__ADS_1
Bar!!! terdengar suara pintu dilempar kasar.
Cukup lama Sinta memejamkan matanya membelakangi pintu untuk menahan Isak tangisnya agar tidak terdengar,namun desakan air bah dari mata indah sang Dewi tak sanggup dibendung lagi.
Rasa sakit malu dan rendah diri menggerogoti hati gadis cantik itu saat ini.
"Bagaimana bisa dengan bodohnya aku mau bermesraan dengan pria yang sudah beranak dan beristri, apalagi dengan statusku yang masih istri orang.Mengapa setiap berhadapan dengannya kau selalu menjadi wanita lemah, hina, bodoh dan ****** Sinta...
Hiks..hiks...hiks... "Ratap Sinta akhirnya tak dapat ia tahan juga.
" Sayang...Buka pintunya dong...Abang mau bicara, kita luruskan semua ini." Ucap Arjun dari luar mendengar suara ratap pilu Sinta.
Deg.
Mata Sinta membuka, dengan pandangan samar karna hujan airmata yang membanjiri pelupuknya, Sinta menatap ruangan bayinya dulu, tempat yang selalu Sinta pilih sejak dulu sebagai pelarian untuk mengatasi kesedihannya, kini ia lihat sudah berubah.
Sangat kasar Sinta mengusap Airmatanya dengan lengan kanan,agar dapat melihat ruangan ini dengan jelas.
" Kamar ini sudah direnovasi untuk kamar babynya bang Arjuna.Bahkan cinta mommy dan Daddy padaku sekarang telah beralih pada cucunya."
"Sudah saatnya aku pergi mencari ibu kandungku, tak ada lagi yang dapat kuharapkan,bahkan kedatanganku saja tak disambut mommy dan Daddy, barangkali mereka sekarang tengah bercumbu dengan cucu dan menantu mereka.Begitu aku bertemu dengan ibuku, aku akan melepas posisiku sebagai CEO C3, dengan begitu Dirga akan melepaskanku juga karna tak punya apa- apa lagi.Dimana kau Mak...Kenapa kata Bino rumahmu kosong, dan para pelayan disana tak ada yang mau menjawab dimana kau sekarang."
Huuuaaaaaa...Tangis Sinta makin menjadi, dengan perasaan berantakan dan putus asa ia luruh dilantai.
" Kau salah sangka sayang..." Kami semua sangat menyayangimu." Ucap sebuah suara berat dibelakang Sinta.
Kemudian disusul sentuhan tangan lembut sehalus bidadari menyapu wajah cantiknya.
Sinta memejam karna pandangannya gelap, lalu ia tak ingat apa- apa lagi.
__ADS_1
" Sinta pingsan! Selemah itukah Seorang CEO C3?" Autor.
Bersambung.