
Semua anggota keluarga sudah berkumpul dirumah utama,masing - masing mulai berdoa untuk keselamatan Sinta.
Sinta terbangun ketika efek obat bius yang terhirup telah habis.Ketika membuka mata ia cukup terkejut menemukan dirinya ditempat yang sangat asing dengan seorang pria yang menatapnya sangat dalam dan menelisik.Pria bertopeng itu, Sinta mengerjab beberapa kali untuk memastikan pemilik mata itu.Biasa menghadapi situasi dengan tenang, Sinta menarik nafas untuk meredakan kegugupannya.Bagaimanapun kuatnya jiwa seorang manusia biasa, pasti ada secuil rasa takut bila berada ditempat asing.
"Mata ini aku seperti sangat mengenalnya, mungkinkah papa?Tapi untuk apa papa menculikku?Apa ia tahu kalau rumah tanggaku dengan putra semata wayangnya tidak seperti rumah tangga normal lainnya?Tidak!kalau hanya sekedar karna itu saja,ia pasti punya cara yang lebih baik dari ini untuk membicarakannya,tidak mesti dengan jalan begini."Sinta mencari jawaban dalam hatinya.
"Aku pura-pura tak kenal saja,biar kudengar apa tujuannya berikutnya."Bisik hati Sinta.
" Aduh...Perih sekali perutku,kukira aku belum sempat makan malam ini."Keluh Sinta seraya memegang perutnya.
Pria bertopeng itu tersenyum,itu terlihat dari sudut matanya."Dia tersenyum?Oh..Aku tak percaya ini,mengapa papa tersenyum seperti bukan senyum seorang mertua pada seorang menantu.Apa papa mengira aku Ibu?Siapa target sebenarnya?Aku atau ibu?"Fikir Sinta kembali.Dalam mimpinya Sinta tidak pernah melihat langsung wajah papa Tommy dalam kelompok pembunuh ayahnya,tapi entah mengapa hati kecilnya selalu mengatakan kalau Dia dan Dirga ada sekat yang sangat kuat dan tajam yang akan menyakiti bila dilalui.Setiap ia dekat dengan Suaminya mimpi tentang hari naas itu selalu mengganggu tidur dan bangunnya kebencian dihatinya akan bertambah,padahal Sinta sudah berusaha menghapus rasa benci itu, karna ia tahu rasa benci tidak baik bersarang dalam hati.
Pria bertopeng itu bertepuk.Satu tepukan saja telah membuat tiga orang pelayan datang mengantar makanan pada Sinta.Sinta menggeleng pasrah,ia berharap pria yang ia duga papa mertuanya itu mau mengucapkan beberapa kalimat yang bisa memastikan siapa sebenarnya sasaran pria itu,tapi ternyata lelaki berusia senja itu sengaja tidak bicara,ia hanya berbicara dengan bahasa isyarat pada anak buahnya.
Sinta tentu saja tidak mau makan langsung, sebelum salah satu pelayan pria dengan tubuh tegap mencicipi makanan itu.
"Ini makanan sudah saya cicipi nona, silahkan dimakan.Tuan tidak akan membunuh musuhnya dengan jalan pintas seperti perkiraan nona.Kalau ia mau membunuh nona,pasti ia akan melakukannya langsung, tidak dengan racun atau sihir.Bukan seperti itu gaya Bos besar kami."Entah untuk apa pula
pria tegap itu menjelaskan semua itu pada Sinta,Sinta kira papa mertuanya akan marah karna ucapan sembarang pria tegap itu,tapi malahan pria yang Sinta duga Tommy malahan mengacungkan jempolnya pada pria itu.
__ADS_1
Sinta akhirnya memutuskan memakan makanan pesanan itu,karna malam yang semakin larut dan dinginnya ruang bawah tanah ini membuat perut Sinta akhirnya benar- benar takkuat menahan lapar.
Sementara Arjuna makin gelisah didepan monitor.Tunggu sampai telingamu mendengar keluhan putra semata wayangmu itu,apa ia masih bisu begitu."Geram Arjuna.
Arjuna kembali mengirim pesan pada Zam dan Zumi untuk perintah selanjutnya.Kalau saja Didalam Sinta disakiti sedikit saja, tentu Arjun tidak akan peduli sesulit apa labirin yang harus ia tembus untuk menjemput adiknya itu, atau bahkan nyawanya akan melayang karna anak buah Pria bertopeng itu entah berwujud apa saja selain manusia didalam sana.Tapi melihat pria itu sangat ragu menyakiti tawanannya,Arjun kembali tenang untuk menjalani rencananya bersama Zam dan Zumi.
"Sebaiknya tuanmuda istirahat saja, nampaknya malam ini pria tua itu masih berfikir keras sebelum memutuskan apa yang akan ia lakukan."Ucap salah seorang anak buah Arjun melihat tuan muda itu masih gelisah dibalik layar.
Arjun hanya mengangguk,sekedar untuk menghargai rekannya itu,padahal mana bisa Arjun tidur dalam keadaan begini.
"Kalian saja yang istirahat bergantian,nanti kalau sudah tak kuat,baru gantian yang monitor." Sahut Arjun melihat beberapa anak buahnya ada yang sudah mengantuk.
Sinta mengernyit."Ada apa tuan?Apa kita pernah saling kenal dimasa lalu?"Tanya Sinta seolah ia adalah Rara.
Pria itu masih saja diam, seolah pita suaranya sedang bermasalah.Hanya ekspresinya yang kini berubah dengan pertanyaan Sinta.Ia menilik sekali lagi pada bintik kecil dibawah mata Sinta.
" Mhu...ini sudah aku miliki sejak lahir, sepertinya tanda ini cukup banyak membuatku harus membuang airmata."Ucap Asal Sinta.
Pria bertopeng tertegun,tidak menyangka wanita cantik dalam tawanannya ini berani curhat sedetail itu padanya dan anak buahnya."Apa keluar dari rumah sakit jiwa, Rara jadi lebih santai dan tak punya rasa takut lagi.Setahuku wajah Sinta menantuku tidak ada bintik sedikitpun,apa mungkin ini Rara ibunya Sinta?Benarkah ada orang yang sama kelihatan lebih muda dengan putri yang dilahirkannya karna hebatnya perawatan kecantikan masa kini?Sebaik itukah dokter itu
__ADS_1
sampai mau membiayai perawatan wanitanya
sehebat dan semahal ini?Istriku saja yang menghabiskan ratusan juta untuk kecantikan tak bisa semuda ini."Pria dibalik topeng kembali dilanda dilema,tapi untuk mempertanyakan pada Grasy apa sasaran sudah benar atau belum sebagai orang besar dan ternama ia tidak mau terdengar bodoh dihadapan wanita yang menggilai putranya itu.
Masih dengan bahasa isyarat ia membawa satu anak buahnya memasuki lorong yang lain diruang bawah tanah itu."Kirim pesan pada dokter Lee agar datang ketempat ini besok pagi!"Titah pria bertopeng.
"Emang mayat siapa yang mau diautopsi Tuan?"Heran Pria tegap seumur Arjuna sembari memutar bolamatanya.
" Tu..tuan tidak hendak menyiapkannya malam ini juga kan?"
"Jangan banyak bacot kau Ram, turuti saja perintahku.Terserah aku mau berbuat apa, kau hanya boleh dengarkan,patuhi tanpa perlu bacot begini begana."Ujar pria bertopeng itu memperingatkan anak buahnya.
Rambli tercekat,tak tega bosnya
membunuh wanita cantik dengan wajah tanpa dosa begitu,apalagi lihat wanita itu persis sekali dengan nyonya Gumilang, kalaulah benar begitu apa kata Gumilang nanti kalau sampai istrinya dibunuh?"Rambli sungguh ingin menyampaikan itu,tapi tatapan tajam sang Big Bos membuatnya tak mampu berkata apalagi selain mengangguk dan menunduk.
"Bodoh sekali kau Ram!Kau kira aku akan semudah itu membunuh sebelum kepastikan sasaranku sebenarnya.Aku melakukan ini untuk memastikan itu."Batin pria bertopeng seraya membuka topengnya dan mulai menghirup cerutu yang disodorkan oleh pelayan pribadinya diruangan ini.
Untung pria itu bicara diruangan bebas kamera,hingga ucapan lelaki yang tengah santai menghisap cerutu itu tidak mengganggu fikiran dua pria beda usia yang tengah monitor Sinta dari lokasi pengintaian mereka yang berbeda.
__ADS_1