Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )

Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )
Duka Tersembunyi.


__ADS_3

Flashback on


"Entah itu cinta atau dosa keduanya sama menggelisahkan bagi hati yang merasakannya."Cetus Fino menatap tajam Arjuna yang sejak roda mobil mereka berputar tadi meninggalkan kediaman utama keluarga Smitt, tiap detik sekali mengeluarkan benda pipih dari tas Selempangnya,entah hal apa yang hendak pria itu periksa dari gawai tipis itu.


"Ka.. Kamu bicara apa sih dek,Abang cuma lihat bursa saham saja."Kilah Arjuna gugup kepergok resah oleh Fino,padahal Arjuna sudah memilih duduk dibangku paling belakang agar tak jadi sorotan.


"Anak dibawah umur jangan ngomong yang diluar jangkauan,Abang Zaki saja yang sudah setua ini belum mengerti apa itu Cinta." Timpal Zaki balas menatap tajam Fino yang ada disampingnya.


Mang Udin sisopir berganti Sama Zidan karna Berkat teman Juna tak sempat, menarik nafas berat, mendengar para tuannya kembali terlibat adu argumentasi lagi.


Sadang Zidan memilih molor karna semalam begadang,mulai dari roda berputar tadi pagi pria itu telah mengatur posisi untuk tidur agar nantinya tidak ngantuk menggantikan mang Udin sopir tertua dikeluarga ini.


"Wah... Bakalan perang mulut lagi nih Calon da'i dan dai senior."Batin sopir paling berpengalaman itu,siap- siap jadi pendengar Budiman.


"Anak kecil sekarang tidak sama lagi dengan anak zaman kajian dulu kak."Balas Fino dengan tatapan yang tak kalah menantang.


" Tu kan benar...Habis yang tua mulutnya berbisa sih,pasti yang bawah umur mulutnya makin tak teratur." Celetuk hati Mang Udin,sebagai seorang penjual jasa untuk generasi muda ini,ia hanya bisa jadi pendengar dan penonton saja,untuk berkomentar langsung mana berani.Nanti malah ia diKatai dengan lebih sadis lagi.Lagian pula Zaman mereka sudah sangat berbeda jauh.Salah Kata nanti mang Udin malah disuruh kembali kezaman purba." Idih Atut,ntar disantap Tirex."Gidik pria tua penggemar film Reptor ini.


Walau sebenarnya,setelah berapa hari bersama Fino,sopir itu menyimpulkan kalau tuan muda kecil dokter Jiwa ternama itu, memiliki kesopanan diatas rata- rata anak zaman Now untuk yang namanya orangtua. Mungkin faktor keluarga dan pendidikan yang membentuk anak itu bisa memilah kata sesuai lawan bicara.Tapi untuk kedua abangnya ini nampaknya Fino menganggap mereka rekan sebaya,entah alasan apa pula sampai begitu.Sekali lagi mang Udin hanya berani tanya dan komen dalam hati saja.


"Kami dipaksa banyak tahu karna dunia sekarang tranfaran,disatu sisi kami beruntung karna punya banyak kesempatan dan kemudahan.Walau disisi lain tidak dipungkiri banyak diantara kami terancam Bad generasi kalau orangtua dan pendidikan tidak mampu mengatasi dan membatasi.Orangtuaku mendukungku dididik dilingkungan teraman dari polusi kepribadian,walau sesekali bila aku pulang mereka tetap membolehkanku membuka jendela dunia,berteman seperti anak biasa,dengan catatan tak luput dari pantauan keduanya."Ucap Fino sekalian memuji orangtuanya.Hal itu membuat Zaki terdiam,dikiranya ujaran tajam yang ia ucapkan bisa membungkam mulut adek kecil mereka,rupanya anak itu malahan membalasnya dengan rentetan kata penuh makna sepanjang rel kereta.Niat hati membungkam calon Dai,malahan sidai senior yang kehabisan kata- kata.


Mang Udin tersenyum tipis melihat putranya Jini terdiam."Tuh kan,yang tua tak bisa menang dari yang sedang semangat tumbuh." Masih saja orang tua itu sibuk membatin.


Sedang Arjuna yang fikirannya sedang melanglang buana,mengabaikan adu mulut kedua adik tampannya.Arjuna kembali memandangi layarnya dengan tatapan nanar.


Dari CCTV ia melihat anggota keluarga besar dari tadi satu- persatu memasuki rumah utama." Seperti ada hal yang penting dan mendadak perlu mereka bicarakan." Batinnya larut dalam berbagai dugaan tentang keluarganya.


" Stop mang!"Titah Fino yang perhatiannya sudah kembali lagi pada Arjuna.


" Ada apa tuan muda?” tanya Mang Udin sebelum memutuskan menepikan mobil.


"Kamu ngak mabok perjalanan kan dek?"


Tanya monohok Zaki membuat Fino mendecis.


"Cik. Bukan aku yang mabuk bang,tapi dia!" Tunjuk Fino kebelakang.


Zaki dan yang lain beralih menatap kebelakang,melihat Arjuna belum sadar mobil mereka berhenti,semua mengangguk."Ya sepertinya bang Jujun mabuk berat!"Pekik Zaki sengaja mengejutkan Abang mereka.


" A...Apaan Sih!Kok ngatain Abang mabuk." Gagap Arjuna yang baru sadar jadi sorotan,bibir pria itu mengerucut.


"Turun,dan kembalilah kerumah bang."Titah Fino membuat Arjuna tiba- tiba menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Abang sudah janji menemanimu dua hari." Sahut Arjuna teringat janjinya pada Fino.


"Aku tak mau jalan bareng dengan orang dari didunia lain."Tolak sarkas Fino sembari mengibas- ngibaskan tangannya.


"Abang tak apa kok Fin...nanti sudah sampai diPondok bakalan rileks dan baik- baik saja.


Ini cuma efek begadang semalam."Tepis Arjuna yang merasa malu hatinya ditakari anak kecil itu.


"Efek begadang Ya kayak itu!"Tunjuk Fino pada Zidan yang masih molor.


Tiga lelaki beralih menatap Zidan,sejenak ketiganya terdiam dengan ekspresi berbeda.Bahkan kali ini mang Udin lupa nyelutuk dalam hatinya, sopir senior itu balik menatap takjup pada Fino.


Lalu kemudian terdengar hela nafas berat dari Arjuna,dan Zakipun turut ketularan sebelum membuka mulutnya.


"Iya bang,selesaikan dulu urusan hatimu,baru


putuskan pergi bersantai.Kau takkan bisa mencari kedamaian kedunia manapun jika hati dan fikiranmu berpusat ditempat berbeda."Ucap Zaki tak sadar Gawai tipisnya sudah berpindah tempat dan diotak- Atik oleh seseorang.


"Itu taksinya sudah datang, barusan aku pesan lewat aplikasi."Tunjuk Fino pada sebuah taksi yang menepi dibelakang mereka.


"Apa??? Zaki menganga menyadari anak kecil disisinya secepat itu memesan taksi,bahkan dengan mencuri telfon miliknya.


" He...he...Santai Ja lah bang...Ngak bakalan habis juga quatamu karna ini."Kikik Fino dengan santai mengembalikan telfon milik Zaki kesaku pria itu.


Lalu dengan santainya memutar pandang ke belakang."Apa perlu kubukakan pintu untukmu bang?" Ucap Fino pada Arjuna yang masih belum move on dari keterkejutannya.


" Tentu! Cepatlah turun sebelum kuutus tim SAR untuk mengevakuasimu dari mobil ini." Sarkas Fino membuat Arjun melotot kembali.


" A...Apa??? Ada gempa susulan kah!" Pekik Zidan cemas terbangun dari tidurnya.


Ha...ha...semua tertawa merasa geli dengan tingkah bangun tidur Bodyguard Arjuna.


" Bang Juna...bang Juna...tukang molor saja diberi pekerjaan." Cicit Fino dalam hati.


Arjuna akhirnya turun dari mobil Alfat hitam itu,lalu menuju taksi yang dari beberapa menit tadi menunggunya.


"Nak Zaki?" Tanya Sopir paruh baya menyambut Arjuna.


Arjuna mengangguk,hingga sopir taksi online itu segera membukakan pintu mobil untuk pemuda gagah itu.


Mang Udin melajukan mobilnya setelah taksi yang membawa tuan mudanya Arjuna melaju dan berpindah Jalur.


"Abang ngaku kalah deh sama kamu dek soal kecepatan tangan dan fikiran.Semoga soal jodoh jangan sampai kalah capatjuga."Celetuk Zaki begitu mobil mereka berjalan.

__ADS_1


" Semoga."Sahut pendek Fino tanpa merasa berdosa.


Sementara Arjuna tersenyum mengejek diri sendiri." Adik kecil lebih bijak dariku soal cinta."Gumamnyasembari memeriksa kamera CCTV yang terhubung dengan ruang keluarga.


Ia kembali mendapatkan kejutan hebat saat melihat dan mendengar Sinta memutuskan sesuatu diluar ekspektasinya.Ekspresi Arjuna melotot lalu kemudian meredup.Ia tak habis fikir apa yang membuat Adik angkat kesayangannya membuat keputusan diluar nalar begitu.


Flashback off


"Abang belum bisa terima keputusanmu untuk bermalam berdua dengan Dirga!Tidak ada yang bisa menjamin tiga hari tiga malam itu takkan terjadi apa- apa diantara kalian!" Ujar Sebuah suara mengejutkan Rama dan Sinta hingga keduanya spontan berbalik,sampai minuman yang dimampan nyaris tumpah.


Arjuna langsung menuju kantor C3 setelah mendapat kabar dari mommynya kalau Sinta dan Dirga jalan berdua kekantor pusat perusahaan milik wanita itu.


" Bu...bukankah kamu pergi? kok ada disini?" Tanya gugup Sinta menahan langkah.


Tanpa berbalikpun ia tahu itu suara Arjuna.


Rama yang memutuskan memutar badan kesumber suara,spontan ekspresinya kian meredup, memandang pria gagah yang ada didepannya.Tuntutan pria itu terdengar aneh."Apa hubungan Tuan muda Arjuna dengan Sinta tidak sekedar perasaan Abang adek?Kalau begitu tipis sekali harapanku, sainganku yang ini punya peluang lebih besar." Batin Rama yang sudah tahu bahwa Sinta dan Arjuna bukan muhrim melalui penyelidikan dadakannya.


Apalagi mendengar Sinta yang begitu gugup,sebagai lelaki dewasa Rama faham maksud kegugupan wanita seperti ini.


Sedang Arjuna melangkah besar dengan dada naik turun,apalagi sekarang ia melihat Sinta bersama pria bersorban malam itu,dimatanya terlalu intim gerak- gerik kedua orang ini,ditambah ucap ketus Sinta membuat


rasa panas dan sakit bersamaan menghantam dada pria itu.


"Se...Sebaiknya Abang pulang kerumah,urusan keluarga kita bicarakan dirumah."Ucap Sinta setelah abangnya berdiri sejajar dengannya.


"Mudah- mudahan hanya urusan keluarga." Batin Ramadan mencoba memperbaiki fikirannya dan perasaannya"


Sedang Arjuna makin tercekat,rasa panas yang tadi menyisakan perih yang sangat.


"Ta..tapi..." Lirih Arjuna diusir langsung Adiknya.


"Tak ada tapi- tapian! Pokoknya pulang sekarang kerumah utama,kalau masih mau kenal denganku!" Tegas Sinta membuat wajah Arjuna benar- benar meredup.


Detik berikutnya kedua mata Arjuna mulai berkaca- kaca.Menyadari hal itu ia segera merongoh kaca mata hitam dari saku dan memakai benda itu.


Arjuna berputar dan melangkah gontai dengan airmata yang mulai berlinang dibalik kaca mata hitam itu.Beberapa karyawan yang berpapasan yang menyapa sembari menunduk hanya dibalas anggukan saja oleh Arjuna, hingga ada sebagian menatap kagum bercampur bingung pada Tuan muda gagah itu.Berbagai fikiran dan dugaan berkecamuk dihati mereka,terutama para wanita.


" Tatap aku seorang akan kupastikan takkan menatap pria lainnya, karna bagiku kaulah bintang dari segala bintang."


" Kalau semua pria tampan hanya menatap padanya?Kapan ya aku dapatbagian,kalau semua diborong nyonya Dirgantara itu?" Celetuk cemburu hati beberapa.


"Muka sendumu kian memukauku tuan. Batin yang sadar ekspresi sedih terpancar dari langkah Arjuna.

__ADS_1


" Dalam keadaan panas atau dingin kau tetap sedap andai boleh kusantap."Sarkas yang mengira Tuanmuda itu lagi dalam mode Coolnya yang menawan.


Tak ada yang tahu Duka Tersembunyi dalam hati sang Arjuna saat ini.Orang berfikir pria tampan kaya raya akan dapat meraih apa saja yang mereka mau.Padahal ada hal- hal yang terlihat mudah dijangkau tapi sulitdidapatkan.


__ADS_2