Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )

Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )
Ternyata Bermimpipun Sudah tak Boleh Lagi.


__ADS_3

Mohon maaf lama pake buangat baru bisa up Ya pembacaku yang baik.Ada berbagaikesibukan tak terhindari yang memaksa Autor****tak dapat menulis barang sebabpun beberapa Minggu ini,mohon maaf Ya..🙏 Thank untuk yang masih setia buka lapak baca sederhanaku ini,jangan lupa yang mampir kasih jejak berupa komen,like,give dan fote ya say...tanda kasih darimu.


_______________________________________


Selang beberapa menit setelah itu mama Rara, Tante Adelia dan om Aris kembali kerumah besar itu.Ketiganya tercengang memergoki Arjuna yang tengah duduk sendiri disofa ruang keluarga,bahkan Adelia tak yakin itu benar Arjuna,karna setahu Adel selama ini Arjun taksuka berbalik bila sudah memutuskan melangkah pergi." Sejak kapan ponakan kesayanganmu jadi Amueba yang?tanya Adel pada suaminya,seraya menunjuk sosok Arjun yang duduk bersandar disofa dengan memejam.


Arjuna membuka matanya pelan mendengar ocehan tantenya,apalagi detik berikutnya tangan sang Tante sudah mendarat dipipi Arjun,meninggalkan satu cubitan yang cukup menyintak.


" Ini benaran kamu Jun,tante kira penampakan?" tanya Adel sekali lagi.


"Ya elah Tante...Tak usah sampe melukai kulit pipiku hanya untuk membuktikan aku nyata." Ujar Arjun sembari mengusap bekas cubitan yang lumayan panas itu.


"Ngak jiwa ngak raga,sepertinya hari ini hari penyiksaan." Imbuh Arjuna pelan.


"Jadi benaran ini kamu Jun?Om jugamengira bayangmu,karna dari tadi terlihat ada dimana- mana saking beratnya pulang esok tanpamu." Ujar sarkas Aris mendengar Keluhan Arjuna.Pria paruh baya itu segera menghempaskan bokongnya disofa samping Arjun,melepaskan penat hampir setengah hari menemani ibu- ibu belanja.


"Aku langsung kedalam ya Del,penat dan ingin istirahat." Pamit Rara memberi ruang dan waktu lapang pada Adelia dan Aris berkumpul bertigasaja.Adelia langsung mengangguk pada wanita yang dulunya pernahmemberinya kesempatan jadi ibu,namun rasa sayangnya pada sang Bestie membuatnya memutuskan melepas status jadi ibu asuh untuk Sinta dan memberikan semua itu pada Cinta.


Adelia juga turut menghempaskan bokongnya disisi sebelah Arjuna yang satunya,hingga sekarang posisi anak muda yang tengah galau dan merasa teraniaya itu diapit kedua orang tua angkatnya.


" Sakit ya nak...Sory...Tante ngak percaya kamu balik jalan.Tadinya udah sedih bangat balik kampung tanpa bisa pamit langsung sama kamunya,sampe- sampe tadi dijalan beberapa kali mengira orang lain adalah kamu lho nak." Ucap Adel terdengar serius sembari dengan memposisikan duduknya lebih santai dengan menyandar disandaran sofa mewah itu.


"Ada apa nak?Ada masalah lagi dengan hatimu? Ada yang bisa kami bantu perbaiki sebelum esok balik?"Tanya timpal Aris sudah seperti bengkel Cinta yang tengah mulai promosi jasa mendengar Arjuna disisinya mengeluarkan nafas berat.


" Ngak kok om,hanya masalah sempit hati,kata orang bijak obatnya susah,tukar tambah yang baru tak ada yang Sudi traplntasi." Balas Arjun mencoba bercanda.


"He...he....Andai Tantemu sudah rela om mati,om pasti mau mendonorkan hati om yang luas ini untukmu Jun."Balas canda Aris.

__ADS_1


" Kalian ini bisa ngak becandanya jangan yang seram gitu! Aku jadi ngeri ngebayanginnya..."Ujar Adelia memicing.


"Ya ngak usah dibayangin kale..." Ujar Aris dan Arjuna nyaris barengan.Sadar ucapan keduanya begitu kompak,kedua pria beda generasi itu tertawa lebar,sedang Adelia mengerucut kesal,merasa dibully oleh kedua pria kesayangannya.


"Sayang...Kok malah cember gitu disamping pria- pria paling tampan ditujuh generasi." Ucap lebai Aris pindah posisi duduk hingga sekarang Adelia yang ditengah.Para pelayan yang kebetulan lewat bergegas pergi,takut mengganggu keseruan tuan muda mereka dengan tamu istimewa keluarga Smit sedari dulu,apalagi setelah lebih tiga tahun ini sang tuanmuda bersama dengan pasangan sebaya tuan dan nyonya besar mereka.


" Eh...iya ya bang...seharusnya aku senang anak kita balik lagi karna tak tega membiarkan kita balik tanpa mengantarnya kebandara." Ucap Adel menyandarkan kepala pada Aris sembari menatap Arjuna.


" Kau fikir putramu kembali untuk sekedar melepasmu balik kampung nyonya? Hello!!! palingan anak ini balik karna calon mantu yang belum tentu hatinya."Ujar Aris seraya mengusai hijab istrinya. Biasanya langsung dapat protes langsung dari siempunya,tapi kali ini diluar dugaan. Adel malah menenggelamkan kepalanya ke sebelah dada tuan suami." Tidak peduli apa masalahnya,yang penting putra kita yang melepas kita balik esok." Ucapnya lirih tapi masih bisa didengar jelas Oleh Arjuna.


" Tak usah khawatir Tan...Besok kita balik bertiga!" Balas Arjuna dengan tekanan suara yang tegas.


" Whatt???Adel bertanya sambil menggeleng keras.


" No!!! Urusanmu disini belum selesai,kami tak mau membawa ragamu yang tanpa jiwa balik kampung!!!" Tolak langsung Adelia kemudian melihat Arjun mengangguk pasti.Walau berat untuk pisah dengan ponakan berasa putra ini,Adel tak mau membawa Arjuna balik sebelum sianak menyelesaikan urusan perasaannya yang masih tertinggal dikota terbesar di negara ini.


" Biarkan aku ikut om...Tan...aku tak tahan disini lebih lama lagi..." Ucap Arjun terdengar memelas.


"Segitu susahnya punya hati sempit ya nak?Tapi kau tak boleh bawa kemana- mana hati sempitmu itu dulu,biarkan ia menahan sakit beberapa saat lagi.Setelah mempu menahan sakit beberapa saat,ia akan kuat dengan sendirinya,itulah prinsip kerja vaksinasi selama ini,membangkitkan sistem kekebalan dengan menahan penyakit." Kali ini Aris berkata layaknya seorang dokter cinta.


" Tapi___


" Tak ada tapian mandi dikota ini,semua sungai sudah tercemar! Tapian mandimu hanya satu,bersihkan dan ambil alih kembali,baru boleh balik pada kami!" potong Adel menghentikan Arjun berdalih lagi.


" Ya..Rukuk,tunduk dan sujud saja selama tiga hari ini Arjuna! Setelah itu baru ambil keputusan terbesar dalam hidupmu.Kembali atau melepaskan! Apapun itu jalani dengan ikhlas setelahnya ! Walau ikhlas itu tidak mudah." Tegas Aris yang memang tahu apa yang difikirkan Arjuna saat ini,membuat Arjuna hanya bisa mengangguk pasrah.


Arjuna akhirnya melepas kembalinya Aris dan Adelia kekota berkembang keesokan harinya dibandara pribadi keluarganya." Om benar, masa tiga hari saja aku tidak bisa memberikan kepercayaan pada perempuan yang sudah lama kutunggu.Toh apapun yang terjadi selang tiga hari kedepan,jika itu bisa membuatnya bahagia untuk seumur hidupnya,aku harus rela menerima." Ucap Arjuna membujuk hatinya sendiri yang memang sangat sulit diajak kompromi,apalagi Setiap kali bayangan tentang kebersamaan Sinta dan Dirga terbayang dibenaknya,entah mengapa setan cemburu seakan beribu menyesak hatinya yang kecil.

__ADS_1


Sementara Sinta dan Dirga menikmati kebersamaan mereka sebaik mungkin.Sinta berusaha melayani makan minum suami dengan baik,setelah setengah hari menemani suaminya dirumah sakit menunggui operasi Tommy sang ayah mertua.Begitu operasinya selasai,mereka kembali keapartemen mereka.


Siang dan malam mereka lewati dengan manis dan terasa begitu singkat hingga tanpa terasa sudah malam ketiga kebersamaan mereka.


" Terima kasih sudah memberikan waktu padaku ...Aku takkan pernah melupakan momen menjelang perpis__"


" Suuuuut....Jangan ucapkan kata- kata sendu dulu!" Cegah Sinta sembari menutup mulut suaminya dengan ujung telunjuk mungil,halus dan indah miliknya,membuat pandangan kedua orang itu saling beradu,dan tak dapat dipungkiri darah didada Dirga terkesiap,jantungnya memacu lebih cepat.


Dengan bergetar dan perlahan digengamnya tangan dengan jemari lentik itu,membawa tangan itu kemulutnya untuk dikecup.Sintapun tidak buru- buru mencegah perbuatan suaminya itu,bahkan Sinta sengaja membalas dengan senyum termanisnya, senyum yang tentu saja mampu mengalihkan separuh dunia,apalagi untuk seorang Dirgantara.


Ingin rasanya Dirga menghentikan waktu,agar momen ini takpernah berakhir selamanya.Betapa lembut dan indah apa yang ia pandang saat ini,yang sudah ia sia- siakan selama tiga bulan bersama."Semanis apa bibir merah delima dara manisku?"


tanpa sadar sebelah tangan Dirga menarik pinggang sang istri lebih dekat lagi,sedang tangan kanan pria itu perlahan menyentuh dagu siperempuan cantik.


Lama mereka saling pandang dengan perasaan masing- masing,hingga Dirga tak tahan lagi,ia tak sanggup menahan hasrat untuk tidak melabuhkan sebuah kecupan dibibir merah delima menantang dihadapannya.Baru saja bibir Dirga hendak meraup cery manis istri,sebuah dering keras telfon membuat keduanya tersintak.


Sinta spontan menjauh, lalu duduk dan turun dari peraduan,melangkah mengambil telfon dinakas dan memeriksa gawai pipih itu.


Dirga mengusai rambutnya dengan kasar,melampiaskan perasan putus asa dan kecewanya."Sial...Selalu ada noise setiap momen indah yang ingin aku buat dengan istriku." umpatnya dalam hati.


Dia menelfonmu...Mungkin perasaannya tak enak saat ini,ada firasat prianya sedang mengagumi wanita lain."Ucap Sinta seakan melemparkan Dirga kedunia lain.


" Angkatlah..." Ucap Sinta lembut namun bak tusukan pisau tajam dihati Dirgantara.


" Ternyata Bermimpipun aku sudah tak boleh Lagi." Batin Dirga dengan tangan bergetar meraih telfon yang disodorkan oleh Sinta.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2