Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )

Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )
Tahi lalat Dibawah Mata?


__ADS_3

Sementara Pesta yang ditinggal orang- orang penting terhenti dengan sendirinya,sedang urusan makanan,artis dan ini itu tentu saja tetap diurus baik oleh pihak IO yang sudah mendapat Buget penuh dari Copry Colektion.


Bino dan Neni akhirnya menjagai mommy Sinta yang langsung mendapat penanganan dokter karna pingsan begitu mendengar putrinya diculik.


Adel dan Aris tentu cemas,apalagi mereka tak tahu siapa- siapa disini.Untung Bino cepat memanggil dokter keluarga yang memang stanbay untuk acara itu.Tidak begitu lama setelah diperiksa Cintapun siuman dan mulai teriak- teriak memanggil putrinya, bahkan sampai terlihat seperti orang kesurupan.


Dokter ingin memberikan suntik penenang untuk mengatasinya,tapi Neni dan Bino melarangnya."Jangan dokter!,biar kami coba yang dulu bicara dengan nyonya."Ujar Neni mencegah dokter itu.


Dokter mengangguk dan kembali menyimpan semuanya." Silahkan Nona, kalau ada apa- apa saya dikamar sebelah."Pamit dokter itu yang langsung dapat anggukan dari semua yang ada diruangan itu.


Neni menghampiri Cinta seraya menggenggam jemari Cinta.Sedang Adel duduk disamping sebelahnya lagi sambil membelai punggung sohibnya.Sinta tidak teriak lagi,sekarang isaknya yang tertinggal terdengar sangat pilu.


"Tenanglah nyonya,Tuan besar dan tuan muda Arjuna pasti akan menemukan Bos kami secepatnya.Lagian penculiknya cari mati saja itu,coba- coba nyulik CEO C3 ditempat seperti ini."Ujar Neni menenangkan Cinta.Sedangkan Bino baru saja pergi setelah melihat nyonya besar itu berhenti berteriak.Bino pergi untuk memeriksa CCTV dijalan depan Hotel ini,tidak tenang tidak melakukan apa- apa untuk menemukan bos cantiknya.


*


*


*


Lain lagi dengan dua gadis yang tadi ditinggal pergi Arjuna, mereka malah sibuk saling menyindir.Hanifa dan Qinara yang tahu Cinta sakit,segera menuju kamar tempat Calon ibu mertua mereka dirawat sambil terus saling bersaing.


"Ngapain ikut- ikut!" Ketus Qinara pada Hanifa."


"Ngak salah omong lho neng! Hallo!!!"Pekik Hani dengan menCibir.


" Salah apaan, lho juga belum tentu dipilih sama tuan muda Arjuna."Sahut sengit Qinara.


"Ngak nyampe kefikiran sejauh itu kale neng! Aku cuma ingin nengokin Tante Cinta aja. Secara ibunya babang Arjunkan Tante dekatku.Sedang kau hanya Tante jauh, anak musuh yang sudah dimaafkan."Balas Hanifa.


Keduanya saling melotot dan hampir saja terlibat pertengkaran besar.


Saat keduanya mulai saling jambak- menjambak, Hans asisten pribadi Jonatan cepat menarik Hanifa.


"Jangan membuat malu dengan berantam didepan Umum.Atau mau malu benaran kubalas ciuman nona kala itu didepan semua orang sekarang!." Ancam Hans,tiba- tiba latahnya hilang seketika.

__ADS_1


Hani melotot dan spontan menggeleng, membuat Hans tidak jadi melaksanakan ancamannya."Kalau begitu Ayo pulang nona."Ajak Hans kemudian.


" Kawani aku jenguk bibi dulu sebentar,lalu kita cari tempat asyik yang lain."Ujar Hani pada asisten ayahnya.Walau tak faham maksud nona mudanya, Hans tetap mengikuti perempuan cantik dengan Dres soft ping itu menuju sebuah kamar VIV.


Sedang Ranata dan Fano yang baru tiba dilokasi pesta dengan putra mereka Fino sebab terlambat setelah menempuh perjalanan jauh dari pondok, juga mencari Cinta kekamar hotel tempat wanita itu ditangani dokter, karna langsung mendengar kabar buruk itu begitu menginjakkan kaki ballroom hotel.


Semua berkumpul menemani mommy Cinta dengan perasaan cemas,apalagi Rara,ia barusaja bertemu dengan putrinya sekarang harus berpisah lagi."Entah siapa yang sudah membawa putriku,andai itu musuhku,berarti memang tidak baik aku dekat dengan Sinta, itulah sebabnya dari Lahir Tuhan memisahkan kami,karna hanya kesusahan saja yang akan putriku dapatkan bila berada disisiku..." Hiks... Ratap panjang Ranata.


Cinta dan Rara sama- sama menangisi Sinta dengan sesugukan,hingga suasana kamar mewah itu menjadi sangat sangat melankolis, bahkan Qinara dan Hanipa yang sampai disana tidak dapat berkata apa selain turut meneteskan airmata.Dengan sendirinya hilanglah tatapan permusuhan yang tadi berganti dengan raut sedih,bahkan tanpa sengaja kedua gadis itu saling berpelukan, walau keduanya kurang faham makna ratapan Cinta dan Rara.


Fano kemudian memeluk istrinya untuk menenangkan Rara.


"Tenanglah ma,hilangkan fikiran buruk mamah itu,doakan yang baik untuk kakak, karna doa ibu adalah mukjizat didunia."Ujar Fino.


Setelah kedua wanita itu tenang,Semua lega, merekapun membawa Cinta dan Rara kembali kerumah Utama dengan menggunakan mobil Fano.


"Kamu mau kemana?"Tanya Fano karna putranya tidak mau ikut bersama.


"Papa urus mama dan mommy dengan baik, aku akan turut mencari kakakku."Tegas Fino.


"Tapi__"Ucap Fano tertahan.


Sebelum kedua orang tuanya bicara lagi,Fino kembali berucap."Aku akan bersama dengan kak Bino dan Mang Udin dalam misi ini,papa sama Mama don't worry,aku tidak akan gegabah."Imbuh Fino akhirnya membuat Fano mengalah dan meninggalkan putranya, sembari memberikan sebuah ponsel, ponsel yang hanya diberikan kalau putra itu pulang dari pondok.


*******


Arjuna membuktikan janjinya pada sang Daddy,Ia mencari titik lokasi dan mulai mengawasi dari jarak dekat.Sampai pagi Arjun beserta orangnya memantau lokasi gedung penyekapan Sinta.Ia bisa melihat dengan jelas keadaan didalam melalui monitor.Salah satu orangnya juga telah berhasil masuk sebagai pengantar pesanan makanan untuk Sinta dari sipenculik, walau hanya sampai ruang tengah.


"Syukurlah ia memikirkan perut Sinta juga.


Siapa wajah dibalik topeng itu?" Batin Arjun begitu pengantar makanan adiknya telah kembali dengan selamat kotempat pengintaian.


Ternyata ruangan tempat penyekapan Sinta ada diruang bawah tanah,untuk sampai disana melewati labirin yang cukup rumit.Untung ia sudah memasang mini Camera berbentuk mutiara dipertengahan kedua alis Sinta saat mencuri kecup Sinta sejam sebelum pesta,walau sempat dicubit keras karna itu Arjun puas,alat buatan Daddynya itu tak ada yang menyadari karna hiasan itu menambah kecantikan dan kewibawaan Sinta dan nampak melekat dan indah sekali.


Arjun fokus kearah layar,Detik berikutnya Arjun sempat dibuat panik menatap layar karna melihat penculik itu menunduk seperti ingin mengecup pelipis Sinta yang terbaring tak sadarkan diri diatas tempat tidur,masih dengan sutra tipis penutup wajahnya. Arjun geram dan sampai nekad ingin memaksa masuk ingin memukul pria bertopeng itu.

__ADS_1


"Jangan Bos,lihatlah layar, sepertinya pria tua tak jadi,aksinya dihentikan oleh dering telfonnya." Cegah salah satu anggota Arjuna


sambil menunjuk layar.


Benar saja,ternyata pria bertopeng itu tak jadi menyentuh adiknya.Arjunapun kembali fokus kelayar dan ia mulai memasang Hanset untuk mendengarkan suara Vidio itu dengan jelas,


mendengarkan percakapan pria itu,melihat sang pria sudah mendeal telefon genggamnya.


Arjun mendengarkan dengan fokus, sangat senang mengetahui percakapan orang itu diloadspeker.Sekali lagi Arjun bersyukur,pria itu tak sadar ada camera pengintai yang menyaksikan semua yang ia lakukan.


" Dugaanku tak meleset,ada konspirasi antara Grasy dengan pria bertopeng itu."Bisik Arjun


kemudian usai mendengarkan telfon.


Ternyata pria bertopeng itu punya misi yang sama dengan Grasy, yaitu ingin melenyapkan adiknya.Arjuna tak bisa tenang lagi,tapi melihat layar yang sudah menampilkan sorot heran Pria bertopeng itu begitu membuka penutup wajah Sinta,Arjunpun menyipitkan matanya dan membuka telinga lebar- lebar.


"Apa ia benar menantuku atau wanita itu?


Kok sama ada taik lalat dibawah mata?" Gumam pria bertopeng.


Deg.


" Tahi lalat dibawah mata?"Arjun sendiripun heran, kapan Sinta membuat tanda seperti milik ibunya itu.


Jantung Arjun memacu kian cepat.


"Sekarang kembali kemisi Awal,Balik kerumahku Zam dan Zumi.Tolong kalian buat konten bersama Gumilang,buat pria itu mau menyatakan diri tengah diculik saat ini."Ujar Bisik Arjuna yang langsung diangguki sepasang suami istri yang satu Ahli IT yang satunya lagi Ahli Kebatinan.


"Baik konco, kami akan melakukan yang terbaik."Balas bisik pasangan itu sebelum berangkat.


"Aku sudah tahu musuh sebenarnya,semoga ia tak sadar juga dengan hiasan dikeningadikku sebelum ia mendengarkan berita hilangnya putranya."Gumam Arjun fokus memandang layar dengan perasaan campur aduk.


Bersambung...


Maaf ya Sobat kemaren hari yang sibuk, jadi ngak sempat Up.

__ADS_1


Jangan lupa kasih dukungan biar Mangat ya: Komen, like, fote, give dan Faforitkan bagi yang mampir.Untuk yang setia salam makasih


dan Lope- Lope sekebun jeruk.Jangan segan kasih masukan ya, manatahu ada yang tak berkenan, kritik sobat setia adalah lantera berharga buat penulis.


__ADS_2