
Malam pun berganti dengan pagi.Sehabis melaksanakan kebiasaan pagi hari,masing- masing insan sibuk kembali bertebaran dimuka bumi,melangkah maju menuju pusat- pusat mengais rezeki bagi yang bekerja,sedang pelajar kembali berburu ilmu dipusat pendidikan dimana ia disekolahkan orang tuanya.Ada yang melangkah dengan tulus,dan ada pula diantara mereka yang berjalan dengan terpaksa.Dan yakinlah hanya mereka yang melangkah dengan tujuan baik saja yang akan mendapatkan hasil yang baik pula.
Sepertinya pagi ini Fino akan kembali kepondoknya yang akan menempuh jarak 1000 km lebih dari kediaman utama keluarga Smitt.
"Karna mama Rara kelihatannya masihpengen nempel sama Sinta,gimana kalau dek Finokio diantar sama bang Juna saja." Ucap Juna disaat Fino sibuk packing pakaian yang akan dibawanya kembali sebagai Santri diPondok Pasantren Modern C pagi ini.
"Nanti hidungku makin panjang kalau jalan bareng bang Jujun,habis tidur Nebeng saja udah bikin mata bengkak karna kurang bobok."Balas Fino dengan mencebik.
"Tenang saja,kita bisa molor sepanjang jalan, karna kita bakal disopiri sama Berkat dan Zidan bergantian."tutur Arjuna menguatkan tawarannya.
"Baiklah..Tapi harus Abang sendiri yang menelfon mama,sebelum mama tiba kesini untuk ngantar aku."Akhirnya Fino setuju dengan tawaran Abang tampan yang barubeberapa hari ini Fino kenal.
" Bang...boleh nebeng juga ngak?"
"Emang mau ngapain ikut- ikutan!" Protes Arjuna pada pria yang tiba- tiba masuk kekamarnya tanpa permisi.
"Aku dapat panggilan ngajar disana bang,sebab itulah aku kembali." Balasny seraya menatap Arjuna dengan tatapan memohon.
"Baiklah...Tapi bagaimana dengan Bidadari dari Yaman yang katanya baru mau belajar kau kasihi."tutur Arjuna teringat pada curhatan saudaranya malam tadi.
"Dia sudah setahun ini mengajar disana kok bang,aku nyusul calon istri juga sih namanya. tapi sekali lagi kutegaskan kalau aku serius belum akan menikah kalau Sintabahagia."Ujar Zaki milirik tajam pada Arjuna.
" Heran juga kenapa pemuda sekarang lebih suka sama janda,termasuk papa Fanoku.Semoga aku jangan sampe kayak kalianlah!Kalau bisa kumohon pada Allah SWT, karna kata Rasulullah yang gadis lebih hangat untuk dicintai."Tutur Fino yang langsung dapat serangan dari kedua Abang.Zaki menarik kuping,sedang Arjuna menarik hidung mancung Fino.
"Anak kecil belum boleh menakar Cinta!!" Pekik kedua pemuda itu serentak menghakimi Fino.
" Cik,kalian ini! Saingan soal perasaan tapi giliran nyiksa calon adik ipar kompakan sekali."Ucap Fino seraya melepaskan diri dari kedua pemuda yang sekarang begitu menyebalkan dimatanya.
" Nanti kupecat jadi calon kakak ipar baru tahurasa berdua! Kalau sekali lagi kalian menganiayaku, bakal kutendang kalian berdua dari kehidupan kak Sinta."Ancam Fino berlagak serius.
"Jangan Fiiin..." Ucap kedua pemuda itu kompakan lagi dengan sorot yang sama pula.
( Memelas )
" He....he...Aku puas sekali membuat kedua orang muda ini mengemis padaku,hanya untuk bisa diterima sebagai Abang ipar!" Sarkas Fino sembari melenggang pergi.
" Whatt!!! Berani sekali kau ngatain kami begitu anak kecil!!!" Teriak Arjuna dan Zaki bersamaan pula seraya mengejar Fino.Tapi baru beberapa langkah mereka melangkah mereka teringat ancaman Fino barusan,membuat keduanya berdecak dan mengusai rambut sendiri,mengurungkan niat membalas Fino yang sudah mengatai mereka pengemis cinta.
__ADS_1
"Kita kalah dengan anak kecil itu." Ucap Zaki lirih,tapi itu masih bisa didengar oleh Fino,sehingga anak beranjak remaja itu tersenyum penuh kemenangan.
"Siapkan secepatnya bawaanmu bang Kuki! Untuk bang Jujun,cepat telfon mama kalau serius ingin mengantarku!"Ucap Fino memerintah kedua abangnya.
" Siap Kapten!!!" Balas mengalah keduanya
hormat seperti prajurit pada komandannya.
"Laksanakan!!!" sahut Fino tak mau kalah drama sekali.
Zaki berlalu untuk menyiapkan bawaannya.Sementara Arjuna mulai mendeal nomor untuk menghubungi mama Rara.
Berkali Arjuna menghubungi nomor mama Rara,tapi nomor itu tidak aktif,iapun menelfon
mommy Cinta yang ternyata sama.Dengan berdebar terpaksa Arjuna menghubungi nomor Sinta yang kelihatannya subuh ini sudah Online.
"Ada apa bang..?tanya Suara lembut namun berhasil menggoncang tubuh Arjuna ditempat
berdirinya.
" Ma..mama Rara sudah bangun apa belum,tanya sembarang Arjuna saking gugupnya.
" Anu ta,mama Rara tak usah balik kesini buat ngantar Fino,karna Fino katanya mau berangkat diantar Aku kepondok."Ujar Arjun langsung,takut kegugupannya disadari oleh Sinta.
Fino yang balik lagi kekamar Arjuna geleng- geleng kepala mendengar Arjuna membalikkan cerita,tapi melihat pemuda setangguh Arjun gemetaran bicara dengan kakak perempuannya walau hanya lewat udara, membuat Fino mengurungkan niatnya membantah alasan terbalik sang Abang.Fino memilih berdiri berkacak pinggang menunggui Arjuna telefonan.
" Oh,sepertinya lebih baik kalau begitu,karna aku masih kangen mama." Sahut dari Sinta dari sebrang dapat didengar jelas oleh Fino karna Arjuna menghidupkan spekernya.
"Tolong panggilan mama kak.." Potong Fino karna ia melihat abangnya Arjun takkunjung menyampaikan maksudnya, seolah kehilangan kosa kata untuk bicara.
" Ma...Fino sama bang Arjun mau bicara nih...
"Terdengar suara Sinta langsung memanggil mama Rara tanpa menyahut Fino.
"Ada apa Fin,bentar lagi mama datang setelah kak sintamu berangkat kekantor." Sahut Rara begitu telfon Sinta sudah beralih ke tangannya.
"Ini Aku Arjuna ma,mau minta izin gantiin mama ngantar Fino Kegontor,apa boleh ma?" mental Arjuna langsung balik begitu suara mama Rara yang ada disebrang telfon.
__ADS_1
" Oh,tentu boleh nak! Tapi__
"Tapi apa ma?" Kejar Arjuna mendengar perempuan yang melahirkan Fino menjeda ucapannya.
"Ngak!Cuma mama takutnya ngerepotin nak Juna saja karna jauh.Kalau soal izinnya malahan mama senang bisa nemanin Sinta diapartemen barunya ini dulu beberapa waktu selagi papa Fano sibuk ngurusin renovasi rumah sakit satu Minggu kedepan."Ucap Rara sembari tersenyum senang yang dibalas Sinta dengan memeluk ibunya itu.
"Itulah ma,Arjun mikirnya kesitu juga makanya pengen sekali ngantar dikFino sekalian kangen sama suasana dikota santri seperti dulu,sekalian lihat calonnya__
"Calon siapa?Bang Juna punya calon istri Ustazah disana?" tanya Sinta langsung memotong ucapan Arjuna.
" Iya ta,sepertinya kami mau lihat- lihat dulu apa ada yang cocok dijadikan bidadari Syurga kita." Sambut Serobot Zaki membuat tiada lagi terdengar suara Sinta,bahkan detik berikutnya terdengar suara Tut bunyi sambungan telfon terputus.
" Paling pintar ya kamu soal frovokasi Zaki!!!" Hardik Arjuna melihat pria muda bersorban itu cengengesan mendengar sambungan telfon Arjuna diputus.
" Cik,udahlah bang...Jangan marah- marah ntar makin tua." tambah Zaki makin membuat Arjun melotot.
Fino langsung berdiri diantara keduanya takut
mereka malahan berantam benaran.
"Ini adil kok bang,setidaknya Abang jadi tahu kalau kakakku Sinta juga mencemburuimu bukan?Jadi dari pada marah- marahan Ayo kita sarapan dulu sebelum berangkat." Ajak Fino menengahi.
Arjuna akhirnya mengangguk."Baiklah..." Ucapnya pendek dan lirih.
" Tenanglah...Kalau kakakku terbakar cemburu seharian ini,aku janji nanti malam akan mengademkannya dengan menelfonnya sebelum tidur." Bujuk Fino sembari bergelayut
dilengan Arjuna.
Keduanya melangkah menuju ruang makan diikuti Zaki.
" Dasar Latang ayam! Sekali nempel langsung
bikin orang gatal!" Ujar Arjuna menepis tangan kanannya yang digelayuti pula oleh Zaki.
" Ha....ha...Sejak jatuh Cinta berat, tuan Arjuna kehilangan kejenakaannya.Padagal dulu ia supel sekali lho."
" Itu karna cintanya belum tercapai bang Kuki! kalau hajadnya terwujud kuyakin kepribadian bang Jujun yang asyik bakalan balik lagi." Belas Fino.
__ADS_1
" Semoga dugaanmu tidak meleset anak kecil." Balas Zaki angkat bahu.
Tiga langkah lagi mereka sampai dimeja makan,terdengar dering telfon yang membuat ketiganya saling pandang.