Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )

Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )
Fantasi Aneh.


__ADS_3

Kumandang suara azan subuh mengalun indah ditelinga Sinta,membangunkan perempuan itu dari tidur terlelapnya diawal tahun Masehi 2003.Begitu perempuan cantik itu membuka mata,sepasang netra indah itu langsung tertuju pada benda pipih yang menyuarakan alunan nan merdu itu.Sengaja Sinta memilih panggilan Azan sebagai pengingat waktu ditelfonnya.


"Rupanya ia benar- benar tak kembali."Ujarnya lirih teringat pada Dirga yang pergi kerumah sakit semalam.Dengan perlahan tapi pasti sang gadis menuruni peraduan,untuk menuju tempat bersuci,karna waktu subuh adalah waktu terindah memulai pendekatan kembali pada sang penguasa jagat raya yang telah mengembalikan jiwa kita lagi,dengan rasa syukur yang besar,untuk memulai hari yang tentunya setiap detik akan begitu berarti bila kita syukuri.


Usai menunaikan bukti bakti pada pemilik hakiki,Sinta memanjatkan sebaris pengharapan.Rasa damai yang begitu dalam menyelami hati sang dara seiring dengan sapuan angin pagi yang cukup dingin menggelitik gemas pipi halus mulus putih indah berkilau milik sang jelita yang nyaris terlihat takberpori itu.


Pagi ini Sinta sudah melihat jalan kedepan yang akan ia tempuh,hingga pancaran wajahnya kian terang.Tanpa sadar seulas senyum menghias bibir manis itu,entah pada siapa ia tersenyum hingga angin pagi yang lembut kian riang mencumbui wajah dan menari lembut memainkan rambut halusnya saat ia membuka mukena.Dengan santai jua Sinta mengembalikan stelan wajib punya itu ketempatnya.


Barusaja Sinta ingin merapikan surai hitam miliknya,dengan sisir,suara dering telfon menjeda aktifitas itu." Barangkali mommy yang sudah tak tahan pisah denganku selama tiga hari." Ucap Sinta sembari menyanggul rambutnya kilat dan segera melangkah untuk meraih alat komunikasi terpenting dizaman kini itu.


Kedua alis sidara menaut setelah memeriksa layar yang tidak menampilkan panggilan itu dari mommy,Daddy,Arjuna atau Dirga,melainkan panggilan dari nomor lain dan tak terdaftar.


"Siapa yang menelfon dengan nomor baru itu?Kalau Daddy atau yang lain tentu akan menulis pesan terlebih dahulu sebelum memanggil,karna mereka orang rumah semua tahu aku tidak suka menerima telfon sembarangan."Fikir Sinta menimbang- nimbang sejenak apa akan menerima atau menolak panggilan.


Setelah panggilan ulang yang kelima masih diabaikan Sinta,barulah datang notifikasi pesan masuk.Sinta yang sudah rapi dengan gamis modern warna ungu lembut dipadu hijab syar'i berwarna senada segeramembaca pesan itu.


"Lepaskan dia,jangan menahannya,sebab kau


taksepadan dengannya,kau tak lebih dari Cinderela dalam mimpi saja,berharap mendapatkan hati pangeran tampan seperti Dirgaku,nyatanya kau gagal,sampai detik inipun kau belum merasa bercinta dengannya seperti yang kurasakan! Jadi bangunlah dari mimpimu.


Deg.


Jantung Sinta berdegup keras membaca pesan itu."Astaga...Pelakor sekarang lebih merasa berkuku ketimbang istri Syah!Darimana dia tahu aku dan Dirga baru diatas kertas? Mungkinkah Dirga sendiri yang membeberkannya?Ah, tidak! dia sendiri tak tahu pasti kalau kami sebenarnya tidak pernah.Wanita itu hanya sok tebak saja,berusaha kuat jadi siperebut,walau sebenarnya hatinya mungkinsaja ketakutan saat ini,takut aku berhasil membawa suamiku kembali.Tapi tenang saja,bukan hubungan badan yang membuat orang cepat kepelaminan,tapi jodohlah yang berperan.Andai aku takdir jodohku dengan Dirga hanya sebatas nikah diatas kertas,dan hari ini aku mantap menemui pengacaraku untuk mendaftar cerai,tapi aku melakukannya bukan untuk seperebut itu,melainkan karn hatiku yang tak nyaman dengannya.Belum tentu juga kau siperebut adalah jodohnya Dirga.Andai Engkau menerima taubat suamiku Ya Robb,maka sekalian kupinta padamu untuk memberikan yang terbaik baginya,walau ia keturunan musuh ayahku,tapi ia pernah ada di dekatku,ia pernah


teman berbagi tempat tidur dan sarapan pagi,dan makan malam denganku,maka dengan Rezki yang pernah Engkau anugrahkan pada kami,aku mohon berkahmu ya Tuhan...Beri Kami kehidupan yang baik dimasa depan,dan hindarkan kami dari segala


keburukan dan barang buruk.Kami tak mungkin satu peraduan,tapi apa salahnya satu harapan yakni hidup lebih baik kedepannya,sampai kami tutup usia."Sinta menggumamkan pengharapan yang panjang


untuknya dan Dirga kedepannya.Sedikitpun ia tak menaruh dendam lagi pada calon mantan suami,hanya kebaikan saja yang ia harapkan untuk mereka kedepannya.

__ADS_1


Dengan langkah pasti Sinta menemui pengacara pagi ini,setelah membuat janji. lawyer muda namun sudah banyak menangani kasus pertikaian rumah tangga cukup terkejut mengapa putri Sahabat ayahnya menelfonnya pagi- pagi sekali,apalagi yang ingin dibicarakan oleh orang yang sudah berumah tangga dengan dirinya kalau bukan perceraian.Berbagai pertanyaan memenuhi kepala sang lawyer. Walau ia cukup tampan,namun tidak sokcakep apalagi besar kepala mengira perempuan seperti Sinta mau menemuinya hanya sekedar untuk bersilaturrahmi,apalagi niat menggoda,percaya seratus persen itu tak mungkin.Walau tergolong pria narsis,untuk Sinta pria itu cukup tahudiri sedikit.Sedikit keles?


"Jangan katakan kau menemuiku untuk urusan biasa dilakukan para selep nona.Barangkali Almarhum papa pernah mengamanatkan sebuah bisnis untuk kita kelola bersama untuk menyambung hubungan baiknya dengan paman Rajj dimasa lalu."Ucap Taufan ketika ia dan Sinta sudah duduk berhadapan diruangan frivasi sebuah kafe kepuyaan Rajj Copry,tempat yang dipilih sendiri oleh Taufan untuk ditemui oleh wanita cantik itu.


Sinta balas tersenyum,itu membuat Taufan sedikit salah tingkah,sampai pria itu mengencangkan dasinya yang nyatanya sudah pas dan baik- baik saja,tapi kembali dipreteli efek grogi.


" Busyet! Manis sekali senyum putrimu paman..Padahal sudah ditutupi,tapi aku masih saja bisa merasakannya ya? Ampun DG,apa ia akan bercerai dengan Dirga suaminya gara- gara pria itu takut mendadak Diabet diusia dini?" Tebak konyol Taufan dalam hati,kali ini sembari menyugar rambutnya.


"Aku ingin bercerai dengan Suamiku,tolong bantu biar urusannya cepat selesai."Ucap Sinta langsung.


Deg.


"Jadi benaran Dirga takut mendadak diabetes


lama- lama disisi istri semanismu nona?" tiba- tiba kata hati Taufan terlontar dari mulutnya yang selama ini bisa dikendalikan,tapi kali ini sungguh diluar kontrol,sebagai seorang lawyer yang punya kata- kata berharga,ia jadi malu hati menyadari ini.


Sinta kembali tersenyum,kali ini senyum yang menggelitik." Pak Taufan jago melucu juga kiranya." Balas Sinta singkat mencairkan suasana.


Sinta membalas dengan gelengan saja,entah apa artinya Taufan dan Sinta sendiri kurang mengerti.


" Langsung keinti saja ya pak,barangkali bapak punya janji yang lain,karna Sinta tahu bapak pengacara selebriti yang sibuk." Ujar Sinta kemudian setelah beberapa detik keduanya saling diam.


"Iya,katakan saja alasan gugatan dik Sinta,dan mohon jangan panggil saya pak lagi ya,biar ngak gugup seperti tadi."Ujar Taufan paket lengkap dengan ekspresi sesantai mungkin


walau tetap cangung jua.


"Busyet! banyak calon janda yang kugadapi,kok ngak ada yang bikin grogi kayak begini ya." Batin Taufan mengumpati dirinya.


"Waktu kecil kita pernah beberapa kali ketemu kok.Dan dulu panggilan kita Abang adek.Gimana kalau kayak itu juga biar enjoy dikit" UcapTaufan memohon.

__ADS_1


" Kan sana yang mulai panggil saya nona tadi." balas Sinta dalam hati dengan tersenyum smirk.


"Baik bang Taufan...Semua alasan sudah kutuliskan disini,Abang baca saja ya."Ujar Sinta sembari mendorong sebuah file kehadapan Taufan.


Taufan menatap berkas yang dikemas dalam amplop besar berwarna coklat muda itu sembari bersyukur,tapi sedih juga.Sinta ternyata sudah menyiapkan agar tidak berlama- lama bertemu dengannya,ia tinggal mempelajari masalah rumahtangga perempuan manis cantik itu dengan membaca saja.Sekarang saja Sinta sudah berdiri siap untuk pergi.


"Abang sudah pesan makanan lho ta,ucap Taufan menahan langkah Sinta.


"Sudah rereques kok pesanan bang Taufan,tu sudah tiba buat bang sendiri."Balas Sinta sembari menunjuk pelayan yang hendak masuk membawa hidangan.


Tofan garuk kepala yang tidak gatal."Aku lupa ini cafe siapa punya,jadi sudah tentu semuanya bisa .He...he....Taufan tertawa sumbang,menertawai diri sendiri yang memiliki pikiran,perkataan dan keinginan yang tak biasa setelah bertemu dengan wanita cantik ini.


"Permisi.." Pamit pendek Sinta kemudian disusul ucapan selamat pagi dari pelayan pria yang datang menghidang.


Sinta berlalu,sementara Taufan memasukkan berkas Sinta kedalam tasnya,sedangkan pelayan mulai mengatur menu dimeja


"Nona kami sudah biasa sarapan pagi buatan sendiri, itu ajaran dari dini,bukan maksudnya menolak sarapan bareng tuan." Ucap Pelayan itu melihat Taufan menatap Sinta yang sudah jauh dibalik kaca dengan nanar.


" Oh...tak apa,aku juga biasa sarapan sendiri begini." Sahut Taufan sembari mencoba tersenyum,satu sisi hatinya lega,disisi lain ada rasa iba jua ditinggal secepat itu oleh dara jelita calon janda muda.Hati siapa yang ngak bakalan kepincot,bukankah zaman kini janda lebih digemari,selain statusnya pasti,isinya jelas ngak bakalan ngecewain lagi.


"Sampai pelayan saja berusaha membela,tandanya Sinta perempuan yang pantas dipertahankan,jadi penasaran apa alasan perpisahan pasangan serasi diusia pernikahan semuda ini." Batin Taufan,segera pria itu memulai sarapan paginya agar dapat mempelajari isi gugatan yang sudah ditulis Sinta.


" Hati siapa yang takkan terbuka saat mata menatap perempuan dengan fisik sesempurna dia?Cik,mikir apa ini?" Taufan menepuk jidat sendiri saat menyadari makannya terhenti memikirkan Sinta.


" Sejak kapan kamu suka mendukan makananmu buyung?" Ucapnya menirukan ucapan ibunya mengingatkan dirinya.


" Sory mak,lagi mimpi ketemu calon mantu buat Mak?"


" Mimpi sedang tidur bukan saat makan!" Ucapnya menutup kuping sendiri membayangkan sang bunda menjewer kupingnya.

__ADS_1


Ampun Mak....Ampun...


" He...he....Taufan tertawa geli menyadari fantasi anehnya.Untung sekali ia sedang diruang frivasi,jadi tak ada yang tau apa yang ia lakukan saat itu.


__ADS_2