Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )

Sinta ( Sirnanya Cinta Dimalam Pertama )
Pengakuan Yang Menyakitkan.


__ADS_3

Dingin menusuk tulang dirasakan oleh pria berkulit putih yang tengah terbaring tengadah diatas Brankar saat ini.Sekujur tubuhnya menggigil bagai berendam dilautan Es.Entah apa yang terjadi,ia belum memahami apa yang sedang menimpanya.Temaran pria berusia diatas kepala 50 itu melihat sekitarnya orang- orang berseragam serba putih keluar dari ruangan yang nampaknya juga serba putih ini."Sepertinya ini bukan lagi goa buatan papa,apa aku dirumah sakit?kalau benar,berarti aku masih bernyawa."Batin Tommy tengah menerka- nerka.


Beberapa menit yang lalu para perawat memindahkan Tommy dari Amergenci keruang rawat VIV.


Tommy kembali berupaya membuka matanya lebar,tapi rasa dingin itu membuat kelopak mata itu begitu berat.


"Apa papa belum sadar juga suster?"Tanya sebuah suara yang sangat Tommy kenal,tapi suara itu terdengar sangat jauh.


"Sepertinya efek obat biusnya masih kuat tuan,tapi mata tuan Tom tadinya sudah mulai membuka.Tuan kedinginan setelah operasi,mungkin karna pengaruh suhu ruang IGD tadi,atau efek obat dan bisa pula karna faktor usia."Sahut seorang perawat sembari menambahkan selimut untuk menutup tubuh Tommy sampai dada.


Tommy masih terus mendengar suara putranya bicara walau terdengar sangat halus.Itu membuatnya ingin sekali menyapa sembari menatap manik biru Dirga warisan genetikanya.Untuk ini ia terus berusahakeras hendak memastikan keberadaan Dirganya benar ada,sekalian menayakan kalau benar ia masih hidup seperti perkiraannya,tapi sekali lagi mata itu sulit diajak kompromi.Masih belum putus asa,Tommy membuka mulutnya untuk berucap memanggil nama Dirga,tapi sekali lagi ia menelankecewa karna bibirnya bergetar hebat namun lidahnya sangat berat.


"Tunggu!Tadi kudengar wanita itu bilang aku habis dioperasi.Apa benar Ya?Berarti benar, aku masih hidup sekarang.Bagaimana mereka berhasil mengeluarkanku dari kamar itu sebelum gedung itu roboh?"Gumam Tommy dalam keadaan setengah sadar.


"Ya pa,papa dan orang- orang papa akhirnya selamat,syukurlah Dirga dan Arjuna cepat sampai dilokasi,hingga Papa bisa segera kami larikan kerumah sakit.Papa istirahat dulu,jangan banyak berfikir,semua akan baik- baik saja."Kembali Tommy mendengar jawaban putranya disertai ucapan seperti sedang menenangkan dirinya,berikut ada rasa nyaman dan hangat dihati dan pada telapak tangan Tommy karna sentuhan putranya itu,membuat matanya kian berat dan akhirnya Tom benar- benar terlelap.Kelembutan suara,hangatnya sentuhan putra semata wayang berkolaborasi seperti ayunan dan nyanyian indah seorang ayah mengantar Tommy Dirgantara kealam mimpi.


"Oh, Sepertinya papaku kembali tidur Sus, tinggalkan saja kami, biar aku yang jaga, nanti kalau ada apa- apa langsung kutekan tombol Nurse Callnya."Ucap Dirga yang disambut anggukan dan senyum manis dari kedua perawat yang menjagai Tommy,kemudian keduanya keluar dari ruangan itu.


*****

__ADS_1


"Papa?Kenapa papa menangis dan tidak memakai baju???"Tanya Tommy Syok melihat pria yang sangat menyayanginya tengah duduk memeluk lutut dengan tubuh hanya memakai celana potong compang- camping pula duduk sendiri ditengah Padang pasir yang panas.Kulit punggung pria itu yang dulunya putih sekarang nampak hangus terbakar cahaya matahari yang hanya sejengkal dari kepala,sementara kepala sang papa sudah tidak ditutupi tengkorak.Ada cairan berwarna putih meleleh jatuh menetes perlahan memenuhi wajahnya.Sangat mengerikan dan menjijikkan wajah itu,hampir saja tak dikenali,tapi suara jerit tangis lelaki itu jelas membuat Tommy yakin itu papanya.


Tak ada sahutan dari sang ayah,hanya tangisnya yang semakin pilu,membuatTommy ingin menghampiri papanya,Menariknya keluar dari Padang tandus yang sangat panas itu.Tapi begitu kakiTommy melangkah untuk menjemput papanya,tubuhnya tumbang ditanah berpasir panas itu.


"Aduuuh..."Keluh Tommy merasakan sakit dan panas yang menderanya.


"Papa!!!Teriak Dirga dari pintu toilet ruang rawat Tommy.Pria muda itu segera berlari mengejar saat melihat tubuh ayahnya ambruk dilantai rumah sakit.


"Maaf pa...Gara- gara aku kebelet,papa sampai jatuh begini."Ucap sesal Dirga seraya menggendong Tommy.


Tubuh Tommy bergetar dan keringatan, sedangkan plaster dikeningnya terbuka dan berdarah lagi akibat terhempas keubin, membuat Dirga makin merasa bersalah telah meninggalkan ayahnya kekamar mandi sebentar tadi.


"Hanya luka kecil Dir,tidak sebanding dengan luka kepala pria itu hingga meregang nyawa setelah menggelepar tak berdaya karna perbuatan kami." Ucap Tommy lirih,tapi itu berhasil membuat jantung putranya hampir copot.


"Pria mana papa?Apa pria yang sering hadir dimimpi Istriku?"Katakan padaku!"Ujar Dirga dengan bibir memucat.Fikirannya langsung melayang pada ucapan Sinta istrinya selama ini,hingga reflek bibirnya mempertanyakan itu.


Tom terdiam sembari mendengup Salivanya.


Cukup lama Tommy memandang Dirga yang memandanginya dengan sorot hendak menguliti.

__ADS_1


" Uhuh...Tommy menarik nafas berat.


"Saatnya papa membuat pengakuan,siapkah mentalmu mendengarkan semua ini nak?"


Dirga mengangguk, walau dadanya berdegup tak karuan saat ini,tapi ia tak mau menahan lagi.Ia harus tahu sekat apa yang sudah membatasi antara dirinya dengan Sinta selama ini, hingga dialam bawah sadarpun wanitanya itu menolak Dirga.


"Papa barusan terbangun dari mimpi seram tentang opa Saktimu.Ia begitu tersiksa dialam sana.Papa yakin kalau mimpi ini sebagai peringatan keras bagiku.Selama ini aku sudah bersembunyi dari dosa.Kakekmu yang sudah membantu menyembunyikan dosa besar papa.Tadi papa lihat dalam mimpi kakekmu sangat tersiksa,mungkin ini karna ia pergi menghadap Tuhan dalam keadaan menyembunyikan kesalahan besar seorang pewaris."Ucap Tommy perlahan namun penuh


penekanan sembari menatap Dirga,takut putranya itu belum siap mendengarkan semua pengakuannya.


"Katakan semuanya biarpun pahit pa..." Lirih Dirga sembari menarik kursi dan mulai duduk disisi pembaringan Tommy.


"Jelaskan padaku, aku siap mendengar dan menanggung resikonya lahir dan batin." Imbuh Dirga lagi meyakinkan papanya,kedua tangannya terulur untuk menggenggam tangan sang papa.


"Kakiku sekarang patah,Untuk kedepannya aku akan menjadi lelaki tua yang cacat."Ujar Tommy menatap kearah kakinya yang diperban.Ta...tapi ini belum seberapa dengan penderitaannya.Ia meregang nyawa dengan kepala terbelah,karna aku dan orang- orangku memukul kepalanya dari belakang dijalanan sepi menuju kebunnya sepulang sholat Jumat."Akhirnya Tommy berhasil menyelesaikan kalimat pengakuan yang sudah ia pendam selama 21 tahun.


"Berarti benar papa otak pembunuhan terhadap ayahku hari itu!"Pekik Sinta dari arah pintu ruang rawat Tommy.


"Tega sekali membunuh ayahku dengan cara begitu.Semarah dan dendam apapun pada orang, mengapa harus memilih cara melenyapkan sesadis itu???"Cecar Sinta berlinang airmata. Hatinya sangat pedih tak sengaja mendengar langsung cerita naas kematian ayahnya dari mulut seorang pembunuh yang selama ini hidup tenang diIstana kerajaan bisnis lelaki pembunuh itu.

__ADS_1


Tommy dan Dirga sontak menatap kearah Sinta dengan wajah pucat pasi.Dirga tadinya siap mendengar pengakuan papanya,tapi ia sepenuhnya belum sanggup kalau Sinta bakalan mendengarkan pengakuan yang tentu sangat menyakitkan bagi wanitanya itu.


__ADS_2