
Beberapa menit setelah melempar Budi dengan lak ban, Satria malah ingin buang air kecil, sehingga ia harus pergi ketoilet juga.
Secara kebetulan begitu sampai di toilet Satria bertemu dengan Budi yang baru ingin keluar dari toilet. Entah bagaimana tiga kamar toilet laki-laki lainnya terpakai oleh anak panti lain sehingga Satria tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan toilet yang baru dipakai Budi sebelumnya.
"eh Sat.. Baru ditinggal sebentar sudah nyariin.. Ada apa?" tanya Budi,
"GR amat lu jadi orang.. Gue ini mau kencing, lu haus nggak??" tanya Satria sambil membuka pintu toilet.
"kagak.., eh.. Sat.. Karya seni gue jangan disiram ya.. Sayang banget"
"maksud lu apa'an??"
"e'ek gue.. Sayang kalau disiram, gue bentuk sedemikian rupa pas ngeluarinnya tadi, ada yang bentuk pisang, belimbing, sama duku, bagus deh.. Coba lu liat sendiri"
Satria mendorong pintu toilet dengan curiga, namun begitu pintu itu terbuka, ternyata apa yang dikatakan Budi hanya kebohonganya saja.
Satria mendengus lalu kemudian melanjutkan "huh.. Lu tau ngga kenapa air kencing juga disebut air seni??"
"kenapa emang??"
"ntar sore giliran lu yang bersihin toilet kan!?"
Setelah mengatakan itu Satria masuk lalu mengunci pintu toilet dari dalam sambil bersiul.
"maksudnya apa'an??.." setelah jeda beberapa menit, Budi berteriak sambil menggedor-gedor pintu toilet yang dimasuki Satria. "Sat.. Ampun lah... Jangan jorok-jorok dong, pleeeassse.... Sat.. Sat.. Jangan ya.."
...****************...
Disiang hari itu juga Chya pergi kesalah satu mall yang didirikan oleh dirinya, mall ini merupakan mall terbesar dan terluas di dunia, mall ini mencakup daerah seluas 12 hektar dengan fasilitas dan wahana bermain yang sangat lengkap.
Mulai dari pedagang kaki lima, pasar, swalayan, cafe dan restaurant, dealer mobil dan motor berbagai jenis dan merek, wahana air, wahana ekstrim, area bermain, olah raga, kebugaran dan taman, bioskop, pusat pameran dan pelelangan, pakaian-pakaian mewah berbagai merek internasional terkenal, perhiasan, jam tangan, perkantoran dan banyak lagi yang lainnya.
Sebagai anak sultan terkaya didunia, Chya menjalani hari-hari seperti anak-anak yang lain, kecuali apa yang ia inginkan akan tercapai dengan mudah, jangankan meminta untuk membangun mall yang super luas dan mewah, bila ia ingin membeli planet Mars pun pasti akan dikabulkan oleh Jun.
Seperti biasa pengawal yang menjaga dan mengawasinya berjarak lebih dari seratus meter, sedangkan Chya bersama dengan tiga teman baiknya yaitu Sunja, Lupi dan Mekar yang beberapa hari lagi ikut camping berburu sedang berbelanja keperluan mereka dengan riang.
"kayaknya udah lengkap semua ya?!.. Sepatu, baju hangat, obat serangga, sunblock, lotion, alat-alat mandi, selimut, sleepingbag, snack, senter, hmm.. Apa lagi ya..??" Sunja bergumam pelan disebelah Chya
"mangkannya buat daftar belanja dulu.. Kan udah aku kasi tahu kemariinn.. Huuuhh.." tegur Chya, setelah jeda sebentar Chya melanjutkan. "keperluan pribadinya udah semua, yang penting itu saja, yang lainnya kan udah disiapin, lagian kalau ada yang kurang-kurang itu masalah gampang lah nanti"
"iya juga ya... Ngapain aku bingung-bingung ya... Hehehe.." Sunja menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
"kemana aja asal sama keluarganya Chya, ngga ada yang ribet.. Santay..." ujar Lupi yang disetujui Mekar dan Sunja juga.
"Apaan sih.." Chya tersenyum menanggapi teman-temannya.
__ADS_1
"eh bentar deh.. Tadi aku lihat ada sepatu hitam buat sekolah, bagus banget.. Aku mau beli itu dulu ya.." Lupi tiba-tiba teringat bahwa tadi ia melewatkan sepatu buat sekolah yang ia sukai.
"yaudah.. Kalian duluan aja, aku mau kasi semua belanjaan kita dulu ke mbak Vika ya.." Chya mempersilahkan teman-temannya.
Vika merupakan salah satu pengawal yang hari ini ikut menjaga Chya.
"emang bisa kamu sendiri? Biar aku bantuin ya.!" ucap Mekar
"yaudah.. Yuk!" balas Chya
"kalian susul kami nanti yaa... Jangan lama-lama.." ucap Lupi dan Sunja.
"Iyaaah..." balas Chya sambil mulai berjalan
Lima menit kemudian, Lupi dan Sunja sampai ditoko sepatu yang tadinya dikunjungi oleh mereka, sesampainya di toko, mereka mulai mencari letak sepatu yang disukai oleh Lupi.
"Pik.. Dimana?" tanya Sunja kepada Lupi yang terlihat lupa letak sepatu yang diinginkannya.
"kayaknya disekitar sini deh.. Hmm.." Lupi menggigit telunjuknya, ini merupakan kebiasaannya kalau sedang bingung.
"hadeeehh.. Masih kecil udah pikun kamu Pi, coba sekitar sini deh" ucap Sunja sambil menunjuk lorong disebelah kiri mereka
Merekapun mulai menelusuri lorong tersebut, terlihat ada sekitar delapan orang yang terdiri dari dua ibu-ibu, dua gadis kecil yang seumuran mereka dua bapak-bapak, seorang balita yang di gendong bapaknya dan seorang pramuniaga.
Hari ini toko sepatu tersebut sedang ramai dikunjungi oleh pembeli karena memang sedang liburan semester. Jadi beberapa keluarga yang taraf hidupnya menengah keatas memilih berbelanja ditoko ini.
"Ja.. Ja.. Ja... Itu sepatunya!" Lupi menunjuk sepatu yang sedang di pegang oleh seorang pramuniaga
Sepatu tersebut sudah di coba oleh salah satu gadis yang ada disana, namun sepertinya sepatu tersebut ukurannya sedikit kebesaran dikaki kecilnya, oleh karena itu ia merasa kecewa, dan akhirnya terpaksa mencoba sepatu lainnya yang saat ini sedang ia coba.
Setelah mendengarkan kata-kata dari Lupi, semua orang menoleh kepadanya, 'siapa orang kampungan ini?' fikir semua orang.
Dilihat dari pakaiannya, Lupi memang bukan orang yang suka berdandan, padahal sebenarnya ayah Lupi merupakan seorang perwira kepolisian berpangkat brigjen yang sekarang menjabat sebagai kapolres Jembrana. Jadi semua orang mengira Lupi adalah orang dari kalangan menengah kebawah yang sedang memaksakan dirinya berbelanja di toko ini.
Sejak kemunculan Jun di Jembrana, perkembangan pembangunan di Jembrana meningkat begitu pesatnya, bukan hanya dikabupaten ini saja, Bali dan bahkan Indonesia juga mengalami perkembangan pembangunan yang sangat pesat, sampai-sampai Indonesia menjadi negara peringkat lima terkaya hanya dalam waktu satu setengah tahun saja.
Setelah Jun dinyatakan sebagai salah satu aset negara, dan merupakan kehormatan tertinggi warga negara, dimana Jun mendapatkan pelayanan VVIP yang derajatnya hampir sama bahkan melebihi dari presiden, keamanan di daerah Jembrana pun di handle oleh orang-orang yang paling kompeten, jujur dan berpreatasi di bidangnya.
Sebagai contoh kecil saja, yang menjabat kepala Kelurahan saja di daerah tempat tinggal Jun, derajatnya hampir mirip dengan Gubernur di daerah lainnya. Bagaimana tidak, dengan Dana tanpa batas yang disediakan Jun, seorang lurah didesa ini dapat membangun dan membentuk apa saja yang dia inginkan.
Sunja dan Lupi yang ditatap begitu banyak orang menjadi sedikit malu. Namun dengan keteguhan hatinya, Lupi memberanikan diri untuk berbicara "maaf mbak, apa sepatu yang mbak pegang sudah ada yang membelinya?"
"owh.ini.. Be..belum" ucap pramuniaga tersebut setelah menoleh kepada ibu-ibu yang sedang menemani anaknya mencoba sepatu. Dia memang sedikit ragu, namun setelah menoleh ke ibu tersebut ia merasa sedikit yakin bahwa sepatu yang sedang ia pegang tidak jadi dibeli oleh ibu-ibu tersebut.
Namun tiba-tiba saja suara lantang dari kata-kata sinis yang tidak terdengar ramah sama sekali terdengar.
__ADS_1
"hey gadis kecil.. Apa maksudmu? kami sedang memilih sepatu mana yang akan kami beli, jangan mengganggu kenyamanan kami, lagian apa kamu mampu untuk membeli sepatu di toko ini? Apa kamu tahu berapa harga sepatu ini?" kata-kata ini keluar dari salah satu ibu-ibu yang sedang membantu anaknya mencoba sepatu.
"kamu juga! Kamu hanya karyawan disini ya! Kamu sedang melayani kami! Fokus pada kami saja, untuk apa meladeni yang lain, jangan-jangan kamu ingin dipecat?!" lanjut ibu tersebut memarahi pramuniaga yang memegang sepatu.
Lupi, Sunja, salah satu ibu dan bapak yang terlihat sebagai suami istri dan si pramuniaga tercengang mendengar teriakan umpatan dari ibu tersebut, sedangkan bapak yang satunya hanya bisa menghela nafas sambil menunduk, ia terlihat malu namun ia tidak berani menegut istrinya.
Anak-anak yang bersama mereka juga terlihat kebingungan, namun gadis yang sedang mencoba sepatu terlihat tersenyum seolah-olah bangga terhadap ibunya yang berani.
"i..i.ini.. Ah.. Maaf bu, tolong maafkan saya" ucap si pramuniaga yang terlihat gemetar ketakutan.
"apa!!? Maaf?!! Setelah membuatku kesal, apa kamu kira permintaan maaf saja cukup?!! setelah jeda ibu itu melanjutkan omelannya, "ini adalah toko berkelas, aku tidak menyangka toko ini merekrut karyawan yang tidak berkelas seperti kamu, apa kamu tahu? adikku adalah manajer humas dari kawasan mall ini, sedikit kata dariku toko bosmu ini bisa ditutup, mengerti kamu!!?"
Pramuniaga itu kaget dan tercengang, ketakutan melintas dimatanya, tiba-tiba saja keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya.
"sudahlah ma.. Tidak enak ribut-ribut disini, malu dilihatin banyak orang.." sang suami akhirnya memberanikan diri untuk meredakan suasana tegang ditempat tersebut.
"malu?? Siapa yang harus malu?, justru jika kita diperlakukan seperti ini, ini akan menginjak-injak harga diri kita, dia anjing yang harus melayani kita malah membelot melayani yang lain tanpa ijin kita, apa keluarga kita pantas untuk diperlakukan seperti itu?! Pelayan tidak tahu diri seperti ini harus diberikan pelajaran yang akan membuatnya ingat dimana tempatnya" umpat si ibu tidak mau mengalah.
Lupi dan Sunja memandang si ibu dengan tatapan jijik, keluarga satunya yang terdiri dari ayah, ibu, seorang gadis dan seorang balita yang tampak seperti rekan dari keluarga ibu pemarah tersebut saling mendekatkan diri mereka satu sama lain.
Mereka juga terlihat malu dan tidak ingin memihak pihak manapun, maka mereka memutuskan untuk sedikit menjaga jarak dan menonton saja.
Si pramuniaga hanya bisa tertunduk saja, dia awalnya merasa sedikit bersalah kepada si ibu, namun setelah mendengar umpatan ibu tersebut ia menjadi sangat marah, namu tidak ada yang berani ia lakukan, maka ia hanya bisa menangis sambil menunduk.
Tak lama, manajer toko yang mendengar teriakan dari si ibu datang untuk melihat masalahnya, ia melihat salah satu pegawainya yang terlihat menangis, seorang ibu yang berdiri berkecak pinggang didepan karyawannya, dan ia juga melirik semua orang yang ada disekitar pramuniaga dan ibu tersebut.
Si manajer kemudian melirik dua kali kearah Lupi dan Sunja, bagaimanapun, beberapa menit yang lalu mereka datang bersama dengan Chya dan satu gadis lainnya. Sebagai salah satu dari petinggi toko setelah direktur tokonya, tentu saja ia wajib tahu asal usul dari toko dan mall tempat tokonya beroperasi.
Jadi tentu saja ia mengenal Chya yang merupakan pemilik dari mall ini, walaupun gadis itu masih sangat muda, bahkan bisa dibilang masih kecil, Chya merupakan gadis cantik yang sangat pintar dan bijaksana, gadis kecil tetaplah gadis kecil, Chya juga bersikap selayaknya gadis seumuran dengannya yang suka bermain dan bersenang-senang.
Hal ini juga yang membuat si manajer sangat mengagumi sosok Chya, Chya telah melekat dihati si manajer, bahkan ia bermimpi untuk memiliki anak yang sama persis seperti Chya suatu saat nanti agar bisa membanggakan dirinya juga.
"halo semuanya, perkenalkan nama saya Devina, saya adalah manajer toko ini, kalau boleh saya tahu masalah seperti apa yang mengganggu nyonya, agar saya dapat memperbaikinya sehingga saya bisa memberikan pelayanan yang lebih memuaskan untuk nyonya" ucap Devina sopan, ia menangkupkan tangannya didada sambil sedikit menunduk.
Si ibu sedikit puas dengan perilaku Devina, namun ia masih menunjukan sikap superioritasnya dan tidak ingin mengalah.
"jadi kamu manajernya? Apa kamu bisa bekerja dengan baik? karyawanmu ini sedang melayani kami untuk menunjukkan koleksi sepatu toko ini kepada anak saya, tapi ia ingin menjual salah satu sepatu yang sedang kami coba pilih kepada gadis miskin itu, apa kau tidak mengajari karyawanmu bagaimana menjadi pelayan yang baik?" ucap sinis ibu tersebut sambil menunjuk kepada Lupi dan Sunja.
"baik nyonya... Saya mohon maaf atas perlakuan rekan saya sebelumnya, sebagai kompensasinya saya akan memberikan nyonya beserta keluarga tambahan diskon belanja sebesar 10% untuk semua item yang nyonya beserta keluarga beli ditoko kami selama satu bulan, dan selanjutnya saya berjanji untuk memberikan sangsi tegas kepada rekan saya ini, bagaimana nyonya, apakah ini sudah cukup untuk menyenangkan anda?" tanya Devina dengan sopan.
Si ibu luluh dengan perkataan Devina, dengan tambahan diskon 10% dan diskon liburan semester yang dicanangkan toko sebelumnya sebesar 15%, si ibu beserta keluarganya bisa mendapatkan diskon sebesar 25%, apalagi diskon 10% ini berlaku untuk satu bulan yang membuat otaknya berhitung dengan cepat.
Melihat si ibu yang sedang tertegun, Devina dengan cepat mengetahui apa yang difikirkan oleh ibu tersebut, bagaimanapun juga Devina merupakan sosok yang cerdas, ia menjadi seorang manajer dengan kemampuannya sendiri, keahlian utamanya adalah manajemen bakat, keuangan dan mampu menebak keinginan seseorang dari ekspresinya.
"Wanda, kamu panggil Asri kesini untuk melayani nyonya ini beserta keluarganya, lalu kamu pergi kekantor saya dan tunggu saya disana" Devina mencoba menjauhkan Wanda dari pandangan si ibu arogan ini untuk mengendalikan suasana.
__ADS_1
"baik bu Devi, saya pamit dulu" Wanda pergi dengan ekspresi yang menyedihkan, ia bahkan malas untuk meminta maaf lagi kepada ibu arogan itu karena merasa telah dipermalukan dan dihina dengan alasan yang sangat sepele, ia hanya merasa bahwa perlakuan yang ia dapatkan itu tidak sepantasnya.