
Setelah Wanda pergi, ibu arogan tersebut masih diam saja, terlihat ia tidak memiliki komentar apapun tentang pengaturan yang dibuat Devina.
"nyonya, sekarang saya akan mengganti rekan pramuniaga kami Wanda dengan Asri, dia adalah pramuniaga paling senior dan memiliki prestasi yang sangat baik di toko ini, semoga pengaturan ini dapat memberikan kepuasan untuk nyonya"
"tidak masalah, yang penting ia dapat melayani dan menghormati kami sebagai pelanggan disini" setelah mengatakan itu, ibu tersebut menoleh kepada Lupi dan Sunja yang sedari tadi berdiri sekitar beberapa meter darinya. "lihatlah mereka, toko ini adalah toko yang mewah, pelanggan disini juga merupakan orang-orang kaya yang terhormat, bandingkan kami, lihat pakaian kami yang sopan dan bermartabat, kami datang kesini dengan niat menghabiskan uang, namun lihatlah pakaian mereka, apa mereka pikir ini adalah warung pinggir jalan yang bisa dimasuki oleh siapa saja? Toko ini harus memperhatikan permasalahan ini untuk selanjutnya"
Devina menoleh kearah yang dituju oleh ibu tersebut dan mendapati Lupi dan Sunja yang berdiri dengan tatapan suram. Mereka hanya diam tanpa menanggapi perkataan ibu tersebut, sehingga membuat Devina agak kebingungan untuk menjawab pernyataan si ibu.
Ditengah kebisuan dan kebingungan Devina, muncul suara gadis kecil yang renyah sekaligus lembut namun terdengar sangat berwibawa dan memancarkan aura sejuk yang menenangkan.
"nyonya.. Apa pakaian yang dikenakan seseorang bisa mewakili status, kedudukan dan kekayaan orang tersebut? Menurutmu bukankah itu terlalu dangkal?"
Orang yang mengatakan kata-kata tersebut adalah Chya yang baru saja kembali bersama Mekar, mereka telah sampai sekitar satu menit yang lalu ketika ia mendengar perkataan si ibu arogan.
Devina tertegun sesaat setelah mendengar suara Chya, ia tahu dua anak yang sedang disindir oleh ibu arogan itu adalah teman Chya yang beberapa saat lalu datang ketokonya, jadi ia telah memprediksi Chya pasti akan muncul disini.
"gadis kecil.. apapun pandanganku tidak ada hubungannya denganmu, lihatlah dirimu, berapa usiamu saat ini?? Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu bagaimana cara untuk berbicara kepada orang yang lebih tua?, huuh... Tidak sopan!" ucap ibu tersebut sambil menunjuk-nunjuk Chya, ia merasa Chya sedikit familiar, namun ia telah bertemu dengan banyak orang, jadi dia dengan cepat mengabaikannya.
Chya yang mendengar ucapan si ibu hanya tersenyum, ia tidak perlu mencari tahu permasalahan apa yang terjadi sebelumnya lagi, kini ia merasa yakin permasalahan apapun itu pasti berasal dari ibu ini.
Ketika Chya hendak membalas pernyataan si ibu, Devina tiba-tiba berdiri dihadapan Chya lalu kemudian membungkuk dengan hormat. "presiden Chya, maaf telah membuatmu menonton hal memalukan ini"
Ibu tersebut tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Devina kepada Chya karena Devina berbicara dengan pelan dan lembut, akan tetapi ia melihat bagaimana perlakuan yang dilakukan Devina kepada Chya, sehingga membuatnya sedikit penasaran dengan status Chya.
Devina tidak ingin membiarkan si ibu untuk mengeluarkan kata-kata kasar kepada Chya, ia takut Chya akan sedih, marah atau malah tersakiti hatinya yang dapat mengganggu mentalnya. Jadi setelah membungkuk kepada Chya ia berbalik menghadap si ibu arogan.
"nyonya.. Sebaiknya anda mengendalikan emosi anda, jangan terlalu kasar, ini area umum, dan sekarang sangat ramai, jangan merendahkan diri anda dengan mencaci anak-anak" ucap Devina sedikit membungkuk dan tetap memaksakan senyum sopan.
"apa kamu bilang!!? Saya merendahkan diri saya sendiri?hahaha... kalian yang tidak becus mengawasi toko kalian, membiarkan gembel miskin seperti mereka masuk kesini, harusnya kamu dipecat karena hal ini!!" ibu tersebut masih keras kepala dan tertawa dengan sinis.
"nyonya.. Kami memperlakukan pelanggan dengan sejajar, siapapun bisa masuk dan berbelanja disini, selama pelanggan tersebut tidak membuat onar kami pasti akan melayaninya dengan sepenuh hati, tapi jika sebaliknya, barulah kami akan mengusir mereka untuk keluar dari sini" ucap Devina dengan konotasi yang sudah sangat jelas.
"aku adalah Tuti Wijaya dari keluarga Wijaya, adikku Gerry Wijaya adalah manajer di Mall ini, percaya atau tidak, aku bisa menutup tokomu ini dengan satu kata" ibu itu membusungkan dadanya yang besar dan terlihat sangat bangga.
Devina tertegun sebentar, namun dia masih sangat tenang, bagaimanapun juga posisinya saat ini adalah untuk membela presiden direktur ataupun owner dari mall ini, jadi tidak ada satupun orang kecuali Chya yang bisa menakut-nakutinya dengan ancaman seperti itu.
Jadi Devina kembali tersenyum tanpa sedikitpun memperlihatkan ekspresi ketakutan. "nyonya.. Ancaman anda tidak akan berhasil, bahkan jika manajer Gerry ada disini, dia tidak akan berani berkata seperti itu"
"apa kamu sedang mencoba merendahkan adikku?!" ucap Tuti yang mulai sedikit goyah setelah memperhatikan ekspresi Devina, walaupun dia sangat sombong dan tidak masuk akal tapi dia juga bukan orang yang bodoh.
Sebagai salah satu anak dari keluarga berada dan juga memiliki beberapa bisnis Tuti jelas tahu makna yang tersirat dari ekspresi dan kata-kata dari Devina.
"ma.. Sudahlah, tidak usah diperpanjang lagi, ayo kita pilih sepatu yang disukai oleh Martha dan melanjutkan belanja yang lainnya" Suami dari Tuti akhirnya angkat bicara lagi, ia sudah merasa malu atas perilaku istrinya itu.
Suami dari Tuti merupakan seorang kapten kapal kargo yang sering berlayar antar benua, jadi sebagian besar hari-harinya ia habiskan dilaut, ia juga tidak pernah bertemu dengan Chya, namun melihat adegan didepannya ia juga merasa status Chya tidaklah sederhana.
__ADS_1
"aahh... Sudahlah! Kamu memang suami tidak berguna, kamu harusnya membela istrimu!!" keluh Tuti
"manajer Devi, cctv disini masih berfungsi kan??"
"aaah..??" Devina terkejut dengan pertanyaan Chya yang tiba-tiba.
"apa masih berfungsi?" Chya kembali bertanya karena ia belum mendapatkan jawaban.
"ma..masih" Devina membungkuk dengan sopan, ia merasa ada sesuatu yang direncanakan Chya, ia memiliki banyak tebakan dihatinya namun masih belum mendapatkan jawaban pastinya.
"baiklah kalau begitu" Chya tersenyum, kemudian menoleh kepada Lupi, "Pik, masih mau sepatunya?"
"ngga usah... Lain kali aja" jawab Lupi seadanya, dari ekspresinya, dapat dilihat bahwa ia sudah malas untuk berada ditempat itu. Bukan karena tempatnya, namun karena tempramen buruk Tuti.
"yakiiin??!" goda Chya.
Lupi tidak menjawab, ia hanya mendengus kesal sambil melirik dengan sinis kearah Tuti.
Tuti yang menyadarinyapun merasa terhina, ia bergegas mendekati Lupi berniat untuk mencubit lengannya. "kamuuu..!!"
Saat tangan Tuti hendak menggapai lengan Lupi, Chya menampar punggung tangannya dengan cepat, suara 'plak' yang keraspun terdengar.
"aaahhh!!...." Tuti berteriak dengan keras, tangannya terasa sangat kebas dan sakit, begitu Tuti melihat tangannya, ia terkejut melihat tangannya yang merah perlahan membengkak.
Devina tercengang keheranan melihat hal ini, ia juga sempat melihat punggung tangan Tuti yang merah, bahkan jika ia yang memukul tangan Tuti saat itu pasti tidak akan menyebabkan tangan Tuti seperti itu.
Devina juga melihat ekspresi Chya yang datar, ia tahu dengan jelas bahwa Chya sudah sangat marah saat ini, karena biasanya Chya selalu ceria.
Tidak sampai beberapa detik kemudian muncul seorang gadis cantik sexy dan seorang pemuda kekar tampan yang berusia sekitar 18 sampai 20 tahunan, mereka adalah Vika dan Vino, asisten dan supir Chya yang menjaganya hari ini.
"ka..kamu... Kurang ajar sekali!!" Tuti berteriak dengan marah sambil menahan rasa sakit di tangannya. Ia juga merasa terkejut dengan kekuatan yang ditunjukkan Chya.
Ia merasa tangannya sudah remuk, ia sedikit ketakutan saat ini, apalagi saat melihat dua pemuda yang datang sambil membungkuk hormat kepada Chya, ia semakin yakin bahwa dirinya telah menyinggung orang yang salah.
"mbak Vika, pecat manajer Gery Wijaya dan minta rekaman cctv toko ini dari manajer Devi, aku tidak ingin ibu ini memasuki mall ini lagi kedepannya"
"apa..!!" Tuti beserta keluarga dan rekannya tercengang, mereka sebelumnya menebak-nebak status Chya, dan sekarang tebakan mereka semakin mengerucut.
Pada akhirnya mereka semua menghubungkan nama Chya anak dari Gede Juni yang tersohor dan dihormati diseluruh dunia dengan gadis kecil yang ada dihadapan mereka.
Ada tim Cyborg yang bekerja untuk mengendalikan semua media didunia ini untuk keluarga Jun, bahkan hampir semua jaringan, alat elektronik, telfon seluler, data, akun email dan sebagainya untuk menyembunyikan identìtas keluarga Jun, jadi hanya mereka yang pernah melihat dan bertemu langsung saja yang dapat mengenal dan mengenali Jun dan Keluarganya.
Itulah kenapa masih banyak orang didunia ini yang hanya tahu nama dan status, namun tidak pernah bertemu langsung dengan orangnya. Hal ini tentu saja bertujuan untuk menjaga privasi dari para anjing penjilat yang berkeliaran, selain itu juga bertujuan untuk menjauhkan diri dari niat jahat orang.
Karena bagaimanapun juga menjadi orang terkenal, kaya raya atau berkuasa tidak seenak yang dibayangkan oleh orang lain. Akan selalu ada manusia dengan berbagai tujuan dan niat memakai topeng tabiat yang akan mendekati seperti semut yang merindukan gula.
__ADS_1
"baik, saya akan segera mengaturnya" setelah mengatakan itu, Vika langsung menoleh kepada Devina, "manajer Davina, seperti perintah nona Chya, mari kita lakukan sekarang"
"ba..baik" Devina tahu betul apa yang akan terjadi jika menyinggung Chya, walaupun Chya merupakan gadis ceria yang baik dan tidak sombong, namun jika ia membenci seseorang, ia akan langsung menghukumnya saat itu juga dengan tegas. Hukuman saat ini bisa dikatakan ringan untuk Tuti.
"presiden Chya, saya pamit dulu dengan nona Vika, apakah ada perintah lainnya?" tanya Devina sebelum pamit.
"tidak ada lagi, kalian bisa pergi mengurusnya" ucap Chya ringan.
"Chya.." Tuti bergumam dengan suara rendah.
"yuk.. Kita lanjut lagi" ajak Chya kepada teman-temannya.
"hmm.." jawab mereka serempak sambil mengangguk.
"Chya... Nona Chya.. Maafkan aku..." begitu melihat Chya yang sudah berbalik dan akan meninggalkan toko, Tuti akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia langsung bergegas berlari kehadapan Chya dan langsung berlutut.
Tuti tahu jika ia menyinggung Chya, tidak hanya saudaranya yang akan dipecat, bisnisnyapun tidak akan berjalan dengan lancar lagi.
Bagi kebanyakan orang dan bahkan orang-orang dari keluarga kaya sekalipun, bekerja pada keluarga Jun merupakan sebuah prestige, tidak hanya memungkinkan untuk menaikkan pamor nama keluarga, tapi juga untuk kemudahan kepentingan bisnis keluarga.
Sedangkan pelarangan memasuki Mall untuk Tuti ini tentunya akan sangat mempengaruhi, bagaimana tidak, terdapat 10 perusahaan partnernya yang berkantor didalam mall ini, 95% dari pertemuan rapat pembahasan bisnisnya dilakukan di mall ini, sehingga Tuti tidak akan dapat menyembunyikan permasalahannya karena telah menyinggung Chya yang notabene adalah anak dari Jun.
Tentu saja, menyinggung keluarga dari Jun adalah hal yang paling terlarang didalam bisnis di Indonesia bahkan diseluruh dunia. Jika hal ini tersebar, maka tidak akan ada satu negara atau perusahaan pun yang akan mau bekerjasama dengan perusahaannya lagi.
Tuti sedang berlutut menatap Chya dengan penuh ketakutan, karena Chya berdiri dengan wajah datar, sangat berbeda dengan perilakunya terhadap teman-temannya barusan, Tuti tahu kesalahannya kali ini akan berakibat fatal jika ia tidak mendapat maaf dari Chya. Dalam kegelisahannya iapun melanjutkan.
"nona Chya.. sebelumnya aku buta karena tidak mengenalimu, tolong maafkanlah aku, sepatu.. sepatunya akan aku belikan untuk temanmu, tolong jangan pecat saudaraku dan tolong ijinkan aku untuk terus menjadi pelanggan disini"
"kenapa aku harus memaafkan anda hanya dengan membelikan teman saya sepatu nyonya? Apa menurut anda teman saya tidak mampu?" tanya Chya pada akhirnya.
"bu..bukan begitu..."
"bukan bermaksud sombong, ini hanya sekedar informasi" Chya menunjuk Lupi disebelahnya, "dia adalah anak Jendral Purnomo, kapolres Jembrana, ayahnya memiliki ribuan hektar perkebunan sawit, beberapa pabrik dan juga pertambangan, ibunya juga memiliki bisnis ekspor impor sehingga aset keluarga mereka lebih dari 500 triliun, apa dengan sepatu yang anda belikan mampu menghapus penghinaan anda sebelumnya??" ungkap Chya memotong pembicaraan Tuti.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Chya, Tuti tergagap dan tidak bisa berkata apa-apa, bisnis yang dia jalani selama ini bersama saudara-saudaranya hanya bernilai beberapa ratus miliar, sedangkan aset bersama seluruh keluarganya berkisar di angka 200 hingga 250 triliun saja. Bahkan ayahnya saja masih harus bersikap sopan terhadap jendral Purnomo.
Semua orang yang ada disitu terkejut, kecuali teman-temannya Chya dan Vino supirnya Chya. Beberapa orang yang akal sehatnya masih dalam keadaan sadarpun bisa memikirkan, sosok yang ada dihadapan mereka adalah Chya, anak dari Jun yang berkuasa, bagaimana mungkin teman-temannya sederhana.
"berikan semua tanggung jawab diperusahaan anda kepada orang lain, segeralah pensiun dari dunia bisnis, dan anda fokus saja mengurus rumah dan keluarga anda, saya harap anda bisa belajar dari peristiwa hari ini dan menjadi wanita yang lembut"
Setelah mengatakan hal tersebut, Chya menoleh kepada teman-temannya, "ayo kita pergi" tanpa memperdulikan Tuti yang masih berlutut sambil tertunduk menangisi kebodohannya.
Keluarga dan koleganya bahkan masih dalam keadaan terkejut dan tidak dapat berkata-kata, dari awal hingga akhir mereka hanya bisa menonton pertunjukan didepan mata mereka tanpa tahu apa yang harus dilakukan layaknya orang bodoh.
Pada akhirnya Chya keluar dari toko tersebut bersama teman-temannya dan Vino, untuk menghibur diri mereka setelah kejadian barusan, mereka memutuskan untuk pergi mengunjungi wahana bermain.
__ADS_1