
Jam menunjukkan pukul 22:00 ketika Makutha mengendarai mobilnya menuju rumah Tito. Seakan Tuhan merestui keinginannya untuk menempuh jalan damai hari ini. Semuanya terasa begitu mudah malam itu.
Sekarang tugasnya tinggal menemui Tito dan meyakinkan lelaki itu. Dia memiliki rencana untuk membuat satu per satu anggota Geng Macan Tutul berpindah ke pihaknya tanpa menggunakan kekerasan.
"Sepertinya ini," gumam Makutha ketika melihat sebuah rumah sederhana dengan cat berwarna biru muda.
Lelaki itu mematikan mesin mobil, kemudian memotret bagian depan rumah tersebut, dan mengirimkannya kepada Ferdi. Dia melakukannya untuk memastikan kalau dia tidak salah alamat. Jemari lelaki itu mulai menari di atas layar ponselnya dan mengirimkan foto tersebut kepada Ferdi.
[Benar ini kan rumah Tito?]
Makutha menunggu balasan dari Ferdi sambil mengamati keadaan sekitar. Rumah Tito terlihat sederhana tetapi terawat. Selain itu, banyak tanaman hias yang menggantung di teras rumah.
"Tito bisa dinobatkan sebagai seorang gangster yang cinta alam sepertinya," gumam Makutha sambil terkekeh.
Tak lama kemudian, ponsel Makutha bergetar. Dia meraih ponselnya dari atas dashboard mobil. Ternyata Ferdi membalas pesannya. Dia mengatakan bahwa rumah itu memang milik Tito.
Makutha membuka pintu mobil, kemudian turun dari kendaraan roda empat tersebut. Dia melangkah mendekati rumah Tito dan mulai mengetuknya. Setelah menunggu selama beberapa menit, pintu tersebut mulai terbuka.
"Siapa sih, malam-malam begini? Ganggu orang istirahat sa-ja!" Tito terbelalak ketika mendapati Makutha sudah berada tepat di hadapannya.
Lelaki itu hendak menutup kembali pintu rumahnya, tetapi berhasil ditahan oleh Makutha. Tito melepaskan genggamannya dari pintu. Lelaki itu langsung berlari ke belakang dan berniat untuk kabur.
Makutha yang bisa membaca niat Tito pun berjalan memutari rumah tersebut, dan mencegatnya dari pintu belakang. Begitu pintu rumah bagian belakang terbuka, Makutha menggunakan kakinya untuk menghadang Tito. Sialnya, lelaki itu berhasil melompati kaki Makutha dan terus berlari membelah semak-semak.
__ADS_1
"Tito! Berhenti!" teriak Makutha.
Makutha terus berlari menyusul Tito. Namun, tiba-tiba tubuh targetnya menghilang. Dia mendengus kesal sambil menendang bebatuan yang ada di dekat kakinya.
Saat Makutha lengah, Tito keluar dari balik semak-semak dan memukul tengkuknya sedang sebatang dahan pohon kering. Sang hakim tampan itu pun tersungkur di atas lantai.
Pandangan Makutha mulai kabur. Dia mengerjapkan mata berulang kali untuk kembali mengumpulkan kesadaran. Lelaki itu tidak mau menyerah begitu saja.
"Untuk apa kamu datang ke sini!" seru Tito sambil menginjak kepala Makutha.
Makutha yang masih berusaha mengumpulkan kesadaran, tidak bisa menjawab atau pun melawan. Tito semakin menguatkan injakan kakinya pada kepala Makutha.
"Berhenti mengusikku dan hiduplah dengan tenang! Kamu tahu bukan akibatnya jika nekat mengganggu Geng Macan Tutul?" Sebuah senyum seringai terukir di bibir Tito.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Tito tersenyum kecut sambil memincingkan mata.
"Aku sebenarnya sudah menemui Ferdi lebih dulu, sebelum kamu."
Pijakan kaki Tito melemah ketika mendengar ucapan Makutha. Sekarang dia tahu alasan Ferdi mendatanginya dan mengajak untuk menyerahkan diri. Di saat inilah Makutha memanfaatkannya untuk membalikkan keadaan. Dia mencengkeram kaki Tito, kemudian menariknya.
Kini salah satu anggota Geng Cantul itu tersungkur di atas tanah. Makutha menatapnya tajam sambil menodongkan pistol yang selalu dia bawa ke manapun.
"Ayo, kita bicarakan semuanya baik-baik. Aku akan memberikanmu rasa aman setelah ini!"
__ADS_1
"Rasa aman?" Tito tersenyum miring kemudian tertawa terbahak-bahak.
Ujung mata lelaki itu mulai basah. Tito bangkit dan mengangkat kedua tangan agar Makutha tidak menarik pelatuk senjata apinya.
"Aku tidak hanya membutuhkan rasa aman, Tha! Aku butuh keselamatan! Dua orang mati sia-sia di dalam sel tahanan. Aku tidak mau berakhir seperti mereka."
"Ah, sekalian aku bertanya. Apa memang begitu hukuman yang kalian dapat jika sampai tertangkap?" tanya Makutha sambil menaikkan alis.
"Ah, itu ...."
Tito terlihat berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan Makutha. Tak lama kemudian dia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.
"Iya. Jika itu berhubungan denganmu. Tapi, jika ada yang tertangkap karena hal lain, maka ketua akan mengusahakan untuk membebaskan kami."
"Oh, pantas saja Ferdi tidak dibunuh ketika kedapatan mencuri dan ditangkap."
"Tapi, karenanya dua anggota kami mati!" seru Tito sambil menatap tajam Makutha.
"Bisa kamu ceritakan kronologi kejadiannya kepadaku?"
Tito kembali tersenyum miring kemudian lelaki menendang pistol yang ada dalam genggaman Makutha. Dia berlari menghindar. Makutha meraih kembali senjata apinya, lalu mengejar Tito.
Ketika Tito sampai di pinggir jalan raya, dia menyeberang tanpa memperhatikan jalanan. Suara klakson mobil terdengar begitu keras, untuk memperingatkan lelaki itu menghindar. Saat menoleh, alangkah terkejutnya Tito. Sebuah truk melaju cepat ke arahnya. Kaki lelaki itu terpaku di atas aspal.
__ADS_1
"Tito! Minggir!" teriak Makutha.