Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 52. Salah Sasaran


__ADS_3

Michel terus meneriaki si pencopet sambil menunjuk-nunjuk punggung lelaki tersebut, sedangkan Tiara terus fokus berlari agar bisa mengejarnya. Akan tetapi, ketika sampai di sebuah belokan gang lelaki tersebut menghilang.


Kini di hadapan Michel dan Tiara hanya terdapat sebuah tembok usang dengan coretan khas anak muda. Napas keduanya hampir putus. Keringat membasahi dahi dan hampir seluruh tubuh mereka.


"Sial, pergi ke mana dia?" gerutu Michel dengan napas tersengal.


"Ya sudahlah, Aku iklasin aja. Tas itu udah waktunya ganti juga."


"Gila, kamu! Terus isinya?"


"Tas itu nggak ada isinya. Cuma ada pelembab wajah, tabir surya, sama pelembab bibir." Tiara mengabsen jemari ketika menyebutkan benda-benda yang mendiami tas usangnya.


"Skincare kamu juga lumayan mahal, lo! Nggak sayang?"


Tiara tersenyum geli, sembari menggaruk kepala. Melihat tingkah sang sahabat. Hak itu tentu saja membuat perasaan Michel tidak enak. Umumnya orang kecopetan akan panik setengah mati. Dia pun melipat lengan di depan dada sembari menyipitkan mata.


"Ra, jangan bilang kita mengejar sesuatu yang sia-sia!"


"Skincare-ku hampir habis. Paling tinggal dua atau tiga kali pakai," kata Tiara sambil terkekeh.


Tak elak sebuah pukulan meluncur tepat di kepala bagian belakang Tiara. Gadis itu mengaduh kemudian mengusapnya pelan. Bibir gadis manis itu pun maju beberapa senti dari posisi semula.


"Sakit tahu! Kamu bisa kena pasal penganiayaan! Kamu ingat kalau mas-ku itu seorang hakim?"


"Emang kenapa kalau mas-mu hakim? Emangnya aku takut?" tantang Michel.


"Jadi, kamu nggak takut terseret hukum karena memukulku?"


Keributan itu berlangsung hingga 15 menit. Keduanya baru berhenti ketika terdengar suara langkah kaki seseorang beradu dengan aspal. Sontak Michel dan Tiara menoleh ke arah sumber suara.


"Berisik sekali!" gerutu lelaki dengan topi serta masker yang menutup sebagian wajahnya.


"Nih, kubalikin! Kelihatannya aja kaya, ternyata kere!"Lelaki tersebut melempar tas butut milik Tiara.


Tiara pun menangkap tas tersebut dengan sigap. Gadis itu terpesona ketika melihat si pencopet. Walaupun tertutup masker, dia dapat melihat aura ketampanan lelaki tersebut melalui sorot matanya. Lelaki tersebut memiliki mata tajam seperti elang.


Lelaki itu mulai balik badan dan melangkah meninggalkan dua gadis dengan isi otak berbeda itu. Michel tengah memikirkan kejadian konyol siang ini, sedangkan Tiara sedang memikirkan bagaimana cara berkenalan dengan pelaku kriminal kecil di hadapannya itu.


"Tunggu!" teriak Tiara.

__ADS_1


Lelaki itu pun menghentikan langkah, dan balik badan. Tiara langsung berlari menghampiri si pencopet. Ketika jarak mereka tinggal sedikit lagi, gadis itu tersandung.


Beruntungnya lelaki bertubuh tegap itu berhasil menangkap tubuh Tiara. Tatapan keduanya pun bertemu. Jantung adik dari Makutha tersebut berdegup lebih kencang. Aroma musk yang menguar dari tubuh lelaki di depannya membuat Tiara seakan melayang.


"Kamu berat! Cepat berdiri!" seru si pencopet.


Bukannya segera berdiri sendiri, Tiara malah tersenyum lebar dan memejamkan mata. Dia menikmati aroma parfum lelaki itu yang terus memasuki rongga hidungnya.


Lelaki itu pun akhirnya melepaskan tubuh Tiara, sehingga gadis tersebut tersungkur di atas aspal. Tiara segera bangkit dan menyodorkan ponselnya kepada lelaki tersebut.


"Minta nomornya dong ganteng," pinta Tiara sambil mengerjapkan mata berulang kali.


Pencopet bermata elang itu menatap tajam Tiara, sambil tersenyum sinis. Dia mencondongkan tubuh ke arahnya kemudian berbisik, "Najis!"


Jika perempuan lain akan langsung marah dan mencaci balik lelaki itu, tidak dengan Tiara. Dia malah tersenyum lebar sambil membentuk hati dengan jempol dan jari telunjuknya, lalu ditunjukkan kepada si pencopet.


"Saranghae," ucap Tiara sambil tersenyum lebar.


"Sinting, kamu!" Lelaki itu pun bergidik kemudian berlari menjauhi Tiara.


Michel langsung berjalan mendekati sahabatnya, kemudian menatap heran ke arah perempuan berambut ikal tersebut. Dia menggeleng sambil melipat lengan di depan dada.


"Aku harus ketemu dia lagi!" seru Tiara dengan mata berapi-api.


"Bagaimana bisa? Kamu benar-benar gila!"


Tiara tersenyum lebar kemudian menunjukkan sebuah dompet pria kepada Michel. Sontak gadis itu pun terbelalak. Dia benar-benar heran dengan tingkah konyol sahabatnya tersebut. Ya, Tiara berhasil mengambil dompet lelaki tersebut ketika dia menolongnya tadi.


"Aneh, sih. Masa pencopet punya kartu nama?"


"Dih, dari mana kamu tahu kalau itu kartu namanya?"


"Aku memiliki intuisi yang kuat! Jangan pernah meremehkan kemampuanku yang satu ini." Tiara tersenyum puas sambil menatap kartu nama berwarna keemasan yang ada dalam genggamannya.


"Jadi, namanya Albert?"


...****************...


Di sisi lain, Hasna yang sedang cuti panjang mengisi waktu luangnya untuk membersihkan apartemen. Dia juga jarang keluar rumah jika tidak terlalu penting, karena hari perkiraan kelahiran bayi Maudy semakin dekat. Dokter cantik tersebut harus sigap jika tanda kelahiran mulai muncul sewaktu-waktu.

__ADS_1


Ketika sedang menonton televisi sambil menikmati puding susu buatan Maudy, ponsel Hasna berdering. Dia langsung meraih ponsel dan menjawab panggilan begitu tahu siapa yang tengah menghubunginya.


"Bunda!" teriak Hasna penuh semangat.


"Na, besok Bunda sama Ara datang ke situ ya?"


"Serius, Bun?"


"Iya, kamu masih cuti kan?"


"Iya, aku cutinya masih sepuluh hari lagi."


Obrolan keduanya terus berlanjut. Hasna menceritakan beberapa kejadian penting menyangkut Makutha. Dia juga bercerita mengenai pertemuan hakim tampan tersebut dengan Toni.


"Aduh, jeleknya Utha begitu. Dari dulu dia terlalu mudah percaya sama orang." Terdengar suara helaan napas Liontin dari ujung telepon.


"Iya, Bun. Aku udah peringatin Makutha. Tapi, entahlah. Bunda tahu sendiri 'kan gimana sikapnya yang keras kepala itu?"


Tak lama kemudian, Maudy menghampiri Hasna dengan wajah yang terlihat panik. Awalnya dia tidak berani menyela pembicaraan dokter cantik tersebut. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk mencolek lengan atas Hasna agar mendapat perhatiannya.


"Kamu kenapa?" tanya Hasna tanpa.mengeluarkan suara.


"Aku pipis terus, Mbak."


Awalnya Hasna mengerutkan dan berusaha mencerna ucapan Maudy. Namun, setelah sadar apa yang sedang dialami Maudy, dia langsung terbelalak. Hasna berpamitan kemudian mematikan sambungan telepon.


"Kamu nggak sedang disuria, 'kan?"


"Nggak mbak. Air seniku keluar sendiri gak bisa dikontrol."


"Itu air ketuban, Dy. Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"


Hasna menyiapkan perlengkapan bayi dan beberapa keperluan Maudy. Setelah itu dia memapah Maudy menuju mobil, dan langsung melajukannya menuju ke Rumah Sakit.


Ketika Hasna hendak menyeberang, dari arah belakang terdengar suara klakson mobil lain yang begitu kencang. Si pengendara melongok keluar mobil sambil berteriak.


"Awas! Minggir! Rem mobilku tidak berfungsi!"


Seketika Hasna terbelalak. Dia langsung menginjak pedal gas untuk menghindari mobil dengan rem blong tersebut. Suara riuh dari orang yang ada di jalanan membuat suasana siang itu semakin kacau.

__ADS_1


Namun, nasib kali ini tidak berpihak pada Hasna. Mobil yang dia tumpangi tertabrak. Tubuh dokter cantik itu terbanting ke depan. Kepalanya membentur dashboard dan Hasna pun kehilangan kesadaran.


__ADS_2