Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 53. Baby Blues


__ADS_3

Suara tangis bayi terdengar di sebuah ruangan khusus. Bayi tersebut seakan sedang bersedih karena baru saja ditinggal sang ibu selama-lamanya. Maudy dinyatakan meninggal sesaat setelah melahirkan putrinya.


Hasna menatap nanar bayi cantik tersebut dari luar jendela kaca besar. Air matanya menetes mengetahui fakta bahwa Maudy harus meregang nyawa karena pendarahan hebat akibat kecelakaan yang mereka alami kemarin.


"Aku berjanji akan merawatmu seperti anak sendiri," ucap Hasna dengan suara gemetar.


"Na," panggil Makutha yang sedang berdiri di samping dokter cantik tersebut.


Hasna menoleh sekilas, kemudian kembali menatap bayi mungil yang terus menangis itu. Akhirnya Makutha ikut menatap bayi Maudy. Tangis bayi tersebut memang membuat hati siapa pun yang mendengarnya terasa nyeri.


Di saat bayi lain membuka mata dan mendapatkan pelukan dari sang ibu serta kecupan penuh kasih dari ayah mereka, dia harus menjadi seorang yatim piatu sejak terlahir di dunia. Tanpa terasa mata Makutha mulai basah.


"Tha, apa aku bisa merawatnya penuh cinta?" Hasna tertunduk lesu dengan bahu merosot.


"Na, lihat aku." Makutha merangkum wajah Hasna kemudian menatap dalam mata indahnya.


"Kamu adalah perempuan penuh kasih yang aku kenal. Kamu orang baik pilihan Tuhan, yang memang ditakdirkan untuk merawat bayi Maudy."


Kalimat yang baru saja diucapkan Makutha, sukses membuat hati Hasna menghangat. Dia sedikit terhibur dengan kalimat penenang dari lelaki tersebut.


"Bagaimana kepalamu? Masih sakit?" tanya Makutha.


"Sedikit."


"Sebentar lagi aku jemput bunda sama Ara. Mereka sudah kukabari kalau kamu mengalami kecelakaan. Jadi, mereka memutuskan untuk menginap di apartemenmu saja selama di sini."


"Iya, cepat jemput bunda sama Ara. Jangan buat mereka menunggu."


Makutha mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Hasna membalas senyumannya kemudian menatap kepergian Makutha. Setelah punggung lelaki itu menghilang dati pandangan, dia kembali menatap bayi Maudy.


...****************...


Di parkiran rumah sakit, Makutha menemui Ruby yang sejak tadi berada di tempat itu untuk mengawasi Hasna. Keduanya sedang berdebat kecil mengenai kecelakaan yang dialami Hasna kemarin.


"Aku pergi dulu jemput ibuku. Tolong tetap siaga dan awasi Hasna." Makutha menatap serius Ruby yang sedang berdiri di depannya sambil mengunyah permen karet.

__ADS_1


"Oke, kamu tahu kan bagaimana cara kerjaku?"


"Kamu lengah kemarin siang," ucap Makutha dengan nada bicara dingin.


Rahang lelaki tersebut mengeras karena teringat salah satu keteledoran Ruby. Dia sidah melakukan kesalahan sampai Hasna mengalami kecelakaan. Sesaat sebelum Hasna pergi ke rumah sakit, dia meninggalkan apartemen dengan dalih ingin membeli makan siang.


"Itu di luar kendaliku, Tha. Kalau waktu itu aku tidak segera kembali dan mengikutinya, bukankah akan lebih parah? Lagipula aku saat itu hanya keluar sebentar untuk membeli makanan." Ruby menaikkan satu alisnya sambil tersenyum miring.


Sesaat sebelum Hasna tertabrak, Ruby sebenarnya mencoba untuk menghalangi mobil dengan rem blong itu. Dia mengejar mobil tersebut, dan menabrak bagian sampingnya. Sehingga laju kendaraan beroda empat itu sedikit berkurang.


Namun, sayangnya si pelaku penabrakan membanting roda kemudi ke kanan, dan sukses menumbuk kursi penumpang bagian tengah. Kursi di mana Maudy sedang duduk sambil menahan rasa sakit. Mobil Hasna ringsek dan ibu hamil di dalamnya harus melahirkan dalam keadaan tidak sadar.


"Ya sudah, aku ingin menemui Farhan untuk menanyakan perihal si pelaku penabrakan. Aku menduga kalau ada unsur kesengajaan di sini."


"Baiklah."


Sebelum menemui Farhan, Makutha berniat untuk menjemput sang ibu serta adiknya. Lelaki itu masuk lagi ke mobil kemudian melajukannya menuju bandara. Setelah sampai di tempat tersebut, Liontin dan Tiara sudah berdiri di depan bandara sambil menatap jalanan. Makutha berhenti tepat di hadapan mereka.


Lelaki tersebut keluar dari mobil dan menyambut ibu serta sang adik dengan pelukan. Setelah itu mereka bertiga langsung masuk lagi ke mobil. Sepanjang perjalanan, Liontin tidak berhenti menanyakan keadaan Hasna.


"Dia tidak habis melahirkan tapi mengalami baby blues? Padahal bayi itu bukan siapa-siapa baginya."


"Iya, Bun. Bayi itu memang todak memiliki hubungan darah dengan Hasna, tetapi sejak dalam kandungan dia sudah ikut menjaganya. Hasna seakan melihat cerminan dirinya ada pada bayi itu. Sama-sama tidak memiliki orang tua."


Ketika Makutha dan sang ibu sedang fokus membicarakan Hasna, Tiara malah asyik dengan pikirannya sendiri. Gadis itu menatap jalanan Kota Metropolitan yang mulai ramai karena jam pulang kerja. Dia mengeluarkan kartu nama dari saku jaket kemudian menatapnya.


Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Entah apa yang direncanakan Tuhan. Lelaki yang sempat mencopet tasnya itu ternyata tinggal di kota ini. Tiara berniat untuk menemui pria tersebut dan mendekatinya.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di apartemen Hasna. Makutha sengaja meminta mereka menginap di sana karena sistem keamanan apartemen tersebut jauh lebih baik daripada kediamannya. Kebetulan juga ibunya setuju karena ingin memantau keadaan Hasna serta membantunya merawat bayi Maudy sementara waktu.


"Makutha tinggal dulu ya, Bun? Ada sesuatu yang ingin aku selesaikan."


"Iya, hati-hati di jalan."


Makutha meraih jemari sang ibu, kemudian mencium punggung tangannya penuh hormat. Setelah itu lelaki tersebut kembali melajukan mobil menuju kafe tempat dia dan Farhan mengadakan janji temu.

__ADS_1


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di kafe tersebut. Alunan musik akustik langsung menyapa pendengaran Makutha ketika dia baru saja menginjakkan kaki ke dalam tempat ngopi tersebut.


Dari kejauhan, dia dapat melihat Farhan yang sedang menatap ke luar jendela sambil mengamati orang-orang yang melintas di depan kafe. Makutha terus mendekat dan menyapa sang polisi tampan tersebut.


"Duduk, Pak." Farhan tersenyum tipis ketika menyapa Makutha.


"Bagaimana?"


"Dia tidak ada riwayat berkomunikasi dengan Liam atau Geng Macan Tutul."


"Di rumahnya? Tidak ada barang bukti yang mengacu ke sana. Jadi, kita tidak memiliki bukti yang cukup untuk menyeret Liam."


"Interogasi mengenai penyerangan di rumahmu, bagaimana?"


"Pak Walikota belum mau mendatangi kantor polisi, Pak. Entah apa yang membuatnya enggan datang."


"Sudah berapa kali pihak kepolisian mengirimkan surat pemanggilan?"


"Dua kali, harusnya besok lusa dia dijadwalkan untuk dimintai keterangan."


"Berarti jika besok lusa tidak datang, dia akan dijemput paksa?"


"Iya, Pak. Benar."


Makutha mengusap dagu dan terlihat berpikir. Dia ingin melakukan sesuatu untuk mendesak Liam agar segera menyerahkan diri. Setelah ini dia berencana menemui Toni.


"Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan mengusahakan sesuatu agar dia mau mengaku. Bukan hanya kejahatan yang baru saja dia lakukan melalui tangan orang lain, tetapi juga mengenai beberapa bisnis gelap serta tindak KKN."


"Baik, Pak."


Makutha pun kembali beranjak dari kursi dan melangkah keluar kafe. Dia masuk ke mobil dan mengendarainya menuju markas Toni. Ya, Makutha sudah diberi alamat oleh Toni jika hendak menemuinya.


Namun, ketika hampir sampai di markas Geng Cantul sebuah panggilan masuk ke ponsel Makutha. Lelaki itu langsung menjawab panggilan dari Farhan. Matanya membulat sempurna ketika mendengar sebuah kabar yang begitu mengejutkan dan di luar dugaan itu.


Makutha menghentikan mobil, dan menepi di ruas jalan yang lumayan sepi. Dia membuka sebuah portal berita online. Acara itu sedang menyiarkan konferensi pers yang diadakan oleh Liam.

__ADS_1


"Saya akan mengatakan semuanya secara jujur dan terbuka dalam konferensi pers malam ini. Memang benar saya meminta seseorang untuk meneror BRIPDA Farhan."


__ADS_2