Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 48. Semakin Samar


__ADS_3

Hasna menatap tiga orang yang kini ada di hadapannya. Perempuan itu melipat lengan di depan dada sambil melemparkan tatapan sinis. Makutha menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.


"Na, kamu sedang ada dalam bahaya besar. Jadi, aku mohon kali ini percayalah padaku. Biar Ruby menjaga keselamatanmu." Makutha berusaha membujuk Hasna agar mau menerima Ruby sebagai bodyguard-nya.


"Nggak usah lebay, Tha. Aku baik-baik saja tanpa bodyguard." Hasna tetap kekeh pada pendiriannya.


Makutha sudah membujuk Hasna berulang kali. Namun, dokter cantik itu enggan menerima bantuan dari Makutha. Dia menganggap semuanya akan baik-baik saja dengan, atau pun tanpa Ruby menjaganya.


"Aku nggak lebay, Na. Kamu benar-benar sedang dalam bahaya sekarang! Aku mendapat informasi kalau Liam sedang mengincarmu untuk mengancamku!"


Kali ini Makutha berbicara dengan nada tinggi. Dia benar-benar frustrasi menghadapi sikap keras kepala Hasna. Baginya sangat sulit meluluhkan sikap perempuan tersebut.


"Stop, Tha! Kalau memang itu terjadi, mungkin sudah takdirku!" Hasna menatap tajam lelaki yang sudah lama dia sukai itu.


"Lagi pula aku sudah bilang buat mengubur dendammu itu. Tapi, kamu tidak mau mendengarkan aku!" seru Hasna sambil melipat lengan di depan dada.


"Na, aku nggak bisa melupakan kejadian itu begitu saja! Apa kamu tidak ingat bagaimana ...."


"Hentikan! Jangan ajak aku ikut bergelung dalam dendammu itu. Semua yang terjadi pada Cio sudah menjadi garis takdir-Nya! Percuma menyimpan dendam!" Amarah Hasna sudah memuncak hingga ubun-ubun. Jika Makutha terus ada di sini bisa dipastikan emosinya akan meledak detik itu juga.


"Kalian bertiga pergi sekarang! Sudah malam."


Hasna menatap tajam Makutha, Ruby, dan Farhan secara bergantian. Perempuan itu merasa kehadiran mereka sangat mengganggu. Apalagi ini sudah tengah malam. Dia khawatir kehadiran mereka bertiga akan mengganggu jam tidur Maudy.


"Na ...."


"Aku bilang pergi!" usir Hasna dengan penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.


"Oh, oke."


Akhirnya Makutha, Farhan, dan juga Ruby beranjak dari sofa dan pergi meninggalkan apartemen. Ketiganya berjalan santai menuju tempat parkir sambil memikirkan solusi terbaik untuk menjaga keamanan Hasna.


"Aku akan menjaganya diam-diam."

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya? Kamu yakin bisa memantau Hasna dalam waktu 24 jam, Beb?"


"Bisa. Tapi aku butuh kamera pengintai. Atau minimal penyadap suara berukuran micro."


"Aku akan siapkan untukmu!" sahut Makutha.


"Baiklah. Jika alatnya sudah siap, segera kabari aku."


Makutha mengangguk mantap. Akhirnya malam itu mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.


...****************...


"Assalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat Pagi hadirin peserta sidang. Pada hari ini akan dilaksanakan Sidang Perkara Pidana atas nama terdakwa Rojali ... untuk itu diingatkan kepada seluruh peserta sidang untuk menonaktifkan segala alat komunikasi dan tidak melakukan hal-hal yag dapat mengganggu jalannya persidangan." Makutha mulai membuka persidangan hari itu.


Selama persidangan berlangsung, Rojali terlihat begitu tenang. Sebenarnya hari ketika dia diringkus oleh Farhan dan Makutha, lelaki itu menolak penawaran Makutha. Dia malah berniat untuk membocorkan kelakuan sang hakim karena berusaha melakukan praktek penyuapan.


Namun, setelah dipikirkan ulang. Jali memutuskan untuk membongkar semua yang terjadi melalui pengacaranya. Dia akan mengatakan bahwa dia melakukan aksi teror karena diminta oleh Liam.


"Berdasarkan apa yang ditulis oleh Pembela Umum, maka Majelis Hakim meminta Penuntut Umum untuk menghadirkan seorang saksi baru yaitu, Bapak Liam untuk hadir pada persidangan yang akan datang!"


Semua yang hadir dalam persidangan itu terhenyak. Mereka tak menyangka sidang ini akan membawa-bawa nama sang Walikota. Warga Kota Metropolitan mengenal Liam sebagai sosok Walikota yang sangat kompeten.


Liam dianggap sebagai pemimpin yang jujur, cerdas, dan peduli dengan rakyat miskin. Mereka semua ragu dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Makutha bahwa sang Walikota terlibat dalam kasus ini.


"Pak Liam orang yang baik. Nggak mungkin dia mengancam orang seperti Pak Jali."


"Aku rasa ini adalah permainan dari lawan Pak Liam dalam dunia politik."


Kira-kira komentar itulah yang berulang kali keluar dari bibir hadirin yang menyaksikan sidang itu. Makutha hanya tersenyum tipis mendengar setiap komen yang keluar dari bibir mereka.


Setelah menutup sidang, Makutha langsung beranjak dari kursi diikuti dua hakim anggota lainnya. Ketika dia berjalan menuju ruang kerjanya. Arjun sudah menunggu di depan pintu.


"Bisa kita bicara sebentar?"

__ADS_1


Makutha tidak menjawab pertanyaan lelaki tersebut. Dia terus berjalan ke arah pintu dan mengabaikan Arjun. Lelaki itu seakan tak nampak pada penglihatan Makutha.


"Tha!" seru Arjun ketika Makutha mengabaikannya.


Makutha berhenti, lalu balik badan. Dia menatap sinis ke arah Arjun. Tatapan penuh permusuhan itu membuat Arjun merasa gugup.


"Untuk apa Anda ke sini? Apa Pak Walikota yang memintanya?"


"Tha, dengarkan aku!" Arjun mendekat.


Ketika tepat berada di depan Makutha, Arjun menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada orang lain yang ada di sekitar sana.


"Hentikan saja dan lupakan mengenai dendam masa lalumu. Liam itu licik seperti ayahnya. Jika tidak berhati-hati, maka bukan cuma kamu yang hancur. Tapi ...."


"Ancaman apa lagi yang akan Anda berikan kepadaku, Pak?" Makutha tersenyum miring dengan sorot mata yang menampakkan ketidaksukaan pada lelaki di hadapannya itu.


"Sekali aku menabuh genderang perang, maka aku tidak akan pernah mundur sedikit pun. Aku akan menyelesaikan perang itu, apa pun resikonya!"


Arjun terdiam sejenak. Sebenarnya lelaki tersebut datang menemui Makutha atas kemauannya sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan Liam.


Namun, dia sudah paham betul dengan sifat Makutha. Lelaki itu akan sulit dihentikan jika sudah memiliki kemauan. Makutha merupakan orang yang begitu gigih dan sulit digoyahkan demi mewujudkan apa yang dia mau. Arjun mengembuskan napas kasar kemudian memasukkan tangan ke dalam saku celana.


"Aku sudah memperingatkanmu. Aku sudah tidak lagi terlibat dengan Liam atau pun Geng Macan Tutul. Jika kamu butuh bantuan, datang saja kepadaku." Arjun menatap nanar ke arah Makutha.


"Maaf untuk sikapku di masa lalu. Aku terpaksa melakukan semuanya karena ...." Ucapan Arjun mengambang di udara karena tiba-tiba Makutha tertawa terbahak-bahak.


"Terima kasih atas tawaran Anda, Pak. Dan saya tidak peduli alasan kenapa Pak Arjun mengkhianati saya waktu itu!" Perlahan tawa Makutha berhenti, dan senyumannya lenyap.


"Oh ya, saya cukup dewasa untuk memaafkan Anda, tetapi saya tidak cukup bodoh untuk memercayai Anda lagi."


Makutha menatap tajam Arjun selama beberapa detik. Setelah puas melihat ekspresi penuh penyesalan dari Arjun, dia kembali balik badan dan memutar tuas pintu. Tubuh lelaki itu pun menghilang di balik pintu tersebut.


"Tha, terkadang kita harus berperan sebagai pengkhianat agar bisa masuk ke kubu musuh dan membantu teman kita." Arjun menatap nanar pintu yang sekarang tertutup rapat itu.

__ADS_1


__ADS_2