
Tiga minggu kemudian ....
Makutha duduk di depan hakim. Kondisi dan suasana yang menyedihkan memang. Jika biasanya dia duduk di belakang meja hijau, sekarang lelaki itu terpaksa duduk di depan meja tersebut. Dia menatap satu per satu hakim, penuntut umum, serta panitera yang ada di sana.
Makutha ingin tahu seberapa bersih oknum yang ada di hadapannya saat ini. Hakim membacakan dakwaan yang ditujukan kepada Makutha. Setelah Majelis Hakim membacakan dakwaan, kini giliran Jaksa Penuntut Umum membacakan tuntutan. Tak lama kemudian Hakim Ketua menyebutkan namanya.
"Bagaimana Terdakwa, apakah Anda ingin mengajukan keberatan?"
"Saya serahkan semuanya pada Penasehat Hukum saya, Yang Mulia." Makutha menatap hakim di hadapannya penuh keyakinan.
Penasehat hukum Makutha langsung beranjak dari kursi. Dia menyerahkan salinan dari eksepsi yang akan dibacakan kepada Ketua Hakim, lalu kembali ke tempat duduknya. Penasehat hukum bernama Lila itu pun mulai membacakan keberatan atas tuntutan yang sudah dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum.
"Saya mengajukan keberatan, Yang Mulia. Terdakwa Makutha dijebak dan dipaksa untuk turut serta dalam aksi tawuran tersebut."
Lila menatap mantap Ketua hakim kemudian tersenyum tipis, "Untuk itu, kami mohon kebijaksanaan Pengadilan untuk membebaskan terdakwa dari segala tuntutan."
"Bisa hadirkan saksi untuk memperkuat pernyataan Anda?"
"Bisa, Yang Mulia."
Tak lama kemudian Hasna memasuki ruang sidang. Dia diminta untuk melakukan sumpah dan dituntun oleh hakim. Setelah selesai mengucapkan sumpah, Hasna diperkenankan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
Makutha melirik Hasna, dan di saat yang bersamaan tatapan keduanya bertemu. Hasna mengepalkan jemari kemudian menunjukkannya kepada Makutha.
"Semangat!" seru Hasna dengan mata berbinar.
Makutha mengangguk mantap sembari tersenyum lembut. Tatapan keduanya kembali terpisah ketika hakim meminta Hasna menceritakan apa yang dia ketahui saat kejadian berlangsung.
"Saudari Hasna, Anda telah disumpah dan harus mengatakan semua sebenar-sebenarnya tanpa ada yang dikurangi atau dilebih-lebihkan."
"Baik, Yang Mulia."
"Apakah Anda mengenal terdakwa?" tanya Ketua Hakim tegas.
"Saya mengenalnya, Yang Mulia. Dia adalah saudara angkat saya."
"Bisa Anda ceritakan kronologi kejadian tujuh tahun lalu itu?"
__ADS_1
"Bisa, Yang Mulia. Hari itu saya dijemput oleh Abercio, korban meninggal saat tawuran itu hampir terjadi." Hasna mengambil napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Namun, ketika saya mencari Cio, Alex menghampiri saya."
"Siapa itu Alex?"
"Salah satu teman tongkrongan Makutha ketika SMA, Yang Mulia."
"Baiklah, lanjutkan."
"Alex menghampiri saya dan meminta tolong untuk diantar ke sebuah warung. Awalnya saya menolak, karena sudah ada janji dengan Abercio. Tapi, Alex memaksa. Makutha mengatakan bahwa di saat yang bersamaan, Liam menunjukkan foto saya dan Alex untuk mengancamnya."
"Ancaman seperti apa yang dilakukan Liam kepada Makutha?"
"Dia mengatakan bahwa Alex akan melecehkan saya, jika Makutha tidak mau ikut dalam aksi tawuran tersebut, Yang Mulia."
"Keberatan, Yang Mulia!" teriak Jaksa Penuntut Umum.
Sontak tatapan seisi ruang sidang tertuju pada lelaki bernama Brian itu. Brian beranjak dari kursi kemudian berdiri untuk mengungkapkan keberatan kepada sang hakim.
"Yang Mulia, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri! Setelah saya mengantar Alex ke warung, dia dijemput oleh Liam dan Hendry!" seru Hasna sembari menatap tajam Brian yang berusaha mengaburkan fakta.
Terdengar ketukan palu, kemudian Ketua Hakim berkata, "Saya harap semuanya tenang dan kembali duduk!"
Dada Hasna bergemuruh mendengar ucapan Brian. Perempuan itu mengepalkan jemarinya kuat dengan rahang yang mengeras sempurna berusaha menahan gejolak amarah.
"Ada lagi yang ingin Anda sampaikan, Saudari Hasna?"
"Saat saya dan Cio hendak pergi ke sebuah warung makan, kami melihat Makutha, Liam, Hendry, serta Alex di sebuah tanah lapang bersama segerombol siswa dari sekolah lain. Mereka membawa balok kayu."
Bayangan kondisi mengenaskan Cio kembali melayang di pelupuk mata Hasna. Dia terdiam, tak terasa bulir bening turun dari mata Hasna. Dia pun mengusap air mata itu, berharap rasa sedihnya ikut terhapus sepenuhnya.
Sidang kembali berlangsung. Semua saksi yang hadir memberikan keterangan sesuai apa yang mereka ketahui. Namun, saksi terakhir membuat Makutha terbelalak. Ternyata Hendry dan juga Alex datang ke persidangan sebagai saksi.
...****************...
Di tempat lain, Roby sedang menunggu kabar dari salah satu orang kepercayaannya mengenai sidang Makutha. Rahangnya mengeras ketika mendapat kabar bahwa namanya ikut disebut oleh Arjun.
__ADS_1
"Dia mengatakan bahwa Anda menyuap Kapolres Solo, Pak."
Rahang Roby mengeras. Tangannya mengepal di atas meja. Otot sekitar mata Sang Presiden pun terlihat begitu tegang. Dia tak menyangka Arjun berani mengungkapkan semuanya ke publik.
"Di luar dugaan, Alex dan juga Hendry juga mengungkapkan bahwa mereka ikut terlibat dan mengaku bersalah. Terlebih lagi keluarga korban datang dan meminta kasus ini ditutup, karena mereka sudah mengikhlaskan kepergian Abercio.sejak lama. Toh, orang yang membunuh Cio sudah mendapatkan hukuman yang seharusnya."
Roby berteriak frustrasi kemudian menyapu isi meja kerjanya hingga berserakan ke atas lantai. Sang ajudan langsung bungkam, tidak lagi melanjutkan laporannya. Dia menunduk ketakutan. Keringat dingin mulai membanjiri dahi serta punggung lelaki bertubuh tegap tersebut.
"Antar aku ke kantor Walikota!"
"Ba-baik, Pak." Laki-laki itu pun langsung keluar dari ruangan Roby dan bergegas memberitahukan sang sopir.
Setelah mobil siap, Roby dikawal oleh ajudannya menuju kantor walikota. Seluruh pegawai yang bekerja pun langsung terlihat tegang. Wajah Sang Presiden terlihat sangat menyeramkan.
"Pak, mohon menunggu, Pak Walikota sedang ada ...." Seorang perempuan muda mencoba menghadang Roby.
Namun, lelaki berumur 60 tahunan itu tidak menghiraukannya. Roby langsung menendang pintu ruang kerja sang walikota. Pemandangan di dalam ruangan Liam membuat darah Roby semakin mendidih. Liam ternyata sedang berciuman denga salah satu pegawai di sana. Roby langsung menarik kerah kemeja Liam.
"Pa-papa!" Liam terbelalak.
Roby melepaskan cengkeramannya kemudian mendaratkan tinju ke atas rahang sang putra. Kini Liam tersungkur di atas lantai. Ajudan Roby tidak berani melerai. Dia tahu betul bagaimana sikap atasannya itu. Jika dia nekad mencegah Roby, bisa dipastikan dia yang akan terkena imbasnya.
Roby terus mendaratkan pukulan ke wajah Liam. Kini wajah tampan lelaki itu mulai terlihat memerah. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Barulah sang ajudan menarik tubuh Sang Presiden ketika kondisi Liam terlihat mulai parah.
"Pak, tolong hentikan! Anda bisa membunuh Pak Walikota!"
"Bedebah satu ini memang pantas mati! Dia menghancurkan semua usaha yang sudah aku lakukan selama ini!" teriak Roby dengan amarah yang tak terbendung lagi.
"Saya tahu. Tapi, tolong tahan emosi Anda, Pak."
Roby ditarik ajudannya ke arah sofa. Dia pun menerima botol air mineral yang diberikan kepadanya. Setelah meminum air tersebut, emosi Roby mulai turun.
Di sisi lain, Liam masih terkapar di atas lantai. Setitik air mata jatuh membasahi pipi lelaki itu. Sebuah penyesalan kini membayangi hatinya. Dia menyesal karena terlahir menjadi anak Roby. Lelaki paling keras dan egois yang pernah dia kenal.
Tak lama kemudian, seisi ruangan dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang. Perlahan Liam bangkit dari lantai dan mengusap darah yang ada di sudut bibirnya.
"Untuk apa kalian ke sini?"
__ADS_1