Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 24. Krisis Kepercayaan


__ADS_3

Arjun seketika bungkam ketika mendapatkan pertanyaan dari Makutha. Dia mengusap wajahnya kasar kemudian menyandarkan punggung pada kepala sofa. Lelaki itu menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.


"Surat itu, aku tidak tahu ada di mana." Arjun terunduk lesu. Jemari tangannya saling bertautan.


"Bohong!" teriak Makutha sembari menggebrak meja di hadapannya.


"Tha, aku nggak bohong! Aku sudah menyerahkan semuanya pada polisi yang bertugas sebagai penyidik! Tapi, ketika semua barang bukti diungkapkan ke media ... surat itu tidak diperlihatkan! Sepertinya ada orang yang sengaja menyembunyikannya!" seru Arjun seraya mengusap kasar wajahnya.


"Jadi, menurut Anda ... ada orang di kantor ini yang pro dengan Geng Macan Tutul?" tanya Makutha sambil menyipitkan mata.


"Perkiraanku begitu, Tha. Jadi dia bisa dengan leluasa menghancurkan barang bukti tersebut. Terlebih lagi dengan kematian dua orang sebelumnya. Apa kamu tidak merasakan kejanggalan?"


"Lalu menurut Pak Arjun, siapa orang yang patut dicurigai untuk ini?"


"Entahlah. Aku pikir ... Farhan?"


"Sial!" umpat Makutha sembari memukul pahanya sendiri.


Hakim tampan itu tidak menyangka kalau Farhan orang seperti itu. Di mata Makutha, Farhan adalah polisi yang jujur. Dia juga sudah banyak membantu memberikan informasi, sehingga bisa menemukan pelaku lebih dulu daripada yang lain.


Ya, diam-diam Makutha dan Farhan menyelidiki kasus ini tanpa sepengetahuan orang lain. Farhan pun mengatakan hal yang sama dengan Arjun. Dia mengungkapkan bahwa merasa ada kejanggalan di kantor polisi tersebut. Oleh karena itu, dia langsung melaporkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus kematian Praba kepada Makutha.


Namun, memang ada satu hal yang tidak pernah Farhan bahas. Barang bukti dari kasus Praba, lelaki itu tidak pernah membahasnya secara detail. Seakan-akan Farhan sudah tahu lebih banyak walau tanpa bukti yang valid. Dia hanya menganalisis beberapa hal dan semua itu mengarah pada Ferdi serta Tito.

__ADS_1


Makutha kembali mengalami krisis kepercayaan. Saat ini dia tidak bisa mempercayai siapa pun. Mana orang yang benar-benar ada di pihaknya menjadi kabur. Akan tetapi, satu yang ia yakini. Ferdi dan Tito ada di pihaknya.


"Aku akan menemui Anda lain waktu." Makutha beranjak dari kursi kemudian berjalan ke arah pintu.


Ketika dia hendak memutar tuas pintu, Arjun menghentikannya. "Tha, di mana keluarga kedua orang itu?"


"Maksud Pak Arjun?" Perlahan Makutha balik badan.


"Kita harus melindungi mereka. Aku bersedia menyediakan tempat untuk mereka."


"Aku sudah memikirkannya. Tugas Bapak sekarang adalah terus mengawasi kinerja anak buah Anda. Saya permisi." Makutha membuka pintu kantor sang Kapolsek kemudian keluar dari ruangan tersebut.


...****************...


Perempuan itu merasa perutnya kram. Maudy meringis ketika keluar dari kamar mandi, hingga membuat Hasna panik. Dokter cantik tersebut langsung menghampirinya dan menanyakan kondisi ibu hamil itu.


"Kamu kenapa, Dy?" Hasna mendekati Maudy sambil memapah perempuan itu.


"Perutku sakit, Mbak." Maudy mendesis menahan sakit.


"Ayo, berbaringlah di sini." Hasna mendudukkan tubuh Maudy kemudian menata bantal untuk berbaring.


"Sakit seperti yang kamu rasakan, Dy?"

__ADS_1


"Kencang banget perutku, Mbak."


"Sepertinya kamu kecapekan. Miring ke kiri. Tunggu di sini sebentar, ya?"


Hasna beranjak dari ruang tamu menuju ke dapur. Dia meletakkan panci ke atas kompor. Hasna mengisi panci tersebut dengan air kemudian memanaskannya. Setelah air itu cukup hangat, dia memasukkannya ke dalam botol.


"Kamu punya handuk kecil?"


"Ada di kamar mandi, Mbak."


Hasna melangkah menuju kamar mandi dan kembali dengan handuk kecil. Dia membungkus botol tersebut, lalu menggunakannya untuk menyeka bagian perut Maudy.


"Bagaimana?"


"Masih sakit, Mbak." Maudy meringis menahan sakit seraya meremas pinggiran sofa.


Perut Maudy terasa semakin nyeri. Tak elak perempuan itu berteriak sambil menangis. Hasna terus berusaha menenangkannya. Dia juga menghubungi Makutha untuk segera datang.


"Sabar, ya, Dy. Bentar lagi Makutha sampai."


Kepanikan Hasna dan Maudy semakin bertambah ketika mendapati darah mengalir dari jalan lahirnya. Maudy merasa perutnya mulas luar biasa. Wajahnya berubah pucat dengan keringat dingin mulai mengucur membasahi dahinya.


"Dy, aku mohon bertahanlah!"

__ADS_1


__ADS_2