
"Pak, gawat! Cepat kejar mobil itu!" teriak Ruby sambil menunjuk mobil yang melaju kencang meninggalkan parkiran apartemen.
Makutha segera berlari dan kembali masuk ke mobilnya. Begitu juga dengan Ruby. Makutha langsung melajukan mobil secepat mungkin agar bisa menyusul Hasna.
Ruby pun tidak bisa duduk dengan tenang. Dia tetus menunjuk mobil yang membawa Hasna. Bibirnya tidak berhenti mengoceh untuk meminta Makutha mempercepat laju mobilnya.
"Kamu tenanglah sedikit! Aku butuh konsentrasi!" teriak Makutha frustrasi.
"Bagaimana aku bisa tenang, Pak! Orang yang harus saya lindungi sedang dalam bahaya!"
"Paling tidak jangan membuatku bertambah pusing dengan suara cemprengmu! Duduk saja yang manis dan berdoa untuk keselamatan Hasna!"
Ruby tidak terima dengan ucapan Makutha. Dia tidak mau diam saja. Perempuan itu akhirnya menginjak kaki Makutha yang ada di atas pedal rem. Sontak mobil pun berhenti.
"By, kamu gila, ya? Kita bisa ketinggalan jauh!"
"Pak Makutha minggir! Biar aku yang bawa mobil!"
"Nggak! Kamu bisa apa?"
"Tolong minggir sekarang, Pak!"
Ruby keluar dari mobil, kemudian membuka pintu yang ada di samping Makutha. Dia melepaskan sabuk pengaman yang mengikat tubuh Makutha, dan menarik kemeja lelaki itu hingga tersungkur beradu dengan aspal.
Makutha terbelalak. Ruby bisa menariknya dengan mudah, sehingga kini dia terduduk di atas aspal. Makutha segera berlari memutari mobil, dan duduk di kursi penumpang.
Begitu Makutha kembali masuk dan memasang sabuk pengaman, Ruby langsung menginjak pedal gas. Wajah Makutha berubah tegang. Perempuan seksi di sampingnya itu mengendarai mobil layaknya orang kesetanan.
__ADS_1
Suara klakson mobil lain bertautan untuk memperingatkan Ruby yang mengendarai mobil di atas kecepatan seharusnya. Perempuan itu memutar roda kemudi dengan cekatan. Salip kiri dan kanan hingga tubuhnya juga Makutha terguncang seiring dengan gerakan mobil.
Upatan demi umpatan keluar dari bibir perempuan cantik itu. Sampai akhirnya mereka berdua berhenti di sebuah bangunan kosong. Mobil yang tadi membawa Hasna berhenti di sana.
"Ayo, Pak. Anda bawa senjata api, 'kan?" tanya Ruby sambil melepas sabuk pengamannya.
"I-iya," jawab Makutha terbata-bata.
Ruby menoleh ke arah Makutha dan terbelalak melihat keadaan lelaki tersebut. Wajah sang hakim tampan itu terlihat begitu pucat. Jemarinya mencengkeram erat sabuk pengaman yang melindungi dari maut sejak tadi.
"Pak, Anda nggak pa-pa 'kan?"
Makutha menggerutu dalam hati, dia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. "Nggak pa-pa, your head!" gerutu Makutha dalam hati.
Ruby tak lagi memedulikan Makutha. Dia langsung turun dari mobil dan menghampiri mobil yang membawa Hasna. Ketika Ruby mengecek ke dalam mobil, ternyata Hasna dan si penculik sudah tidak ada di sana.
"Hasna, kamu di mana?" teriak Ruby.
Suara perempuan itu menggema dalam ruangan tempat dia kini berada. Ruby berulang kali memanggil nama Hasna, tetapi tidak ada jawaban. Di ujung rasa gelisahnya, suara derap langkah lain pun terdengar.
Ruby menoleh ke arah sumber suara. Seorang lelaki dengan senter di tangan menyoroti wajahnya, sehingga perempuan tersebut menyipitkan mata dan kesulitan mengenali wajah si pelaku.
"Siapa kamu!" teriak Ruby penuh emosi.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku!" seru si penculik.
Lelaki itu melempar asal senternya, lalu berlari cepat ke arah Ruby. Ruby yang sedang dalam mode waspada pun segera menghindar manakala lelaki asing tersebut melayangkan tinju.
__ADS_1
"Sialan! Beraninya sama cewek!" umpat Ruby.
"Aku tidak memandang gender ketika sedang bekerja! Ayo, lawan aku!" tantang pria tersebut sambil tertawa terbahak-bahak.
Perkelahian pun tak dapat dihindari. Ruby hanya bisa menghindar selama beberapa waktu. Dia mencoba mengamati gerakan musuh, dan mencari celah. Ketika perempuan itu mengetahui kelemahan musuh, barulah Ruby akan menghajarnya habis-habisan.
"Wah, kuat juga pertahananmu, Cantik!"
"Hah, ternyata hanya segini kemampuanmu? Dasar pria lemah!" ejek Ruby.
"Kurang ajar!" Lelaki itu pun kembali mendaratkan tinjunya ke arah Ruby.
Sialnya kali ini Ruby tidak dapat menghindar. Lelaki itu berhasil mendaratkan kepalan tangannya tepat di atas perut Ruby. Perempuan itu langsung merasakan nyeri luar biasa hingga ulu hati. Dia mundur beberapa langkah, kemudian ambruk.
"Pada dasarnya perempuan itu hanyalah makhluk lemah! Aku pergi, malas berurusan dengan perempuan berisik sepertimu!"
Lelaki itu melangkah keluar gedung dengan santai. Ruby berusaha mengembalikan tenaganya yang terkuras. Dalam hitungan detik, dia bangkit, kemudian berlari ke arah pria itu.
Ruby menendang kaki lelaki tersebut, hingga badannya ambruk dan tersungkur di atas lantai. Dia menduduki perut si penculik kemudian bersiap untuk mendaratkan kepalan tinju pada wajahnya.
"Rasakan ini!" teriak Ruby sesaat sebelum tinjunya mendarat pada wajah di pelaku yang tertutup masker.
"Stop, By! Cukup!" teriak Makutha.
Ruby pun mendadak menghentikan gerakannya. Lampu dalam ruangan tersebut pun menyala. Sekarang tampak jelas wajah lelaki yang ada di bawahnya. Dia terbelalak.
"Kamu!"
__ADS_1