Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 25. Sengaja atau Tidak?


__ADS_3

Hasna sebisa mungkin mencoba untuk menenangkan Maudy. Sebenarnya dia juga panik, karena baru pertama kali melihat ibu hamil yang mengalami pendarahan. Terlebih lagi Hasna belum begitu kompeten di bidang ini. Dia hanyalah dokter umum biasa, yang hanya bisa memberikan pertolongan pertama secara umum.


Tak lama kemudian Makutha datang. Mereka langsung membawa Maudy ke rumah sakit. Hasna serta Makutha menunggu dengan jantung berdetak tak beraturan di luar ruang IGD.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Makutha sambil mengusap wajah kasar.


"Aku juga nggak tahu, Tha. Selesai bersih-bersih dia ke kamar mandi dan keluar dalam kondisi perut kram. Setelah aku menyeka perutnya dengan air hangat, Maudy mengalami pendarahan."


Ketika mereka sedang menerka-nerka penyebab Maudy mengalami pendarahan, seorang dokter paruh baya yang menangani perempuan itu keluar dari IGD. Dia langsung menemui Hasna serta Makutha.


"Bagaimana keadaan Maudy, Dok?" tanya Makutha.


"Sungguh beruntung! Pasien dan calon bayinya berhasil diselamatkan. Terlambat sedikit, bayi tersebut tidak akan tertolong," jelas dokter kandungan tersebut.


"Apa yang menyebabkan Maudy mengalami kontraksi, Dok?" tanya Hasna penasaran.


"Setelah dilakukan uji laboratorium, ditemukan bahwa pasien mengkonsumsi misoprostol. Kamu tahu 'kan Na, efek obat tersebut jika dikonsumsi ibu hamil?" Filia, salah satu dokter kandungan terbaik di Rumah Sakit itu angkat bicara.


Hasna terbelalak ketika mendengar ucapan Filia. Dia dan Makutha saling menatap. Berbagai dugaan muncul di pikiran keduanya.


"Sebaiknya selalu awasi Bu Maudy, Na. Kalau perlu bawa dia ke psikiater. Aku khawatir dia sengaja meminum obat tersebut karena tidak menginginkan bayinya." Filia mencoba memberikan saran kepada Hasna serta Makutha.


"Baik, Bu. Saya akan mencoba mengajaknya berkonsultasi ke psikiater. Terima kasih sarannya." Hasna tersenyum tipis.


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi." Filia mengangguk kemudian meninggalkan Makutha dan Hasna.

__ADS_1


"Aneh," ucap Makutha setelah Filia menjauh dari mereka.


"Sama. Aku juga merasakan hal aneh. Bagaimana bisa, dia ...." Hasna menggantung ucapannya di udara, karena terbersit sebuah dugaan lain mengenai Maudy.


"Tha, apa kamu yakin Maudy bisa dipercaya?"


Makutha mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti dengan ucapan Hasna. Makutha mengusap dagu, terlihat berpikir.


"Maksudmu apa, Na?"


"Aku sepemikiran dengan Dokter Filia. Bisa saja Maudy memang sengaja menelan obat tersebut!"


"Ngaco, kamu!" seru Makutha sambil mengibaskan telapak tangan di depan wajahnya.


"Nggaklah, Tito bilang mereka sangat menanti kehadiran calon bayi mereka. Jadi nggak mungkin Maudy melakukan hal bodoh tersebut! Sudah, tolong jaga Maudy baik-baik. Aku sebentar lagi ada sidang. Maaf, karena sementara waktu tidak bisa dihubungi."


"Baiklah. Hati-hati, Tha."


Makutha pun berlalu meninggalkan Hasna dan menuju tempat kerjanya. Sedangkan Hasna kembali masuk ke ruang IGD. Dia menemui Maudy yang masih terbaring lemas di atas brankar.


Ujung mata Maudy terlihat basah. Perempuan itu menatap nanar ke luar jendela. Hampir saja dia kehilangan bayinya jika tidak segera mendapat penanganan.


Nasib buruk selalu mengikutinya akhir-akhir ini. Perempuan itu tidak memiliki bahu untuk bersandar sekarang. Jika saja bayinya tidak bisa diselamatkan, mungkin dia tidak akan sanggup lagi untuk hidup.


"Dy, semuanya baik-baik saja. Kamu tenanglah." Hasna mencoba menghibur Maudy.

__ADS_1


"Makasih, Na. Untung ada kamu tadi. Kalau nggak ...."


"Sssttt ... sudahlah, yang penting sekarang kamu dan bayimu baik baik saja." Hasna menarik kursi lalu duduk di atasnya.


"Boleh aku bertanya sesuatu, Dy?"


Maudy mengangguk pelan. Hasna mengambil napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Sebenarnya dia ragu menanyakan hal ini, tetapi rasa penasaran serta kecurigaannya jauh lebih besar daripada rasa ragu yang muncul.


"Aku yang kamu minum obat tertentu beberapa jam lalu?" tanya Hasna hati-hati.


"Aku hanya minum beberapa vitamin dan zat besi. Kenapa, Na?"


"Kamu hampir keguguran karena terdapat kandungan misoprostol dalam tubuhmu." Hasna menatap serius pada Maudy, berharap perempuan itu berkata jujur.


"Obat apa itu?" Maudy menautkan alisnya.


"Sebenarnya, misoprostol itu obat yang digunakan untuk mengatasi ulkus atau luka pada lambung dan usus dua belas jari. Tapi, obat ini  juga memiliki efek merangsang kontraksi rahim atau uterus."


"Aku bahkan tidak tahu obat semacam itu. Yang kutahu hanya obat warung yang biasa aku minum saat nggak enak badan."


"Baiklah kalau begitu. Sekarang, kamu istirahat dulu. Kita pulang besok pagi, tunggu kondisimu membaik."


Hasna tersenyum lembut kemudian keluar dari IGD. Dia sudah meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan Maudy ke kamar VVIP. Dokter tersebut ingin memastikan kondisi Maudy aman.


Setelah kondisi Maudy membaik, Hasna akan menanyakan banyak hal yang mengganjal hatinya. Sejujurnya dia curiga kalau sebenarnya Maudy sedang ada dalam tekanan Geng Cantul. Dia menduga kalau pil tersebut sengaja diminum istri Tito karena desakan dari anggota Geng Macan Tutul.

__ADS_1


__ADS_2