
Tiga pasang manekin sudah berjajar di ruang VVIP butik milik Bintang. Ketiga gaun pengantin itu terlihat begitu elegan dan cantik. Semuanya memiliki warna pastel yang manis. Akan tetapi, kesan mewah juga tampak pada gaun itu karena kilauan kristal swarovski yang menghiasi gaun pengantin itu.
"Tante, a-apa ini tidak berlebihan?" Hasna menutup bibirnya menggunakan telapak tangan karena takjub dengan yang dia lihat saat ini.
"Nggaklah! Na, kamu sudah Tante anggap seperti putri sendiri. Anggap saja ini hadiah pernikahan untuk kalian. Kamu bisa memilih gaun mana pun yang kamu suka." Bintang tersenyum lebar sambil mengusap lembut pipi Hasna.
"Ayo, sekarang dicoba satu-satu!" Bintang menarik lembut lengan Hasna dan meminta asistennya untuk membantu Hasna mencoba pakaian itu.
Ketika Hasna menghilang di balik pintu kamar pas, Tiara menyikut lengan Makutha. Tiara tersenyum jahil saat sang kakak menoleh ke arahnya.
"Apa?"
"Kak Utha, coba dulu gih!" titah Tiara sembari sedikit mendongakkan kepala.
"Aku mah gampang, Ra. Aku tampan jadi pakai yang mana saja pasti cocok. Tinggal Mbakmu aja nanti, suka yang mana."
"Astaga! Narsis sekali Anda!" Tiara menepuk dahi kemudian menggelengkan kepala.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponsel Makutha. Dia mengerutkan dahi, karena panggilan itu berasal dari Kepala Pengadilan Negeri tempatnya bekerja. Makutha menjauh dari Tiara, lalu menjawab panggilan itu.
"Halo, Pak."
"Tha, bisa datang ke kantor sekarang? Ada yang mau saya bicarakan."
"Apakah hal ini sangat penting, Pak?"
"Ya, kemarilah secepatnya."
"Baik."
Sambungan telepon berakhir. Tak lama kemudian sebuah pesan dari Adli masuk. Makutha tersenyum tipis, lalu kembali mendekati Tiara dan memberitahukan bahwa dia harus segera pergi ke pengadilan.
"Nggak nunggu Mbak Hasna selesai, Mas?"
"Nggak, nanti kalau memungkinkan aku ke sini lagi. Tapi, kalau nggak bisa pulang cepat, kalian naik taksi aja ya?"
"Ya sudah. Hati-hati, Mas!"
__ADS_1
"Pamitin juga ke Hasna."
Makutha langsung keluar dari butik dan melajukan mobilnya menuju pengadilan. Sesampainya di sana, dia langsung menemui Adli. Saat Makutha memasuki ruangan ketua pengadilan, Sang Presiden sudah duduk santai di ruangan itu.
"Apa kabar Hakim Makutha?" Roby tersenyum miring dan bangkit dari sofa.
Makutha bergeming. Muak sekali rasanya melihat Roby dengan segala keangkuhannya itu. Makutha membuang muka untuk menghindari tatapan Roby.
"Tidak sopan sekali. Aku sedang bicara padamu." Kini suara Roby terdengar begitu dingin dan menusuk.
Makutha masih mematung di tempat. Sampai akhirnya Roby menjepit rahang lelaki itu dengan jempol dan jari telunjuk. Mata mereka pun beradu. Makutha tidak mau menyembunyikan rasa bencinya sedikit pun.
Hakim tampan itu menatap nyalang je ara Roby. Rahangnya mengeras sempurna. Terlihat urat lehernya yang semakin kaku dan menonjol.
"Kenapa? Mau marah? Tentu saja tidak bisa!"
"Bagaimana bisa Anda ada di sini, Pak? Bukankah seharusnya sekarang Anda ada di kantor polisi?"
Roby tertawa terbahak-bahak. Dia melepaskan cengkeraman tangannya dari rahang Makutha, dan melanjutkan tawa hingga perut lelaki itu hampir kram.
"Aku ini Bapak Negara! Jika aku ditahan, bagaimana pandangan dunia tentang negara ini!" seru Roby di antara tawanya.
"Apa katamu?" Roby langsung mendaratkan sebuah pukulan pada perut Makutha.
Makutha meringis menahan sakit. Dia mengeluarkan sedikit air dari mulutnya, karena pukulan itu. Adli terperanjat. Dia mendekati Roby dan berusaha menenangkan lelaki tersebut.
"Pak, tenanglah. Aku mohon jangan buat keributan di sini."
"Dia sudah menghinaku dan juga negeri ini! Aku tidak terima!" teriak Roby penuh emosi sembari menunjuk-nunjuk wajah Makutha.
"Aku tidak menghina, Pak. Aku hanya mengatakan apa yang memang sebenarnya terjadi pada negeri kita tercinta ini. Bagaimana bobroknya para pemimpin serta wakil rakyat. Para aparat penegak hukum yang korup. Ketidakadilan bagi rakyat miskin, penindasan, ancaman di mana-mana! Apa aku perlu menyebutkan semuanya?" teriak Makutha penuh emosi.
"Bangsat!" Roby berlari ke arah Makutha kemudian membuat lelaki itu tersudut.
Roby menghujani Makutha dengan pukulan, hingga lelaki itu tersungkur di atas lantai dengan wajah babak belur. Seluruh tubuhnya terasa sakit hingga sulit bergerak.
"Hentikan, Pak!" seru Arjun.
__ADS_1
Dari arah pintu, Arjun beserta beberapa polisi masuk ke ruangan kemudian memisahkan Roby dan Makutha. Roby terus berontak. Ruangan itu terlihat sangat kacau.
"Maaf, Pak, dengan terpaksa kami harus menahan anda kembali di kantor polisi karena anda tidak mematuhi persyaratan pembebasan bersyarat." Arjun meminta anak buahnya memborgol pergelangan tangan Roby.
Akhirnya Roby pun dibawa kembali ke kantor polisi dan ditahan di sana untuk sementara waktu. Begitu Roby dibawa pergi, Arjun mendekati Makutha dan membantunya bangkit dari atas lantai.
"Tha, kamu nggak pa-pa?" tanya Arjun panik.
"Apa menurut Bapak saya sedang baik-baik saja?" tanya Makutha sembari tersenyum miring.
"Maaf, aku datang terlambat karena ada beberapa rapat dengan para petinggi Kepolisian."
"Terlambat sedikit saja aku bisa mati, Pak."
"Makasih, Pak. Sudah membantu hari ini." Arjun menepuk bahu Adli.
"Sama-sama, Pak. Aku juga sebenarnya sudah muak dengan kepemimpinan beliau. Pak Roby memanfaatkan kedudukannya saat ini untuk kepentingan pribadi. Aku hampir saja menjadi salah satu orang yang akan dimanfaatkannya."
Adli tertunduk lesu. Dia pun menyatakan penyesalannya kepada Makutha, karena sempat mendesak salah satu hakim bersih itu untuk berbuat curang dalam pengadilan. Makutha mendekati Adli, kemudian mengulurkan tangan.
"Pak, terima kasih. Hari ini Bapak sudah memberitahu bahwa Pak Roby ke sini datang untuk mengancam saya." Makutha tersenyum tipis kepada atasannya itu.
"Ah, kenapa bisa Pak Roby dilepaskan, Pak?" tanya Makutha yang kini berbalik arah kepada Arjun.
"Karena banyak alasan. Tapi, setelah ini aku akan memastikan bahwa beliau tidak bisa lagi ke mana-mana."
Sebuah panggilan telepon membuat percakapan mereka kembali terjeda. Layar ponsel Makutha berkedip, menunjukkan deretan huruf yang merangkai nama sang adik. Makutha mengerutkan dahi, kemudian menggeser tombol hijau ke atas.
"Ada apa, Ra?" tanya Makutha keheranan.
"Mbak Hasna, Mas! Mbak Hasna!" Tiara berbicara sambil terus terisak.
"Hasna kenapa, Ara? Kamu bicara yang bener dong!" Makutha mulai panik sekaligus kesal karena Tiara yang berbicara sembari menangis.
Perlahan Tiara mulai menceritakan kejadian buruk yang menimpa Hasna. Makutha terbelalak. Dia langsung berpamitan kepada Adli dan Arjun setelah mematikan sambungan telepon.
"Tha! Ayo kutemani!" Arjun berlari menghampiri Makutha yang sudah berdiri di samping mobil.
__ADS_1
Lelaki itu pun mengambil alih kunci mobil, dan meminta Makutha untuk duduk dengan tenang di kursi penumpang. Mobil sport hitam itu pun segera melaju kencang membelah jalanan Ibu Kota. Makutha berharap semua baik-baik saja.