Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 23. Menyerahkan Diri


__ADS_3

Keesokan harinya, Ferdi langsung menyambangi rumah Tito. Dia ke sana sesuai dengan rencana yang telah dibuat oleh Makutha. Sekarang dia, Tito, dan sang istri duduk bersama di meja makan sambil menyantap sarapan dalam diam. Tak ada pembicaraan di antara mereka.


Tito sedang memikirkan cara mengungkapkan kejahatannya kali ini. Ferdi pun memikirkan hal yang sama. Dia berniat untuk membantu sahabatnya itu untuk menjelaskan kepada Maudy, kejahatan yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.


"Kenapa wajah kalian terlihat begitu tegang?" tanya Maudy ketika merasakan kejanggalan tersebut.


Biasanya Ferdi dan Tito akan banyak membicarakan masa kecil mereka saat berkumpul. Ya, keduanya sudah berteman sejak kecil hingga saat ini. Maudy sampai hafal di luar kepala kebiasaan mereka. Ferdi dan Tito hanya saling tatap. Seakan mengirimkan telepati satu sama lain.


Tito mengangkat kepalanya sekilas seakan bertanya, "Bagaimana ini?"


Ferdi pun langsung menganggukkan kepala mantap. Tito berdeham beberapa kali kemudian menatap sang istri. Dia menggenggam jemari Maudy sambil menelan ludah kasar.


"Yang, sebenarnya hari ini ...."


"Aku sudah tahu semuanya, Mas," potong Maudy.


"Memangnya kamu tahu apa?" tanya Ferdi dengan mata terbelalak.


"Kalian ... sudah menghilangkan nyawa orang lain tanpa sengaja, 'kan? Selain itu, kalian berdua juga menyetubuhi gadis tersebut. Aku tahu semuanya." Mata Maudy terasa panas, tetapi dia menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Ba-bagaimana kamu bisa tahu, Yang?" tanya Tito gugup.


Tito terbelalak. Begitu juga dengan Ferdi. Keduanya tak menyangka kalau ternyata Maudy sudah mengetahui kasus yang menimpa mereka.


"Dua hari setelah kejadian itu, Pak Makutha sebenarnya sudah menemuiku. Dia menceritakan semuanya." Maudy mengembuskan napas kasar sambil berusaha tersenyum, meskipun rahangnya terasa kaku.

__ADS_1


"Aku dukung kamu kalau memang mau menyerahkan diri. Aku nggak pa-pa, Mas. Aku akan mengikuti semua rencana Pak Makutha. Setelah Mas Tito keluar dari penjara, kita pulang kampung dan memulai kembali hidup baru."


"Tapi, seandainya aku tidak selamat bagaimana, Yang?" Mata Tito mulai berkaca-kaca.


"Aku ikhlas. Aku akan membesarkan anak kita sebaik mungkin. Aku akan selalu mendoakanmu, Mas. Aku rasa, niat baik akan bersambut dengan hal baik juga. Kamu yang semangat, ya?"


Hati Tito seakan diremas. Detik itu juga dia sadar. Kesalahannya selama ini mungkin tidak akan sebanding dengan hukuman yang akan ia terima. Dia mulai beranjak dari kursi kemudian memeluk tubuh sang istri.


"Maaf, karena belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, Yang."


Air mata Maudy seketika lolos. Seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokannya. Dia hanya bisa mengangguk untuk merespon semua ucapan Tito.


Tak hanya pasangan suami istri itu yang merasa haru. Ferdi pun merasakan hal yang sama. Air mata mulai menggenang di pelupuk indra penglihatannya.


"Sudah siap?" tanya Makutha dengan tatapan tajam.


Tito dan Ferdi mengangguk bersamaan. Hati keduanya sudah mantab untuk menyerahkan diri. Selain itu, mereka juga berniat mengungkapkan kejahatan Geng Macan Tutul serta Liam.


"Ah, ijinkan saya membereskan rumah terlebih dulu, Pak."


"Baiklah. Begini saja, aku akan mengantar mereka ke kantor polisi sementara kamu bersih-bersih. Setelah itu, aku akan kembali menjemputmu dan Hasna."


"Baik, Pak."


Makutha, Tito, dan Ferdi pun berpamitan. Ketiganya langsung beranjak menuju mobil. Sepanjang perjalanan mereka membahas banyak hal. Makutha tidak ingin bertanya mengenai Geng Macan Tutul. Dia memposisikan diri sebagai teman Tito dan Ferdi agar keduanya nyaman.

__ADS_1


Hal itu terbukti dengan sikap Ferdi dan Tito yang santai dan tanpa beban. Bukan seperti penjahat pada umumnya. Mereka berdua sudah percaya sepenuhnya kepada sang hakim. Sesekali tawa ketiganya pecah ketika saling melempar candaan.


Sesampainya di kantor polisi, Ferdi dan Tito langsung menuju bagian pengaduan. Ketika mereka diperiksa oleh petugas, Arjun keluar dari kantornya dan memanggil Makutha.


"Bisa kita bicara sebentar?" bisik Arjun kepadanya.


Makutha hanya menatap Arjun sekilas kemudian mengekor di belakang lelaki tersebut. Mereka berdua berjalan menuju ruang kerja sang Kapolsek. Setelah sampai di dalam ruangan tersebut, Makutha dan Arjun mulai berbincang.


"Bagaimana bisa mereka bersama kamu?" tanya Arjun dengan mata terbelalak.


"Bagaimana, ya? Apa Bapak perlu mengetahui detailnya?" Makutha tersenyum miring sambil menaikkan satu alisnya.


"Bu-bukan begitu maksudku. Aku ...." Ucapan Arjun menggantung di udara karena Makutha memotong pembicaraannya.


"Aku ragu dengan pihak kepolisian!" seru Makutha sambil mencondongkan tubuh ke arah Arjun.


Lelaki paruh baya itu menatap Makutha. Manik matanya bergerak tak beraturan seakan kehilangan fokus. Sedetik kemudian Arjun memalingkan wajah.


"Apa maksudmu, Tha?"


"Di mana surat ancaman Geng Macan Tutul berada!" teriak Makutha sambil menggebrak meja.


Arjun seketika bungkam. Dia mengusap wajahnya kasar kemudian menyandarkan punggung pada kepala sofa. Lelaki itu menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.


"Surat itu ...."

__ADS_1


__ADS_2