Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 43. Sekutu Baru


__ADS_3

Di dalam ruangan berukuran sembilan meter persegi itu, ternyata bukan hanya ada Toni yang sedang menunggunya. Dua anggota Geng Macan Tutul lain juga ada di sana. Makutha terbelalak karena merasa dijebak.


"Sialan kamu, Ton!" teriak Makutha.


Dada lelaki tampan itu naik turun karena amarah yang hampir meledak. Dia langsung mendekati Toni, dan menarik kerah kaosnya. Rahang Makutha mengeras dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.


"Apa maksudnya ini?" tanya Makutha penuh amarah.


"Calm down, Bro. Seperti kataku tadi. Kami semua di sini ingin melakukan pengakuan dosa." Sebuah senyum seringai terukir di bibir Toni.


"Toni benar, Tha. Kami akan menyerahkan diri dan mengakui semua kejahatan yang sudah kami lakukan. Namun, sebelumnya kami minta tolong satu hal," ujar Usman.


"Apa maksud kalian?" tanya Makutha geram.


"Lepaskan dulu jemarimu itu dari kaosku. Napasku terasa sesak." Wajah Toni terlihat sedikit memucat karena kesulitan bernapas.


Akhirnya Makutha melepaskan Toni. Usman menarik pelan lengan lelaki tersebut, dan mengajaknya duduk bersebelahan. Usman menyodorkan sebotol air mineral dingin kepada Makutha.


"Minumlah, agar sedikit lebih tenang."

__ADS_1


Makutha meraih botol tersebut, lalu mulai meneguknya perlahan. Air dingin tersebut seakan mengguyur api amarah yang berkobar di hati Makutha. Dia sekarang sedikit lebih tenang.


"Sudah?" tanya Toni dengan senyum mengejek.


"Kenapa kamu membawa anggota lain lagi? Kupikir kamu hanya akan mengajakku bertemu empat mata." Makutha menyipitkan matanya.


"Kami ingin berpindah ke pihakmu untuk menangkap Liam." Kali ini Toni terlihat begitu serius.


Namun, Makutha tentu saja tidak langsung percaya. Dia tersenyum miring kemudian melipat lengan di depan dada. Lelaki tersebut menatap Toni tanpa berkedip. Makutha memindai setiap gerak tubuhnya untuk memastikan bahwa lelaki itu tidak sedang berbohong.


Makutha mengamati gerak-gerik Toni selama beberapa menit dan tidak menemukan kebohongan pada diri lelaki itu. Makutha menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Mulai sekarang aku, Usman, dan Niki akan membocorkan setiap rencana yang akan dilakukan oleh Liam. Setelah kamu mengumpulkan cukup bukti, segera beri tahu aku. Detik itu juga aku akan menyerahkan diri lagi."


"Tunggu! Menyerahkan diri lagi? Apa kamu sudah kembali terlibat dengan tindakan kriminal?" tanya Makutha dengan alis yang saling bertautan.


Toni mengusap wajah kasar, kemudian mulai menceritakan apa yang sudah lakukan kepada salah satu anggota Geng Cantul dan juga Praba. Saat Toni baru selesai menceritakan kejahatannya pada Praba, Makutha langsung beranjak dari kursi.


Lelaki itu meraih kaos Toni dan mencengkeramnya kuat. Rahang Makutha kembali mengeras. Dia tidak bisa menahan lagi amarahnya. Kali ini emosinya meledak.

__ADS_1


"Kamu benar-benar manusia biadab! Kamu tega memenggal mayat Praba demi menghilangkan jejak? Aku tak habis pikir dengan apa yang ada dalam otakmu itu!"


"Semuanya sudah terlanjur, Tha. Aku baru menyadarinya sekarang!"


"Brengsek!" teriak Makutha sambil mendaratkan tinjunya pada rahang Toni.


"Hentikan, Tha! Ayolah. Kami juga muak dengan ulah Liam. Untuk itulah kami bertiga menemuimu!" seru Usman sembari menahan lengan Makutha dan dibantu oleh Niki.


"Usman benar, Tha! Setelah bukti yang kamu butuhkan cukup, kami semua akan menyerahkan diri!" timpal Niki.


Makutha menurunkan sedikit amarahnya. Dia tak lagi berontak. Akan tetapi, tatapan mautnya tak lepas dari Toni. Lelaki itu pun kembali duduk dan menyandarkan punggung pada kepala sofa.


Amarah yang berkecamuk dalam dada membuat Makutha seolah kehilangan kesabaran. Kebengisan Toni memang tak masuk akal. Sebenarnya dia tidak percaya dengan ucapan mereka bertiga. Dia berpikir bahwa ini semua hanyalah jebakan.


Akan tetapi, Makutha mencoba memanfaatkan hal ini. Dia hanya perlu lebih hati-hati dan tidak perlu membocorkan rencananya pada mereka. Lelaki itu juga memutuskan untuk tidak menemui mereka setelah ini, kecuali apa yang mereka ucapkan benar-benar terjadi.


"Jadi, apa rencana Liam selanjutnya?"


"Setelah ini Liam akan mengincar Hasna. Tapi, kami belum tahu siapa yang akan diperintahkan untuk menculiknya."

__ADS_1


"Berani-beraninya dia!" teriak Makutha.


__ADS_2