Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 50. Jenjang Karir Kotor


__ADS_3

Makutha langsung menyodorkan kotak hitam yang sedari tadi dia kantongi di balik saku jas. Hasna mengerutkan dahi. Dia menatap kotak yang ada di hadapannya dengan Makutha secara bergantian.


"Apa, ini?"


"Buka." Makutha tersenyum lebar.


Hasna perlahan meraih kotak tersebut, dan membukanya. Mata perempuan itu pun membulat sempurna ketika mengetahui apa yang ada di dalam kotak berwarna hitam tersebut. Sebuah kalung dengan liontin dari batu safir terlihat begitu mewah dan menyilaukan mata.


"Tha, apa maksudnya ini?" tanya Hasna.


"I-itu, sebagai permintaan maafku, Na. Maaf karena telah membuatmu tidak nyaman."


"Soal bodyguard itu?"


Makutha mengangguk sekilas. Hasna pun tersenyum tipis kemudian meletakkan kembali kotak hitam tersebut ke atas meja.


"Tha, sebenarnya aku hanya tidak mau kamu terlalu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja sekarang. Jika memang Geng Macan tutul ingin mengincarku, pasti mereka akan melakukannya sejak dulu." Hasna tersenyum lembut berusaha menenangkan Makutha.


"Na, jika saja aku tidak mendengar hal ini langsung dari Toni, aku tidak akan sekhawatir ini."


"Toni?" Hasna mengerutkan dahi dan sedikit memiringkan kepala.


"Iya, sebenarnya beberapa hari yang lalu Toni menemuiku bersama Usman dan juga Niki. Mereka berniat menyerahkan diri setelah semua bukti kejahatan Liam cukup untuk menyeretnya ke penjara."


"Tha, apa kamu yakin dengan ucapan mereka? Mereka itu ular." Hasna mencoba memperingatkan Makutha.


Dokter cantik itu tahu betul bagaimana sikap Makutha yang terlalu percaya dengan orang lain. Dia sering tertipu karena sikapnya yang kurang waspada itu.


"Aku akan lebih hati-hati kali ini, Na. Aku hanya akan menerima informasi dari mereka tanpa mau membongkar rencana yang sudah kupersiapkan."


"Baiklah kalau itu memang menjadi keputusanmu. Semoga kali ini mereka tidak berniat mengelabuhimu."


Makutha mengangguk, kemudian beranjak dari kursi. Dia meraih kalung yang ada di dalam kotak perhiasan. Lelaki itu mulai berjalan memutari meja dan berhenti tepat di belakang Hasna.


Hakim tampan tersebut memakaikan kalung itu ke leher Hasna. Rona merah pada pipi Hasna terlihat semakin jelas, karena dia merasa sangat senang. Makutha mulai mendekatkan bibirnya pada telinga Hasna.


"Na, kamu terlihat sangat cantik," bisik Makutha.


Mendengar pujian dari Makutha, membuat Hasna tersipu malu. Dia tak mampu lagi menahan senyum bahagia. Perempuan itu pun melirik ke arah Makutha yang masih tersenyum tipis di sampingnya.

__ADS_1


"Makasih, Tha."


"Sama-sama." Makutha kembali ke kursinya kemudian menatap sendu ke arah Hasna.


Keduanya pun kembali berbincang ringan dan saling bertukar cerita. Menikmati makan siang diselingi canda dan tawa. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengintai keduanya di sudut restoran.


"Mereka masih di sini, Pak."


"Terus awasi!"


...****************...


Setelah selesai makan siang bersama Hasna, Makutha langsung menghubungi Ruby. Dia ingin memastikan bahwa kamera pengintai yang terpasang pada liontin Hasna sudah berfungsi dengan baik.


"By, gimana?" tanya Makutha melalui sambungan telepon.


"Sudah oke. Aku bisa melihat apa yang Hasna lihat. Tapi, ada satu kelemahan alat ini."


"Apa?" tanya Makutha sembari mengerutkan dahi.


"Aku tidak bisa memantau keadaan di belakang Hasna."


"Tidak perlu. Aku rasa ini sudah cukup. Toh, aku akan berada di dekatnya setiap waktu. Aku hanya ingin memastikan kondisinya ketika mataku tidak dapat melihat Hasna secara langsung."


"Baiklah kalau begitu. Aku mohon bantuannya."


Makutha pun mematikan sambungan telepon. Dia kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan yang kembali padat.


Setelah sampai di Pengadilan, dia melihat sebagian besar karyawan menatapnya sinis. Beberapa lagi memandangnya dengan tatapan penuh tanya yang sulit diartikan. Makutha tidak memedulikannya dan terus berjalan ke arah ruang kerjanya.


Makutha memutar tuas pintu perlahan. Ketika pintu terbuka lebar, mata lelaki itu membulat sempurna. Sosok lelaki paruh baya berwajah oriental sudah duduk di atas kursi kerja sang hakim. Rahang Makutha mengeras dengan jemari mengepal erat di samping badan.


"Ah, sebenarnya aku sangat benci menunggu. Tapi, karena yang kutunggu itu kamu ... aku berusaha menikmatinya." Roby mulai bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Makutha.


Makutha pun menutup pintu ruang kerjanya. Dia melemparkan tatapan tajam ke arah sang Presiden. Rahang lelaki tersebut semakin mengeras ketika melohat sebuah senyum seringai terukir di bibir Roby.


"Makutha, apa kabar?" tanya Roby sambil tersenyum miring.


"Ada perlu apa Bapak ke sini?"

__ADS_1


"Sepertinya kamu tidak suka basa-basi, ya?" Langkah Roby berhenti tepat di depan Makutha.


"Saya datang untuk memberikan sebuah penawaran."


Makutha menatap tajam Roby yang mulai bergerak mengelilinginya. Bola mata sang hakim tersebut terus mengikuti ke mana pun Roby melangkah, sambil terus menyimak semua kalimat yang keluar dari bibirnya.


"Kursi ketua untuk Pengadilan Tinggi sedang kosong. Aku berniat untuk menawarkannya padamu."


Makutha mendengus sambil memalingkan wajah. Tak lama kemudian sebuah senyum miring terukir di bibirnya. Dia balik badan, memasukkan tangan ke saku celana, lalu menyipitkan mata ketika menatap Roby.


"Saya tidak mengerti maksud Anda, Pak."


"Tutup kasus yang melibatkan Liam, dan kamu akan mendapatkan jabatan tertinggi di Pengadilan Tinggi."


Mendengar ucapan Roby membuat Makutha terbahak-bahak. Dia sampai memegangi perutnya. Sudut mata pria tampan itu pun mulai basah.


Seketika raut wajah Roby berubah. Mukanya mulai terlihat merah padam. Rahang lelaki tersebut juga mengeras, serta tatapan tajam kini menghiasi mata yang tak seberapa lebar itu.


"Kamu menertawakanku?" tanya Roby geram.


"Tunggu, Pak. Saya belum selesai tertawa." Makutha terus tertawa sambil membungkukkan badan.


Setelah puas menertawakan sikap sang Presiden, Makutha mengusap ujung matanya yang berair. Makutha adalah orang pertama yang berani menertawakan Roby.


"Begini, Pak. Apa Anda tidak malu melakukan hal ini kepada saya?" Makutha menaikkan satu alis.


"Apa Bapak lupa tujuh tahun lalu ketika datang ke kantor polisi, Anda berkata seperti ini."


Makutha merapikan dasi kemudian berdeham beberapa kali. Lelaki itu mencoba memasang ekspresi datar. Dia mengucapkan lagi kalimat yang keluar dari bibir Roby beberapa tahun lalu.


"Aku salah sudah menyekolahkan Liam di sekolah seperti ini! Jadi dia salah bergaul dengan manusia rendahan seperti kalian!" Makutha kembali tertawa terbahak-bahak.


"Lalu sekarang Anda mendatangi manusia rendahan ini untuk menawarkan sebuah jabatan, agar mau melepaskan Liam dari segala tuntutan! Anda lucu sekali! Bukankah ini yang disebut dengan menjilat ludah sendiri?"


Roby pun tersulut emosi. Dia mengepalkan jemari kuat-kuat berusaha menahan amarah yang kini membakar hatinya. Lelaki itu mulai berpikir bahwa Makutha adalah kerikil yang harus segera disingkirkan, jika tidak mau tergelincir.


"Ini adalah penawaran pertama dan terakhirku. Aku harap kamu tidak akan menyesal karena menolaknya dan memilih untuk melanjutkan penyelidikan terhadap Liam!"


"Aku tidak akan pernah menyesali keputusan yanh sudah kuambil."

__ADS_1


Roby pun menatap tajam Makutha untuk terakhir kali kemudian pergi meninggalkannya. Dia membuka pintu dan membantingnya kasar. Makutha tidak menyangka bahwa sang Presiden rela datang ke kantornya untuk menyelamatkan sang putra.


__ADS_2