
Hati perempuan dengan perut buncit itu seakan diremas. Pandangannya mulai kabur karena air mata yang berdesakan. Dada Maudy terasa begitu sesak, mendengar ucapan Hans barusan.
Titik air mata mulai lolos dari mata Maudy. Dia membekap mulut agar suara tangisnya tidak pecah. Perempuan tersebut akhirnya menarik napas dalam dan dihembuskan perlahan.
'Aku sudah ikut memulainya, maka aku juga harus mengakhirinya.'
Maudy menghapus air mata yang bercucuran, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku sweater-nya. Perempuan itu mengaktifkan perekam suara, kemudian mengetuk pintu kamar Hans yang setengah terbuka.
"Se-sejak kapan kamu datang?" Hans terbelalak, kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Baru saja, Yang. Kamu sepertinya lelah sekali." Maudy berusaha mengukir senyum di bibirnya yang terasa kaku.
"Iya, hari ini Rumah Sakit ramai. Tunggu!" Hans mengerutkan dahi, meneliti wajah sang kekasih.
"Apa kamu baru saja menangis?"
Hans mendekati Maudy kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah kekasihnya itu. Maudy menghindar, sehingga membuat lelaki tersebut mengernyitkan dahi.
"Kenapa, Sayang?"
"A-aku ...." Maudy hampir saja mengungkapkan apa yang dirasakan saat ini. Namun, perempuan itu berhasil menguasai emosinya. Maudy menarik napas dalam kemudian mengembuskannya perlahan.
"Aku pengen makan sate padang, tapi kamu yang beliin," rengek Maudy.
Hans terkekeh. Lelaki tersebut mengusap puncak kepada Maudy, kemudian memberinya pelukan.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita beli sekarang!" ajak Hans.
Keduanya keluar dari rumah dan kembali lagi dalam waktu setengah jam. Kebetulan di depan kompleks perumahan tempat Hans tinggal ada sebuah kedai yang menjual sate padang. Jadi, tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan makanan tersebut.
Mereka berdua menikmati sate itu sambil berbincang ringan. Setelah selesai makan, Maudy mulai membahas mengenai rencana pembunuhan Tito dulu serta rencana Geng Macan Tutul selanjutnya.
"Sayang, bukankah besok lusa adalah sidang putusan kasus pembunuhan Praba dan juga Mas Tito?"
"Iya, kenapa?"
"Perasaanku nggak enak." Maudy menyandarkan kepalanya pada dada bidang Hans.
"Maksudmu?"
Hans mengecup puncak kepala Maudy, kemudian mengusapnya lembut. "Tenanglah, Ferdi akan melakukan apa yang sudah bos perintahkan. Kita memiliki sandra. Jadi, Ferdi tidak akan bisa berkutik."
"Sayang, apa kamu tidak khawatir kalau nantinya ketika persidangan, dia justru akan buka mulut dan menyebut namamu?" Maudy melepaskan pelukannya kemudia menatap Hans penuh tanya.
"Aku tidak pernah khawatir akan hal ini. Kami memiliki bos yang berkuasa di kota ini! Dia tidak akan mengungkapkan semuanya dengan mudah."
"Aku benar-benar khawatir kalau dia mengungkapkan bahwa kamu telah memberikan suntikan mati kepada Tito malam itu. Terlebih lagi Makutha juga melihat kejadian tersebut."
"Makutha tidak akan bisa jadi saksi karena malam itu aku juga memberinya obat tidur. Menurut hukum kondisinya yang setengah sadar tidak bisa dijadikan sebagai saksi."
"Lalu, apa rencana Pak Li---"
__ADS_1
"Jangan pernah sebut namanya! Kita bisa mati!" seru Hans tiba-tiba.
Maudy terdiam. Dia baru ingat kalau tidak boleh menyebut nama Liam. Anggota Geng Macan Tutul dilarang keras menyebut namanya di luar basecamp. Peraturan itu diterapkan untuk menjaga identitas Sang Walikota.
"Maaf, aku lupa." Maudy tertunduk lesu.
"Lain kali jangan diulangi lagi, ya?" Hans tersenyum tipis. Akan tetapi, sedetik kemudian tatapan lelaki tersebut tertuju pada ponsel sang kekasih.
"Tunggu! Sepertinya ponselmu menyala dari tadi?"
Maudy terbelalak. Jantung Maudy seakan berhenti berdetak. Hans mulai mendekat ke arah ponselnya yang ada di atas meja. Perempuan itu meletakkan benda pipih tersebut dengan posisi terbalik.
"I-itu, biar aku saja yang melihatnya."
Maudy beranjak dari kursi dan hendak meraih ponselnya. Namun, Hans melarang Maudy. Lelaki tersebut menyipitkan mata dan rahangnya mengeras.
"Kamu membuatku curiga saja!"
...****************...
Haiii...
Mampir juga ke sini, yuk! Masih anget, loh❤❤❤
__ADS_1