Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 37. Hukuman untuk Ferdi


__ADS_3

Hans menatap tajam ke arah Maudy. Jemarinya mengepal erat, dan rahang lelaki tersebut mulai mengeras. Sebuah bisikan membuatnya tersenyum licik.


"Merekam sesuatu tanpa ijin, bisa terjerat oleh UU ITE." Arjun yang duduk di belakang Hans mencondongkan tubuhnya ke arah dokter tampan tersebut.


Hans menoleh ke belakang. Arjun pun mengangguk untuk meyakinkan dokter tersebut, agar mau menyanggah ucapan Maudy saat sidang berlangsung.


"Terima kasih atas bantuan Anda, Pak."


Hans beranjak dari kursi kemudian berdiri tegak menatap Makutha yang duduk di balik mejanya. Senyum seringai terukir jelas di bibir lelaki tampan tersebut.


"Ini melanggar UU ITE, Yang Mulia!"


"Maksud Anda?"


"Maudy merekam pembicaraan tersebut tanpa ijin saya, Yang Mulia."


Makutha mengangguk beberapa kali, kemudian menatap tajam ke arah Maudy. "Benar begitu, Saudari Maudy?"


"Mohon ijin Yang Mulia. Sebenarnya saya diminta oleh Pak Farhan selaku penyidik untuk melakukan perekaman suara sebagai alat bukti."


Keringat dingin mengucur di balik terusan yang dikenakan Maudy. Jemarinya saling meremas satu sama lain. Bibir perempuan itu pun gemetar karena rasa gugup dan takut yang bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Maudy tidak bisa mundur lagi. Dia salah satu saksi kunci yang akan membuka kasus pembunuhan Tito. Tekadnya sudah bulat. Hati nurani perempuan tersebut terketuk untuk mengungkapkan semua kebenaran yang ia ketahui.


"Sudah dengar jawabannya, Dokter Hans yang terhormat?"


Makutha menyapukan pandangan ke arah semua orang yang hadir dalam ruang sidang. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Berdasarkan UU ITE Pasal 31 ayat  UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, penyadapan dengan tujuan melanggar hukum memang dapat dikenai hukuman." Makutha tersenyum tipis kemudian menatap tajam ke arah Hans.


"Namun, pada kasus ini tentu saja berbeda. Maudy melakukannya untuk menegakkan hukum. Membantu pihak kepolisian mengungkap kebenaran di balik penyerangan serta kematian Tito yang dirasa janggal." Makutha tersenyum puas penuh kemenangan. Sedetik kemudian wajah lelaki tersebut kembali terlihat serius.


"Ah, aku lupa. Kamu juga memalsukan data autopsi jenazah Tito! Kamu mengatakan bahwa dia meninggal karena dampak dari trauma pendarahan. Tapi sebenarnya, dia meninggal karena kamu telah menyuntikkan vekuronium bromida dan juga potasium klorida ke dalam tubuhnya."


Suara Hans tercekat di tenggorokan. Lelaki tersebut kalah telak. Dua orang petugas kepolisian mendekati Hans dengan membawa surat penangkapan. Lelaki tersebut pun diseret keluar dari ruang persidangan.


"Putusan nomor ... demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pengadilan Negeri Kota Metropolitan, telah menjatuhkan hukuman sebagai berikut kepada terdakwa Ferdi Sanjaya ... hukuman kurungan penjara selama 20 tahun 8 bulan, dikurangi masa tahanan selama penyelidikan berlangsung ...."


...****************...


Rasa lega menyeruak di dalam dada Maudy. Terlebih lagi untuk sementara waktu dia hanya dijadikan sebagai saksi dalam kasus pembunuhan suaminya sendiri. Setidaknya dia bisa mengungkapkan kebenaran mengenai pembunuhan Tito. Hal itu membuat rasa bersalah Maudy sedikit berkurang.


"Dy, ayo masuk!" teriak Hasna ketika menghentikan laju mobilnya di depan Maudy yang melamun di depan gedung Pengadilan Negeri.

__ADS_1


Maidy tersenyum tipis kemudian mendekat ke arah mobil Hasna. Perempuan itu meraih gagang pintu dan masuk ke dalam kendaraan roda empat tersebut.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Hasna khawatir.


"Aku sedikit lebih lega, Mbak."


"Aku dan Makutha nggak nyangka kamu mau mengungkapkan semuanya. Bahkan bersedia menjadi saksi untuk kasus persidangan Hans nanti."


"Maaf ...." Maudy tertunduk penuh penyesalan.


Mata Maudy terasa begitu panas. Air matanya berdesakan ingin keluar dari sarang. Perempuan cantik itu meremas daster yang membalut tubuh.


"Maaf kenapa, Dy?"


"Maaf karena selama ini sudah memata-matai Mbak Hasna. Aku merasa begitu buruk jika mengingat semuanya."


Hasna tersenyum tipis, kemudian meraih lengan atas Maudy. Dia menatap lembut teman satu apartemennya beberapa bulan terakhir. Maudy membuang pandangan, karena tidak sanggup melihat perempuan bak malaikat di depannya itu.


"Hei, sudahlah. Semua sudah berakhir. Sekarang fokuslah pada bayimu. Kamu sekarang harus semangat untuknya."


Mendengar ucapan Hasna, sontak membuat Maudy menangis tersedu-sedu. Hatinya seakan dipelintir. Baru kali ini ada orang yang tetap baik kepadanya, meskipun dia sudah berbuat jahat.

__ADS_1


Hasna menarik pelan lengan Maudy, dan membawanya ke dalam pelukan. Dia sedikit mendongakkan wajah, berharap air matanya tidak jatuh membasahi pipi. Hasna paham betul bagaimana perasaan Maudy saat ini.


"Tenanglah. Kita mulai semuanya dari awal. Semua pasti akan baik-baik saja."


__ADS_2