Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 32. Panas Hati


__ADS_3

Malam itu setelah Makutha pulang dari tempat kerja, dia berniat untuk menemui Farhan. Ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan terkait kasus penyerangan Tito.


Lelaki itu mengendarai mobilnya membelah jalanan Kota Metropolitan yang tidak pernah sepi. Ketika melintasi sebuah rumah makan tempat biasa dia dan Hasna menghabiskan waktu ketika libur, Makutha melihat perempuan itu hendak masuk ke dalam mobil Hans.


Sontak Makutha mengerem mobil dan menajamkan penglihatannya. Dia sampai menyipitkan mata agar pandangannya semakin jelas. Benar saja, perempuan berkerudung biru muda itu adalah Hasna.


"Hasna, kenapa kamu nggak dengar omonganku!" geram Makutha.


Lelaki itu memukul roda kemudinya berulang kali. Ketika melihat mobil Hans mulai bergerak, Makutha pun ikut melajukan mobilnya perlahan. Dia ingin tahu ke mana Hasna dan Hans pergi.


Di sisi lain, Hans langsung menyadari bahwa Makutha mengikutinya. Lelaki itu tersenyum puas. Senyuman lelaki tersebut membuat Hasna mengernyitkan dahi.


"Kak Hans, kamu kenapa?" tanya Hasna.


"Ah, nggak pa-pa. Senang aja bisa makan berdua sama kamu."


"Oooh ...." Hasna tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dia kembali menatap jalanan Ibu Kota yang masih ramai dengan kendaraan bermotor. Dokter cantik itu pun mulai melamun.

__ADS_1


Sejak hari di mana Hasna memergoki Makutha menghajar Hans, dokter cantik tersebut enggan bertemu dengannya. Hasna selalu menghindar bahkan memblokir nomor telepon Makutha.


Hubungan keduanya memburuk, hal itu diketahui juga oleh Liontin. Akan tetapi, sebagai orang tua yang baik Liontin tetap berusaha menjadi penengah bagi mereka. Termasuk ketika berkomunikasi.


"Na, sudah sampai." Suara Hans membuat Hasna terkesiap.


"Ah, iya. Thanks, Kak." Hasna tersenyum lembut kemudian membuka pintu mobil.


Ketika hendak keluar dari mobil, lengan perempuan berjilbab itu pun ditahan oleh Hans. Hasna menoleh menatap lelaki tersebut sambil menautkan kedua alisnya.


"Ada apa, Kak?" Hadna memiringkan kepala kemudian melirik jemari Hans yang melingkar pada lengannya.


"Ah, sorry." Hans melepaskan lengan Hasna kemudian menyugar rambutnya.


"Besok ... kamu libur, 'kan? Bisa kita jalan berdua?" Hans menatap lembut Hasna.


Hasna terdiam. Dia menatap manik mata lelaki di hadapannya itu. Tatapan Hans berbeda, tidak seperti ketika berada di tempat kerja.

__ADS_1


"Nanti aku kabari lagi, ya?" Hasna tersenyum tipis kemudian keluar dari mobil Hans dan menutup pintunya perlahan.


Setelah turun dari mobil, Hasna tetap berdiri tegap sambil menatap mobil Hans yang semakin menjauh. Perempuan itu baru kembali berjalan ketika mobil Hans tak lagi terlihat.


Ketika Hasna hendak melangkah ke arah lift, Makutha memanggil namanya. Dia pun berhenti kemudian menoleh ke arah sumber suara. Dari kejauhan terlihat Makutha yang berlari mendekat. Sesampainya di depan Hasna dia mengatur napas sebelum mulai memberondong perempuan tersebut dengan pertanyaan.


"Mobilmu di mana? Kenapa pulang bareng Hans?"


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Hasna sinis.


"Ditanya malah balik nanya!" seru Makutha sambil menatap tajam perempuan di hadapannya itu.


"Bukan urusanmu!" Hasna berpaling kemudian meninggalkan Makutha.


Makutha tidak bisa berkutik. Dia paham betul watak Hasna. Jika dia tetap bersikeras untuk mencecarnya, maka Hasna akan semakin menjauh. Perempuan itu memiliki sifat seperti pasir. Semakin digenggam, maka akan semakin terlepas melalui sela-sela jemari.


Makutha hanya bisa menatap tubuh Hasna yang menghilang di balik pintu lift. Lelaki itu pun harus memendam rasa kesal serta cemburunya. Dia tidak mau lagi mengulur waktu. Makutha bertekad untuk segera melamar sang pujaan hati jika amarah Hasna sudah reda.

__ADS_1


Tanpa mereka berdua sadari, ternyata sepasang mata lain telah menjadi saksi pertengkaran keduanya. Ia tersenyum penuh arti kemudian menempelkan ponsel pada daun telinga.


"Misi sukses. Hasna nampaknya masih kesal kepada Makutha."


__ADS_2