Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah


__ADS_3

Liam menggigit bibir bagian dalam setelah mendapatkan laporan dari Usman. Tanpa terasa lelaki tersebut telah melukai dirinya sendiri. Rasa asin dari darah mulai dirasakan olehnya.


"Bagaimana ini? Habis aku!" Rahang lelaki tampan itu mengeras. Jemarinya mengepal kuat. Dia tak menyangka semua rencanya hancur berantakan.


"Semua ini gara-gara Makutha! Kenapa juga dia tidak melupakan saja kejadian itu! Cio mati karena Toni! Kenapa aku juga harus ikut terseret dalam dendamnya!"


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Seorang lelaki muda dengan setelan jas rapi memasuki ruangan. Wajahnya terlihat begitu panik. Ia enggan menatap wajah Liam.


"Pak, Pak Presiden sudah menunggu Anda di Rumah Besar." Lelaki bernama Albert itu menundukkan pandangan, menatap ujung sepatunya.


"Sial!" umpat Liam.


"Minta Pak Hasan menyiapkan mobil. Aku akan segera turun."


"Baik, Pak." Lelaki berwajah bule itu menunduk penuh hormat kemudian keluar dari ruangan Liam.


Setelah berusaha menenangkan hati, akhirnya Liam keluar ruangannya. Dia langsung berjalan menuju lobi. Para pegawai mengangguk penuh hormat kepadanya. Namun, Liam yang biasanya ramah tidak ada lagi. Wajah lelaki tersebut seakan tertutup awan gelap.


Saat berada di depan gedung kantor Walikota, supir pribadinya sudah berdiri di samping mobil. Lelaki paruh baya itu membukakan pintu untuk Liam. Liam pun segera masuk ke dalam kendaraan beroda empat tersebut.


"Langsung saja ke rumah papa, Pak," perintah Liam ketika sang sopir sudah duduk di belakang roda kemudi.


"Baik, Pak."


Hasan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sedangkan Liam duduk dengan hati gelisah di kursi belakang. Tatapan lelaki itu menerawang ke arah jalanan, seakan sedang mengabsen gedung-gedung pencakar langit yang berdiri tegak berpayung awan.


Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kediaman sang ayah. Hasan memutari mobil, lalu membuka pintunya. Liam menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan sebelum turun dari mobil.


Liam melangkah ke arah pintu utama dengan tinggi mencapai dua meter itu. Seorang petugas keamanan yang berjaga di depan pintu menunduk penuh hormat, lalu membukakan pintu untuk sang Walikota.


"Mari, Tuan." Seorang lelaki berumur 40 tahunan menyapa Liam dan mengajaknya untuk masuk ke rumah.


Liam berulang kali menelan ludah karena membayangkan kemurkaan sang ayah. Roby terakhir kali marah besar kepadanya saat kejadian tujuh tahun lalu. Kala itu sang Ayah hendak mencalonkan diri menjadi Presiden.


Roby terpaksa menutup mulut pihak kepolisian dengan jumlah uang yang lumayan banyak. Semua itu dia lakukan agar namanya tidak tercoreng menjelang pemilu. Jika publik mengetahui bahwa Liam terlibat tawuran dan mengakibatkan seseorang meninggal, pasti atensi publik akan berkurang untuknya.

__ADS_1


Tanpa terasa, kini Liam sudah berada di depan ruang kerja sang ayah. Ajudan yang tadi bersamanya mulai membukakan pintu. Sekarang Liam dapat melihat jelas Roby yang sedang duduk di belakang meja kerjanya.


Tatapan sang ayah layaknya serigala yang kelaparan, bersiap untuk menerkam mangsa. Liam kembali menelan ludah kasar, kemudian berjalan mendekat.


"Pagi, Pa," sapa Liam dengan suara gemetar.


Roby beranjak dari kursi kemudian melangkah mendekati sang putra. Dia menengadahkan tangan. Ajudan sang Presiden pun mendekat dan menyerahkan sebuah cambuk.


Sontak Liam terbelalak. Lelaki tersebut bergidik ngeri melihat pemandangan di hadapannya. Bayangan sakit dan perih pada punggung yang dicambuk dengan benda itu jelas masih teringat dalam memori otak.


"Pa, aku ...."


"Ambil posisi!" teriak Roby tanpa memedulikan ucapan sang putra.


"Pa ...."


Melihat Liam protes justru membuat amarah Roby memuncak. Lelaki itu langsung mengayunkan cambuk dalam genggamannya ke atas lantai hingga menimbulkan suara yang menggema memenuhi ruangan.


Ajudan Roby meringis, karena melihat kengerian yang mungkin sebentar lagi akan ia saksikan. Liam pun segera bersujud di depan sang ayah, setelah membuka kemeja yang dia kenakan.


"Tu-tujuh tahun lalu, Pa," jawab Liam terbata-bata.


"Lihatlah, bahkan bekasnya belum hilang." Roby menatap bekas luka memanjang pada tubuh sang putra.


Ada sekitar lima bekas luka cambuk yang tertinggal pada punggung Liam. Ya, dia mendapatkan hukuman itu setelah pulang dari kantor polisi. Roby adalah seorang pria kejam. Dia akan menghukum siapa pun tanpa ampun orang yang bersinggungan dengannya.


"Kenapa kamu mengulangi kesalahan itu?"


"A-aku ...."


Cambukan pertama mendarat keras pada punggung Liam. Lelaki itu mendesis menahan sakit. Ujung matanya basah karena menahan rasa perih akibat hukuman sang ayah.


"Aku sudah mengatakan, jalan menuju kedudukan tertinggi di negara ini sangat sulit! Kenapa kamu menodai ini semua dengan kelakuan bodohmu!" seru Roby sambil kembali mengayunkan cambuk ke punggung sang putra.


Kali ini Liam tidak dapat menahan lagi rasa sakit yang mendera punggungnya. Bagian belakang tubuh lelaki itu mulai memerah. Jemarinya mengepal kuat karena rasa sakit yang masuk sampai ke tulang.

__ADS_1


"Maaf, Pa. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Ampuni aku!" Liam merangkak mendekati kaki sang ayah dan mencium ujung sepatunya.


"Siapa yang menyuruhmu bergerak? Ha!"


Roby menendang tubuh sang putra hingga tersungkur. Tak sampai di situ, dia kembali mengayunkan cambuknya dua kali hingga mengenai kaki dan tangan Liam. Kali ini kulit lelaki berwajah oriental itu sobek. Darah segar mulai mengalir dari lengan yang terkena cambuk sang ayah.


Ajudan Roby memejamkan mata karena tak tahan melihat kekejaman atasannya itu. Dia kembali meringis membayangkan rasa sakit yang sedang diderita sang Walikota.


"Sia-sia sudah usahaku selama ini untuk membantumu duduk di kursi Walikota! Belum lagi nama baikki sebagai seorang Presiden akan ternodai karena kelakuan bodohmu itu!" Roby menatap tajam sang putra sambil menunjuknya penuh amarah.


"Segera selesaikan masalah ini dalam waktu satu minggu! Jika tidak, maka aku yang akan turun tangan sendiri untuk menghabisimu! Keluar dari sini!" teriak Roby.


Liam mulai bangkit dari atas lantai. Ajudan sang ayah pun membantunya berdiri dan memapahnya untuk keluar dari ruang kerja Roby. Setelah pintu ruangan itu kembali tertutup, Roby meraih ponsel dan mulai menghubungi seseorang.


"Siapkan mobil. Aku akan mendatangi Pengadilan Negeri siang ini!"


...****************...


Makutha menatap liontin yang terpajang cantik dalam kotak perhiasan. Siang ini dia akan menyerahkan kalung tersebut untuk Hasna. Lelaki tersebut memberikannya sebagai permintaan maaf kepada sang pujaan hati, karena telah menyinggungnya beberapa hari lalu.


Tak lama kemudian, ujung mata Makutha menangkap sosok Hasna. Perempuan itu terlihat begitu cantik dalam balutan blus berwarna ungu dan celana formal hitam. Hasna tersenyum tipis dan melambaikan tangan ke arah Makutha yang tersenyum lebar.


"Aku rasa dia sudah tidak marah lagi," gumam Makutha.


"Maaf, ya menunggu lama." Hasna menarik kursi kemudian mendaratkan tubuh di atasnya.


"Aku juga baru sampai. Mau makan apa?" Makutha menyodorkan daftar menu yang sengaja ditinggalkan pelayan.


"Ah, aku mau makan ini ...." Hasna menunjuk gambar menu pada buku tersebut.


Setelah itu Makutha memanggil kembali pelayan, dan mulai memesan beberapa makanan untuk dirinya sendiri juga Hasna. Setelah sang pelayan pergi, Hasna kembali menatap Makutha. Sebuah senyum penuh arti terukir di bibir perempuan cantik itu.


"Ada apa? Tumben ngajak aku makan siang?"


"Ah, itu ... sebenarnya ...."

__ADS_1


__ADS_2