Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 42. Negosiasi


__ADS_3

Rahang Jali mengeras, urat sekitar matanya terlihat begitu menonjol, dan napas lelaki itu pun menyapu permukaan wajah Makutha. Dia sedikit tersinggung dengan ucapan sang hakim.


Makutha memang tidak salah. Jali menerima uang dalam jumlah besar dari Liam. Namun, dia harus mempertahankan kredibilitasnya sebagai preman bermartabat. Lelaki bernama lengkap Rojali itu tentu saja gengsi untuk menerima tawaran dari Makutha.


"Aku memang menjual jasa premanisme demi uang! Tapi, aku tidak akan mengkhianati orang yang menyewa jasaku lebih dulu!" geram Jali.


"Oh, baiklah kalau begitu." Makutha sedikit mengerucutkan bibir sembari mengangguk-angguk dan mengusap dagunya.


"Kalau begitu, boleh aku bercerita sedikit mengenai masa laluku? Begini, anggap saja ini adalah sesi curhat seorang hakim kepada calon terdakwanya."


Keduanya pun kembali berbincang santai. Makutha mengungkapkan kisah masa lalunya. Kisah mengenai tragedi tujuh tahun lalu, yang membuatnya begitu berambisi memburu Geng Macan Tutul beserta Liam.


Setelah Makutha selesai bercerita. Jali menguap lebar. Sudut mata lelaki itu basah. Bukan karena sedih mendengar cerita Makutha. Akan tetapi, air mata itu keluar secara alami ketika dia menguap tadi.


"Cerita klasik yang membosankan!" seru Jali sambil tersenyum miring.


"Jadi, bagaimana?" tanya Makutha sambil tersenyum miring.


...****************...


Makutha menatap pantulan dirinya dari cermin yang menggantung pada dinding toilet. Hari ini adalah sidang putusan untuk kasus pembunuhan Tito. Sidang tersebut baru saja selesai beberapa menit yang lalu.


Majelis hakim memutuskan hukuman penjara 20 tahun kepada Hans setelah melalui musyawarah. Sebenarnya Makutha tidak puas dengan persidangan kali ini. Bukan karena hukuman yang dijatuhkan kepada Hans. Akan tetapi, dokter tersebut tidak mau menyebut nama Liam ketika penyidikan berlangsung.


"Sulit sekali menjangkaumu!" geram Makutha.

__ADS_1


"Bagaimana caranya agar mereka mengungkapkan nama Liam? Aku tak habis pikir dengan cara kerja Geng Macan Tutul."


Tak lama kemudian sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel milik Makutha. Dia mengerutkan dahi. Tanpa menunggu nanti, lelaki tampan itu langsung menggeser ke atas layar dari benda pipih yang dia genggam.


"Halo ...."


"Apa kabar, Pak Hakim Ketua?"


Pupil mata Makutha melebar. Dia hafal betul dengan suara serak dari lelaki di ujung telepon. Toni, sang ketua Geng Macan Tutul menghubunginya.


Rahang Makutha seketika mengeras karena kembali teringat, bagaimana lelaki tersebut mengayunkan balok kepada Abercio. Satu hal lagi yang membuat sang hakim tersebut geram. Rasa bersalah sama sekali tidak tampak pada wajah Toni saat ada di dalam tahanan.


"Ada urusan apa kamu?" tanya Makutha sinis.


"Urusan apa, ya? Lebih mudahnya aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Bisa dibilang ini sebuah pengakuan dosa."


"Temui aku di Kafe X dua jam lagi."


"Hei, Toni ...." Ucapan Makutha terputus karena Toni mengakhiri panggilannya.


Makutha mencoba menghubungi kembali lelaki tersebut. Akan tetapi, nomor ponselnya sudah tidak bisa dihubungi. Dia mencoba hingga beberapa kali dan hasilnya tetap sama.


"Sial!" umpat Makutha sembari memukul tepian wastafel di depannya.


...****************...

__ADS_1


Dua jam kemudian ....


Makutha melangkah masuk ke kafe yang dimaksud Toni. Lelaki itu menyapukan pandangan ke setiap sudut kafe. Namun, dia tidak menemukan sosok Toni.


"Jangan-jangan dia ngerjain aku?"


Makutha terus melangkah dan memilih untuk duduk di meja yang terletak pada sudut ruangan. Lelaki tersebut tidak ingin menjadi pusat perhatian, jadi memutuskan untuk duduk di tempat tersebut. Tak lama kemudian seorang pelayan menghampirinya.


"Maaf, saya menunggu teman saya," tolak Makutha karena mengira pelayan tersebut akan menyodorkan daftar menu.


"Anda sudah ditunggu Pak Toni. Mari ikuti saya, Pak," bisik pelayan tersebut kepada Makutha.


Makutha menatap sang pelayan sekilas kemudian mengangguk. Dia beranjak dari kursi dan mulai mengikuti langkahnya. Mereka berdua berhenti di depan ruangan bertuliskan angka tiga.


Ternyata kafe tersebut memiliki privat room yang bisa disewa. Sang pelayan mengetuk pintu, kemudian memutar tuasnya. Saat pintu sudah terbuka, Makutha pun melangkah masuk. Begitu melihat keadaan di ruangan tersebut darah Makutha seakan mendidih.


"Sialan kamu, Ton!" seru Makutha.


...****************...


Holaaa~


Semoga suka yaaa dengan alur cerita ini ❤


Sambil nunggu Pak Hakim update, mampir juga ke sini, yuk!

__ADS_1



__ADS_2