
"Wah! Cantik, Mbak!" seru Tiara ketika Hasna mencoba gaun pertamanya.
"Benarkah? Jadi malu," ucap Hasna sembari tersipu.
Namun, sesaat kemudian perempuan cantik itu terlihat kebingungan. "Makutha mana, Ra?"
"Oh, Mas Utha tadi pamit. Ada pekerjaan sebentar di pengadilan. Nanti mau nyusul ke sini kalau sudah selesai."
Raut wajah bahagia Hasna mendadak sirna. Wajahnya seakan diselimuti kabut. Bintang yang membaca suasana hati Hasna berubah tidak kondusif itu pun langsung menghampiri calon pengantin itu.
"Na, coba lagi yuk gaun yang lain! Nanti kita video-in buat ditunjukin ke Makutha. Gimana? Jadi, dia juga bisa nilai secara langsung kalau kalian ketemu!" seru Bintang dengan wajah berbinar.
"Iya, Tante." Hasna mengangguk sambil memaksakan senyum.
Hasna pun langsung masuk lagi ke kamar pas setelah Bintang membantunya mengambil video. Saat Hasna kembali lagi ke kamar pas, Diandra mendekati Tiara.
"Perempuan sama aja, ya? Sensitifnya bukan main!" gerutu Andra sembari melirik Tiara, berniat menyindir gadis itu.
Tiara mengacuhkan Andra, lalu meraih ponsel dari dalam tas, dan memilih untuk memainkan game dalam benda pipih tersebut. Andra tersenyum geli. Dia tak gentar untuk kembali menggoda teman kecilnya itu.
"Tuh kan, bener apa kataku? Cewek itu sensitifnya minta ampun!"
Tiara memutar bola mata kemudian mendengus kesal. Dia menghentikan permainan ponselnya kemudian melipat lengan di depan dada. Tak lupa Tiara melayangkan tatapan tajam ke arah Andra.
"Bisa nggak, mulut bawelmu itu diam? Laki kok cerewet! Sensi-sensi, sensi palamu!" umpat Tiara penuh emosi.
"Tuh, baru gitu aja sudah marah-marah. Apa namanya kalau bukan sensitif?"
Perdebatan itu pun berlangsung sampai fitiing baju selesai. Tiara terus melemparkan tatapan membunuh, dan Andra tidak berhenti mengoceh dan menjahili gadis itu. Barulah Tiara terlihat sedikit bersahabat saat keluar dari butik Bintang.
"Ra, kenapa? Asem banget mukanya?" tanya Hasna sambil tersenyum geli.
"Itu, Mbak! Si Andra ngatain kalau perempuan itu sensitif!" seru Tiara sembari mengerucutkan bibir.
"Lah, bukannya bener? Perasaan kita lebih sensitif daripada laki-laki. Perempuan itu apa-apa dikerjain pakai hati, makanya lebih sensitif. Beda sama laki-laki yang apa-apa pakai logika."
Tiara terdiam. Dia tidak ingin memperkeruh perasaannya dengan berdebat. Gadis itu memilih diam sambil memerhatikan ponsel.
__ADS_1
"Ra, kayaknya dompet Mbak jatuh di butik, deh. Bisa minta tolong ambilin?"
"Oke, Mbak."
Tiara pun segera beranjak dari halte dan masuk lagi ke butik. Di saat yang bersamaan Andra sedang menuju pintu keluar. Dia membawa dompet milik hasna di dalam genggaman.
Tiara langsung menengadahkan tangan berniat meminta benda itu dari Andra. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Andra yang sedikit kesal ingin memberi Tiara pelajaran. Lelaki itu tetap memegang erat dompet Hasna dan tidak mau memberikannya kepada Tiara.
"Mana dompet Mbak Hasna?" Tiara menggerakkan ujung jemarinya agar Andra mau menyerahkan dompet berwarna merah tua itu.
"Cium sini dulu, kalau mau ngambil!" Andra membungkukkan badan kemudian menunjuk pipinya sendiri.
"Ndra! Ayolah, jangan main-main! Kita bukan anak kecil lagi!" seru Tiara sambil berkacak pinggang.
"Justru karena kita bukan anak-anak lagi, cium aku!"
"Kampret bener, nih cowok!" seru Tiara kemudian mendekatkan bibirnya ke arah pipi Andra.
Andra sempat terbelalak. Namun, seiring jarang mereka yang semakin dekat dia memejamkan mata. Andra todak menyangka bahwa Tiara akan menciumnya. Lelaki tampan itu pun memejamkan mata.
"Dasar mesum! Wek!" Tiara menjulurkan lidah sambil menunjukkan jari tengahnya kepada Andra.
Andra pun melongo. Namun, sesaat kemudian tawanya pecah. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Tiara. Gadis itu masih sama seperti dulu. Tiara si gadis lugu yang begitu lucu dengan tingkah random-nya.
Setelah berhasil mengambil dompet dan kabur dari Andra, Tiara kembali ke halte bus. Namun, dia tidak menemukan Hasna di tempat itu. Tiara menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan calon kakak iparnya itu.
"Ke mana, sih Mbak Hasna? Jangan-jangan aku ditinggal!" gerutu Tiara.
Gadis manis itu pun segera merogoh ponsel dalam tasnya, dan menghubungi nomor Hasna. Lama sekali dia menunggu panggilannya diangkat. Tiara sampai mengulanginya berkali-kali untuk memastikan keberadaan Hasna.
Namun, begitu panggilannya diangkat, alangkah terkejutnya Tiara. Seorang lelaki dengan suara beratlah yang menjawab teleponnya, bukan Hasna.
"Siapa kamu?"
"Hai, Adik Manis."
"Nggak usah basa-basi! Kamu siapa? Tolong berikan teleponnya pada Mbak Hasna!" gertak Tiara.
__ADS_1
"Ah, bilang ke kakakmu itu, untuk menyusulku di markas Geng Macan Tutul! Aku mau mengajukan penawaran menarik untuknya."
"Siapa kamu?" tanya Tiara penuh emosi.
"Kamu masih bocah! nggak usah mau tahu urusan orang dewasa!" seru lelaki di ujung telepon kemudian tertawa terbahak-bahak.
Panggilan telepin pun dimatikan. Tiara terduduk lesu di halte bus. Dia menangis sejadi-jadinya. Rasa bersalah kini hinggap di hati gadis manis itu.
"Seandainya tadi aku lebih cepat lagi ambil dompet Mbak Hasna, pasti semua nggak akan terjadi!"
Tiara mengusap air mata yang terus membanjiri pipinya itu. Lalu dia menghubungi Makutha dan menceritakan semuanya. Jika waktu bisa diputar, dia akan lebih memilih untuk menjadi adik ipar pembangkang dengan menolak permintaan Hasna. Jika Tiara tahu hal buruk ini akan terjadi, dia tidak sudi mengambilkan dompet Hasna.
...****************...
"Kamu yakin ini bukan jebakan, Tha?" tanya Arjun sambil mengendarai mobil Makutha.
"Tiara nggak mungkin bohong, Pak."
"Masalahnya kamu diminta buat datang ke markas Geng Macan Tutul, Tha."
"Kita nggak akan tahu apa yang terjadi di sana kalau tidak melihatnya langsung. Aku harap Hasna baik-baik saja."
Arjun menarik napas panjang dan mengembuskan napas kasar. Dia kembali fokus dengan jalanan di depannya. Setelah mengendarai si kuda besi selama 30 menit, akhirnya mereka berdua sampai di markas Geng Macan Tutul.
Makutha langsung turun dari mobil dan beranjak menuju gerbang rumah besar itu. Seakan sudah mengetahui bahwa Makutha akan datang, dua orang penjaga yang ada di sana langsung membuka gerbang besi tersebut.
"Mari, ikuti saya!" ucap Marwan, penjaga berambut gondrong.
Makutha langsung mengikuti Marwan, berjalan di belakang lelaki itu. Namun, ketika Arjun hendak ikut masuk, dia ditahan oleh Wildan. Penjaga lainnya dengan kumis lebat.
"Maaf, Pak. Anda tidak diperkenankan memasuki markas. Hanya boleh Pak Makutha yang masuk."
"Aku ingin memastikan keamanan Makutha."
"Maaf, tetap tidak bisa."
Arjun akhirnya memilih untuk diam sejenak. Dia memikirkan cara agar bisa ikut masuk ke dalam markas tersebut. Arjun memutuskan untuk memakai cara halus terlebih dahulu, baru menggunakan cara kasar. Lelaki itu pun kembali ke mobil untuk mengelabuhi si penjaga markas.
__ADS_1