
Sepulangnya dari restoran, Makutha langsung menghubungi Hasna. Dia meminta perempuan cantik itu untuk waspada sesuai informasi yang diberikan Toni. Hari itu juga Makutha menyewa seorang bodyguard perempuan untuk menjaga keselamatan Hasna.
Makutha melajukan mobil dan berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Dia akan menemui Ruby (calon bodyguard Hasna). Setelah memarkirkan mobil, dia langsung menuju sebuah toko brand fashion ternama, tempat mereka mengadakan janji.
"Aneh, orang biasanya negosiasi di kafe ini minta di toko tas?" gumam Makutha sambil terus melangkah ke arah toko yang dimaksud Ruby.
Ketika baru sampai di ambang pintu toko, seorang petugas keamanan menghampirinya. Lelaki dengan pakaian safari berwarna hitam itu tersenyum lebar. Ia meminta Makutha untuk memindai barcode yang ada di depan toko.
"Tunggu sebentar, ya, Pak." Petugas tersebut meminta Makutha menunggu.
Tak lama kemudian, seorang pelayan perempuan menghampiri Makutha. "Mari, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya si pelayan ramah.
"Ah, sebenarnya saya ke sini untuk menyusul teman."
"Oh, baiklah. Bisa dihubungi terlebih dahulu temannya?"
Makutha pun meraih ponsel dalam saku celananya dan mulai menghubungi Ruby. Tak lama kemudian, panggilannya dijawab oleh calon bodyguard Hasna tersebut.
"Kamu di mana?" tanya Makutha.
"Aku ada di bagian tas wanita. Kemarilah."
__ADS_1
Setelah mengetahui keberadaan Ruby, Makutha langsung meminta si pelayan untuk mengantarnya ke konter tas. Begitu sampai di tempat itu, seorang perempuan dengan pakaian seksi dan sedikit terbuka menghampiri Makutha.
"Pak Makutha," sapa Ruby dengan senyum merekah.
Makutha mengerutkan dahi. Dia memindai setiap inci bagian tubuh Ruby. Rambut perempuan itu terlihat sangat terawat. Riasan wajah terlihat begitu mencolok dengan bulu mata palsu, serta lipstik berwarna merah menyala. Belum lagi pakaian terusan yang hanya menutupi setengah pahanya.
Ruby terlihat seperti gadis manja yang suka foya-foya, bukan bodyguard. Penampilan perempuan itu lebih mirip seseorang yang akan pergi ke pesta, daripada berbelanja.
"Pak?" panggil Ruby sembari melambaikan tangan di depan wajah Makutha.
Makutha mengerjap kemudian memalingkan muka. Ruby terkekeh melihat sikap lelaki di hadapannya itu. Baginya Makutha terlihat begitu manis.
"Iya."
"Baiklah kalau begitu, saya tinggal. Permisi," pamit si pelayan sambil tersenyum ramah.
Ruby tidak lagi memedulikan Makutha. Dia kembali mendekati hambalan kaca yang menempel pada dinding. Perempuan itu berhenti sebentar lalu mengamati satu per satu tas yang terpajang di sana.
"Bagaimana soal bayaran yang kamu minta?" tanya Makutha.
"Bagus yang mana? Yang ini atau ini?" Bukannya menjawab pertanyaan Makutha, Ruby malah menunjukkan dua buah tas kepadanya.
__ADS_1
"Ini." Makutha menjawab asal sambil menunjuk sebuah tas berbentuk persegi berwarna biru tua.
"Oke, yang ini, Kak." Ruby menyerahkan tas tersebut kepada pelayan.
Setelah itu, Ruby kembali berjalan ke arah sepatu. Dia kembali meminta pendapat dari Makutha. Semua terus berulang. Ruby memilih dua produk dengan jenis yang sama, dan meminta Makutha memilih salah satu.
Sebenarnya Makutha sangat kesal. Namun, dia mencoba tetap bersabar. Mengikuti Ruby ke sana ke mari dan memilih beberapa benda untuknya. Setelah hampir satu jam berkeliling toko, akhirnya mereka semua berjalan menuju kasir.
"Totalnya 124 juta, Kak," ucap kasir yang melayani mereka.
Ruby balik badan, kemudian tersenyum lebar kepada Makutha. "Bayar!" seru Ruby sambil tersenyum miring dan melipat lengan di depan dada.
Makutha terbelalak. Dia tak menyangka perempuan itu justru menguras dompetnya. Lelaki tersebut menggerutu dalam hati, tetapi tetap membayar semua belanjaan Ruby.
Setelah pembayaran selesai, dia memberikan paperbag berisi belanjaan kepada Ruby. "Nih!"
"Thanks, Beb," ucap Ruby sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Aku benar-benar terkesan. Kamu mampu menahan emosimu dengan baik. Jadi, aku putuskan untuk bekerja kepadamu tanpa imbalan!"
"Apa?"
__ADS_1