Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 70. THE END


__ADS_3

Satu bulan kemudian ....


Persidangan Liam sudah selesai. Lelaki itu mendapatkan hukuman sesuai dengan apa yang dia perbuat. Namun, kasus Roby masih dalam proses penyidikan.


Ternyata lelaki yang sudah dicopot jabatannya sebagai kepala negeri itu, memiliki daftar hitam yang sangat banyak. Dia melakukan banyak tindakan ilegal yang berhubungan dengan penyuapan, pemerasan, dan pencemaran nama baik.


Semua orang yang pernah menjadi korban dari sang mantan presiden pun angkat bicara satu per satu. Kondisi keamanan negara itu jauh lebih kondusif daripada sebelumnya. Semua warga mulai merasa aman dan nyaman setelah kepala negara mereka tertangkap oleh pihak berwajib.


Di tengah kejadian yang sangat menggegerkan publik itu, sebuah pesta besar digelar di hotel bintang 5 Kota Solo. Ya, Makutha dan Hasna memilih untuk mengadakan pesta pernikahan di kota asal keduanya. Makutha juga meminta pihak pengadilan untuk memindahkannya ke kota tersebut.


"Mbak, sudah siap? Mas Utha udah selesai mengucap ijab kabul."


Hasna menoleh ke arah Tiara kemudian mengangguk pelan dan beranjak dari sofa. Dia berjalan menuju venue dengan digandeng oleh Tiara. Perempuan itu tampak begitu cantik dengan busana adat Jawa.


Hasna memakai atasan berbahan beludru hitam, dengan kain batik membalut tubuh bagian bawahnya. Kepala perempuan cantik itu tetap tertutup dengan hiasan cunduk mentul berjumlah tujuh buah. Aroma bunga melati dan kantil seakan mengelilingi Hasna karena rangkaian bunga tersebut turut mempercantik kepalanya.


Saat sampai di kursi pelaminan, Hasna duduk di sana. Rangkaian upacara adat pun dimulai. Di awali dengan upacara panggih, hingga sungkeman. Semua berjalan sangat khidmat.


"Na, ini beneran kamu?" bisik Makutha.


Sontak Hasna menoleh dan mengerutkan dahi. "Maksudmu apa, Tha?"


"Kok beda, ya? Kamu beneran Hasna yang aku kenal?"


Hasna melotot. Bibir perempuan itu pun maju, dan tangannya mengepal bersiap mendaratkan pukulan ke atas kepala Makutha. Akan tetapi, Makutha langsung menggenggam pergelangan tangan sang istri.


"Hey, berantemnya nanti saja kalau udah masuk kamar," bisik Makutha sembari tersenyum miring.


"Kita lihat siapa nanti yang menang!" tantang Hasna.


Dua otak manusia itu berbeda isi. Bertengkar dalam otak Makutha adalah sebuah kiasan, tetapi Hasna menanggapinya dengan bertengkar yang sesungguhnya. Dia mengira keduanya akan perang bantal atau semacamnya.

__ADS_1


Setelah rangkaian upacara pernikahan selesai, Hasna dan Makutha langsung beringsut dari pelaminan. Keduanya langsung masuk ke salah Suite Room yang sudah mereka pesan.


Makutha langsung masuk ke kamar mandi dan melepaskan seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya. Sedangkan Hasna, masih di depan meja rias sambil menatap pantulan dirinya dari cermin.


"Benar-benar bukan seperti aku." Hasna tersenyum lebar karena puas dengan hasil riasan MUA yang dia pilih.


Hasna mulai melepaskan cundul mentul, dari kepalanya. Setelah benda itu terlepas semua, Hasna juga melepas rangkaian bunga melati yang melekat di luar jilbabnya. Dia pun mulai membersihkan make-up yang melekat pada wajah cantiknya.


Begitu selesai membersihkan wajah, di saat yang bersamaan Makutha keluar dari kamar mandi. Sontak Hasna menoleh ke arah Makutha. Dia menjerit histeris, lalu menutup matanya dengan kedua telapak tangan.


"Pakai bajumu, Tha! Mataku ternodai!" teriak Hasna.


"Hei, ini aku keluar mau ambil baju ganti!" Makutha berusaha membela diri.


"Buruan!" seru Hasna tampa melepaskan telapak tangannya dari wajah.


"Iya, bawel!" Makutha langsung meraih tas yang sudah disiapkan oleh sang ibu, dan mengambil kaos oblong serta celana pendek.


"Sialan, Makutha! Masa keluar kamar mandi pakai handuk doang! Bikin kaget saja!" Hasna membuang napas kasar lalu mulai melepas jilbabnya.


Tak lama kemudian, Makutha kembali keluar dari kamar mandi. Kini giliran lelaki itu yang terkejut. Sudah lama dia mengenal Hasna, dan melihatnya hampir setiap waktu. Namun, baru sekarang Makutha melihat rambut indah perempuan itu.


Hasna memiliki rambut hitam legam dan berkilau, layaknya model iklan sampo. Rambutnya panjang, hampir sepinggang, dan sedikit ikal di bagian ujung. Hasna yang menyadari kalau Makutha sedang menatapnya pun tersenyum geli.


"Kenapa? Kamu terpesona, 'kan dengan kecantikanku yang paripurna?" Hasna tersenyum miring.


"Nggaklah! Siapa bilang! Kaget aku lihat rambut panjangmu! Macem White Lady yang suka cekikikan di malam hari!"


"Ah, yang bener?" Hasna beranjak dari kursi kemudian melangkah ke arah Makutha.


Namun, sialnya Hasna lupa kalau masih memakai kain batik yang membuatnya kesulitan berjalan. Dia langsung kehilangan keseimbangan karena terlalu lebar melangkah. Beruntungnya, Makutha menangkap tubuh ramping itu dengan sigap.

__ADS_1


"Mau menggodaku? Tanpa melakukannya pun sebenarnya aku sudah tergoda, Na." Sebuah senyum lebar terukir di bibir tebal Makutha.


Lelaki tersebut langsung menggendong Hasna ala bridal. Hasna pun mengalungkan lengannya pada leher sang suami. Tatapan keduanya beradu. Debaran jantung mereka semakin kencang, dan memompa darah tiga kali lebih cepat.


Makutha membaringkan Hasna di atas ranjang kemudian mulai menyentuh kancing atasan sang istri. Akan tetapi, Hasna menahannya. Dia masih sangat canggung dan malu.


"Tha, a-aku mandi dulu, ya?" Hasna mendorong pelan tubuh Makutha kemudian berjalan secepat yang dia bisa menuju kamar mandi.


Makutha terkekeh melihat tingkah Hasna yang menurutnya sangat manis. Akhirnya dia memutuskan untuk merebahkan tubuh di atas ranjang sembari menunggu sang istri selesai mandi. Tanpa terasa kini Makutha sudah berpindah ke alam mimpi.


Tiga puluh menit berlalu, Hasna membuka sedikit pintu kamar mandi, dan mengintip dari celahnya. Dia ingin memastikan Makutha sedang apa. Hasna membuang napas lega. Perempuan itu pun melangkah keluar kamar mandi dengan mengendap-endap.


"Tha, tidur?" tanya Hasna dengan suara lembut sembari menggerakkan telapak tangan di depan wajah Makutha untuk memastikan sang suami sudah tidur.


Tidak ada pergerakan di sana. Hanya terlihat dada Makutha kembang kempis karena bernapas. Hasna tersenyum lembut sembari menatap Makutha penuh cinta.


"Tha, takdir memang sangat aneh. Aku masih ingat bagaimana dulu kita bertemu pertama kali. Kenangan buruk yang akhirnya berujung sangat manis." Hasna tersenyum kecut teringat bagaimana si mulut pedas Makutha mengatainya bisu dan tuli.


"Tha ...." Hasna menghentikan ucapannya sejenak. Dia menatap wajah Makutha yang terlihat begitu tenang.


"Aku cinta sama kamu," ucap Hasna seraya tersipu malu.


Wajah Hasna semakin memerah ketika Makutha tiba-tiba membuka mata. Hasna merasa tertipu, karena ternyata Makutha masih terjaga.


"Aku juga cinta kamu, Na."


"Loh, Tha. Kamu ...." Ucapan Hasna mendadak berhenti karena Makutha mendaratkan ciumannya pada bibir istri cantiknya itu.


Perlahan tapi pasti, keduanya saling bertukar rasa. Rasa yang selama ini tersimpan rapi selama bertahun-tahun. Rasa yang tidak pernah mereka ungkapkan dengan kata-kata. Rasa yang bahkan jarang sekali keduanya perlihatkan kepada satu sama lain. Namun, Hasna dan Makutha dapat merasakan perasaan itu hanya dengan saling menatap mata satu sama lain.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih, sudah mengikuti SGSH sampai akhir. Setelah ini bakal ada Novel baru untuk event Cinta Yang Tak Direstui. Mohon dukungannya. Sayang kalian❤❤❤


__ADS_2