
Liam menatap puluhan wartawan yang sedang memadati halaman kantor Walikota. Kamera para pemburu berita tersebut bersiap mengambil gambar, serta merekam semua yang hendak dia ucapkan.
Asisten pribadi Liam berada di samping kiri, mengamati setiap gerak-gerik wartawan dan orang yang hadir dalam konferensi pers. Dia tidak ingin ada hal tidak diinginkan mengancam keselamatan atasannya itu.
Jam menunjukkan pukul 18:00 saat konferensi itu dimulai dan disiarkan melalui beberapa portal berita online. Liam berniat mengakui apa yang dia perbuat kepada Farhan. Lelaki tersebut menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Saya akan mengatakan semuanya secara jujur dan terbuka dalam konferensi pers malam ini. Memang benar saya meminta seseorang untuk meneror BRIPDA Farhan."
Awalnya para wartawan saling berseru karena terkejut. Namun, tak lama kemudian mereka semua saling bersahutan mengajukan pertanyaan kepada Liam. Suara mereka sungguh mengganggu pendengaran Liam, sehingga membuat sang Walikota mengeluarkan suara dengan nada tinggi.
"Bisa kalian diam dulu!" teriak Liam.
Mata lelaki tersebut melotot dengan rahang mengeras. Napasnya memburu karena terganggu dengan pertanyaan awak media yang ada di depan gedung kantornya itu.
"Saya tidak menerima pertanyaan. Saya akan mengungkapkan semuanya secara jelas kepada kalian. Saya rasa apa yang akan saya katakan hari ini bisa mengobati rasa penasaran publik, serta mengungkapkan fakta yang terjadi."
Liam menatap semua wartawan yang hadir dari barisan depan hingga ke belakang. Sama sekali tidak ada keraguan pada setiap kalimat yang dia ucapkan. Liam mulai mengungkapkan alasan di balik aksi teror yang dilakukan kepada Farhan.
"Saya melakukan hal itu, karena diam-diam BRIPDA Farhan dan juga Hakim Makutha telah bekerja sama untuk menjatuhkan saya. Saya merasa tertekan dengan ulah mereka. Awalnya saya melakukan hal ini agar Farhan dan Makutha berhenti mengusik pekerjaan yang saya lakukan untuk kota ini."
Lampu flash kamera terus berkedip ketika mengambil potret sang walikota. Tidak sampai di situ, Liam juga mulai memutar balikkan fakta mengenai kejadian tujuh tahun lalu. Pernyataan lelaki tersebut tentu saja membuat awak media kembali terkejut.
"Hakim yang sekarang ini kita kenal dengan kebajikannya itu, pernah membunuh sahabatnya sendiri dalam aksi tawuran tujuh tahun lalu. Dia menghasut aku dan beberapa teman lain, lalu mengompori Geng Macan Tutul untuk saling serang." Liam mengungkapkan semuanya tanpa ragu.
Hal itu tentu saja membuat sebagian besar wartawan percaya. Mereka saling tatap dan berbisik. Sebagian dari mereka menelan mentah-mentah ucapan Liam demi kinerja yang dianggap bagus oleh kantor tempat mereka bekerja. Namun, ada juga yang masih meragukan ucapan Liam yang tidak berdasar itu.
"Melalui konferensi pers ini, saya turut meminta Pak Hakim Makutha untuk mengakui juga apa yang sudah dia perbuat di masa lalu. Serta mempertanggungjawabkan semuanya."
Di lain sisi, Makutha yang sedang menyaksikan siaran langsung itu menggeram. Amarah kini memenuhi dadanya. Jemari lelaki tersebut mengepal kuat menahan gejolak emosi yang kini menguasai.
"Sialan! Bagaimana bisa dia memutar balikkan fakta!" seru Makutha sambil memukul roda kemudinya.
__ADS_1
Makutha langsung mematikan siaran langsung konferensi pers tersebut. Lelaki itu pun langsung tancap gas menuju markas Geng Macan Tutul. Ketika sampai di depan gerbang rumah mewah yang dijadikan markas Geng Cantul, Makutha keluar dari mobil kemudian memencet bel.
Tak lama kemudian seorang pria berkepala botak keluar menghampirinya. Lelaki tersebut menautkan kedua alisnya. Dia meneliti penampilan Makutha dari ujung rambut hingga kaki.
"Bisa bertemu dengan Toni?"
"Ada urusan apa?"
"Saya ...." Ucapan Makutha menggantung di udara karena lelaki di hadapannya mendadak menerima telepon.
Makutha pun terpaksa menunggu lelaki tersebut selesai bicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Sembari menunggu, dia mengamati situasi sekitar markas. Meskipun berada di perumahan elit, bangunan markas ini terlihat sedikit lebih berbeda.
Arsitekturnya mirip bangunan mewah jaman penjajahan Belanda. Padahal rumah lain terlihat modern dengan desain minimalis. Jalanan depan markas tersebut juga terasa begitu lengang. Seharusnya jam segitu di kota besar ini masih banyak aktivitas warga di luar rumah.
"Mari, ikuti saya!" ajak lelaki tersebut.
"Baiklah, saya kunci mobil dulu." Makutha kembali ke mobil dan mengambil senjata api, lalu menyusupkannya ke dalam kemeja.
Makutha juga tidak lupa untuk membawa sebuah kamera tersembunyi lengkap dengan perekam suara. Dia menyiapkan semua itu untuk berjaga-jaga karena nekad memasuki markas Geng Macan Tutul.
Entah mengapa hakim tampan tersebut mencurigai pemandangan itu. Bagi Makutha, gundukan tanah dengan tanaman mawar di sana terlihat sangat mencurigakan. Semua anggota Geng Macan Tutul pasti laki-laki. Bagaimana mungkin ada yang menanam mawar putih dan merawatnya dengan baik?
"Tunggu di sini." Lelaki tersebut meminta Makutha menunggu.
Makutha mendaratkan bokongnya ke atas kursi taman yang ada di tepi kolam ikan. Dia kembali mengamati situasi rumah tersebut penuh rasa curiga. Banyak sekali pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya.
Ketika sedang bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba seseorang memukul tengkuk Makutha. Telinga lelaki tersebut berdengung. Pandangannya kabur dan kepala Makutha terasa berdenyut.
Makutha pun tersungkur di atas rerumputan yang sedikit basah. Dia melihat seseorang mendekat. Dari sepatu yang ia kenakan, bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah perempuan.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah!"
__ADS_1
Mendengar suara perempuan itu membuat Makutha merapatkan gigi. Dia kenal betul siapa pemilik suara tersebut. Akan tetapi, kesadarannya perlahan menghilang. Mata lelaki tersebut terasa berat, dan dia pun kehilangan kesadaran.
...****************...
Liontin dan Tiara memutuskan untuk menyusul Hasna di Rumah Sakit. Keduanya langsung menemui dokter cantik tersebut. Hasna terlihat sedang menyiapkan perlengkapan bayi Maudy. Dokter mengijinkan bayi mungil tersebut pulang besok pagi, karena kondisi kesehatannya tidak ada masalah.
"Mbak Hasna!" panggil Tiara sambil berlari ke arah Hasna dan menghambur ke pelukannya.
"Ara! Kok ke sini? Nggak istirahat saja di rumah?"
"Nggak ah, Mbak. Bosan aku!"
Hasna melonggarkan pelukannya kemudian mengusap lembut puncak kepala sang adik. Dia tersenyum lembut kemudian menatap Liontin yang masih berdiri di ambang pintu.
"Bunda, aku ...." Ucapan Hasna dipotong oleh Liontin.
"Kamu benar-benar membuat Bunda jantungan! Sebelum kecelakaan, bahkan kita masih saling bicara. Bunda nggak tahu bagaimana rasanya hati ini jika kamu ...." Liontin menghentikan ucapannya dan mulai mengeluarkan isak tangis.
"Sssttt ... Bunda ngomong apa, sih?" Hasna berjalan mendekat, lalu merangkum wajah sang ibu angkat.
"Bagaimana ibu nggak down. Makutha menelepon Bunda dan mengatakan kalau kamu mengalami kecelakaan. Padahal belum genap satu jam kita mengobrol melalui sambungan telepon!" Suara Liontin bercampur dengan tangis, sehingga Hasna membutuhkan fokus lebih agar mengerti ucapannya.
"Maaf, Bun. Maaf karena sudah membuat Bunda khawatir. Tapi, sekarang semua baik-baik saja bukan? Aku selamat, walaupun salah satu temanku harus kehilangan nyawa."
Kali ini Hasna bisa merasakan apa yang pernah dirasakan Makutha ketika kehilangan Abercio. Rasa bersalah langsung bertengger di hatinya. Walaupun semua yang terjadi kemarin lusa bukanlah kesalahannya, tetapi tetap saja dia merasa bersalah.
Hasna berpikir bahwa dia yang mengendarai mobil menuju rumah sakit, jadi tidak bisa membawa Maudy dengan selamat sampai tujuan. Andaikan dia memanggil ambulans atau meminta bantuan Makutha, mungkin saja semua ini bisa dicegah. Namun, takdir Tuhan tidak bisa dilawan.
"Bun, kok aneh, ya? Ara coba telepon Mas Utha nggak bisa!" seru Tiara, sehingga membuat Hasna dan Liontin menoleh ke arahnya.
"Masa? Bukannya dia janji mau datang ke sini buat ajak kita makan malam?" tanya Liontin keheranan.
__ADS_1
"Iya, makanya. Ara coba hubungi Mas Utha, takutnya dia lupa. Tapi, ponselnya malah nggak aktif!" seru tiara sembari bersungut-sungut.
Mereka bertiga saling tatap. Tidak biasanya Makutha seperti itu. Selama ini lelaki tersebut tidak pernah mematikan nomor ponsel khusus keluarga. Dia selalu disiplin mengisi daya baterai sebelum bepergian, agar ponsel tetap menyala. Kejanggalan malam itu tentu saja membuat mereka semua keheranan dan memikirkan banyak hal buruk.