
"Tito! Minggir!" teriak Makutha.
Makutha terbelalak ketika mendapati Tito hanya terpaku saat sebuah truk mendekat. Lelaki itu segera berlari ke arah Tito dan menarik lengannya. Keduanya saling berguling beberapa kali, dan berakhir dengan posisi terlentang secara bersisihan.
"Kamu gila? Jadi maksudnya nggak mau mati sia-sia di penjara itu ini? Kamu lebih memilih mati ditabrak truk? Ha?" tanya Makutha sambil berusaha mengatur napasnya.
Tito masih terdiam. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Terlambat satu detik saja Makutha menariknya, maka ia akan berakhir dengan menyandang gelar almarhum di depan nama.
Makutha beranjak dari tanah, kemudian membersihkan kotoran yang menempel pada tubuhnya. Setelah itu hakim tampan tersebut mengulurkan tangan.
"Ayo, kita bicarakan semuanya baik-baik."
Tito hanya menatap uluran tangan Makutha kemudian memalingkan wajahnya. Gengsi lelaki tersebut terlalu besar hanya untuk mengakui kebaikan Makutha.
"Ayolah!" Makutha menarik paksa lengan Tito hingga lelaki itu berdiri tegap.
Keduanya pun berjalan beriringan kembali ke rumah Tito. Sesampainya di rumah tersebut, Maudy sedang berdiri di teras sambil mondar-mandir. Perempuan hamil tersebut terlihat panik sembari berulang kali melirik ponsel yang ia genggam.
"Mas! Kamu ke mana aja?" tanya Maudy panik ketika melihat Tito berjalan ke arahnya.
"Ah, tadi aku ...." Tito menggantung ucapan di udara karena Makutha memotongnya.
"Tadi aku minta ditemenin beli nasi goreng di warung depan gang, Mbak. Maaf sudah membuatmu khawatir."
__ADS_1
"Ah, i-iya! Mas tadi mau bangunin kamu kasihan. Jadi langsung nyelonong pergi gitu aja," bohong Tito sembari mengusap tengkuknya.
"Habisnya pintu depan sama belakang terbuka! Aku kan jadi khawatir! Lain kali kirim pesan, kalau mau keluar rumah. Biar aku nggak panik!" seru Maudy sambil mengerutkan bibir. Mata perempuan itu pun mulai berkaca-kaca.
Tito berjalan mendekati Maudy, kemudian memberikan sang istri sebuah pelukan agar dia tenang. Makutha tersenyum tipis ketika melihat pasangan suami istri tersebut berpelukan. Dia jadi berpikir satu hal. Sejahat-jahatnya Tito, ternyata dia memiliki sisi baik yang tak terlihat orang lain.
"Temennya ajak masuk dulu, Mas. Biar aku buatkan kopi."
"Ah, nggak usah repot-repot mbak. Aku nggak minum kopi, terima kasih," tolak Makutha sopan.
"Baiklah kalau begitu. Aku masuk lagi ke dalam ya, Mas," pamit Maudy kepada sang suami sambil tersenyum lembut.
Tito mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Tak lupa dia mencium puncak kepala sang istri, sebelum perempuan itu masuk lagi ke kamarnya. Setelah memastikan Maudy masuk ke kamar, Makutha kembali membuka pembicaraan.
"Kita duduk dulu sebentar."
Tito melangkah menuju kursi yang ada di teras rumah, kemudian duduk di atasnya. Makutha pun duduk di kursi kosong satunya.
"Sebelumnya aku berterima kasih kepadamu karena sudah menyelamatkan aku tadi. Mengenai menyerahkan diri kepada kepolisian ... jika kamu menjamin aku akan baik-baik saja, aku akan menyerahkan diri besok."
"Aku pastikan kamu akan baik-baik saja. Aku memiliki beberapa koneksi di Polres. Jadi aku bisa meminta tolong kepada mereka untuk menjagamu lebih ketat."
"Baiklah. Tapi, bagaimana dengan Maudy? Dia pasti akan terpukul jika mengetahui hal ini." Tito tertunduk lesu sambil meremas jari-jarinya sendiri.
__ADS_1
"Ah, aku akan memberimu kesempatan untuk menjelaskan kepadanya. Besok aku dan Hasna akan ke sini untuk menjemputmu serta Ferdi." Makutha mencoba untuk meyakinkan Tito.
"Oya, untuk keamanan istrimu. Sementara dia akan tinggal bersama Hasna. Aku tidak tahu seberapa banyak mata dari Geng Macan Tutul. Tapi, sementara waktu aku akan menyewa sebuah unit apartemen dengan sistem keamanan tinggi. Dia akan tinggal bersama Hasna di sana."
"Tha, kamu sudah mempersiapkan semuanya?"
"Iya, aku mempersiapkan semua ini karena memikirkan banyak kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi."
"Tha, kenapa kamu tidak membunuh kami saja satu per satu? Kenapa kamu harus membuang waktu untuk balas dendam kepada kami dengan cara seperti ini?" tanya Tito dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya ingin menghukum kalian sesuai dengan hukum yang berlaku. Jika aku membunuh kalian, bukankah aku sendiri yang akan rugi? Aku rasa pepatah nyawa harus dibayar nyawa tidaklah selalu tepat." Makutha menatap langit gelap di atasnya sambil tersenyum tipis.
"Aku memang memiliki dendam kepada kalian. Tapi, aku masih menghargai nyawa seseorang. Jika tidak, bisa saja aku membiarkanmu tertabrak tadi." Makutha kembali menatap Tito sembari menaikkan satu alisnya.
"Terima kasih, Tha."
"Baiklah, sampai jumpa besok." Makutha beranjak dari kursi, kemudian masuk ke mobilnya.
Tito mengangguk sekilas. Lelaki itu tetap ada di teras rumah sampai mobil Makutha hilang dari pandangannya. Setelah itu, dia kembali masuk ke kamar.
Ternyata Maudy masih terjaga. Perempuan itu duduk bersandar pada tembok sambil menatap Tito penuh tanya. "Mas, siapa laki-laki tadi?"
Tito mendekati sang istri kemudian menggenggam jemari sang istri sambil berkata, "Sebut saja dia Sang Dewa Penyelamat."
__ADS_1