
"Aku menyerah." Jali mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.
Makutha dan juga Farhan perlahan mendekat ke arah lelaki tersebut. Farhan mengeluarkan senjata apinya untuk berjaga-jaga. Makutha pun ikut siaga dengan terus memfokuskan pandangannya kepada Jali.
Farhan mulai merogoh saku jaketnya dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya terus menodongkan pistol ke arah Jali. Dia mengeluarkan surat penangkapan yang dibawa ketika mampir ke Polsek sebelum pergi tempat tersebut.
"Saudara Rojali, Anda ditangkap karena tuduhan pengancaman!"
Jali hanya tersenyum miring. Lelaki itu menurunkan tangan kemudian mendekat ke arah Farhan. Hal itu tentu saja membuat sang polisi cemas.
Farhan melepaskan tembakan ke udara sambil berteriak, "Berhenti, dan tetap di tempat!"
Farhan kembali menodongkan pistol ke arah Jali, kemudian memasukkan kembali surat penangkapan ke dalam saku jaket. Bukannya berhenti, Jali malah tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya sampai bergetar karena tawa yang pecah. Lelaki tersebut mengulurkan kedua tangan ke depan dan terus berjalan mendekati Farhan.
"Mana borgolmu? Ayo tangkap aku dan bawa ke penjara!"
"Kurasa lelaki ini sudah gila," gumam Makutha.
__ADS_1
"Berhenti aku bilang!" seru Farhan sambil melangkah maju.
Jali masih tertawa cekikikan. Lelaki tersebut sampai mengeluarkan air mata. Baginya adegan kali ini benar-benar seperti lelucon.
"Apa kalian bodoh? Mudah sekali dipermainkan oleh lelaki brengsek itu!"
"Lelaki brengsek siapa?" Makutha mengerutkan dahi.
"Jika aku mengatakan semua, berapa banyak imbalan yang akan aku dapatkan?" tanya Jali diikuti tawa yang kembali meledak di ujung ucapannya.
"Memangnya, kamu dapat berapa dari dia?"
Ketika tinggal berjarak satu langkah dengan Jali, Farhan langsung meringkus lelaki tersebut. Sialnya Jali berhasil menghindar. Kini keadaan berbalik, dia mencekal pergelangan tangan Farhan dan memelintirnya.
"Kemarikan borgolmu!" Jali merebut borgol yang ada di dalam saku celana Farhan.
Makutha hanya menatap keduanya dari kejauhan. Dia ingin tahu apa yang akan Jali lakukan. Tanpa mereka duga, lelaki tersebut memborgol pergelangan tangannya sendiri. Makutha langsung tersenyum lebar karena merasa geli melihat sikap aneh Jali.
__ADS_1
Sedangkan Farhan hanya bisa melongo. Sepanjang sejarah menjadi seorang polisi, baru kali ini ada penjahat yang memborgol dirinya sendiri. Jali menyodorkan tangan kepada Farhan, dan dia pun di bawa ke mobil Makutha.
"Kamu yang bawa mobil, aku mau ngobrol sedikit sama Bang Jali." Makutha melemparkan kunci mobilnya kepada Farhan.
Farhan pun dengan sigap menangkapnya dan mengacungkan jempol. Makutha membukakan pintu untuk Jali, dan meminta lelaki itu masuk ke mobil. Setelah mereka bertiga sudah memakai sabuk pengaman, Farhan langsung tancap gas ke kantor polisi.
"Bang, mau rokok?" Makutha menawarkan sebatang rokok kepada Jali.
"Nggak, kita lagi di mobil. Nanti aja," tolak Jali sopan.
"Aku terkejut, lihat Abang ngotot buat ditangkep. Kalau penjahat lain pasti maunya kabur dan menghindar dari hukuman."
"Memangnya kalau kabur bikin kita terbebas dari segala tuntutan? Nggak 'kan?" Bang Jali tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata.
"Apa Liam yng nyuruh Abang buat teror Farhan?" tebak Makutha tanpa basa-basi.
Jali langsung terdiam. Senyumannya lenyap seketika. Lelaki itu pun membuang pandangan ke luar jendela. Makutha tersenyum miring tebakannya benar. Lagi-lagi dalangnya Liam.
__ADS_1
"Katakan, berapa yang dia berikan kepadamu. Aku akan membayarkannya lebih banyak lagi," bisik Makutha.
"Kamu menghinaku?" Rahang Jali mengeras, urat sekitar matanya terlihat begitu menonjol, dan napas lelaki itu pun menyapu permukaan wajah Makutha.