
Tak lama setelah Hasna pergi, Tiara berpamitan kepada sang ibu. Dia mengatakan bahwa ingin menemui salah seorang teman. Liontin pun mengijinkan Tiara pergi tanpa rasa curiga sedikit pun.
Gadis itu langsung memesan taksi online dan mendatangi alamat yang tertera pada kartu nama pencopet yang dia temui beberapa waktu lalu. Hanya membutuhkan waktu 30 menit dari apartemen untuk bisa sampai di kediaman lelaki tersebut.
"Wah, bagus juga rumahnya untuk ukuran seorang pencopet!" seru Tiara sambil berdecak kagum.
Tiara langsung mendekat ke arah pintu pagar dan memencet bel yang ada di sana. Seorang perempuan paruh baya membukakan pintu pagar dan mengamati gadis itu penuh tanya.
"Siang, Bu. Apa benar ini rumah Mas Albert?" tanya Tiara sopan.
"Benar, Dek. Ada keperluan apa ya, ke sini?"
"Ah, ini. Saya mau mengembalikan dompet Mas Albert." Tiara menunjukkan dompet Albert kepada perempuan di hadapannya.
Perempuan itu hendak meraih dompet tersebut, tetapi Tiara menariknya lagi. "Saya mau memberikan dompet ini langsung kepada Mas Albert."
"Saya ini pembantu kepercayaan Pak Al. Nama saya Imah. Boleh titip saya, Dek. Nanti biar saya sampaikan kepada Pak Al."
"Nggak mau!" Tiara bersikukuh ingin tetap memberikan dompet itu langsung kepada Albert.
Tiara melakukan hal itu bukan karena tidak percaya kepada Bi Imah. Akan tetapi, tujuan utama Tiara datang ke sana adalah untuk bertemu dengan Albert. Wajah Imah terlihat semakin kesal.
Akhirnya, ART Albert itu mengijinkan Tiara masuk. Dia segera menghubungi Albert dan memberitahukan semua kejadian ini kepadanya. Perempuan paruh baya itu juga memotret Tiara diam-diam dan mengirimkannya kepada sang majikan.
Usai menghubungi sang majikan, Imah kembali menghampiri Tiara. Dia menawarkan minuman kepada gadis berpenampilan cupu tersebut.
"Mau minum apa, Dek?"
"Susu coklat, Bi. Kalau ada sama roti panggang selai coklat juga boleh, aku belum makan siang," kata Tiara tanpa rasa malu.
Imah berdecak kesal mendengar permintaan gadis di hadapannya itu. Dia menggeleng kemudian balik kanan menuju dapur. Sambil menunggu susu coklat kesukaannya, Tiara mengamati seisi ruang tamu.
Ada beberapa foto yang menggantung pada dinding ruangan tersebut. Selain itu, terdapat banyak piala serta piagam penghargaan terpajang di dalam sebuah lemari kaca. Tiara beranjak dari sofa dan mulai mengamati satu persatu piagam penghargaan itu.
"Juara 1 lari maraton. Wah, aku pun juara 1 lari dari kenyataan! Sepertinya kami berjodoh!" seru Tiara usai mengeja tulisan yang terukir pada salah satu piala.
Tiara kembali mengamati piala yang terpajang dalam lemari. Piala dan piagam tersebut berasal dari beberapa perlombaan olah raga. Tatapan Tiara berhenti pada sebuah figura kecil yang menampilkan sosok Albert.
"Wah, menggemaskan sekali ketika masih kecil!" seru Tiara dengan mata membulat sempurna.
...****************...
Ketika Albert sedang berdiskusi dengan Liam mengenai kampanye yang akan dilakukan, tiba-tiba ponselnya berdering. Bi Imah menghubunginya siang itu. Akhirnya, Albert meminta ijin untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Bi. Ada apa?"
__ADS_1
"Ini, Pak. Ada seorang gadis yang mencari Bapak. Katanya mau mengembalikan dompet Pak Al."
"Titipkan saja ke Bibi. Tolong beri dia beberapa lembar uang sebagai tanda ucapan terima kasih."
"Anu, tadi saya sudah memintanya untuk menitipkan ke saya saja, Pak. Tapi gadis itu nggak mau. Dia pengen ketemu Bapak."
"Siapa sih? Bisa minta tolong kirimkan fotonya?"
"Baik, Pak."
Sambungan telepon pun terputus. Albert kembali melangkah mendekati meja kerja sang Walikota. Liam yang penasaran dengan percakapan sang ajudan pun bertanya pada Albert. "Dari siapa Al?"
"Dari Bi Imah, Pak. Ada yang mau balikin dompet, tapi pengen ketemu langsung sama saya."
"Hahaha, dia naksir kali sama kamu!" seru Liam sambil terkekeh.
Albert tersenyum simpul, kemudian kembali mengintip ponselnya. Lelaki berwajah bule itu pun terbelalak. Ternyata orang yang menemukan dompetnya adalah Tiara.
"Adik Makutha?" gumam Albert.
"Ya?"
"Ah, ini yang menemukan dompetku adiknya Makutha." Albert menunjukkan layar ponselnya kepada Liam.
Otak licik Liam langsung bekerja. Dia tersenyum miring kemudian mendekati Albert. Walikota itu memegang bahu Albert dan menatapnya intens.
"Apa, Pak?"
"Kamu buat Tiara tetap tinggal di rumahmu sampai Makutha resmi dipenjara. Tapi, jangan sampai dia merasa bahwa dirinya sedang menjadi sandera. Perlakukan Tiara sebaik mungkin, supaya dia betah bahkan enggan pulang ke rumah ke rumahnya sendiri."
"Tapi, Pak ...."
Tatapan tajam Liam membuat Albert menghentikan ucapannya. Dia menunduk kemudian terpaksa mengangguk untuk mengiyakan permintaan Liam. Liam pun tertawa lepas karena merasa semua orang kini berada dalam kendalinya.
"Sekarang pulanglah! Jalankan apa yang kuperintahkan."
"Baik, Pak. Saya permisi." Albert segera keluar dari ruangan sang Walikota.
Lelaki itu sebenarnya ragu. Dia tidak pandai memperlakukan wanita dengan baik. Semua terbukti dengan banyaknya wanita yang memutuskan hubungan dengan alasan sikap Albert yang cuek.
Albert memang memiliki wajah tampan ala orang Eropa pada umumnya. Namun, sifat romantis yang biasa dimiliki mereka tidak bisa mendarah daging pada Albert. Lelaki itu cenderung cuek ketika menjalin hubungan dengan wanita.
Jam menunjukkan pukul 14:00 ketika Albert sampai di rumahnya. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum membuka pintu. Saat melangkah memasuki rumah, dia mendapati Tiara sedang menikmati segelas susu cokelat.
Mengetahui sang pemilik rumah datang, Tiara langsung meletakkan kembali gelas berisi susu coklat yang tinggal separuh. Dia terbelalak karena melihat Albert mengenakan seragam Pegawai Negeri.
__ADS_1
"Loh, Mas Albert ternyata seorang pegawai negeri?" tanya Tiara spontan.
Tiara terkejut bukan main karena tidak menyangka bahwa orang yang hendak mencopetnya adalah seorang pegawai negeri. Albert kembali melangkah mendekati Tiara. Dia menatap tajam gadis itu, kemudian menengadahkan tangan.
"Mana dompetku?"
"Ini, Mas." Tiara menyodorkan dompet milik Liam. Namun, saat lelaki itu hendak meraihnya, dia menarik kembali dompet tersebut.
"Boleh adik minta nomor ponsel Mas Albert?" Tiara mengedipkan mata berulang kali sembari tersenyum genit.
"Boleh, tapi dengan satu syarat!"
"Apa Mas?" tanya Tiara antusias.
"Kamu harus tinggal di sini selamanya!"
Entah apa yang merasuki gadis cupu itu. Dia mengangguk mantab. Albert pun terkejut bukan main. Tiara menyetujui keinginannya tanpa penolakan sedikit pun.
Kurasa gadis ini tidak waras!
"Kamu nggak lagi bercanda, kan?" Albert melipat lengan kemudian tersenyum miring.
"Nggaklah! Aku justru senang bisa ketemu Mas Albert tiap hari!" seru Tiara dengan mata berbinar.
"Baiklah. Kemarikan ponselmu!"
Tiara langsung menyerahkan ponselnya kepada Albert. Lelaki tampan itu pun mulai mengetik nomor di atas layar tersebut. Setelah selesai memberikan nomor itu kepada Tiara, dia mengembalikan benda pipih tersebut kepada pemiliknya.
"Mana?" Albert menengadahkan tangan dan kini Tiara menyerahkan dompetnya dengan patuh.
"Mulai sekarang kamu tinggal di sini, dan tidak boleh keluar rumah tanpa aku."
"Tapi, apakah aku boleh menghubungi keluargaku?"
"Tentu saja tidak! Ah, kemarikan ponselmu!"
Bodohnya Tiara menyerahkan ponselnya kepada Albert. Albert pun mematikannya kemudian menyerahkan ponsel lain kepada Tiara.
"Mulai sekarang kamu hanya boleh menghubungiku menggunakan ponsel ini."
"Siap, Pak!"
"Aku akan kembali bekerja. Kamu boleh melakukan apa saja di rumah ini. Tapi, jangan pernah keluar rumah! Atau akan kupatahkan kakimu!"
...****************...
__ADS_1
Mampir juga yukkk ke karya bestie akuu