Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 28. Orang Asing


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 21:00 malam, Makutha memutuskan untuk menginap di Rumah Sakit. Dia ingin memantau sendiri keadaan Tito dan memastikan kondisinya membaik.


Pasalnya setelah transfusi darah, Tito belum juga membuka mata. Entah apa yang terjadi kepada salah satu anggota Geng Macan Tutul tersebut.


Makutha membaringkan tubuh di atas sofa. Hari ini adalah salah satu hari terberat baginya. Mata Makutha terasa berat malam itu.


Tiba-tiba pintu kamar inap Tito terbuka. Dia dalam kondisi setengah sadar ketika melihat seseorang masuk ke ruangan tersebut. Cahaya ruangan yang remang-remang membuat Makutha kesulitan untuk melihat dengan jelas siapa yang kini berdiri di dekat brankar Tito.


Sebenarnya Makutha ingin segera bangkit dari sofa dan mendekati orang asing tersebut. Akan tetapi, tubuhnya seakan tidak bisa diajak bekerja sama. Akhirnya, dia pun terpejam. Kelopak matanya terasa seperti diberi perekat. Namun, sekilas dia bisa melihat sesuatu yang mungkin bisa mengungkap siapa sebenarnya yang ada di dalam ruangan tersebut.


...****************...


Makutha terbangun dengan kondisi bercucuran keringat. Mimpi buruk yang hampir setiap hari datang dalam tidurnya kembali hadir. Lelaki itu mengusap wajah kasar.


Ketika kesadarannya kembali seutuhnya, Makutha baru menyadari bahwa dia sedang ada di atas brankar dengan selang infus dan oksigen menempel pada lengan serta hidungnya. Di sisi lelaki itu, sang ibu tengah tertidur lelap sembari menggenggam jemarinya.


"Bunda," panggil Makutha lembut sambil berusaha bangkit dan menyandarkan punggungnya pada bantal.


Liontin menggeliat. Dia perlahan membuka mata, kemudian menatap Makutha iba. Liontin mengusap punggung tangan Makutha sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


"Tha, gimana? Apa yang kamu rasakan? Lihat ini keringatmu bercucuran." Liontin mengusap dahi sang putra dengan handuk kecil yang selalu ia bawa dalam tas.


"Memangnya apa yang terjadi, Bun? Kenapa aku bisa ada di sini. Semalam aku tidur di atas sofa." Makutha kebingungan berusaha mencerna keadaannya saat ini.


"Dari hasil tes diketahui kalau kamu mengkonsumsi obat tidur dalam dosis tinggi. Tha, Bunda mohon jangan siksa dirimu dengan cara seperti ini. Kamu sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Ikhlaskan saja kepergian Cio."


Mendengar ucapan sang ibu, tentu saja membuat Makutha mengerutkan dahi. Dia tidak pernah merasa mengkonsumsi obat tidur dalam waktu dekat. Lelaki itu berusaha menepis pikiran buruk yng tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Bunda, aku sudah mengikhlaskan kepergian Cio sejak lama. Tapi, aku belum ikhlas jika orang-orang yang terlibat dalam kasus tujuh tahun lalu bebas begitu saja." Rahang Makutha mengeras.


Dendam sang hakim tampan tersebut, agaknya sudah menjadi bahan bakar untuk tetap bergerak maju. Liontin hanya bisa menghela napas kasar.


"Oh, ya. Bagaimana keadaan Tito, Bun?" tanya Makutha saat teringat lagi kondisi terakhirnya sebelum tertidur.


Liontin paham betul dengan sifat Makutha. Bisa dipastikan setelah ini akan timbul rasa bersalah yang akan menggerogoti kehidupan Makutha. Liontin menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.


"Tito meninggal kemarin pagi."


"Apa? Nggak! Nggak mungkin! Baru semalam, loh aku temenin dia tidur!"

__ADS_1


"Semalam kamu bilanh? Tha, kamu sudah tidur hampir 48 jam!" seru Liontin dengan dada bergemuruh.


Perasaan perempuan itu campur aduk. Sejujurnya dia sangat kesal dengan sikap keras kepala sang putra. Selain itu, Liontin juga sangat sedih dan juga khawatir karena nyawa Makutha selalu dalam bahaya.


Liontin selalu berusaha untuk meredam dendam Makutha. Namun, hasilnya sia-sia. Putranya itu bersikukuh ingin memenjarakan seluruh orang yang terlibat dalam kasus kematian Abercio.


"Apa yang menyebabkan Kematian Tito, Bun?" tanya Makutha sambil mengepalkan jemarinya di bawah selimut.


"Dokter bilang, dia kekurangan oksigen dalam darah akibat syok karena pendarahan."


"Bisa tolong panggilkan perawat, Bun? Aku mau melepas benda-benda bodoh ini dari tubuhku. Aku ingin menemui seseorang."


"Tha, kamu harus ...."


"Bund, please ...." Makutha menatap sang ibu iba.


Mau tidak mau, akhirnya Liontin memanggil perawat. Setelah Makutha terbebas dari selang infus dan oksigen. Lelaki itu langsung menuju ruang kerja Hans. Dia ingin memastika satu hal.


Ingatan terakhir yang masih jelas terekam di otak Makutha. Rahang lelaki itu mengeras. Langkahnya terdengar nyaring memenuhi koridor rumah sakit yang masih lengang.

__ADS_1


Ketika sampai di depan ruangan Hans, Makutha terdiam sejenak. Di dalam hati kecilnya, dia berharap apa yang dia pikirkan salah. Makutha mengetuk pintu dua kali, kemudian membukanya perlahan. Alangkah terkejutnya Makutha melihat pemandangan di hadapannya.


"Hans, apa-apaan ini!"


__ADS_2