Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 40. Skenario Liam


__ADS_3

Seorang pria asing yang mengendarai motor sport, tiba-tiba berhenti di depan rumah dinas milik Farhan. Lelaki tersebut turun dari kuda besinya, kemudian mengeluarkan sebongkah batu besar dari dalam tas. Dia membawa batu tersebut sambil berjalan beberapa langkah, mendekati kediaman Farhan.


Ketika jaraknya tinggal beberapa meter, lelaki itu langsung melempar batu tersebut tanpa ragu hingga mengenai jendela kaca. Setelah melancarkan aksinya, ia langsung tancap gas meninggalkan rumah tersebut.


Di sisi lain, Makutha dan Farhan langsung keluar dari rumah ketika batu besar tersebut menghancurkan kaca jendela. Sayangnya, mereka gagal mengetahui siapa pelaku pelemparan batu tersebut. Keduanya hanya bisa melihat punggung si pelaku yang mulai menjauh.


"Sial!" umpat Makutha sambil meninju udara.


"Tenang, Tha. Aku hafal plat motornya!" seru Farhan.


"Baguslah kalau begitu." Makutha bisa sedikit tenang setelah mendengar ucapan Farhan.


Mereka pun kembali masuk ke rumah. Ketika memperhatikan batu yang dilempar pengendara tersebut, ternyata terdapat sebuah kertas yang ditempelkan pada permukaannya. Kertas tersebut berisi sebuah ancaman.


Ini peringatan terakhir!


Makutha dan Farhan saling melemparkan tatapan. Farhan menelan ludah kasar, sedangkan Makutha meremas rambut frustrasi.

__ADS_1


"Bagaimana, Han? Kamu masih bisa mundur sekarang," ucap Makutha lesu.


"Nggak apa-apa, Tha. Aku sudah mengatakan kalau siap menerima semua resikonya!" ujar Farhan penuh keyakinan.


Farhan langsung menghubungi SAMSAT untuk mengetahui siapa pemilik kendaraan bermotor yang tadi menyerang mereka. Setelah mendapatkan identitas sang pemilik motor, Makutha dan Farhan bergegas menuju alamat rumah si pemilik. Selain itu, mereka juga meminta bantuan dari beberapa anggota polisi lain untuk melacak keberadaan motor itu melalui CCTV PTZ (kamera pengawas yang dipasang untuk memantau lalu lintas di jalan raya, biasanya diletakkan pada persimpangan jalan).


...****************...


Liam menepuk bahu seorang pria paruh baya yang ada di hadapannya. Mereka kini sedang berada di sebuah kawasan kumuh dekat pembuangan sampah pinggiran Kota Metropolitan. Lelaki yang sedang bersama Liam adalah Jali. Salah seorang mantan preman yang paling disegani di wilayah tersebut.


"Bagus, setelah ini kamu tahu 'kan apa yang harus dilakukan?"


"Aku suka orang sepertimu!" ucap Liam sambil menepuk pipi Jali.


Setelah itu Liam meninggalkan Jali, dan berjalan ke arah mobilnya. Lelaki tersebut mengusap jemari yang tadi dia gunakan untuk menepuk pipi jali dengan menggunakan tisu.


"Aku sebenarnya muak harus terus berbuat hal kotor untuk menghindari hakim sialan itu!" umpat Liam.

__ADS_1


Jali yang masih memperhatikan Liam dari kejauhan menyipitkan mata. Rahangnya seketika mengeras. Jika bukan karena uang, Jali tidak akan sudi melakukan perintah Liam. Setelah sang Walikota pergi, lelaki tersebut meludah.


Entah mengapa Jali tidak terima dengan sikap Liam yang seenaknya karena memiliki kekuasaan. Tanpa dia sadari detik itu juga, lelaki tersebut menyimpan sebuah dendam untuk sang Walikota.


Ketika hendak meninggalkan tempatnya berpijak, telinga Jali menangkap suara seseorang. Ya, dia adalah Makutha yang sedang berteriak memanggil nama lengkapnya.


"Pak Rojali!"


Jali menoleh sekilas, kemudian mengambil ancang-ancang untuk berlari. Begitu Makutha dan Farhan bersiap untuk mendekat, Jali langsung mengambil langkah seribu. Lelaki tersebut harus melalui jalanan becek agar bisa terlepas dari kejaran dua orang di belakangnya.


Derap langkah yang beradu dengan tanah basah tersebut, membuat air pekat berwarna abu-abu terpercik ke segala arah. Suasana kediaman kumuh yang awalnya sepi itu, kini mulai terlihat ramai. Mereka bertiga menjadi tontonan seluruh warga.


"Pak, berhenti! Mari bicara baik-baik!" teriak Makutha di tengah napasnya yang terasa hampir putus.


Farhan memutuskan untuk berpencar dari Makutha demi mencari jalan pintas. Dia berniat menghadang Jali dari depan. Aksi kejar-kejaran itu berlangsung hampir tiga puluh menit. Sampai akhirnya mereka bertiga berada di sebuah gang buntu.


Makutha berhenti tepat di belakang Jali. Sedangkan Farhan yang tadi menemukan jalan pintas, berhasil menghadang lelaki tersebut dari depan. Jali tidak bisa kabur lagi. Namun, di sisi lain dia sebenarnya sedang menjalankan skenario yang diperintahkan oleh Liam.

__ADS_1


"Aku menyerah."


__ADS_2