Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan


__ADS_3

Sore itu Makutha yang baru saja selesai bekerja, mengendarai mobil membelah ramainya Kota Metropolitan. Semburat jingga mulai menghiasi langit di atasnya. Deru mesin mobil serta suara lembut JFla menemani hakim tampan itu sepanjang perjalanan.


Makutha berniat mendatangi Farhan untuk membicarakan beberapa rencana. Salah satunya adalah cara meringkus anggota Geng Macan Tutul yang lain. Dia berencana menekan Hans untuk mengakui semua perbuatan yang melibatkan geng tersebut.


Tak lama kemudian, Makutha sampai di rumah dinas Farhan. Lelaki tersebut mengetuk pintu, dan tak lama kemudian Farhan keluar dengan tatapan yang begitu serius.


"Masuk, Tha!" ajak Farhan sambil menoleh ke kanan dan kiri.


Bahkan lelaki tersebut sedikit menarik lengan Makutha agar dia segera masuk ke rumah sang polisi. Melihat tingkah Arjun yang terlihat cemas, tentu saja membuat Makutha mengerutkan dahi.


"Ada apa, Han?" tanya Makutha penasaran.


"Aku mendapatkan surat kaleng berisi ancaman tadi malam."


"Benarkah?" Mata Makutha melebar dengan alis yang saling bertautan.


Farhan mengangguk, lalu mencodongkan tubuh ke arah Makutha. "Tulisannya terbuat dari darah!"


"Bisa aku melihatnya?"

__ADS_1


"Duduklah dulu. Aku akan segera kembali."


Farhan meninggalkan Makutha, lalu masuk ke dalam kamarnya. Lima menit kemudian, Farhan keluar dengan membawa secarik kertas. Dia menyerahkan kertas tersebut kepada Makutha dengan tangan yang sedikit gemetar.


"Ini, Tha."


Makutha langsung meraih kertas tersebut dan membuka lipatannya. Benar saja, surat tersebut ditulis menggunakan darah. Bau anyir dari cairan kental itu begitu menusuk indra penciuman Makutha. Beruntungnya hakim tampan itu sudah dinyatakan sembuh dari hemophobia yang dia derita. Jika tidak, sudah dapat dipastikan isi perutnya keluar detik itu juga.


"Berhentilah membantunya mengejar kami, jika kamu tidak mau menyesal di kemudian hari!" Makutha membaca setiap kata yang tertulis pada kertas tersebut.


Misi yang dilakukan Makutha dengan Farhan memang berbahaya. Walaupun sebenarnya dia tahu siapa yang menaungi Geng Macan Tutul, dia masih membutuhkan bukti lebih banyak lagi.


"Aku akan tetap ada di pihakmu!"


Ucapan Farhan sontak membuat Makutha menghentikan langkah. Dia balik badan kemudian menatap polisi yang masih berdiri di tempatnya itu. Makutha meneliti ekspresi wajah Farhan, mencari tahu seberapa serius lelaki itu dengan ucapannya barusan.


"Jika memang akhirnya aku kehilangan nyawa, paling tidak aku mati dengan terhormat. Aku tidak membelokkan hukum hanya demi jabatan dan yang seperti yang lain."


Farhan mulai melangkahkan kaki mendekati Makutha. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Tatapan lelaki itu terlihat begitu serius, hingga membuat Makutha yakin dengan setiap kata yang keluar dari bibirnya.

__ADS_1


"Kantor itu dipenuhi kemunafikan. Sebagian besar dari mereka rela melakukan apapun demi mendapatkan uang tambahan dan juga naik jabatan seperti Pak Arjun. Kamu tahu, 'kan kalau beliau sebentar lagi akan menjadi Kapolda Provinsi ini?"


"Aku tidak begitu mengikuti berita ini, karena begitu sibuk dengan pekerjaanku."


"Dia ikut berperan penting dalam menutupi kasus Geng Macan Tutul."


"Iya, awalnya aku kira dia ada di pihakku. Sejak awal, Pak Arjun selalu mendukungku, dan memberi beberapa informasi. Ternyata aku salah. Dia malah membocorkan semua rencanaku kepada Geng Macan Tutul."


"Ya, seperti yang kamu tahu. Aku ...."


Ucapan Farhan menggantung di udara. Sebuah batu besar tiba-tiba masuk melalui jendela. Kaca jendela pun hancur berhamburan. Beberapa serpihan kecilnya sampai menggores kulit wajah Makutha.


Sontak mereka berdua langsung berlari keluar rumah. Seseorang yang mengendarai motor sport melaju cepat meninggalkan rumah Farhan.


"Sial!"


...****************...


Mampir juga ke karya temanku yaaa~

__ADS_1



__ADS_2