Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota


__ADS_3

"Bagaimana, Hasna?" Liam menatap seorang pria yang ada di hadapannya penuh amarah.


"Sudah dalam jangkauan. Kapan pun Anda ingin dia menjadi sandera. Kami siap membawanya, Pak."


"Jangan lupa awasi juga ibu dan adik Makutha."


"Baik, Pak. Saya permisi. Saya ada piket malam hari ini."


Lelaki dengan masker yang menutup separuh wajahnya itu pun menunduk dalam. Liam hanya menjawabnya dengan dehaman. Ia pun pergi meninggalkan ruangan sang Walikota.


Selepas kepergian lelaki yang dijadikan mata-mata oleh Liam pun, lelaki tersebut kembali terlihat gusar. Rasa perih pada punggungnya masih terasa. Dia meringis kesakitan ketika kemeja yang dikenakan bergesekan dengan luka yang belum kering tersebut.


"Makutha, kamu harus membayar semuanya." Liam mengepalkan jemari sambil menatap selembar foto yang ada di hadapannya. Di dalam foto tersebut terlihat potret Makutha bersama ibu, adik, serta Hasna ketika wisuda.


Sewaktu Liam sedang sibuk bergelung dengan emosinya, dering ponsel membuat lelaki tersebut melirik benda pipih yang sekarang berkedip di atas meja. Liam mengerutkan dahi karena yang menghubunginya adalah nomor asing.


"Siapa?" Liam menatap layar ponsel dan menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo, Liam. Apa kabar?"


Liam menautkan kedua alisnya. Dia berusaha mengenali suara lelaki yang ada di ujung telepon. Tak lama kemudian, sapaan dari si penelpon membuatnya mengenali siapa orang yang kini menghubunginya itu.


"Alex?"


Sebuah tawa renyah pecah menyapa pendengaran Liam. Ya, tebakannya benar. Kini dia mengenali siapa orang yang mengganggunya itu. Dia adalah Alex, sahabat karibnya ketika sekolah di bangku SMA.


"Hey, Pak Walikota!" seru Alex.


"Kenapa?" tanya Liam setengah kesal.


"Aku butuh bantuanmu," ucap Alex tanpa basa-basi.


"Bantuan apa?" Liam menggaruk alis yang tidak gatal sambil tersenyum kecut.


Sebenarnya Liam sedikit kesal. Dia merasa hanya dimanfaatkan oleh orang-orang sekitarnya. Semua orang mencarinya jika hanya membutuhkan bantuan. Setelah mendapat apa yang mereka mau, semuanya akan menghilang begitu saja tanpa jejak.


Hal itulah yang membuat Liam juga sering memanfaatkan orang lain untuk tujuannya. Dia belajar dari orang di sekitarnya yang berlaku demikian kepadanya.

__ADS_1


"Bantuan seperti apa yang kamu mau?"


"Aku ingin melebarkan sayapku ke Kota Metropolitan. Aku mau mendirikan pabrik tekstil di sana. Jadi aku butuh bantuanmu, agar ijin usahaku disetujui dengan mudah oleh beberapa badan negara."


"Jadi, apa yang harus aku lakukan? Ah, harga apa yang akan kamu bayarkan untuk pekerjaan yang lumayan sulit ini?"


"Sebuah pulau pribadi di Hawaii!"


"Sial kamu! Tahu saja kalau Hawaii temoat impianku untuk pensiun nanti!" Liam terkekeh sambil menyugar rambutnya.


"Jadi, kapan kita bisa ketemu?"


"Terserah kamu, yang jelas aku ogah kalau suruh nemuin kamu! Kamu yang butuh, kamu yang ke sini temui aku!" Liam tersenyum miring dengan tatapan penuh kemenangan.


Kedudukannya sekarang mampu membuat orang lain merasa butuh akan dirinya. Tak jarang Liam menggunakan kekuasaannya untuk beberapa oknum tertentu yang menghendaki jalan mulus bagi usahanya, termasuk Alex.


Setelah Alex memberitahu kapan dia akan datang ke Kota Metropolitan, sambungan telepon terputus. Liam pun meletakkan kembali ponselnya. Dia bangkit dari kursi dan mendekati jendela besar yang ada di belakang meja kerjanya.


"Aku berkuasa, dan bisa melakukan apa yang kumau. Termasuk menghancurkanmu, Makutha!"


...****************...


Hari ini adalah hari terakhir Tiara kuliah sebelum libur panjang. Sang ibu berjanji akan mengajaknya mengunjungi sang kakak yang sudah menetap di Kota Metropolitan.


"Ara!" teriak seorang gadis lain berambut ikal.


"Eh, Michel!" Tiara menghentikan langkah kemudian tersenyum lebar ke arah sahabatnya itu.


"Mau pulang bareng?"


"Bolehlah! Tapi aku mau mampir dulu ke Pecinan."


Michele langsung tersenyum simpul. Dia bisa menebak apa yang akan Tiara lakukan di tempat itu. Tiara sangat menyukai Nougat. Jika sahabatnya itu sudah mengajak ke Pecinan, pasti karena stok kudapan manis di rumahnya habis.


"Memangnya Nougat kiriman cece-mu habis?"


"Iya, Cece Jia pelit sekali akhir-akhir ini! Dia hanya mengirimkan sedikit Noughat! Tidak seperti biasanya!"

__ADS_1


"Hei, Anda! Sadar diri! Itu demi kebaikanmu, Ara!"


"Cece nggak mau jerawatmu semakin parah, berat badan makin naik, dan kamu kan sedang perawatan gigi! Memangnya kamu mau sia-siakan apa yang sedang kamu jalani untuk mengubah penampilan?"


"Tapi, aku suka Nougat, Chel." Tiara mencembikkan bibir dan menatap Michele penuh harap.


Michele menggeleng sembari memegang dahi yang terasa berdenyut. Tiara merupakan salah satu gadis paling keras kepala yang pernah dia kenal. Dia sangat sulit menerima nasehat dari orang lain.


Tiara suka bertindak semaunya dan sering melanggar peraturan yang berlaku. Terkadang ibunya memperingatkan agar gadis itu lebih mawas diri. Namun, bukan Tiara jika bisa menerima nasehat.


Di depan Liontin, Tiara akan mengangguk patuh. Setelah pergi dari hadapan sang ibu, dia justru melakukan apa yang menjadi larangan.


"Terserah kamu! Tapi, jangan pernah merengek kepadaku jika gigimu sakit lagi!" seru Michele kesal.


"Tenang, masih ada Methyl dan Fargetic yang menolongku jika rasa sakit itu menyerang!" Tiara terkekeh mencoba untuk memancing emosi sang sahabat.


"Dasar!" seru Michel.


Keduanya kembali berjalan menuju parkiran. Setiap harinya Michel membawa mobil, dan Tiara sering pulang ataupun berangkat ke kampus bersama. Terkadang mereka menginap secara bergantian di rumah masing-masing.


Sepanjang perjalanan menuju Pecinan, keduanya bersenandung mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan oleh grup idol favorit mereka. Sesekali Tiara menirukan gerakan dalam video musik lagu tersebut.


"This that pink venom, this that pink venom, this that pink venom ...."


"Get 'em get 'em get 'em ...."


Keduanya saling bersahutan ketika menyanyikan lagu dari Lisa dan kawan-kawan tersebut. Lima belas menit berlalu, dan keduanya sampai di Pecinan. Michel dan Tiara turun dari mobil dan mulai berjalan menyusuri kios yang berderet rapi.


Kios tersebut menjual beraneka kebutuhan untuk sembahyang, pernak-pernik hiasan imlek, makanan khas perayaan Tahun Baru Cina, dan yang lain. Kebetulan sebentar lagi Imlek, jadi suasana pasar khusus tersebut ramai.


Ketika hendak masuk di toko langganan tempat Tiara membeli Nougat, tiba-tiba seorang laki merampas tas yang menggantung pada bahu Tiara.


"Copet!" teriak Tiara sambil menunjuk ke arah si copet.


"Astaga! Ayo, kita kejar!" Michel langsung menarik lengan Tiara dan berlari mengejar pencopet tersebut.


Aksi kejar-kejaran itu berhenti ketika mereka ada di sebuah gang buntu di kompleks Pecinan. Napas keduanya hampir putus. Keringat membasahi dahi dan hampir seluruh tubuh Michel dan Tiara.

__ADS_1


"Sial, pergi ke mana dia?"


__ADS_2