
Setelah masuk ke mobil Makutha, Arjun merogoh ponselnya dari saku celana. Dia menghubungi salah satu anak buahnya untuk mendapatkan bantuan.
"Halo, bisa minta tolong?" tanya Arjun melalui sambungan telepon.
Arjun meminta salah satu anggota polisi wanita kepercayaannya untuk datang membantu. Nama polisi cantik itu adalah Alda, salah satu anggota intelegensi Polres Kota Metropolitan.
"Ada apa, Pak?"
"Aku sedang ada di kawasan perumahan Bon-bon. Ada satu rumah yang dicurigai dipergunakan untuk kegiatan terlarang mafia. Bisa ke sini untuk memastikannya?"
"Tolong kirim alamatnya sekarang, Pak. Aku akan segera ke sana."
"Baiklah."
Arjun langsung mematikan sambungan telepon dan mengirimkan GPS kepada Alda. Lima belas menit kemudian Alda datang. Perempuan yang sengaja memakai baju seksi itu pun mendekati mobil Makutha dan mengetuk kacanya. Arjun menurunkan kaca mobil kemudian tersenyum geli karena melihat penampilan Alda.
"Pak, please, senyuman Anda sangat mengganggu!" protes Alda sambil menyipitkan mata dan melipat lengan di depan dada.
"Oke, maaf." Arjun menangkupkan telapak tangan sambil menunduk sekilas. Setelah itu, dia kembali menatap Alda.
"Coba alihkan perhatiannya. Aku akan mengendap-endap dan masuk setelah dia lengah." Arjun menunjuk Wildan dengan dagu.
Alda pun menoleh ke arah penjaga dengan kumis lebat itu. Dia tersenyum penuh arti dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sebenarnya dia tipeku. Tapi, kenapa harus jadi penjahat, sih!"
"Sudah, cepat ke sana! Aku harus segera masuk dan membantu Makutha!" perintah Arjun.
"Oke, siap, Pak!" Alda berdiri tegap sembari mengangkat lengan mengambil posisi hormat.
Polisi wanita itu pun langsung berjalan ke arah gerbang dan mendekati Wildan. Dia berpura-pura menanyakan alamat untuk mengecoh lelaki tersebut. Wildan pun meresponnya tanpa rasa curiga sedikit pun. Bahkan dia sesekali mencuri pandang ke area pribadi Alda yang sedikit terekspos.
"Dasar jelalatan!" umpat Arjun ketika melihat sikap tidak sopan lelaki tersebut.
...****************...
__ADS_1
Di sisi lain, Makutha sudah ada di ruang tengah markas Geng Macan Tutul. Di sana Liam sudah duduk di atas sebuah kursi besar seperti singgasana. Kakinya disilangkan, dengan sebuah cerutu menyelip di antara telunjuk dan jari tengah.
"Bagus! Anak baik!" Liam tersenyum licik sambil menyedot asap cerutu, lalu mengembuskannya ke udara.
"Di mana Hasna?" tanya Makutha dengan suara sedingin es.
"Hasna? Seberapa berharganya dia untukmu?" Liam beranjak dari kursi kemudian berjalan mendekati Makutha.
"Apa kamu tidak pernah merasakan jatuh cinta? Menyedihkan sekali," ejek Makutha sembari mengukir senyum penuh penghinaan di bibir seksinya.
Sontak Rahang Liam mengeras. Dia menyipitkan mata, kemudian melempar cerutu ke atas lantai, dan menginjaknya. Lelaki itu meraih kerah kemeja Makutha, kemudian mencengkeramnya.
Tatapan keduanya pun beradu. Mereka saling melemparkan tatapan penuh permusuhan. Rahang dua lelaki itu sama-sama mengeras, hingga garis wajah mereka terlihat semakin tegas.
"Mundurlah dari pekerjaanmu saat ini!" seru Liam dengan suara dingin.
"Mundur? Untuk apa? Aku belum mencapai tujuanku. Rugi sekali kalau aku mundur sekarang. Aku sudah menantikannya. Banyak sekali air mata kutumpahkan untuk sampai di titik ini!" seru Makutha seraya tersenyum miring.
Liam tersenyum lebar, lalu tertawa terbahak-bahak. Dia pun melepaskan cengkeraman tangan dari kerah kemeja Makutha. Setelah tawanya berhenti, Liam menepuk bahu Makutha beberapa kali.
"Sungguh lelaki yang bodoh karena cinta! Untuk alasan inilah aku malas berurusan dengan cinta!" Liam menajamkan pandangannya seakan ingin menikam Makutha detik itu juga.
"Bawa perempuan itu ke sini!" titah Liam kepada anak buahnya.
Hasna dibawa masuk ke dalam ruangan itu melalui pintu yang ada di belakang kursi besar tempat Liam duduk sebelumnya. Hasna terlihat begitu tertekan. Mata perempuan cantik itu sembab karena menangis. Tatapannya begitu menyedihkan, sehingga mampu memelintir hati Makutha.
Liam mengalihkan pandangannya. Kini dia berjalan ke arah Hasna. Ketika jaraknya dengan Hasna tinggal sejengkal, Makutha langsung berlari mendekat. Akan tetapi, lengannya dicekal oleh dua orang lelaki bertubuh besar. Makutha pun kesulitan untuk bergerak.
"Jangan dekati Hasna! Atau kubunuh kamu!"
Dada Makutha kembang kempis. Mata lelaki tampan tersebut membulat sempurna. Rahangnya semakin keras dengan kepalan tangan yang begitu kuat.
"Apa kamu memiliki hak atas perempuan ini?" ejek Liam sembari tersenyum miring.
__ADS_1
"Aku bilang jangan dekati Hasna!" seru Makutha dengan tekanan di setiap suku kata yang terucap.
"Ah, bagaimana kalau aku menyentuhnya?" Liam mengangkat jemarinya berusaha untuk menyentuh wajah Hasna.
Hasna langsung memalingkan wajah, sehingga kulit keduanya gagal bersentuhan. Liam kembali tersenyum penuh ejekan. Dia menaikkan satu alis dan terus menatap tajam ke arah Makutha.
"Jangan sentuh dia, atau kupotong jari-jarimu itu!" bentak Makutha hingga suaranya menggema di dalam ruang itu.
"Uuuhhh, aku takut!" Liam mundur selangkah dan memasang ekspresi ketakutan yang dibuat-buat.
"Aku sangat menyukai tantangan! Jadi ... aku akan merusaknya di depan matamu!"
Liam menatap Hasna penuh gairah. Kemudian Walikota muda itu berusaha mendaratkan ciumannya ke atas bibir Hasna. Hasna pun berontak sekuat tenaga. Bulir air matanya kembali berjatuhan.
"Liam, bajingan kamu!" teriak Makutha kemudian mengibaskan kedua lengannya.
Entah hakim tampan itu mendapatkan kekuatan dari mana. Dia berhasil lepas dari cengkeraman dua orang di sampingnya. Makutha segera berlari ke arah Liam.
Dia naik ke atas meja, kemudian melompat dan mendaratkan kakinya pada wajah Liam. Aksinya berhasil. Kini tubuh Liam tersungkur di atas lantai. Makutha pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Lelaki tampan itu langsung menghujani Liam dengan pukulan.
Hasna yang melihat Makutha sudah bertindak di luar kendali pun, langsung berlari mendekati sang calon suami. Dia meraih lengan Makutha agar lelaki itu menjauh dari Liam.
"Tha, udah! Cukup!" teriak Hasna histeris.
Hasna tidak ingin Makutha dalam masalah jika sampai terjadi hal buruk pada Liam. Dia menarik lengan Makutha kemudian memeluknya agar sedikit lebih tenang. Benar saja, amarah Makutha langsung padam.
"Maaf, Na. Aku tidak becus menjagamu. Seharusnya aku tadi tetap berada di butik bersamamu."
"Nggak pa-pa, Tha. Sudah takdirnya begini. Toh, aku baik-baik saja dan tidak kekurangan suatu apapun. Aku harap setelah ini semua akan baik-baik saja. Aku juga lengah tadi," ucap Hasna di antara isak tangis.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu pun terbuka. Beberapa anggota polisi masuk sembari menodongkan pistol ke arah anak buah Liam. Hasna sudah bisa bernapas lega sekarang. Dia dan Makutha sedikit menjauhi polisi-polisi tersebut.
Akhirnya semua orang yang ada di markas Geng Macan Tutul itu pun ditangkap oleh Arjun dan anak buahnya. Hari itu berakhir dengan ketenangan. Hasna dan Makutha pun kembali pulang tanpa beban lagi.
__ADS_1