Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 56. Bayi Kita


__ADS_3

Hasna menatap nanar layar ponselnya. Begitu juga dengan Liontin serta Tiara. Mereka bertiga tidak menyangka jika Liam membongkar kasus lama yang bahkan melibatkan dirinya sendiri.


Cara Liam memutar balikkan fakta pun membuat Hasna geram. Dia sampai melempar ponsel seharga belasan juta itu dari genggaman. Untungnya Tiara sigap, dia berhasil menangkap ponsel dengan logo apel tersebut.


"Mbak, kesel boleh. Tapi tolong, ponsel ini belinya juga pakai duit! Tiara tahu sekarang Mbak Hasna sukses. Tapi ya, jangan asal lempar begini!" Tiara menyodorkan kembali ponsel Hasna kepada pemiliknya.


Hasna meraih ponselnya, lalu mengerucutkan bibir. Kedua alisnya saling bertautan. Tak lupa dokter cantik itu melipat lengan di depan dada. "Kesel aku, Ra! Liam ini benar-benar ular jantan!"


"Tapi, kalau dipikir-pikir dia justru buka aib diri sendiri nggak sih? Kalau dia ungkapin kasus lama ini ke publik, bukannya akan banyak pihak yang angkat bicara?" Tiara terlihat berpikir sembari mengusap dagu.


"Masalahnya hanya aku dan Makutha saksi yang bisa dipercaya atas kejadian itu." Bahu Hasna merosot dan kini perempuan cantik itu tertunduk lesu.


"Mbak, bukannya masih ada Geng Macan Tutul dan juga dua teman Mas Utha lainnya?"


"Apa kamu pikir mereka akan berkata jujur?" Hasna menaikkan satu alisnya.


Tiara terdiam. Dia langsung menyadari bahwa Makutha kali ini ada di posisi yang sangat tidak menguntungkan. Gadis itu pun membuang napas kasar kemudian mendaratkan tubuh di atas sofa.


"Benar juga ya, Mbak."


"Semoga saja Makutha memiliki jalan lain untuk masalah ini."


...****************...


Keesokan harinya, Makutha langsung melajukan mobil ke rumah sakit untuk menjemput Hasna, ibu, serta sang adik. Hari itu adalah akhir pekan, jalanan sudah macet sejak subuh. Hal itu membuat waktu tempuh menuju rumah sakit semakin lama. Sepanjang perjalanan, Makutha kembali teringat perbincangannya dengan Ruby dan beberapa anggota Geng macan Tutul.


Semalaman Hakim tampan tersebut menginap di markas Geng Macan Tutul. Mereka memprediksi kejadian selanjutnya, serta menyiapkan rencana untuk melawan Liam. Makutha kali ini ingin segera memenjarakan Liam.


Selain karena dendamnya di masa lalu, Makutha ingin masa pemerintahan Liam segera berakhir. Liam sebenarnya seorang pemimpin yang tidak baik. Dia mencari simpati masyarakat dengan membangun sarana pendidikan serta ibadah.


Akan tetapi, di balik layar dia memanfaatkan anak jalanan serta gelandangan untuk mendapatkan dana dari pemerintah serta para dermawan. Sebagian besar dana yang terkumpul dia gunakan untuk kegiatan pribadi, operasional Geng Cantul, serta kampanye terselubung.


"Lihat saja nanti! Akan aku pastikan kamu terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam, hingga tidak bisa kembali lagi ke permukaan, Liam."

__ADS_1


Rahang Makutha mengeras. Jemarinya mengepal kuat di atas roda kemudi. Tak lama kemudian sebuah pukulan mendarat pada benda berbentuk lingkaran tersebut.


Setelah membelah jalanan selama tiga puluh menit, akhirnya Makutha sampai di Rumah Sakit. Dia langsung menyusuri koridor dan menemui Hasna di ruangan tempat dia terakhir dirawat.


Amarah Makutha seketika menguap ke udara ketika melihat Hasna tersenyum lebar kepadanya. Bayi mungil Maudy sudah berada dalam dekapan dokter cantik tersebut. Makutha mempercepat langkah untuk mendekati Hasna.


"Ayo, kita pulang!" ajak Makutha sembari tersenyum lebar.


Hasna mengangguk sekilas. Tak lama kemudian, Tiara dan Liontin masuk ke ruangan tersebut. Liontin bergegas menghampiri Makutha, lalu memeriksa keadaan sang putra. Perempuan itu meneliti setiap jengkal tubuh Makutha.


"Kamu ke mana saja semalaman? Kami menunggumu dengan hati gelisah."


"Maaf, Bunda. Ada sedikit insiden. Tapi, semuanya baik-baik saja." Makutha tersenyum lembut ke arah Liontin.


"Mas, mengenai berita semalam ...." Ucapan Tiara menggantung di udara karena Makutha memotongnya.


"Kamu nggak usah khawatir, Ra. Semua akan baik-baik saja. Tenanglah."


"Mas, gimana aku bisa tenang. Lelaki bernama Liam itu licik sekali! Dia bahkan memutar balikkan fakta!" seru Tiara berapi-api.


"Udah, kita pikirkan lagi nanti. Ayo pulang," ajak Hasna yang melangkah lebih dulu ke arah pintu.


Sesampainya di apartemen Hasna, Makutha berbincang sebentar dengan keluarga kecilnya. Membahas beberapa kemungkinan buruk yang bisa saja menimpanya.


"Tolong kalian tetap tenang jika saja ada hal buruk yang mungkin saja menimpaku. Tapi, percayalah. Aku tidak akan sampai kehilangan nyawa."


Makutha menatap satu per satu perempuan di hadapannya. Kini Makutha memiliki satu perempuan lain yang harus dilindungi. Bayi Maudy sekarang menjadi tanggungjawabnya.


"Tha, mengenai pengajuan adopsi anak bagaimana? Aku belum pernah menikah dan berusia kurang dari 30 tahun."


"Kita harus mencari kerabat orang tuanya. Untuk sementara, dia bisa masuk kartu keluarga saudara orang tuanya. Ketika kita memenuhi syarat untuk mengadopsi putri Maudy, barulah kita mengajukannya ke pengadilan."


"Kita?" Mata Hasna membulat sempurna.

__ADS_1


Makutha berdeham dan mulai salah tingkah. Tatapan matanya tidak fokus. Lelaki itu sesekali mengusap tengkuk sembari menunduk mencoba menyembunyikan senyum konyol.


"Dih, Mas Utha. Lanang opo ora (pria apa bukan)?" Tiara menatap Makutha yang kini menoleh ke arahnya.


"Gasss, Mas! Sebelum ditikung! Yang selalu ada kadang bakalan kalah sama yang sat set sat set!" Tiara menggerakkan lengan layaknya motor yang sedang membalap kendaraan lain.


Liontin menahan tawa hingga wajahnya memerah, sedangkan Hasna mencolek lengan Tiara. Tiara pun mengalihkan tatapannya pada Hasna. Dia menyipitkan mata, dan bersiap mengeluarkan kata-kata mutiara untuk calon kakak iparnya tersebut.


"Mbak Hasna juga! Buruan das des! Nggak pa-pa cewek maju duluan! Siti Khodijah dulu juga melamar Baginda Rasulullah melalui sahabatnya. Jadi, nggak usah malu buat melamar Mas Makutha lebih dulu. Aku siap menjadi orang yang menyampaikan lamaran Mbak Hasna buat Mas Utha!" Tiara menaik-turunkan alis sembari tersenyum konyol.


Kali ini Tiara mendapat cubitan maut dari Liontin. Bulu kuduknya sampai berdiri karena menahan sakit. Gadis itu pun meringis dan memegang lengan sang ibu, berharap Liontin melepaskan cubitannya.


"Mulutmu ada remnya nggak, sih, Ra?" tanya Liontin dengan gigi rapat sambil melotot.


"Aduh! A-ampun, Bunda! Lepasin!"


"Lain kali kalau ngomong itu disaring dulu." Liontin terus melotot tanpa mau melepaskan jemarinya dari lengan Tiara.


"Aduh, ampun, Bunda!"


"Dia memangnya punya saringan, Bun?" ejek Makutha sambil menatap puas sang adik yang sedang menderita.


"Sudah, nanti bikin bayi lucu ini bangun loh." Hasna mencoba mengingatkan dua perempuan beda usia yang sedang berselisih itu.


Akhirnya Liontin melepaskan jemarinya dari lengan sang putri. Perempuan paruh baya itu langsung mengalihkan pandangan kepada Hasna.


"Na, sudah ada nama buat dia?" tanya Liontin sembari melirik bayi dalam dekapan Hasna.


Hasna menggeleng sambil tersenyum tipis. Kini Makutha terlihat berpikir keras. Dia mengusap dagu beberapa kali sambil melipat satu lengan di depan dada.


"Aku ada satu nama yang cocok buat bayi ini."


Sontak tiga perempuan di ruangan itu menatap heran ke arah Makutha. Mereka tidak menyangka bahwa lelaki yang sering terkesan cuek itu justru sudah memiliki nama untuk bayi Maudy.

__ADS_1


"Hasmita, artinya gadis yang selalu bahagia. Aku berharap dia selalu mendapat kebahagiaan walaupun tidak memiliki orang tua."


__ADS_2