
Rasa kecewa memenuhi hati Hans. Baginya mendekati Hasna sangatlah sulit. Sebenarnya dia menyukai dokter cantik itu sejak kuliah. Namun, lelaki tersebut sadar bahwa Hasna menaruh hati pada Makutha.
Suatu hari sebuah kesempatan datang, Liam tiba-tiba menemui Hans dan mengajak untuk ikut bergabung dalam rencananya. Dia diberi beberapa tugas yang berhububgan dengan Makutha, termasuk mendekati Hasna.
"Nanti aku kabari lagi, ya?" Hasna tersenyum tipis kemudian keluar dari mobil Hans dan menutup pintunya perlahan.
Setelah Hasna turun dari mobilnya, senyum Hans seketika lenyap. Rahang lelaki tersebut mengeras. Dia langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengirimkan sebuah pesan kepada Maudy.
[Yang, turunlah ke basemen. Tolong awasi Hasna dan Makutha. Aku khawatir rencanaku untuk membuat keduanya bertengkar gagal.]
Setelah pesan terkirim, Hans langsung melajukan kembali mobilnya. Lelaki tersebut sempat terbuai dengan pesona Hasna. Akan tetapi, dia kembali teringat bayi yang ada di dalam kandungan Maudy.
"Sial! Aku malah terjebak dalam permainanku sendiri!" Hans memukul roda kemudinya kemudian semakin mempercepat laju mobilnya.
Di dalam unit apartemen, setelah mendapat pesan dari Hans, Maudy langsung membalasnya. Perempuan hamil tersebut menggerutu, kemudian meraih sweater yang menggantung di balik pintu kamar.
__ADS_1
"Aduh, kita harus tetap menuruti apa kata ayahmu, Nak. Dia benar-benar keterlaluan. Memperdaya ibu hamil untuk menjadi mata-mata!" gerutu Maudy sambil mengusap perut buncitnya.
Maudy langsung keluar dari apartemen dan menuju basemen seperti perintah sang kekasih. Ketika sudah sampai basemen, sebuah pemandangan menarik tertangkap oleh sepasang matanya. Hasna dan Makutha tengah berdebat karena Hans yang mengantar dokter cantik itu pulang.
Maudy langsung mengeluarkan ponselnya dari saku sweater. Dia merekam perdebatan Hasna serta Makutha. Perempuan itu terus tersenyum lebar sambil sesekali menertawakan pertengkaran keduanya.
"Bagus, ayo teruskan! Hans dan yang lain akan bersorak melihat ini!"
Setelah Hasna masuk ke dalam lift, Maudy keluar dari persembunyiannya. Dia sengaja menemui Makutha untuk mengejek pria tersebut.
Makutha pun menoleh ketika mengetahui kehadiran orang lain. Lelaki itu tersenyum sinis saat mengetahui Maudy berjalan mendekat. Dia melipat lengan di depan dada, sambil menatap tajam perempuan tersebut.
"Pekerjaanmu pasti sangat berat. Harus melaporkan setiap gerak-gerik Hasna setiap detik ketika ada di rumah."
"Ah, itu tidak berat. Hanya terkadang sedikit menyebalkan saja." Maudy tersenyum simpul kemudian menghentikan langkahnya tepat di depan Makutha.
__ADS_1
"Apa kamu tidak takut dikhianati oleh Hans?" tanya Makutha sembari tersenyum miring.
Raut wajah Maudy berubah. Dia yang tadi terlihat mencoba mengintimidasi Makutha, kini terdiam. Senyum sinisnya pudar seketika.
"Selain dokter hebat, Hans juga aktor yang totalitas ketika bermain peran, bukan?"
Makutha mendekatkan wajahnya ke arah Maudy, kemudian berbisik, "Untuk itulah dia merayu bahkan sampai bisa menghamilimu, demi membunuh Tito. Apa kamu yakin bahwa dia benar-benar mencintaimu?"
Makutha kembali menjauhkan wajah kemudian menyipitkan mata sembari tersenyum miring. Lelaki tersebut dapat membalikkan keadaan dalam hitungan detik.
Maudy merapatkan gigi hingga rahangnya mengeras. Dia menatap tajam Makutha yang kini menyeringai. Perempuan itu merasa kesal luar biasa karena ucapan Makutha.
"Titip salam buat Hans. Tolong sampaikan pujianku, dia benar-benar sutradara dan aktor yang luar biasa!"
Makutha pun beranjak pergi dari apartemen, dan meninggalkan Maudy yang kini tengah meragukan cinta Hans. Ya, dia baru menyadari hal ini. Ucapan Makutha berhasil mengobrak-abrik perasaannya. Detik itu juga, Maudy langsung menelepon Hans.
__ADS_1
"Sayang, kamu di mana sekarang? Kita bisa bertemu?"